TINJAUAN PUSTAKA
C. Prestasi Belajar Siswa
Kata prestasi belajar terdiri atas dua suku kata, yaitu "prestasi" dan "belajar". Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan prestasi adalah "Hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)". Belajar menurut pengertian secara psikologis adalah suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut Slameto (2003: 2) pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut:
33
"Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeroleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya".
Purwanto (2003: 85) mengemukakan bahwa belajar adalah tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Dalam rumusan Spears (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1983: 17) dikemukakan bahwa belajar itu mencakup berbagai macam perbuatan mulai dari mengamati, membaca, menulis, mencoba sampai mendengarkan untuk mencapai suatu tujuan. Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya.
Islam adalah agama yang membawa misi agar umatnya
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Ayat al-Quran yang pertama kali turun adalah berkenaan dengan perintah membaca dan belajar, di samping masalah keimanan dan pendidikan. Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Alaq ayat 1-5:
34
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Departemen Agama RI, 2009: 904)
Dari ayat tersebut di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa seolah-olah Tuhan berkata hendaklah manusia belajar dengan baik, selanjutnya untuk memperkokoh keyakinannya dan memeliharanya agar tidak luntur hendaklah melaksanakan pendidikan dan pengajaran. Hasil dari proses pembelajaran tentu saja hasil belajar, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Bahkan tidak hanya itu, Tuhan juga memberikan bahan (materi/ pendidikan agar manusia manusia hidup sempurna di dunia ini). Dalam Q.S.Al-Baqarah ayat 31 Allah swt berfirman:
Artinya : “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (Departemen Agama RI, 2009: 6)
Ayat ini menjelaskan bahwa untuk memahami segala sesuatu belum cukup jika hanya memahami apa, bagaimana, serta manfaat benda itu tetapi juga harus memahami sampai ke hakikat dari benda itu. Ayat di atas pula menggambarkan bahwa jika seseorang ingin dikatakan sebagai orang yang benar dan dianggap memiliki sesuatu (ilmu), maka terlebih dahulu harus
35
mengetahui. Proses untuk mendapatkan pengetahuan adalah belajar, dan yang diperoleh adalah prestasi belajar. Dengan penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa Islam menegaskan bahwa manusia itu menemukan jati dirinya sebagai insan yang bermartabat maka harus menyelenggararakan pendidikan dan pengajaran.
Sunnah berisi petunjuk (pedoman) untuk kemashlahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertaqwa. Untuk itu, Rasulullah saw. menjadi guru dan pendidik utama. Beliau sendiri mendidik, pertama dengan menggunakan rumah Al-Arqam ibnu Abi Al-Arqam, kedua dengan memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar baca tulis, dan ketiga dengan mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru masuk Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan masayarakat Islam. Rasulullah saw bersabda:
Artinya : “Barangsiapa berkunjung untuk mempelajari ilmu, Allah akan membukakan baginya pintu-pintu ke surga” (Mukhtasar Shahih
Bukhari Jilid I, 2010: 62)
Dari hadits ini, dapat dipahami bahwa Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umatnya untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran guna mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan beberapa tokoh di atas, maka penulis dapat mengambil suatu simpulan, bahwa belajar adalah suatu proses
36
perubahan tingkah laku yang merupakan sebagai akibat dari pengalaman atau latihan.
Berkaitan dengan prestasi belajar sebagaimana yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah "penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru".
Prestasi belajar dapat bersifat tetap dalam sejarah kehidupan manusia karena sepanjang kehidupannya selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Prestasi belajar dapat memberikan kepuasan kepada orang yang bersangkutan, khususnya orang yang sedang menuntut ilmu di sekolah.
Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang sangat penting. Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar, yang pada akhirnya bertujuan untuk mencapai suatu prestasi belajar. (Sardiman, 2003: 19). Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan individu untuk menghasilkan suatu perubahan tingkah laku dan mental yang bersifat relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman, latihan, serta interaksi lingkungan, bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh perubahan yang bersifat sementara (Nasution, 1997: 3).
Menurut Hamalik (2009: 15) bahwa prestasi belajar adalah bila seseorang telah belajar dan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
37
Haling (2007: 3) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan suatu pencapaian atau yang telah dicapai dari suatu kegiatan belajar yang dilakukan secara sadar dengan tujuan mengubah tingkah laku kea rah yang lebih berkualitas, baik dalam aspek tingkah laku penalaran atau pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik, dan sikap (afektif).
Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang bersangkutan. Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara:
a. Penilaian formatif
Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.
b. Penilaian Sumatif
Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memeroleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu.
Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. a) Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
38
Contoh: tes hasil belajar siswa berupa soal latihan atau tugas mandiri mengenai materi yang telah diajarkan.
b) Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. Contoh: penilaian sikap siswa selama pembelajaran melalui lembar observasi. c) Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Contoh: pelaksanaan praktikum atau percobaan sederhana.
Tipe prestasi belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun prestasi belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.
Prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Prestasi belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. Hasil belajar menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut.
39
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa prestasi belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena prestasi belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi, sehingga akan merubah cara berpikir individu serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.