• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

W.S Winkel (1989:100) mendefinisikan prestasi belajar sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari mata pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes, mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:700) pengertian prestasi belajar adalah hasil usaha yang dicapai siswa setelah melakukan proses belajar dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes. Apabila prestasi dikaitkan dengan belajar maka mengenal apa yang dinamakan dengan prestasi belajar. Hal ini menyatakan seberapa jauh hasil yang telah dicapai atau dibuktikan oleh seseorang. Belajar sendiri merupakan suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan dengan didapatkannya kemampuan baru

yang disebabkan usaha (Sumadi Suryobroto, 1989:324). Sehubungan dengan prestasi belajar maka ia mengemukakan bahwa nilai rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan guru mengenai kemajuan siswa atau prestasi siswa selama masa tertentu.

Dari beberapa pengertian tentang prestasi tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan perubahan kemampuan yang dinyatakan dalam nilai rapornya, setelah siswa tersebut selesai mengikuti pelajaran selama jangka waktu tertentu. Dengan demikian prestasi belajar merupakan hasil setelah proses belajar menyatakan (mengukur) tingkat keberhasilan seseorang dalam mengikuti proses belajar.

Apabila seseorang belajar, maka ia akan memperoleh hasilnya. Hasil belajar adalah perubahan di dalam diri pelajar, dimana ia dapat mempunyai hasil yang berbeda-beda dan apa yang telah diketahui. Keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar dapat dilihat dari prestasi belajarnya.

b. Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh banyak faktor dan di kelompokan menjadi dua kelompok, yaitu: faktor dalam diri pribadi (intern) dan faktor dari luar diri pribadi (ekstern). Salah satu faktor dari luar yaitu guru dan sekaligus sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat mengetahui dan membantu menyelesaikan

masalah atau kesulitan belajar siswa sehingga siswa dapat mencapai prestasi yang optimal

Menurut Suryabrata (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi meliputi:

a) Faktor internal dibagi menjadi dua golongan yang pertama yaitu: 1) faktor fisiologis (jasmaniah) yaitu faktor yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, misalnya mahasiswa mempunyai kelemahan dalam menghitung atau mengingat materi pelajaran. faktor lain juga berpengaruh karena nutrisi, penyakit dan panca indra siswa sehingga mengganggu dalam belajar. Dan 2) selanjutnya golongan psikologis yaitu faktor intelektif dari kecenderungan dan bakat serta faktor kecakapan nyata dan non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu yang meliputi sikap, kebiasaan, minat, motivasi, emosi, dan penyesuaian diri, serta sifat ingin tahu, adanya hukuman atau ganjaran.

b) Faktor eksternal dibagi juga menjadi dua golongan. Pertama faktor sosial yaitu faktor yang dapat berpengaruh prestasi belajar mahasiswa dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan kelompok. Dan kedua faktor non sosial yaitu faktor yang berpengaruh karena pengaruh cuaca, waktu, tempat belajar, dan alat-alat yang digunakan belajar.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain:

1) Faktor internal, terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisiologis meliputi persepsi, perhatian, intelegensi, kreativitas, bakat, motivasi, minat dan sikap, sedangkan faktor fisik meliputi jasmani, indera, dan syaraf. Sedangkan faktor psikologis meliputi kepribadian, sikap, kebiasaan, dan minat belajar mahasiswa.

2) Faktor eksternal, terdiri dari faktor lingkungan sosial dan faktor non sosial. Faktor lingkungan sosial meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, sedangkan faktor non sosial meliputi cuaca, waktu, tempat belajar, dan alat-alat yang digunakan belajar.

2. Perpustakaan

a. Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana penunjang belajar bagi siswa, menyediakan beragam informasi yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Menurut Pawit M Yusuf-Yaya Suhendar (2005:1) Perpustakaan secara umum mempunyai arti sebagai suatu tempat yang didalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengelolahan, dan penyebarluasan (pelayanan) segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain.

Wiji Suwarto (2009:8) Perpustakaan berasal dari kata pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pustaka artinya kitab, buku (Depdikbud, 1980). Dalam bahasa inggris dikenal dengan library. Dengan demikian barasan istilah perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakaan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang bisa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual (Sulistyo-Basuki, 1993:3)

Berikut ini beberapa tujuan kepustakawanan menurut Sulistyo-Basuki (1991:67) yaitu:

1. Penyimpanan. Artinya, perpustakaan bertugas menyimpan buku atau bahan pustaka yang diterimanya.

2. Penelitian. Artinya, perpustakaan bertugas menyediakan buku untuk keperluan penelitian.

3. Informasi. Artinya, perpustakaan menyediakan informasi yang diperlukan pemustaka jasa layanan perpustakaan.

4. Pendidikan. Artinya, perpustakaan dalam arti umum merupakan tempat belajar publik seumur hidup, terutama bagi mereka yang tidak lagi ada di bangku sekolah.

Menurut Buku Membina Perpustakaan Sekolah (1994:54), perpustakaan sekolah adalah: ”Suatu unit kerja dari sebuah lembaga persekolahan yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka penunjang proses pendidikan, yang diatur secara sistematis, untuk

digunakan secara berkesinambungan sebagai sumber informasi untuk memperkembangkan dan memperdalam pengetahuan, baik oleh pendidik maupun yang dididik di sekolah tersebut”.

Suryana (1997:1) mengemukakan bahwa, “Perpustakaan sekolah adalah sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku-buku dan bahan lainnya yang disusun secara sistematis”. Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan sekolah selain sebagai tempat untuk menyimpan koleksi juga secara aktif menjadi sumber informasi bagi penggunanya.

b. Fungsi Perpustakaan

Menurut Larasati Milburga (1985:61) fungsi dari perpustakaan sekolah adalah:

1. Membantu para siswa melaksanakan penelitian dan membantu menemukan keterangan-keterangan yang lebih luas dari pelajaran yang didapatnya didalam kelas. Perpustakaan memperkaya pelajaran yang menyediakan bahan-bahan pustaka dalam segala bentuknya, yang menunjang pelajaran.

2. Memupuk daya kritik siswa. Dari sumber pengetahuan yang lebih bernuansa dan beraneka warna, siswa dapat mengetahui bahwa berbagai informasi ilmu pengetahuan dapat diberikan dengan cara yang berbeda-beda.

c. Pemanfaatan Perpustakaan

Setiap siswa ingin menjadi unggul harus dapat memanfaatkan perpustakaan dengan baik untuk memperoleh suatu pengetahuan. Untuk membiasakan diri dengan perpustakaan, mahasiswa harus mengetahui cara-cara memanfaatkan perpustakaan sehingga mahasiswa memperoleh hasil yang optimal dari perpustakaan. Menurut Darmono (2001:169-170), untuk dapat memanfaatkan perpustakaan ada beberapa hal yang perlu diketahui:

a. Pengenalan terhadap denah perpustakaan, hal ini untuk memberikan gambaran tentang ruangan yang ada di dalam perpustakaan sampai dengan penggunaan ruang tersebut.

b. Peraturan perpustakaan, hal ini meliputi peraturan umum, hak, dan kewajiban mahasiswa, serta sanksi bila peraturan tersebut dilanggar. c. Alat menelusuran informasi, dengan mengetahui penggunaan alat

penelusuran informasi akan memudahkan pengguna menemukan buku atau bahan pustaka yang dibutuhkan.

d. Pengenalan terhadap penempatan koleksi, dengan mengetahui penempatan lokasi akan memudahkan pengguna menemukan buku atau bahan pustaka yang telah dicari melalui alat penelusuran informasi.

e. Pengenalan terhadap bagian layanan informasi, mahasiswa perlu mengetahui layanan apa saja yang diberikan oleh perpustakaan dan peraturan khusus.

f. Pengenalan terhadap ruang baca, hal ini membantu siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan melalui pemanfaatan perpustakaan, misalnya tujuan datang ke perpustakaan untuk berdiskusi, maka ia akan tahu ruangan diskusi dengan peraturannya menjaga ketenangan. 4. Intensitas Belajar

a. Intensitas Belajar

Menurut Chaplin (2000), Intensitas yaitu kedalaman atau reaksi emosional dan kekuatan yang mendukung suatu pendapat atau sikap. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas, (2003:383), Intensitas adalah keadaan tingkatan atau ukuran. Tingkatan disini menunjukan seberapa sering anak belajar. Sedangkan intens adalah hebat atau sangat kuat, penuh semangat. Belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan (Ali imron, 1996:3). Jadi intensitas belajar adalah suatu keadaan dimana seorang secara sungguh-sungguh dan terus mengumpulkan pengetahuan hingga memperoleh hasil yang optimal.

Untuk memperoleh hasil yang baik bukan hal yang mudah. banyak mahasiswa yang telah belajar dengan giat tetapi tidak memberikan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu cara belajar yang efisien yang harus dipahami dan diterapkan oleh mahasiswa agar dapat berhasil.

Sebelum mahasiswa memahami rangkaian cara belajar yang efisien itu, lebih dahulu harus mengembangkan sikap yang baik serta memiliki syarat-syarat dan perlengkapan belajar yang baik dan tepat. Sikap mahasiswa yang baik terdiri atas (The Liang Gie, 1979:9):

1. Sikap Mental

Landasan utama bagi pembentukan belajar yang baik pada setiap mahasiswa adalah memiliki sikap rohani. Sikap mental perlu dimiliki oleh setiap mahasiswa yang meliputi tujuan belajar, minat terhadap pelajaran, kepercayaan pada diri sendiri dan keuletan.

2. Perilaku Mahasiswa

Dalam belajar di perguruan tinggi, seorang mahasiswa harus mempunyai sikap sebagi pelajar yang baik. Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang mengetahui segala sesuatu tentang kewajibannya sebagai mahasiswa dengan penuh disiplin dan tanggung jawab.

b. Cara Belajar yang Efisien

The liang Gie (1979:49) cara belajar yang efisien mengandung asas-asas tertentu yang tidak saja harus dipahami oleh mahasiswa tetapi juga harus diterapakan dalam belajar. Dalam setiap usaha apapun tentu terdapat asas-asas yang harus dijadikan pedoman untuk suksesnya usaha itu. Demikian juga dalam belajar dapatlah dicari dan ditemukan asas-asas yang berguna sebagai pedoman dalam belajar. Prinsip-prinsip dalam belajar itu menyangkut 3 hal, yaitu keteraturan, disiplin, dan kosentrasi. 1. Keteraturan Dalam Belajar

Pangkal pokok yang pertama dari cara belajar yang baik adalah keteraturan. Pengetahuan mengenai cara belajar yang efisien pada umumnya berupa rumus-rumus untuk bekerja secara teratur, maka akan

memperoleh hasil yang baik. Jika sifat keteraturan ini telah benar-benar diterapkan menjadi kebiasaan seorang mahasiswa dalam hidupnya, maka sifat ini akan mempengaruhi pula jalan pikirannya.

2. Disiplin Belajar

Dengan jalan disiplin untuk melaksanakan pedoman-pedoman dalam usaha belajar, barulah seorang mahasiswa akan belajar yang baik. tetapi banyak gangguan dalam belajar yang biasanya dihadapi seperti, malas dan keseganan untuk bertanya menjadi salah satu hambatan. Maka gangguan tersebut dapat diatasi jika seorang mempunyai disiplin yang baik.

3. Kosentrasi

Setiap mahasiswa yang menuntut ilmu harus memiliki konsentrasi dalam belajarnya. Tanpa konsentrasi ia tidak mungkin berhasil dalam belajar. Menurut (The Liang Gie) konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan menyampikan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Dalam belajar maka konsentrasi adalah memusatkan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan meyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran tersebut.

Dokumen terkait