• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prevalensi Coated Tongue pada Lansia

HASIL PENELITIAN

4.2 Prevalensi Coated Tongue pada Lansia

Tabel 3 menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu. Hasil penelitian ini didapatkan prevalensi lansia yang mengalami coated tongue adalah 70,83% (68 orang).

Tabel 3. Prevalensi Coated Tongue pada Lansia.

Coated Tongue Jumlah (n) Frekuensi (%)

Ya 68 70,83

Tidak 28 29,17

Total 96 100

Tabel 4 menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu berdasarkan usia. Prevalensi coated tongue pada lansia dengan rentang usia 45-59 tahun adalah 50% (22 orang). Prevalensi coated tongue pada lansia dengan usia 60-69 tahun adalah 86,67% (39 orang). Prevalensi coated tongue pada lansia dengan usia ≥70 tahun adalah 100% (7 orang).

Tabel 4. Prevalensi Coated Tongue pada Lansia berdasarkan Usia.

Usia

(Tahun) N

Coated Tongue

Ya Tidak

n % n %

45-59 44 22 50 22 50

60-69 45 39 86,67 6 13,33

≥70 7 7 100 0 0

Tabel 5 menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu berdasarkan jenis kelamin. Prevalensi coated tongue pada lansia dengan

jenis kelamin pria adalah 59,65% (34 orang). Prevalensi coated tongue pada lansia dengan jenis kelamin wanita adalah 87,18% (34 orang).

Tabel 5. Prevalensi Coated Tongue pada Lansia berdasarkan Jenis Kelamin.

Jenis

kelamin N

Coated Tongue

Ya Tidak

n % n %

Laki-laki 57 34 59,65 23 40,35

Perempuan 39 34 87,18 5 12,82

Tabel 6 menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu berdasarkan OHIS. Prevalensi coated tongue pada lansia dengan OHIS baik adalah 40% (6 orang). Prevalensi coated tongue pada lansia dengan OHIS sedang adalah 78% (39 orang). Prevalensi coated tongue pada lansia dengan OHIS buruk adalah 74,19% (23 orang).

Tabel 6. Prevalensi Coated Tongue pada Lansia berdasarkan OHIS.

OHIS N

Coated Tongue

Ya Tidak

n % n %

Baik 15 6 40 9 60

Sedang 50 39 78 11 22

Buruk 31 23 74,19 8 25,81

Tabel 7 menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu berdasarkan xerostomia. Prevalensi coated tongue pada lansia dengan

xerostomia adalah 88,57% (31 orang). Prevalensi coated tongue pada lansia tanpa xerostomia adalah 60,65% (37 orang).

Tabel 7. Prevalensi Coated Tongue pada Lansia berdasarkan Xerostomia.

Xerostomia N

Coated Tongue

Ya Tidak

n % n %

Ya 35 31 88,57 4 11,43

Tidak 61 37 60,65 24 39,35

BAB 5 PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu, kelompok lansia berusia ≥70 tahun merupakan kelompok yang memiliki jumlah subjek penelitian yang paling sedikit (Tabel 1). Penelitian Budiman tahun 2010 di Puskesmas Tanjungsari tentang pelayanan Jamkesmas di Kabupaten Bogor mendapatkan subjek penelitian dengan jumlah paling sedikit adalah kelompok lansia berusia ≥70 tahun yaitu sebanyak 8 orang.41 Jumlah lansia berisiko (≥70 tahun) yang berobat ke puskesmas berjumlah sedikit dikarenakan adanya pelayanan home care sehingga lansia yang berobat ke puskesmas menjadi lebih sedikit.42 Disamping itu, adanya posyandu lansia yaitu suatu pos pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat yang melayani penduduk lansia dimana pelaksanaannya dilakukan oleh lintas sektor pemerintah menjadikan lansia berisiko (≥70 tahun) lebih memilih pelayanan ke posyandu dibandingkan ke puskesmas.29 Pelayanan posyandu lansia yang memberikan kemudahan dalam pelayanan kesehatan kepada lansia, memberikan keringanan bagi lansia yang tak mampu sehingga lansia berisiko berobat ke puskesmas menjadi berkurang.42 Kecamatan Pancur Batu memiliki beberapa posyandu lansia yang dapat dijangkau lansia, khususnya yang jauh dari Puskesmas Pancur Batu sehingga jumlah lansia berusia ≥70 tahun yang datang berobat ke Puskesmas Pancur Batu menjadi lebih sedikit.

Data demografi lansia berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Pancur Batu menunjukkan jumlah lansia laki-laki lebih banyak (Tabel 2). Beberapa penyakit pada lansia laki-laki disebabkan oleh faktor merokok misalnya hipertensi, stroke, dan pneumonia sehingga banyak lansia laki-laki berobat jalan dengan mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan termasuk puskesmas.29 Laki-laki cenderung kurang memperhatikan kesehatannya pada usia muda sehingga umumnya memiliki keluhan kesehatan pada saat memasuki usia lanjut. Keluhan pada lansia merupakan efek dari penyakit kronis seperti asam urat, darah tinggi, rematik, dan diabetes melitus.43

Permasalahan kesehatan ini mendorong lansia laki-laki banyak ke puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pengambilan rujukkan.42

Penelitian ini menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia di Puskesmas Pancur Batu adalah 70,83% (Tabel 3). Penelitian yang dilakukan Nur’aeny pada tahun 2016 mengenai profil lesi mulut pada kelompok lansia di Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung menunjukkan prevalensi coated tongue sebanyak 55%.4 Pada umumnya banyak lansia memiliki kesehatan rongga mulut yang buruk, hal ini disebabkan kemampuan fisik yang menurun.31 Prevalensi coated tongue pada lansia banyak terjadi karena kemampuan fisik yang menurun menyebabkan lansia sulit untuk membersihkan lidahnya sehingga mengakibatkan akumulasi sisa-sisa makanan dan bakteri pada dorsal lidah yang menyebabkan terbentuk coated tongue. Selain itu, sekresi saliva yang sedikit pada lansia menyebabkan menurunnya pertahanan terhadap bakteri sehingga bakteri menumpuk pada dorsal lidah dan terjadi coated tongue.26 Lansia juga mengalami perubahan pola diet dimana makanan lunak yang dikonsumsi lansia menyebabkan keratin tidak dapat terangsang untuk mengelupas sehingga terbentuk coated tongue.18,24

Penelitian ini menunjukkan prevalensi coated tongue berdasarkan usia. Pada lansia di Puskesmas Pancur Batu dengan rentang usia ≥70 tahun merupakan kelompok yang paling tinggi (Tabel 4). Prevalensi coated tongue yang tinggi dihubungkan dengan bertambahnya usia.4 Meningkatnya usia menyebabkan papila fungiformis mengecil dan pemanjangan papila filiformis.18 Pemanjangan papilla filiformis terjadi karena pada lansia umumnya kehilangan gigi menyebabkan lansia lebih memilih makanan lunak sehingga keratin tidak dapat mengelupas. Keratin yang tidak mengelupas menyebabkan papila filiformis mengalami pemanjangan hal ini mengakibatkan retensi sisa-sisa makanan dan bakteri pada dorsal lidah sehingga prevalensi coated tongue pada lansia menjadi semakin tinggi.26 Penelitian Omor et al.

pada tahun 2015 di Rumah Sakit Yordania tentang prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan coated tongue menemukan ada hubungan yang kuat antara coated tongue dengan bertambahnya usia.5

Penelitian ini menunjukkan subjek penelitian coated tongue pada lansia dengan jenis kelamin perempuan memiliki prevalensi coated tongue yang lebih tinggi (Tabel 5). Hal ini dikaitkan dengan perubahan hormonal pada perempuan yang terjadi pada masa menopause. Salah satu perubahan fisik yang dapat terjadi selama menopause adalah perubahan pada rongga mulut seperti xerostomia.44 Lidah dapat mengalami coated tongue pada pasien dengan keadaan xerostomia.Xerostomia dapat terjadi dengan atau tanpa berkurangnya sekresi saliva sehingga ketika aliran saliva berkurang maka terjadi penurunan produksi antimikroba yang mengakibatkan mikroorganisme meningkat pada dorsal lidah dan menyebabkan coated tongue.45 Hal ini menyebabkan prevalensi coated tongue yang tinggi pada lansia perempuan.

Penelitian ini menunjukkan lansia yang mengalami coated tongue pada OHIS sedang memiliki prevalensi coated tongue paling tinggi yaitu 78% (Tabel 6).

Kebersihan mulut lansia dinilai dari adanya sisa makanan yang menempel di gigi atau debris dan kalkulus pada permukaan gigi dengan menggunakan Oral Hygiene Index Simplified.6 Coated tongue terjadi karena menumpuknya mikroorganisme seperti candida albicans dan streptokokus.15 Plak dan kalkulus yang terbentuk pada gigi bermanfaat bagi mikroorganisme dengan membentuk kolonisasi di rongga mulut. Hal ini menyebabkan berbagai mikroorganisme juga terdapat pada dorsal lidah yang membentuk coated tongue sehingga semakin buruk OHIS, prevalensi coated tongue juga semakin tinggi.7,46

Penelitian ini menunjukkan prevalensi coated tongue pada lansia dengan keadaan xerostomia. Kelompok lansia yang mengalami xerostomia memiliki prevalensi coated tongue yang paling tinggi (Tabel 7). Xerostomia merupakan persepsi subjektif dari mulut kering.40 Souza pada tahun 2011 mendapatkan prevalensi coated tongue yang tinggi disebabkan karena penurunan laju aliran dan peningkatan kekentalan saliva yang menyebabkan penurunan kemampuan self cleansing dan penurunan antimikroba pada saliva.47 Penurunan kemampuan self cleansing menyebabkan penumpukan sisa-sisa makanan pada permukaan lidah sehingga mengakibatkan coated tongue. Penurunan antimikroba pada saliva

menyebabkan terjadinya akumulasi mikroorganisme pada dorsal lidah sehingga menyebabkan coated tongue.15

BAB 6

Dokumen terkait