BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.6 Prevalensi Morfologi Kondilus Mandibularis Pada Perempuan
Tabel 6. Prevalensi morfologi kondilus mandibularis pada perempuan dengan gejala gangguan sendi temporomandibula dan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula kondilus yang mengalami osteofit. Bentuk sklerosis tidak ditemukan pada kelompok ini. Pada perempuan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula, terdapat 6 (42,9%) kondilus yang normal. 5 (35,7%) kondilus mengalami flattening, 3 (21,4%) kondilus mengalami erosi dan bentuk osteofit serta sklerosis tidak ditemukan pada perempuan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula.
Gambar 7. Morfologi kondilus mandibularis yang mengalami kelainan. A adalah flattening. B adalah erosi. C adalah osteofit dan D adalah sklerosis. (dokumentasi pribadi)
BAB 5 PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat variasi morfologi kondilus mandibularis pada pasien edentulus penuh dengan dan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibular. Penelitian ini menggunakan radiografi panoramik, dimana hasil foto panoramik morfologi kondilus mandibularis dikategorikan kepada lima jenis yaitu normal, flattening, erosi, osteofit dan sklerosis. Sampel yang digunakan adalah individu edentulus penuh yang mengalami gangguan sendi temporomandibula.
Dalam penelitian ini, digunakan sampel sebanyak 36 pasien edentulus penuh dengan dan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula yang sesuai kriteria inklusi. Pada sampel dilakukan pengambilan foto radiografi panoramik untuk melihat kondilus mandibularis pasien. Dari hasil panoramik tersebut dilakukan evaluasi terhadap morfologi kondilus mandibularis pasien.
Berdasarkan penelitian pada tabel 1, terlihat bahwa kelainan morfologi kondilus mandibularis mengalami bentuk flattening 43,1% dan bentuk osteofit sebanyak 1,4%. Hal ini mirip dengan penelitian Limchaichana dimana pada penelitiannya didapati bahwa bentuk flattening adalah bentuk yang paling umum ditemukan yaitu 38%, prevalensi bentuk osteofit pada penelitian Limchaichana adalah yang paling sedikit ditemukan yaitu sebanyak 17%.13
Pada tabel 2 menunjukkan morfologi kondilus mandibularis pada dua kelompok, yaitu kelompok dengan gejala gangguan sendi temporomandibula dan kelompok tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula. Kelainan yang paling banyak ditemukan adalah flattening baik pada kedua kelompok tersebut, dimana pada kelompok dengan gejala gangguan sendi temporomandibula, bentuk flattening ditemukan sebanyak 40%. Pada kelompok tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula, flattening ditemukan sebanyak 46,9%. Hal ini sama dengan penelitian Muir dkk, dimana bentuk flattening adalah bentuk yang paling banyak ditemukan pada pasien tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula, yaitu
sebanyak 14%.13 Pada penelitian Anuna dkk, didapati bahwa bentuk flattening merupakan bentuk yang paling sering ditemukan pada pasien dengan gejala gangguan sendi temporomandibula yaitu sebanyak 80%.14
Pada penelitian ini, kelainan bentuk kondilus yang paling banyak ditemukan adalah flattening. Pada penelitian Kalladka dkk, perubahan morfologi kondilus yang paling sering ditemukan adalah flattening diikuti dengan erosi pada permukaan kondilus.47 Flattening adalah suatu keadaan dimana bentuk tulang menjadi rata, berlawananan dengan bentuk kondilus normal yang cembung. Menurut Pontual dkk, flattening pada kondilus terjadi disebabkan oleh beban berlebihan yang diterima oleh sendi temporomandibula. Jadi, tingginya prevalensi flattening pada penelitian dapat dijelaskan dengan kemungkinan terjadinya perubahan adaptif pada kondilus disebabkan oleh beban yang berlebihan pada sendi temporomandibula.48 Bentuk osteofit terjadi ketika tubuh menyesuaikan diri untuk memperbaiki sendi pada tahap lanjutan dari perubahan degeneratif. Erosi terjadi pada tahap awal dari perubahan degeneratif, menunjukkan bahwa perubahan tulang terjadi akibat sendi temporomandibula yang tidak stabil.48
Pada tabel 2, ditemukan bahwa kelainan kondilus yang paling sedikit pada kelompok dengan dan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula adalah sklerosis. Hal ini mungkin disebabkan oleh beban pengunyahan yang diterima oleh pasien adalah lebih besar dibandingkan beban yang menyebabkan flattening dan erosi.
Guang Li dkk menjelaskan bahwa pada tahap awal osteoartritis terjadinya flattening dan erosi, sedangkan sklerosis terjadi pada tahap lanjutan osteoartritis. Sklerosis terjadi apabila beban yang diterima adalah berlebihan dan hal ini dinyatakan dapat memicu proses remodelling pada tulang, mengakibatkan elastisitas tulang berkurang dan seterusnya terjadinya peningkatan ketebalan tulang tersebut.45 Pada tabel 3, flattening merupakan bentuk yang paling banyak ditemukan pada kedua kelompok tersebut, yaitu sebanyak 50% pada kelompok dengan gejala gangguan sendi temporomandibula, dan 50% pada kelompok tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula. Kondilus sklerosis merupakan bentuk yang paling sedikit ditemukan pada kedua kelompok tersebut yaitu sebanyak 5% pada kelompok dengan
gejala gangguan sendi temporomandibula dan 6,3% tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula.
Pada tabel 4, flattening merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan pada kedua kelompok tersebut, yaitu sebanyak 30% pada kelompok dengan gejala gangguan sendi temporomandibula, dan 43,8% pada kelompok tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula. Kondilus sklerosis merupakan bentuk yang paling sedikit ditemukan pada kelompok dengan gejala gangguan sendi temporomandibula yaitu sebanyak 5% dan kondilus erosi merupakan bentuk yang paling sedikit ditemukan pada kelompok tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula sebanyak 18,8%.
Dari tabel 3 dan 4 pada penelitian ini, terlihat sisi rahang kiri yang paling banyak ditemukan kelainan. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengunyahan pada satu sisi. Sendi temporomandibula secara umum mampu menahan beban pada kondisi normal, namun pada kondisi aktivitas unilateral seperti mengunyah satu sisi, kondilus pada sisi yang tidak aktif menerima tekanan yang lebih besar. Apabila kontak gigi pada kedua sisi rahang tidak seimbang, maka posisi mandibula menjadi tidak stabil, akibatnya tekanan biomekanik pada salah satu sisi akan menjadi berlebih dan kerusakan pada struktur sendi dapat terjadi. Dinyatakan juga bahwa kondisi seperti pola mengunyah yang menyimpang dapat mengakibatkan kelainan pada struktur sendi temporomandibula.49
Berdasarkan penelitian pada tabel 5, terlihat bahwa pada kelompok laki-laki dengan gejala gangguan sendi temporomandibula, bentuk flattening kondilus mandibularis merupakan kelainan yang paling sering ditemukan yaitu sebanyak 50%.
Pada kelompok laki-laki tanpa gejala gangguan sendi temporomandibula, bentuk flattening juga merupakan bentuk yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 55,6%. Hal ini mirip dengan penelitian Ujwala dkk dimana beliau mendapati bahwa kelainan pada kondilus yang paling banyak ditemukan pada pasien laki-laki yang menderita gangguan sendi temporomandibula adalah flattening.50 Tabel 6 menunjukkan bahwa pada kelompok perempuan dengan gejala gangguan sendi temporomandibula, bentuk flattening pada kondilus merupakan kelainan yang paling sering ditemukan yaitu sebanyak 31,8%. Pada kelompok perempuan tanpa gejala
gangguan sendi temporomandibula, bentuk flattening merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan yaitu sebanyak 35,7%.
Pada penelitian ini, ditemukan lebih banyak kelainan morfologi kondilus mandibularis pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hal ini mungkin disebabkan pasien laki-laki yang berusia diatas 60 tahun lebih banyak dibandingkan pada pasien perempuan dan pasien laki-laki tersebut mempunyai kebiasaan buruk merokok dimana hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor predisposisi osteoporosis yang mungkin tidak disadari oleh pasien. Menurut Shi dkk, osteoporosis mempunyai hubungan yang signifikan terhadap osteoartritis.51 Kalladka dkk menyatakan bahwa osteoartritis dapat terjadi dengan frekuensi yang lebih besar seiring bertambahnya usia.45 Pada penelitian ini juga faktor pengunyahan pada satu sisi lebih banyak ditemukan pada pasien laki-laki. Selain itu, perbedaan yang terlihat dalam hasil penelitian ini mungkin disebabkan oleh perbedaan jumlah sampel yang diteliti.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Morfologi kondilus mandibularis pada pasien edentulus penuh dengan gejala TMD yang paling banyak ditemukan adalah flattening yaitu sebanyak 37,5% dan morfologi kondilus mandibularis yang paling sedikit adalah bentuk sklerosis yaitu sebanyak 5%. Pada kelompok ini tidak ditemukan bentuk osteofit.
2. Morfologi kondilus mandibularis pada individu edentulus penuh tanpa gejala TMD yang paling banyak ditemukan adalah flattening yaitu sebanyak 40,6% dan morfologi kondilus mandibularis yang paling sedikit adalah sklerosis yaitu sebanyak 3,1%.
6.2 Saran
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya.
2. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat dijalankan dengan menggunakan sampel yang lebih besar.
3. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat digunakan pemeriksaan radiografi yang lain sebagai dasar pembanding dari penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anshary FM, Cholil IWA. Gambaran pola kehilangan gigi sebagian pada masyarakat desa Guntung Ujung Kabupaten Banjar. 2014; 2 :138–43.
2. Pengpid S, Peltzer K. The prevalence of edentulism and their related factors in Indonesia. BMC Oral Health; 2018: 1–9.
3. Emami E, Souza RFD, Kabawat M, Feine JS. The impact of edentulism on oral and general health. 2013;
4. Alzarea BK. Temporomandibular disorders (tmd) in edentulous patients : a review and proposed classification ( Dr. Bader’s Classification ). 2015;9(4):10–3.
5. Alzarea BK. Prevalence of Temporomandibular dysfunction in edentulous patients of Saudi Arabia. 2017;1–5.
6. Kim GS. Clinical treatment for symptoms associated with temporomandibular disorder. 2014;
7. Shetty R. Prevalence of signs of temporomandibular joint dysfunction in asymptomatic edentulous subjects: a cross-sectional study. Journal of Indian Prosthodontic. 2010; 10(2): 96-101.
8. Laplanche O, Ehrmann E, Pedetour P, Duminil G. TMD clinical diagnostic classification (temporo mandibular disorders). Journal of Dentofacial Anomalies Orthodontics. 2012; 15: 1-26.
9. Alves N, Quezada SA, Gonzalez-Villalobos A, et al. Morphological characteristics of the temporomandibular joint articular surfaces in patients with temporomandibular disorders. International Journal of Morphology;
2013;31(4):1317-21.
10. Gray MJR, Al-Ani ZM. Temporomandibular disorders, a problem-based approach. First Edition. West Sussex:Wiley-Blackwell; 2011: 24-8.
11. Hedge S, Shetty SR. Morphological and radiological variations of mandibular condyles in health and diseases : A Systematic Review. 2013;3(1):1–5.
12. Sonal V, Sandeep P, Kapil G, Christine R. Evaluation of condylar morphology using panoramic radiography. 2016;3:5–8.
13. Restrepo-Jaramillo X, Ross TEZ. Mandibular condyle morphology : comparison of mri and panoramic imaging. 2012.
14. Mathew LA, Sholapurkar AA, Pai MK. Condylar changes and its association with age, tmd, and dentition status: a cross-sectional study. International Journal of Dentistry; 2011; 1-7.
15. Frommer HH, Stabulas-Savage JJ. Radiology for the dental professional, 9th Edition. Missouri: Mosby Elsevier; 2011. 234-7.
16. Jeyapalan V, Krishnan CS. Partial edentulism and its correlation to age , gender , socio-economic status and incidence of various Kennedy ’ s Classes – A Literature Review. 2015;9(6).
17. Fayad MI, Baig MN, Alrawaili AM. Prevalence and pattern of partial edentulism among dental patients attending College of Dentistry , Aljouf University , Saudi Arabia. 2016;187–91.
18. Geminiani A. Treatment Options for the Edentulous Patient : Case Scenarios , Part II. 2019;1–10.
19. Kaira LS. Prevalence of complete edentulism among Udaipur population of India.
Saudi J Dent Res. The Saudi Journal for Dental Research; 2014;5(2):139–45.
20. Rajaraman V, Ariga P, Dhanraj M, Jain AR. Effect of edentulism on general health and quality of life. 2018;
21. Craddock HL. Consequences of Tooth Loss : 1 . The patient perspective − aesthetic and functional implications. 2009;(December):616–9.
22. Kuć J, Sierpińska T, Gołębiewska M. Alveolar ridge atrophy related to facial morphology in edentulous patients. 2017;1481–94.
23. Knezovic-Zlataric D, Celebic A, Lazic B. Resorptive changes of maxillary and mandibular bone structures in removable denture wearers. 2002;36:261-5.
24. Celebic A, Bukovic D, Petricevic N, Tadin. Decreasing of residual alveolar ridge height in complete denture wearers. a five year follow up study. 2010;34(3):1051-6.
25. Rosen JC. The epidemiology and pathogenesis of osteoporosis. 2017;
26. Al-shumailan YR, Al-manaseer WA. Temporomandibular disorder features in complete denture patients versus patients with natural teeth ; 2010;30(1):254–9.
27. Kirov DN, Krastev DS. Prevalence of signs and symptoms of temporomandibular disorders in patients wearing complete dentures. 2014;3(10):2012–4.
28. Schiffman E, Ohrbach R, Truelove E et al. Diagnostic criteria for temporomandibular disorders (DC/TMD) for clinical and research and research applications: recommendations of the International RDC/TMD Consortium Network and Orofacial Pain Special Interest Group. 2014;1(14):1-22.
29. Sharma S, Gupta DS, Pal US, S JK. Etiological factors of temporomandibular joint disorders. 2011;2(2):116–9.
30. Chisnoiu PD, Lascu L, Picos A. Factors involved in the etiology of temporomandibular disorders - a literature review. 2015;88(4):473–8.
31. Bumann A, Lotzmann U. TMJ disorder and orofacial pain: the role of dentistry in a multidisciplinary diagnostic approach. Stuggart: Georg Thieme Verlag; 2002.
58-9.
32. Olson AK. Manual physical therapy of the spine. 2nd edition. Missouri: Mosby Elsevier; 2016. 7.
33. Valle-Corotti K, Pinzan A, Valle CVM et al. Assessment of temporomandibular disorder and occlusion in treated class III malocclusion patients. Journal of Applied Oral Science. 2007; 15(2): 110-4.
34. Wright FE. Manual of temporomandibular disorder. 2nd edition. Iowa:Willey-Blackwell; 2010. 33-4.
35. Apostu MA, Checherita L, Pendefunda CA, Itfeni G. The importance of articular mobility testing during tmj clinical examination technique. Romanian Journal of Oral Rehabilitation. 2018; 10(2): 144-7.
36. Ombregt L. A system of ortopaedic medicine. 3rd edition. London: Churchill Livingstone Elsevier; 2013. 206-7.
37. Pawar R, Gulve N, Nehete A et al. Examination of the temporomandibular joint-a review. Journal of Applied Dental and Medical Sciences. 2016; 2(1): 146-51.
38. Sale H, Bryndahl F, Isberg A. Temporomandibular joints in asymptomatic and symptomatic nonpatient volunteers: a prospective 15-year follow-up clinical and MR imaging study. 2013; 267(1): 183-94.
39. Gopal KS, Shankar R, Vardhan HBG. Prevalence of temporo-mandibular joint disorder in symptomatic and asymptomatic patients: a cross-sectional study.
International Journal of Advanced Health Science. 2014; 1(6): 14-20.
40. Mallya MS, Lam NWE. White and Pharoah’s oral radiology principles and interpretation. 8th edition. Missouri: Elsevier; 2018. 420-1.
41. Scheid CR, Weiss G. Woelfel’s Dental Anatomy. Eighth Edition. Philadelphia:
Wolters Kluwer; 2012. 257-9.
42. Crow HC, Parks E, Campbell JH, Stucki DS, Daggy J. The utility of panoramic radiography in temporomandibular joint assessment. 2005;91–5.
43. Cruz S, Melo SLS, Freitas QD et al. Relationship between articular eminence inclination and alterations of the mandibular condyle: a CBCT study.
2017;31(25):1-8.
44. Tolentino SDE, Gusmão CHP, Cardia SG, et al. Idiopathic osteosclerosis of the jaw in a brazilian population:a retrospective study. Acta Stomatologica Croatia.
2014; 48(2): 183-92.
45. Li G, Yin J, Gao J, et al. Subchondral bone in osteoarthritis: insight into risk factors and microstructural changes. Arthritis Research And Therapy. 2015;
15(223): 1-12.
46. Johaidy SA. Morfologi kondilus mandibularis ditinjau dari radiograf tmj pada individu dengan kehilangan gigi posterior di rsgm fkg usu
47. Kalladka M, Quek S, Heir G, Eliav E, Mupparapu M, Viswanath A.
Temporomandibular joint osteoarthrithis: diagnosis and long-term conservative management: a topic review. Journal of Indian Prosthodontic Soc. 2014;14(1):6-15.
48. Pontual ML, Freire JSL, Barbosa JMN, Fraza MAG, Pontual A, Fonseca MM.
Evaluation of bone changes in the temporomandibular joint using cone beam CT.
Dentomaxillofacial Radiology. 2012; 41: 24-9.
49. Windriyatna, Sugiatno E, Tjahjanti E. Pengaruh kehilangan gigi posterior rahang atas dan rahang bawah terhadap gangguan sendi temporomandibula (tinjauan klinis radiografi sudut inklinasi eminensia artikularis). Jurnal Kedokteran Gigi.
2015; 3(6): 315-20.
50. Shetty SU, Burde NK, Naikmasur GV,Sattur PA. Assessment of condylar changes in patients with temporomandibular joint pain using digital volumetric tomography. 2014;1-8.
51. Shi J, Lee S, Pan C H et al. Association of condylar bone quality with tmj osteoarthritis. Journal of Dental Research. 2017; 1-7.
Lampiran 1
KUESIONER PENELITIAN
UNIT RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
No. Sampel :
Nama Pemeriksa : Tanggal Pemeriksa :
A. IDENTITAS RESPONDEN
Nama :
Jenis Kelamin : Lk/Pr Umur : (tahun)
No. Hp :
Pekerjaan :
MORFOLOGI KONDILUS MANDIBULARIS PADA PASIEN EDENTULUS PENUH DENGAN DAN TANPA GEJALA TMD DITINJAU DARI RADIOGRAFI PANORAMIK
B. RIWAYAT DENTAL
1. Sudah berapa lama anda mengalami kehilangan seluruh gigi anda?
a. < 1 tahun b. > 1 tahun
2. Apakah anda pernah mengunjungi dokter gigi untuk medapatkan perawatan gigi tiruan lengkap?
a. Ya b. Tidak
3. Jika ya, apakah anda memakai gigitiruan lengkap anda setiap hari, kecuali saat tidur?
a. Ya b. Tidak
4. Jika tidak, pada waktu kapan anda memakai gigitiruan anda?
……….
5. Apakah anda mengalami kesulitan untuk membuka dan menutup mulut?
a. Ya b. Tidak
6. Adakah anda mengalami rasa nyeri pada daerah di depan telinga anda ketika anda membuka dan menutup mulut?
a. Ya b. Tidak
7. Apakah anda mengalami rasa nyeri di otot wajah anda ketika membuka dan menutup mulut, menguap lebar dan mengunyah?
a. Ya b. Tidak
8. Apakah anda ada terdengar bunyi pada daerah di depan telinga anda sewaktu anda membuka dan menutup mulut?
a. Ya b. Tidak
9. Apakah anda pernah mengalami kondisi dimana saat anda menguap terlalu lebar atau tertawa terlalu lebar, rahang anda tiba-tiba tidak bisa ditutup?
a. Ya b. Tidak
10. Jika ya, apakah yang dilakukan anda untuk memperbaiki kondisi tersebut?
a. Mengunjungi dokter untuk mendapatkan perawatan
b. Rahang tersebut akan kembali keposisinya semula secara spontan.
11. Apakah anda menderita penyakit yang dapat mempengaruhi perubahan tulang misalnya tulang keropos (osteoporosis)?
a. Ya b. Tidak
12. Apakah anda pernah mengalami kecelakaan/trauma/jatuh yang melibatkan rahang bawah?
a. Ya b. Tidak
C.PEMERIKSAAN KLINIS
1. Peneliti melihat keadaan rongga mulut subjek penelitian dengan menggunakan kaca mulut.
Hasil pemeriksaan :
Edentulus pada rahang atas
Edentulus pada rahang bawah
2. Pemeriksaan Palpasi ( pada pasien tanpa gejala TMD ) Hasil pemeriksaan :
Rasa nyeri sewaktu membuka dan menutup mulut
3. Pemeriksaan Auskultasi ( pada pasien tanpa gejala TMD ) Hasil pemeriksaan :
Bunyi clicking saat membuka mulut
Bunyi crepitus saat membuka mulut
Lampiran 2
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN
Kepada Yth:
Saudara/Saudari:
………
Saya, Muhammad Izhar bin Ismail, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU pada saat ini sedang melakukan penelitian di Unit Radiologi Kedokteran Gigi USU dengan judul “Morfologi Kondilus Mandibularis pada Pasien Edentulus Penuh Dengan dan Tanpa Gejala TMD Ditinjau dari Radiografi Panoramik”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat variasi morfologi kondilus mandibularis individu yang telah kehilangan seluruh gigi yang berumur 50-65 tahun dengan dan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibular.
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat mengetahui morfologi bentuk kondilus mandibularis pada individu yang telah kehilangan seluruh gigi, dengan dan tanpa gejala gangguan sendi temporomandibular menggunakan pemeriksaan radiografi panoramik. Selain itu, penelitian ini juga dapat membantu bapak/ibu dalam memahami kepentingan memakai gigitiruan lengkap untuk mencegah dari terjadinya gangguan sendi rahang (temporomandibula).
Pada penelitian ini, saya akan memberikan lembar kuesioner untuk diisi oleh bapak/ibu sebagai subjek penelitian dengan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan data pribadi dan riwayat kesehatan. Apabila bapak/ibu sesuai dengan kriteria penelitian ini, saya akan melakukan pengambilan foto radiografi panoramik di Unit Radiologi Kedokteran Gigi RSGM USU.
Pengambilan foto panoramik tidak berbahaya karena pasien dipasangkan baju apron yang dipakai selama foto panoramik berlangsung sebagai pelindung dari sinar radiasi. Pada saat pengambilan foto panoramik, bapak/ibu diminta untuk berdiri selama 5 menit dengan posisi kepala tegak lurus serta mengikut instruksi radiographer untuk
menggigit gigitan (bite block) yang disediakan. Penelitian ini tidak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya karena hanya dilakukan satu kali pengambilan foto dengan dosis yang rendah, yaitu 0.004-0.03 mSv (dosis lethal > 10 sV).
Pada penelitian ini bapak/ibu tidak akan dikenakan biaya. Identitas bapak/ibu sebagai subjek penelitian akan dirahasiakan oleh saya. Sebagai tanda terima kasih atas patisipasi bapak/ibu dalam penelitian ini, saya akan memberikan imbalan berupa souvenir.
Jika bapak/ibu sudah memahami isi dari lembar penjelasan ini dan bersedia menjadi subjek penelitian, saya mohon agar bapak/ibu dapat menandatangani surat pernyataan kesediaan untuk menjadi subjek penelitian yang terlampir pada halaman berikutnya secara sadar dan tanpa paksaan dan dikembalikan kepada pihak peneliti.
Perlu diketahui bahwa surat kesediaan tersebut tidak mengikat dan bapak/ibu dapat mengundurkan diri dari penelitian ini kapan saja selama penelitian ini berlangsung dan subjek tidak dikenakan biaya apa pun. Apabila ada keluhan dan sakit yang berhubungan dengan penelitian ini, saya bersedia untuk menanggung segala biaya perobatan bapak/ibu. Silahkan menghubungi saya dengan no hp 081375657355.
Demikian lembar penjelasan ini saya perbuat, semoga keterangan ini dapat dimengerti. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan bapak/ibu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
Medan, ………. 2019 Peneliti,
(Muhammad Izhar bin Ismail)
Lampiran 3
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Alamat :
No. Telpon/HP :
Menyatakan telah membaca lembar penjelasan kepada subjek penelitian dan sudah mengerti serta bersedia untuk menjadi subjek dalam penelitian atas nama Muhammad Izhar bin Ismail yang berjudul “Morfologi Kondilus Mandibularis pada Pasien Edentulus Penuh Dengan dan Tanpa Gejala TMD Ditinjau dari Radiografi Panoramik” dan menyatakan tidak keberatan maupun melakukan tuntutan di kemudian hari.
Demikian pernyataan ini saya perbuat dalam keadaan sehat, penuh kesadaran tanpa paksaan dari pihak manapun.
Medan, ……….. 2019 Yang menyetujui,
Subjek penelitian
(……….)
Lampiran 4
SURAT PERSETUJUAN KOMISI ETIK
Lampiran 5
DATA HASIL PERHITUNGAN SPSS
TMD * Morfologi Kondilus Crosstabulation
Morfologi Kondilus
Total Normal Flattening Erosi Osteofit Sklerosis
TMD A Count 7 15 8 1 1 32
TMD * Morfologi Kondilus (Kiri) Crosstabulation
Morfologi Kondilus (Kiri)
Total Normal Flattening Erosi Osteofit Sklerosis
TMD A Count 1 8 5 1 1 16
TMD * Morfologi Kondilus (Kanan) Crosstabulation
Morfologi Kondilus (Kiri)
Total Normal Flattening Erosi Osteofit Sklerosis
TMD A Count 6 7 3 0 0 16
Morfologi Kondilus * TMD * Jenis Kelamin Crosstabulation
Lampiran 6
RINCIAN BIAYA PENELITIAN
“MORFOLOGI KONDILUS MANDIBULARIS PADA PASIEN EDENTULUS PENUH DENGAN DAN TANPA GEJALA GANGGUAN SENDI
TEMPOROMANDIBULA DITINJAU DARI RADIOGRAFI PANORAMIK”
Rincian dana yang diperlukan dalam penelitian ini, yaitu:
Biaya pengambilan foto radiografi panoramik : Rp 3.000.000 Biaya alat tulis, kertas dan tinta printer : Rp 300.000 Biaya pengadaan proposal dan hasil penelitian : Rp 400.000
Biaya souvenir : Rp 300.000
Jumlah : Rp 4.000.000
Biaya penelitian ditanggung oleh peneliti.
Peneliti
Muhammad Izhar bin Ismail
Lampiran 7
JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN
No. Kegiatan
Waktu Penelitian
Agustus 2018 September 2018 Oktober 2018 November 2018 Desember 2018
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Laporan 2. Seminar Proposal 3. Revisi Proposal 4. Pengurusan Surat Izin 5. Pengumpulan Data 6.
Pengolahan dan Analisis Data
7. Penyusunan Laporan
No. Kegiatan
Waktu Penelitian
Januari 2019 Februari 2019 Maret 2019 April 2019 Mei 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Laporan 2. Seminar Proposal 3. Revisi Proposal 4. Pengurusan Surat Izin 5. Pengumpulan Data 6.
Pengolahan dan Analisis Data
7. Penyusunan Laporan
No. Kegiatan
Waktu Penelitian
Juni 2019 Juli 2019 Agustus 2019 September 2019 Oktober 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Laporan 2. Seminar Proposal 3. Revisi Proposal 4. Pengurusan Surat Izin 5. Pengumpulan Data 6.
Pengolahan dan Analisis Data
7. Penyusunan Laporan
Lampiran 8
CURRICULUM VITAE
Riwayat Peneliti
Nama : Muhammad Izhar Bin Ismail
Nama : Muhammad Izhar Bin Ismail