PT SOECHI LINES Tbk.
diberikan adalah berupa pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) dan bea cukai untuk impor komponen oleh galangan kapal domestik. PPN juga tidak dipungut untuk penyerahan kapal-kapal yang dibangun di galangan kapal dalam negeri.
Agar pelaku galangan kapal dalam negeri memiliki peluang pasar yang besar, pemerintah bahkan mengharuskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta Kementerian/Lembaga untuk memesan pembangunan kapal di galangan kapal dalam negeri.
Industri galangan kapal domestik akan banyak menerima pekerjaan pembangunan kapal-kapal dari dukungan Pemerintah ini. Sebelumnya, pembangunan kapal baik oleh Kementerian/Lembaga maupun BUMN lebih banyak dilakukan di galangan kapal luar negeri.
Sementara itu, untuk memperkuat infrastruktur maritim Pemerintah akan membangun sekitar 600 unit kapal dengan berbagai ukuran selama 2015-2019. Investasi untuk pembangunan kapal-kapal ini akan senilai lebih dari Rp 50 triliun.
Kemudian, prospek industri galangan kapal lainnya adalah bahwa kapal- kapal selalu memerlukan perawatan dan perbaikan sepanjang masa usia penggunaannya. Menurut data Kementerian Perhubungan hingga tahun 2014 jumlah kapal berbendera Indonesia telah mencapai 14 ribu unit, jumlahnya 2 kali lipat sejak tahun 2006 setelah pemberlakukan azas
cabotage. Jumlah kapal ini akan menyediakan peluang pasar tambahan bagi industri galangan domestik untuk pekerjaan perawatan dan perbaikan kapal.
Dalam penciptaan daya saing galangan kapal domestik ini, Pemerintah menargetkan galangan kapal domestik akan dapat membangun kapal untuk kebutuhan sendiri dengan kapasitas total per tahun mencapai 2 juta DWT pada tahun 2025. Ukuran kapal yang dibangun ditargetkan akan dapat mencapai 300 ribu DWT pada tahun 2025.
Galangan kapal domestik juga ditargetkan akan dapat melakukan perbaikan dan perawatan dengan kapasitas total kapal mencapai 20 juta DWT. Galangan kapal domestik diharapkan akan dapat mampu melakukan perawatan dan perbaikan sendiri untuk kapal hingga ukuran 300 ribu DWT pada tahun 2025.
import components by domestic shipyards. VAT is also exempted for vessels built in domestic shipyards.
To ensure a large market share for domestic shipyards, the Government even requires the State Owned Enterprises (BUMN) and Ministries/ Institutions to order vessels from domestic yards.
The domestic shipyards will receive a lot of vessels construction request due to the Government’s support. Previously, the vessels owned by the Ministries/Institutions are constructed in foreign shipyards.
Meanwhile, to strengthen the maritime Infrastructure, the Government will build more than 600 vessels in various sizes during 2015-2019. The investment for the shipbuilding will be worth more than Rp 50 trillion.
Another prospects in shipyard industry will come from dry docking requirement for all vessels which provides wide market for repair & maintenance and dry docking in shipyards. According to Ministry of Transportation, in 2014 number of Indonesian-lagged vessels has reached 14 thousand units, doubled since 2006 when the cabotage law implemented. These vessels will provide additional market for domestic shipyard industry for repair and maintenance works.
For a competitive domestic shipyards, the Government targets in 2025 domestic shipyards would be able to build Indonesia own needs of vessels with a total capacity up to 2 million DWT per year. The vessels size being built is targeted to reach 300 thousand DWT vessel by 2025.
Domestic shipyards are also targeted to carry out repair and maintenance work for vessels with total capacity of 20 million DWT per year by 2025. Domestic shipyards are expected to have capacity of repair and maintenance for all Indonesia vessels with capacity up to 300 thousand DWT vessel in 2025.
• Pangsa Pasar
Menurut US Maritime Administration, total kapasitas angkut untuk kapal tanker berbendera Indonesia adalah mencapai 6,70 juta DWT per Januari 2015. Menggunakan data ini, maka kapasitas angkut armada kapal Perseroan yang saat ini mencapai 1,48 juta DWT mencerminkan pangsa pasar sebesar 22% bagi Perseroan.
• Market Share
According to the US Maritime Administration, total capacity for all Indonesian-lagged tanker vessels reached 6.70 million DWT as of January 2015 . Using this data, the capacity of the Company’s leet which currently at 1.48 million DWT, indicating a 22% of market share for the Company.
Strategi Marketing
Marketing Strategy
Produk
Operational excellence dengan mengutamakan health, quality, safety, environment (HQSE) yang merupakan bagian terpenting dalam penyediaan jasa penyewaan kapal
An operational exellence prioritizing health, quality, safety, environment (HQSE) which is the most important part in vessels charter services
Product Penambahan armada kapal untuk menangkap peluang pasar (market share)
Additional of leet to capture market share
Diversiikasi jenis dan ukuran kapal untuk dapat menyediakan jasa logistik end-to-end
The diversiication of vessels’ type and size to be able to provide end-to-end logistics services
Penguatan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia
Strengthening human resource competency and skills
Biaya
Terus mengeksplorasi upaya untuk operasi yang semakin eisien untuk segmen shipping
Continue to explore a more eicient operation in shipping business
Cost Sinergi antara segmen pelayaran dan segmen galangan kapal
Synergy between shipping business and shipyard business
Promosi
Marketing langsung (direct marketing) kepada klien maupun calon klien untuk segmen pelayaran
Direct marketing to clients and prospective clients for shipping business
Promotion Aktif dalam penciptaan merek (brand building) segmen galangan kapal
Active in brand building for shipyard business
Dibutuhkan strategi pemasaran yang efektif untuk dapat bertahan dan tumbuh di industri pelayaran Indonesia dalam 35 tahun terakhir.
Berikut strategi pemasaran yang dilakukan oleh Perseroan untuk dapat menangkap peluang dan memperbesar pangsa pasar, sehingga mampu terus membukukan pertumbuhan kinerja dari tahun ke tahun.
Efective marketing strategies were implemented to survive and grow in Indonesian shipping industry in 35 years.
The followings are the Company’s marketing strategy to capture and enlarge the market share, so as the Company’s performance grow sustainably from year to year.