BAB III PEMBAHASAN
F. Prinsip 5c Dalam Pemberian Kredit
Prinsip dalam penilaian analisis kredit yang sering dilakukan oleh pihak bank yang dikenal dengan analisis. Pihak Bank sering menggunakan Analisis 5C dalam menilai layak tidaknya suatu kredit diberikan kepada pihak nasabahnya.
Menurut Kasmir (2008 : 83) prinsip pemberian kredit dengan analisis 5C kredit dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Character
Pengertian Character adalah sifat atau watak seseorang dalam hal ini calon debitur. Tujuannya adalah memberikan keyakinan kepada bank bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dapat dipercaya. Character merupakan ukuran untuk menilai kemauan (willingness to pay) nasabah membayar kreditnya. Orang yang memiliki karakter baik akan berusaha untuk membayar kreditnya dengan berbagai cara.
Suatu pemberian kredit didasari atas dasar kepercayaan yang berasal dari pihak bank bahwa sipeminjam mempunyai moral, watak maupun sifat-sifat pribadi yang positif dan kooperatif.Disamping itu peminjam juga mempunyai rasa tanggung jawab, baik dalam kehidupan pribadi sebagai manusia, kehidupan
sebagai anggota masyarakat ataupun dalam menjalankan usahanya. Karakter merupakan faktor yang dominan sebab walaupun calon nasabah tersebut cukup mampu menyelessaikan utangnya, tetapi kalau tidak mempunyai iktikad baik tentu akan membawa berbagai kesulitan bagi bank dikemudian hari.
Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nsabah tersebut, dapat ditempuh melalui upaya anatara lain :
a. Meneliti riwayat hidup calon nasabah
b. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut dilingkungan usahanya c. Meminta bank to bank informasi
d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha di mana calaon nasabah berada
e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi
f. Mencari informasi apakah calon nasabah memilii hobi berfoya-foya
Dalam wawancara dengan calon nasabah, ketika menilai karakter seseorang, perlu diperhatikan nilai-nilai yang terdapat didalam hidupnya.
2. Capacity (Capability)
Untuk melihat kemampuan calon nasabah dalam membayar kredit yang dihubungkan dengan kemampuannya mengelola bisnis serta kemampuannya mencari laba. Sehingga pada akhirnya akan terlihat kemampuannya dalam mengembalikan kredit yang disalurkan. Semakin banyak sumber pendapatan seseorang, semakin besar kemampuannya untuk membayar kredit dan hal ini dapat membantu nasabah dalam membayar kredit yang telah diterimanya.
Kegunaan dari penilaian ini adalah utuk mengetaui/ mengukur sampai sejauh mana calon nasabah mampu mengembalikan atau melunasi utang-utangnya (ability to pay) secara tepat waktu dari usaha yag diperolehnya.
Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan berilut ini.
a. Pendekatan historis, yaitu melalui past performance, apakah menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu
b. Pendakatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus. Hal ini sangat penting untuk perusahaan-perusahaan yang menghendaki keahlihan teknologi tinggi atau perusahaan yang memerlukan profesionalisme tinggi seperti rumah sakit, biro konsultan, dan lain-lain.
c. Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank
d. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan ketrampilan nasabah melasanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan
e. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon nasabah mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan-peralatan/ mesin-mesisn, administarasi, dan keuangan, industrial relation samapai pada kemampuan merebut pasar 3. Capital
Capital adalah jumlah dan/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah.
Semkin besar modal sendiri dalam perusaaan, tentu semakin tinggi kesungguhan
calon nasabah dalam menjalankan usahanyadan bank akan lebih yakin dalam memberikan kredit. Kemampuan modal sendiri akan memberikan benteng yang kuat agar tidak mudah mendapat goncangan dari luar, misalnaya jika terjadi kenaikan suku bunga, komposisi modal ini perlu ditingkatkan. Penilaian atas besarnya modal sendiri merupakan hal yang penting mengingat kredit bank hnaya sebagian tambahan pembiayaan dan bukan biaya seluruh modal yang diperlukan.
Modal sendiri juga diperlukan bank sebagai alat kesungguhan dan tanggung jawab nasabah dalam menjalankan usahanya karna ikut menaggung resiko gagalnya usaha. Dalam praktik, kemampuan self-financing, yang sebaiknya jumlah lebih besar dari kredit yang diminta kepada bank. Bentuk dari self-financing ini tidak selalu harus berupa uang tunai, juga dalam bentuk barang modal seperti tanah, bangunan, mesi-mesin.Besar kecilnya caital ini dapat dilihat dari neraca perusahaan, yaitu component owner equity, laba yang ditahan, dan lain-lain.Untuk perorangan, dapat dilihat dari daftar kekayaan yang bersangkutan setelah dikurangi utang-utangnya.
Biasanya bank tidak akan bersedia untuk membiayai suatu usaha 100%, artinya setiap nasabah yang mengajukan permohonan kredit harus pula menyediakan dana dari sumber lainnya atau modal sendiri dengan kata
lain, capital adalah untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan yang dimiliki nasabah terhadap usaha yang akan dibiayai oleh bank.
4. Colleteral
Merupakan jaminan yang diiberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun nonfisik.Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan.
Jaminan juga harus diteliti keabsahannya sehingga jika terjadi suatu masalah,
jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin. Fungsi jaminan adalah sebagai pelindung bank dari risiko kerugian.
Collateral tersebut hars dinilai oleh bank untuk mengetahui sejauh mana resiko kewajiban financial nasabah kepada bank.Peniliaan terhadap jmainan ini meliputi jenis, lokasi, bukti pemilikan, dan status hukumnya.
Pada hakikatnya bentuk collateral tidak hanya berbentuk kebendaan, tetapi juga collateral yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomondasi, dan avails. Penilaian terhadap collateral ini dapat ditinjau dari dua segi sebagai berikut :
a. Segi ekonomis, yaitu nilai ekonomis dari barang-barang yang akan diagunkan
b. Segi yuridis, yaitu apakah jaminan tersebut memenuhi syarat-syarat yuridis untuk dioakai sebagai jaminan
Resiko pemberian kredit dapat dikurangi sebagian atau seluruhnya dengan meminta collateral yang baik kepada nasabah.
5. Condition of economy
Condition of economy adalah situasi dan kondisi politik, social, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi kedaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinan mempengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gamabaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan perlu diperhatikan penelitian mengenai hal-hal antara lain :
a. Kedaan konjungtor b. Peraturan pemerintah
c. Situasi politik dan perekonomian dunia
d. Keadaan lain yang mempengaruhi pemasaran
Kondisi perekonomian perlu disoroti mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Pemasaran
Kebutuhan, daya beli masyarakat, luas pasar, perubahan mode, bentuk persaingan peran barang subsitusi, dan lain-lain
b. Teknis produksi
Perkembangan teknologi, tersedianya bahan baku, cara penjualan denagn sistem tunai atau kredit
c. Peraturan pemerintah
Kemungkinan pengaruhnya terhadap produk yang dihasilkan, misalnya larangan peredaran jenis obat tertentu.
Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi sekarang dan untuk di masa yang akan datang sesuai sektor masing-masing. Dalam kondisi perekonomian yang kurang stabil, sebaiknya pemberian kredit untuk sektor tertentu jangan diberikan terlebih dahulu dan kalaupun jadi diberikan sebaiknya juga dengan melihat prospek usaha tersebut di masa yang akan datang sehingga dapat meminimalisir risiko yang akan timbul jika terjadi hal yang dapat merugikan kedua belah pihak.
PT. Bank Sumut KCP USU sebagai lembaga keuangan yangmenyalurkan menjadikan analisis 5c sebagai dasar penilaian dalam memutuskan layak atau tidaknya calon debitur memperoleh fasilitas kredit yang diberkan.
Hal tersebut terlihat, bagaimana PT. Bank Sumut KCP USU melakuakn analisis kelayakan kredit sebagai berikut sebagai berikut :
a. Character, PT. Bank Sumut KCP USU menilainya lewat Sistem Informasi Debitur (SID) yang bersumber dari data Bank Indonesia yag memberikan informasi tentang kemauan dari calon debitur membayar tanggung jawabnya.
Informasi character yang di peroleh melalui SID ( Sistem Informasi Debitur) adalah apakah debitur itu masuk kategori Sandi 1,Sandi 2,Sandi 3,Sandi 4 ataupun Sandi 5. SID merupakan singkatan dari Sistem Informasi Debitur, dimana SID yang berarti informasi yang diperoleh dari Bank Indonesia mengenai data-data nasabah, apakah nasabah tersebut tergolong nasabah aktif ataupun nasabah yang telah masuk dalam daftar nasabah yang diblacklist oleh Bank Indonesia. SID ini berupa sandi-sandi tentang masalah dari nasabah.
Sandi 1 berarti pembayaran kredit lancar.
Sandi 2 berarti pembayaran kreditnya dalam perhatian khusus.
Sandi 3 berarti pembayaran kreditnya kurang lancar.
Sandi 4 berarti pembayaran kreditnya diragukan.
Sandi 5 berarti pembayaran kredit nasabah dikatakan dalam keadaan macet.
Selain itu pada saat wawancara pihak bank menilai bagaimana Character aspek berikut :
a. Aspek Manajemen.
Penilaian ini dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan manajemen dari individu maupun pengurus perusahaan dalam mengelola usahanya.
Faktor minimal yang dianalisa meliputi:
1. Karakter pengurus perusahaan.
Penilaian pengurus poerusahaan, dimaksudkan adalah melakukan penilaian atas watak, sifat, pemenuhan kewajiban perushaan terhadap bank (finansial dan administrasi) serta sikap yang ditunjukan dalam berhubungan dengan bank.
2. Profesionalisme
Hal yang perlu mendapat perhatian:
Riwayat bisnis/pekerjaan, leadership, skill dan lain-lain
Reputasi usaha nasabah (hubungannya dengan relasi usaha nasabah)
b. Capacity, dalam menilai capacity pihak PT. Bank Sumut KCP USU melihat dari kemampuan calon debitur secara finanacial dan manajerial.
Secara financial PT. Bank Sumut KCP USU melihat dari laporan keuagan calon debitur serta menilai hal-hal seperti :
1. Besar pendapatan calon debitur baik dari usaha maupun gaji yang akan dikurangi dengan beban kehidupan sehari-hari calon debitur dan menjadi dasar penetapan berapa plafond kredit yanag akan diberikan.
2. Analisi proyeksi laporan keuanagn 3. Analisi cash flow
Secara Manejerial PT. Bank Sumut KCP USU melihat dari kemampuan calon debitur dalam menjalankan usahanya menilai hal-hal seperti :
1. Aspek produksi
Lokasi Usaha
Sumber Daya Manusia
Fasilitas Pemeliharaan
Prasarana dan Sarana 2. Aspek Pemasaran
Penilaian didasarkan atas kemampuan perusahaan memasarkan barang produksi/jasa, hasil usahanya baik yang sekarang maupun yang direncanakan.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam aspek pemasaran antara lain:
Barang dan jasa yang dipasarkan
Adanya barang subtitusi
Adanya perusahaan pesaing
Jenis barang yang dihasilkan
Segmen pasar yang akan dituju
Saluran distribusi
Daerah pemasaran
Strategi pemsaran
Potensi pemasaran
persaingan
c. Capital,
Pihak debitur harus memiliki modal sendiri yang artinya usaha tidak sepenuhnya diniyai oleh fasilitas kredit yang akan diterima oleh pihak debitur.
d. Colleteral
Merupakan salah satu patokan bagi PT. Bank Sumut KCP USU untuk menentukan seberapam besar besar plafond kredit yang akan diberikan.
Besaran Jmainan yang diberikan akan menjadi salah satu seberapa besar
kredot yang akan diberikan. PT. Bank Sumut KCP USU memberikan kredit maksimal 80 % dari nilai jaminan.
e. Condition of economy
Melihat apakah produk yang ditwarkan dari usaha yang dijalankan calon debitur merupakan produk konsumsi masyarakat atau sekedar produk musiman.Dan dalam hal ini PT. Bank Sumut KCP USU lebih memilih produk konsumsi masyarakat luas.
Selain itu PT. Bank Sumut KCP USUAnalisa terkait legalitas penduirian perusahaan, lehalitas usaha dan perijinan, legalitas permohonan kredit, dan legalitas barang agunan.
1. Legalitas Pndirian Badan Usaha
Dalam melakukan analisis terhadap legalitas pendirian Badan Usaha, harus dibedakan antara badan usaha yang berbadan hukum dengan badan usaha yang tidak berbadan hukum. Apabila calon debitur merupakan Badan Usaha yang berbadan hukum, analisa yang dilakukan antara lain dapat meliputi:
a. Akta Pendirian (berikut perubahannya) dibuat dengan akta notaris.
b. Akte Pendirian (berikut perubahannya) sudah mendapatkan persetujuan darei insta nsi yang berwenang.
c. Akta Pendirian (berikut perubahannya) beserta pengesahannya yang telah didaftarkan dalam daftar Perusahaan
d. Akta Pendirian (berikut perubahannya) tersebut telah diumumkan dalam berita negara dan tambahan berita negara republik Indonesia.
Sedangkan terhadap calon debitur yang berupa Badan Usaha yang tidak berbadan hukum, analisis yang dilakukan anatara lain meliputi:
a. Akta Pendirian (berikut perubahannya) dibuat Akta Notaris
b. Akta Pendirian (berikut perubahannya) didaftarkan dalam Daftar Perusahaan
c. Akta Pendirian (berikut perubahannya) didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri.
Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Status Kepemilikan
b. Kesesuaian ijin usaha nasabah sesuai dengan kegiatan usahanya yang tercantum dalam anggaran dasar perusahaan
c. Masa berlaku izin usaha nasabah
2. Legalitas Usaha dan Perijinan
Hal yang perlu diteliti dalam analisis legalitas usaha antara lain dapat berupa 1. Status Kepemilikan
2. Kesesuaian ijin usaha nasabah sesuai dengan kegiatan usahanya yang tercantum dalam anggaran dasar perusahaan
3. Masa berlaku izin usaha nasabah
4. Penilaian tentang legalitas usaha nasabah
3. Legalitas Permohonan Kredit
Penilaian ditunjukan kepada kewenangan pemohon baik secara individu maupun manajemen perusahaan, sesuai ketentuan anggaran dasar perusahaan
4. Legalitas Barang Agunan
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Meniliti bukti-bukti pemilikan barang yang diajukan sebagai jaminan
Untuk sertifikat tanah memeriksa keabsahannya ke BPN setempat
Untuk bangunan memeriksa IMB (Izin Mendirikan Bangunan) keperintah daerah setempat
Untuk mesin-mesin memeriksa faktur pembelian
Untuk kendaraan memriksa BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor)
b. Meneliti surat kuasa menjaminkan dari pemilik barang jaminan dalam hal barang tersebut bukan milik nasabah/perusahaan sendiri
c. Meneliti status kepemilikan atas jaminan, baik jaminan utama maupun tambahan harus dijelaskan apakah secara yuridis dapat dilaksanakan pengikatan secara notaril.