• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Prinsip dan ketentuan kontrak dalam Islam

Dalam kajian hukum Islam yang berkaitan dalam hal muamalah, masalah akad (‘aqad) atau perjanjian menempati posisi sentral, karena akad merupakan cara paling penting yang digunakan untuk memperoleh suatu maksud, terutama yang berkenaan dengan harta atau manfaat sesuatu secara sah.

Lafal akad berasal dari lafal Arab (ﺪ ا) yang secara etimologi berarti perikatan, perjanjian, dan permufakatan. Dalam fiqh didefinisikan dengan irtibathu

ijabin bi qabulin ‘ala wajhin masyruin’ yatsbutu atsaruhu fi mahallihi, yakni

pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengaruh pada obyek perikatan.9

Secara terminologi, akad memiliki arti umum (al-ma’na al-am) dan khusus

(al-ma’na al-khas). Adapun arti umum dari akad adalah “Segala sesuatu yang

dikehendaki seseorang untuk dikerjakan, baik yang muncul dari kehendaknya sendiri, seperti kehendak untuk wakaf, membebaskan hutang, thalak, dan sumpah, maupun yang membutuhkan pada kehendak dua pihak dalam melakukannya seperti jual beli,

9

Bank Indonesia Direktorat Perbankan Syari’ah, Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syari’ah, (Jakarta: Direktorat Perbankan Syari’ah, 2006), h.4

sewa menyewa, perwakilan, dan gadai/jaminan10” Sedangkan arti khusus (al-ma’na al-khas) akad adalah:

لﻮ بﺎ ا را

عوﺮ و ﻰ

اﺮ ا

Artinya: Pertalian atau keterikatan antara ijab dan qabul sesuai dengan kehendak syari’ah (Allah dan Rasulnya) yang menimbulkan persetujuan kedua belah pihak11.

Ijab dan qabul dimaksudkan untuk menunjukkan adanya keinginan dan kerelaan timbal balik para pihak yang bersangkutan terhadap isi akad. Oleh karena itu, ijab dan qabul menimbulkan hak dan kewajiban atas masing-masing pihak secara timbal balik. Ijab adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang diinginkan, sedangkan qabul adalah pernyataan pihak kedua untuk menerimanya12.

Mustafa Ahmad Az-Zarqa’ seorang pakar fiqih Yordania asal Siria, menyatakan bahwa tindakan hukum yang dilakukan oleh manusia terdiri atas dua bentuk, yaitu:

a. Tindakan berupa perbuatan

b. Tindakan berupa perkataan, dibagi lagi pada perkataan yang bersifat kontrak dan tidak bersifat kontrak13

2. Rukun dan Syarat kontrak (‘Aqad)

Suatu akad harus memenuhi beberapa rukun dan syarat akad. Rukun akad adalah unsur yang harus ada dan merupakan esensi dalam setiap akad. Jika salah satu rukun tidak ada menurut hukum Islam akad dipandang tidak pernah ada. Sedangkan

10

Azharuddin Lathif, Fiqh Mumalat, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h.60

11

TM.Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999), h.26

12

Azharuddin Lathif, Fiqh Mumalat, h.60

13

18

syarat adalah suatu sifat yang mesti ada pada setiap rukun, tetapi bukan merupakan esensi14.

a) Rukun Akad

Menurut Mazhab Hanafi, rukun akad hanya terdiri atas ijab dan qabul (shigat). Sedangkan hal lain yang oleh jumhur dipandang sebagai rukun, bagi mazhab Hanafi hanya dipandang sebagai pilar-pilar akad(lawazim al-‘aqd). Selain itu, ulama Mazhab Hanafi menambahkan satu hal lagi pada lawazim al-‘aqad, yaitu tujuan akad (maudhu’ al-‘aqad). Sedangkan menurut Jumhur Ulama Fiqh rukun aqad terdiri dari tiga, yaitu:

1) Pernyataan untuk mengikatkan diri (shigatul Aqdi)

Shigatul aqdi merupakan rukun akad yang terpenting, karena melalui

pernyataan ini dapat diketahui maksud dari masing-masing pihak yang mengadakan akad. Shigatul ‘aqdi diwujudkan dalam bentuk ijab dan kabul. Adapun yang melakukan ijab adalah pihak yang berkuasa dalam transaksi dan yang melakukan kabul adalah pihak yang membayar harga.

Shigatul aqdi ini memerlukan tiga syarat, yaitu

a) Harus terang pengertiannya, artinya harus ada kejelasan maksud dari kedua belah pihak yang mengadakan kontrak, dan tidak ada hal yang dapat menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Shigatul ‘aqdi harus diungkapkan secara jelas dan menunjukkan kehendak kedua pihak yang berakad. Isi lafadz haruslah menunjukkan kepada jenis kontrak yang dikehendaki oleh kedua belah pihak.

14

b) Harus ada kesesuaian antara ijab dan kabul, artinya kabul itu harus sesuai dengan ijab. Kabul harus mengikuti ketentuan ijab, sama pada setiap barang atau perkara yang diakadkan dan sama pada kadar pertukaran dalam perkara kontrak pertukaran dengan ijab.

c) Memperlihatkan kesungguhan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Ijab dan kabul harus diucapkan dengan sungguh-sungguh tanpa ada keragu-raguan.

2) Pihak-pihak yang mengadakan ‘aqad (Al-Muta’aqidain)

Al-muta’aqidain adalah pihak-pihak yang mengadakan kontrak.

Al-Muta’aqidain ini bisa terdiri dari satu orang atau lebih dan telah dianggap cakap untuk melakukan tindakan hukum. Dalam Mazhab Maliki dan Hanafi, orang yang mengadakan akad harus seorang yang berakal, yaitu mumayyiz yang telah sempurna umurnya tujuh tahun.

Dalam rukun akad orang yang melakukan ‘aqad disyaratkan harus telah akil baliq, artinya ia memiliki kecakapan untuk melakukan akad, tidak dungu, idiot, atau gila.

3) Objek akad (Al-Ma’qud’Alaih)

Al-Ma’qud ‘alaih adalah benda yang menjadi obyek akad. Dalam rukun ini, barang yang dijanjikan wujudnya dapat berupa komoditi, dapat pula berupa manfaat atau jasa.

Ada 5 syarat yang akan dijadikan ma’qud ‘alaih, yaitu:

a) Barang yang dijanjikan harus sudah ada ketika dilakukan akad

20

Barang tersebut dapat diserahkan ketika dilaksanakan akad.

c) Barang yang akan dijanjikan harus jelas dan diketahui oleh pihak-pihak yang mengadakan akad agar tidak terjadi silang sengketa di kemudian hari.

d) Para ulama (kecuali Mazhab Hanafi) menetapkan bahwa barang yang dijanjikan harus barang yang suci, bukan barang yang najis atau terkena najis.

3. Azas- azas perjanjian dalam Islam Azas-azas perjanjian dalam Islam adalah: 1.) Kebebasan(Al-Hurriyah)

Azas ini merupakan prinsip dasar dalam hukum perjanjian Islam, dalam artian para pihak bebas membuat suatu perjanjian atau akad (freedom of making

contract). Bebas dalam menentukan obyek perjanjian dan bebas menentukan

dengan siapa ia akan membuat perjanjian, serta bebas menentukan bagaimana cara menentukan penyelesaian sengketa jika terjadi dikemudian hari.

Azas kebebasan berkontrak di dalam hukum Islam dibatasi oleh ketentuan syari’ah Islam. Dalam membuat perjanjian ini tidak boleh ada unsur paksaan, kekhilafan, dan penipuan.

Dasar hukum mengenai asas ini tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 256, sebagai berikut:

ﺪ ﷲﺎ ﺆ و تﻮ ﺎ ﺮ ﻜ ا ﺪ ﺮ ا ﺪ ﺪ ا اﺮآإ

ﷲاو ﺎﻬ مﺎ ا ﻰ ﻮ ا ةوﺮ ﺎ ﻚ ا

)

ةﺮ ا

:

256

(

Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak

akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Baqarah: 256)

2.) Persamaan dan Kesetaraan (Al-Musawah)

Asas ini mengandung pengertian bahwa para pihak mempunyai kedudukan

(bargaining position) yang sama, sehingga dalam menentukan term and

condition dari suatu akad atau perjanjian setiap pihak mempunyai kesetaraan atau kedudukan yang seimbang.

Dasar hukum mengenai asas persamaan ini tertuang di dalam ketentuan Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13:

نإ اﻮ رﺎ ﺋﺎ و ﺎ ﻮ آﺎ و ﻰ أو ﺮآذ ﻜ ﺎ إ سﺎ ا ﺎﻬ ﺄ

ﺮ ﷲا نإ ﻜ أ ﷲا ﺪ ﻜ اﺮآأ

)

تاﺮ ا

:

13

(

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara

kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal(Al-Hujurat:

13)

3.) Keadilan(Al-‘Adalah)

Pelaksanaan azas ini dalam suatu perjanjian atau akad menuntut para pihak untuk melakukan yang benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan, memenuhi semua kewajibannya. Perjanjian harus senantiasa mendatangkan keuntungan yang adil dan seimbang. Serta tidak boleh mendatangkan kerugian bagi salah satu pihak.

22

Azas ini menyatakan bahwa segala transaksi yang dilakukan harus atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak, harus didasarkan pada kesepakatan bebas dari para pihak dan tidak boleh ada unsur paksaan, tekanan, penipuan, dan mis statement.

Dasar hukum adanya asas kerelaan dalam pembuatan perjanjian dapat dibaca dalam Al-Qur’an Surat an-Nisa ayat 29:

ضاﺮ ةﺮ نﻮﻜ نأ إ ﺎ ﺎ ﻜ ﻜ اﻮ أ اﻮ آﺄ اﻮ اء ﺬ ا ﺎﻬ ﺄ

ﺎ ر ﻜ نﺎآ ﷲا نإ ﻜ أ اﻮ و ﻜ

)

ءﺎ ا

:

29

(

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu( An-Nisa’ :29)

Kata suka sama suka menunjukkan bahwa dalam hal membuat perjanjian, khususnya di lapangan perniagaan harus senantiasa didasarkan pada asas kerelaan atau kesepakatan para pihak secara bebas15.

5.) Kebenaran dan Kejujuran (Ash-Shidq)

Bahwa di dalam Islam setiap orang dilarang melakukan kebohongan dan penipuan, karena dengan adanya penipuan atau kebohongan sangat berpengaruh dalam keabsahan perjanjian atau akad. Perjanjian yang didalamnya mengandung unsur kebohongan atau penipuan, memberikan hak kepada pihak lain untuk menghentikan proses pelaksanaan perjanjian tersebut.

15

Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syari’ah Di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), cet 1, h.56

Dasar hukum mengenai Ash-Shidiq, dapat kita baca dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 70:

اﺪ ﺪ ﻮ اﻮ ﻮ و ﷲا اﻮ اﻮ اء ﺬ ا ﺎﻬ ﺄ

)

بﺰ ﻷا

:

70

(

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (Al-Ahzab: 70)

6.) Tertulis (Al-Kitabah)

Bahwa setiap perjanjian hendaknya dibuat secara tertulis, lebih berkaitan demi kepentingan pembuktian jika dikemudian hari terjadi sengketa.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 282-283:

ﺎآ ﻜ ﻜ و ﻮ آﺎ ﻰ أ ﻰ إ ﺪ اﺪ اذإ اﻮ اء ﺬ ﺎﻬ ﺄ

ﻜ ﷲا ﺎ آ ﻜ نأ ﺎآ بﺄ و لﺪ ﺎ

ا يﺬ ا و

وأ ﺎ وأ ﺎﻬ ا ىﺬ ا نﺎآ نﺈ ،ﺄ و ر ﷲا و

نﺈ ﻜ ﺎ ر ﺪ ﻬ اوﺪﻬ و لﺪ ﺎ و ﻮه نأ

ءاﺪﻬ ا نﻮ ﺮ نﺎ أﺮ و ﺮ ر ﺎ ﻮﻜ

...

)

ةﺮ ا

:

282

-283

(

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai (Al-Baqarah:282-283)

Ayat ini mengisyaratkan agar akad yang dilakukan benar-benar berada dalam kebaikan bagi semua pihak. Bahkan juga di dalam pembuatan perjanjian

24

hendaknya juga disertai dengan adanya saksi-saksi (syahadah), gadai (rahn, untuk kasus tertentu), dan prinsip tanggung jawab individu16.

7.) Asas Konsensualisme

Suatu Kontrak sudah sah dan mengikat ketika tercapai kata sepakat, selama syarat-syarat lainnya sudah terpenuhi. Azas konsensualisme ini merupakan salah satu syarat untuk sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 1320 KUPerdata. Tanpa adanya kesepakatan ini, perjanjian tersebut batal demi hukum. Kesepakatan maksudnya adalah seiya-sekata tentang apa yang diperjanjikan. Dan kesepakatan ini dicapai dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan dan tekanan salah satu pihak.

8.) Asas Pacta Sunt Servanda (Azas Kepastian Hukum)

Secara harfiyah berarti janji itu mengikat. Yang dimaksudkan adalah bahwa jika suatu kontrak sudah dibuat secara sah oleh para pihak, maka kontrak tersebut sudah mengikat para pihak, bahkan mengikatnya kontrak yang dibuat oleh para pihak sama kekuatannya dengan mengikatnya sebuah undang-undang yang dibuat oleh parlemen dan pemerintah.

9.) Asas Iktikad Baik

Asas iktikad baik dapat disimpulkan dari pasal 11338 ayat (3) KUH Perdata yang berbunyi: “Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik.” Asas iktikad merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus

16

melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak.

Iktikad baik dibagi menjadi dua macam, yaitu iktikadbaik nisbi dan iktikad baik mutlak. Pada iktikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada iktikad baik mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.

10.)Asas Kepribadian

Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya kepentingan perorangan saja. 11.)Perjanjian Batal demi hukum

Yaitu, suatu asas yang menyatakan bahwa suatu perjanjian akan batal demi hukum jika tidak memenuhi syarat objektif.

12.)Keadaan memaksa (overmacht)

Yaitu suatu kejadian yang tak terduga dan terjadi di luar kemampuannya sehingga terbebas dari keharusan membayar ganti kerugian.

13.)Asas Canseling

Yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa perjanjian yang tidak memenuhi syarat objektif dapat dimintakan pembatalan.

26

Asas obligatoir suatu kontrak maksudnya bahwa setelah sahnya suatu kontrak, Kontrak tersebut sudah mengikat, tetapi baru sebatas menimbulkan hak dan kewajiban di antara para pihak.

15.)Azas Zakwaarneming

Dimana bagi seseorang yang melakukan pengurusan terhadap benda orang lain tanpa diminta oleh orang yang bersangkutan, ia harus mengurusnya sampai selesai17.

4. Hal-hal yang dapat merusak akad

Akad dipandang tidak sah atau sekurang-kurangnya dapat dibatalkan apabila terdapat hal-hal sebagai berikut:

a. Keterpaksaan atau Dures (al-Ikrah)

Salah satu asas akad menurut hukum Islam adalah kerelaan (al-ridha) dari para pihak yang melakukan akad. Implementasi asas ini diwujudkan dalam bentuk ijab-kabul yang merupakan unsur terpenting dalam akad. Jika sebuah akad dilakukan tanpa adanya kerelaan, berarti akad tersebut dibuat dengan secara terpaksa.

Dilihat dari akibat yang ditimbulkannya, para ulama membagi ikrah menjadi dua macam, yaitu:

17

Azharuddin Lathif dan Nahrowi, Pengantar Hukum Bisnis Pendekatan Hukum Positif dan Hukum Islam ( Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), cet 1, h.44

1. Pemaksaan sempurna (ikhrah tam), yaitu yang berakibat pada hilangnya jiwa, atau anggota badan, atau pukulan keras yang bisa mengakibatkan cacat fisik pada dirinya atau kerabatnya.

2. Pemaksaan tidak sempuna (ikhrah naqish), yaitu mengakibatkan rasa sakit yang ringan atau berupa pukulan yang ringan.

Para ulama mensyaratkan bahwa pemaksaan yang berpengaruh pada akad adalah pemaksaan yang tidak disyari’atkan (tidak dibenarkan secara hukum). Namun jika pemaksaan itu dikehendaki secara hukum, maka pemaksaan itu tidak berpengaruh. Misalnya, pemaksaan hakim terhadap seseorang yang berhutang untuk menjual kelebihan hartanya (dari kebutuhan) untuk membayar utang.

b. Kesalahan mengenai obyek akad (Ghalath)

Ghalath berarti kesalahan, yakni kesalahan orang yang berakad dalam menggambarkan obyek akad, baik kesalahan dalam menyebutkan zat (jenis) maupun dalam menyebutkan sifatnya. Misalnya, seseorang membeli perhiasaan yang diduganya adalah emas, namun ternyata tembaga. Akad seperti ini sama dengan akad pada sesuatu yang tidak ada obyeknya. Dengan demikian, status hukum jual beli tersebut adalah batal, karena obyek akad yang dikehendaki oleh pembeli tidak ada.

28

Tadlis adalah suatu upaya untuk menyembunyikan cacat obyek akad dan menjelaskan dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataannya untuk menyesatkan pihak yang berakad dan berakibat merugikan salah satu pihak yang berakad tersebut.

d. Ketidak seimbangan obyek akad (Ghaban) disertai tipuan (taghrir)

Pengertian Ghaban dikalangan fuqaha adalah tidak terwujudnya keseimbangan antara obyek akad (barang) dengan harganya, Seperti harganya lebih rendah atau lebih tinggi dari harga yang sesungguhnya. Sedangkan taghrir (penipuan) adalah menyebutkan keunggulan pada barang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

5. Macam-macam Akad

Dilihat dari aspek sifat dan hukumnya akad dibagi menjadi akad sah (shahih) dan akad yang tidak sah (ghair shahih). Akad sah adalah akad yang memenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Hukum akad ini adalah berlakunya seluruh akibat hukum akad (baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum) yang ditimbulkan oleh akad itu, Saat itu juga, dan mengikat bagi para pihak yang melakukannya. Sebagai contoh, jual beli yang sah dalam arti telah terpenuhi semua rukun dan syaratnya, setelah terjadi ijab dan kabul, Barang yang dijual menjadi milik pembeli dan harga penjualan barang menjadi milik penjual, kecuali apabila ada syarat khiyar. Perpindahan kepemilikan itu dipandang sudah terjadi walaupun belum dilakukan serah terima.

Menurut ulama Islam akad berakhir disebabkan terpenuhinya tujuan akad (tahqiq gharadh al-‘aqd), Fasakh, infisakh, kematian, dan ketidak-izinan (‘adal al-ijazah) dari pihak yang memilki kewenangan dalam akad mauquf.

a. Suatu akad dipandang berakhir apabila tujuan akad telah tercapai. Dalam akad jual beli misalnya, akad dipandang telah berakhir apabila barang telah berpindah tangan kepada pembeli dan harganya telah menjadi milik penjual. Dalam akad gadai (rahn) dan jaminan (kafalah) akad dipandang telah berakhir apabila utang telah dibayar. Demikian juga, akad berakhir disebabkan berakhirnya masa akad (intiha’ muddah al-‘aqad). Jika masa kontrak sudah berakhir misalnya, maka akad sewa menyewa sudah habis dan akad menjadi berakhir atau selesai dengan sendirinya.

b. Faskah. Sebuah akad berakhir disebabkan fasakh (pemutusan). Dalam akad yang mengikat bagi para pihak, ada beberapa alasan yang menyebabkan akad dapat atau bahkan harus di fasakh:

1. Disebabkan akad dipandang fasad, misalnya menjadi sesuatu yang tidak jelas spesifikasinya atau menjual sesuatu dengan dibatasi waktu. Jual beli semacam itu dipandang fasad, dan karenanya harus (wajib) di fasakh, baik oleh para pihak yang berakad maupun hakim, kecuali terdapat hal-hal yang menyebabkan fasakh tidak dapat dilakukan seperti pihak pembeli telah menjual barang yang dibelinya.

30

2. Disebabkan adanya khiyar. Pihak yang memiliki hak khiyar, baik khiyar

syarat, khiyar ‘aib, khiyar ru’yah maupun lainnya dibolehkan untuk

melakukan fasakh akad yang telah dilakukannya.

3. Disebabkan iqalah. Iqalah adalah fasakh terhadap akad berdasarkan kerelaan kedua belah pihak ketika salah satu pihak menyesal dan ingin mencabut kembali akad yang telah dilakukannya.

4. Disebabkan ‘adam al-tanfidz, yakni kewajiban yang ditimbulkan oleh akad tidak dipenuhi oleh para piihak atau salah satu pihak bersangkutan. Jika hal itu terjadi, akad boleh fasakh. Misalnya dalam akad yang mengandung khiyar naqd (khiyar pembayaran).

c. Infisakh, yakni putus dengan sendirinya (dinyatakan putus, putus demi

hukum). Sebuah akad dinyatakan putus apabila isi akad tidak mungkin dapat dilaksanakan (istihalah al-tanfidz) disebabkan afat samawiyah (force majeure). dalam akad jual-beli misalnya barang yang dijual rusak di tangan penjual sebelum diserahkan kepada pembeli. Dengan demikian, akad jual beli misalnya barang yang dijual rusak ditangan penjual sebelum diserahkan kepada pembeli. Dengan demikian, akad jual beli dinyatakan putus dengan sendirinya (infisakh), karena pelaksanaan akad yang dalam hal ini menyerahkan barang mustahil dapat dilakukan.

d. Kematian

Beberapa bentuk akad berakhir disebabkan kematian salah satu pihak yang berakad. berikut contoh-contoh akad dimaksud:

1) Akad sewa menyewa (ijarah). Menurut Hanafiyah, akad ijarah berakhir disebabkan kematian salah satu pihak, namun tidak berakhir menurut mazhab yang lain.

2) Akad rahn dan kafalah. Kedua akad ini adalah bentuk akad yang hanya mengikat satu pihak yaitu pihak kreditur (da’in, pemegang gadai) dan makful lah (penerima manfaat kafalah).

3) Jika pemberi gadai meninggal, akad menjadi berakhir dan barang gadaian dijual (oleh washiy, pengampu) untuk membayar utangnya apabila ahli waris masih di bawah umur. Akan tetapi, jika ahli warisnya orang dewasa, mereka bisa membayarkan utang pewaris pemberi gadai guna menyelamatkan barang gadaian.

4) Dalam akad kafalah ( kafalah bi al-dain), akad tidak berakhir disebabkan kematian debitur (madin). Akad baru berakhir dengan pembayaran utang kepada kreditur (dain) atau pembebasan utang (ibra’). Jika kafil (pemberi garansi) meninggal dunia, utang yang digaransinya dibayar dari harta peninggalannya.

B.Mudharabah dalam Perbankan Syari’ah

Dokumen terkait