B. Konsep Good Governance
2. Prinsip Good Governance
Dalam teori tentang asas-asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik terdapat banyak konsep tentang prinsip-prinsip pemerintahan yang baik. Secara konseptual, good governance belum memiliki landasan teoritik yang menjadi dasar acuan. Pemahaman atas prinsip-prinsip good governance sangat diperlukan dalam rangka memahami makna good governance itu sendiri, karena akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan . Baik buruknya suatu pemerintahan dapat dinilai apabila telah bersinggungan dengan semua unsur-unsur prinsip-prinsip good governance.
Di Indonesia sebagai negara hukum, asas-asas atau prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan terdapat dalam dua produk undang-undang R.I yaitu Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN telah ditetapkan asas-asas umum penyelenggaraan negara yang mencakup : asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, dan asas akuntabilitas, dan dalam Undang-undang R.I Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah . Dalam pasal 20 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terdapat sembilan asas umum penyelenggaraan negara terdiri atas : asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, asas akuntabilitas, asas efisiensi dan asas efektifitas.
Berkaitan dengan upaya pengelolaan pemerintahan yang baik atau upaya mewujudkan good governance sebagai faktor dominan pendukung keberhasilan otonomi daerah, menurut Feisal Tamin, Mantan Menpan R.I, 2003, minimal ada enam elemen yang menunjukkan bahwa suatu pemerintahan memenuhi kriteria good governance, yaitu :
1. Competence
Penyelenggaraan pemerintahan daerah harus dilakukan dengan mengedepankan profesionalitas dan kompetensi birokrasi.
Untuk itu setiap pejabat yang dipilih dan ditunjuk untuk menduduki suatu jabatan pemerintahan daerah harus benar-benar orang yang memiliki kompetensi dilihat dari semua aspek penilaian, baik dari segi pendidikan / keahlian, pengalaman, moralitas, dedikasi, maupun aspek-aspek lainnya.
2. Transparancy
Proses pengambilan kebijakan publik dan pelaksanaan seluruh fungsi pemerintahan harus diimplementasikan dengan mengacu pada prinsip keterbukaan. Kemudahan akses terhadap informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaraan pemerintahan oleh birokrasi daerah merupakan hak yang harus dijunjung tinggi.
3. Accountability
Setiap tugas dan tanggung jawab pemerintahan daerah harus diselenggarakan dengan cara yang baik dengan pemanfaatan sumber daya yang efisien demi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan di daerah, karena setiap kebijakan dan tindakan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan ke hadapan publik maupun dari kacamata hukum.
4. Participation
Adanya otonomi daerah, maka magnitude dan intensitas kegiatan pada masing-masing daerah menjadi sedemikian besar. Apabila hal tersebut dihadapkan pada kemampuan sumber daya masing-masing daerah, maka mau tidak mau harus ada perpaduan antara upaya pemerintah daerah dengan masyarakat. Dengan demikian pemerintah daerah harus mampu mendorong prakarsa, kreativitas, dan peran serta masyarakat dalam setiap upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan keberhasilan pembangunan.
5. Rule of law
Penyelenggeraan pemerintahan daerah harus disandarkan pada hukum dan peraturan perundang-undangan yang jelas.
Untuk itu perlu dijamin adanya kepastian dan penegakkan hukum yang merupakan prasarat keberhasilan dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.
6. Social Justice
Penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam implementasinya harus menjamin penerapan prinsip kesetaraan dan keadilan bagi setiap anggota masyarakat. Tanpa adanya hal tersebut masyarakat tidak akan turut mendukung kebijakan dan program pemerintah daerah.
Gambir Bhatta (Sedarmayanti, 2004:5) mengemukakan bahwa unsur good governance yaitu: akuntabilitas, transparansi, keterbukaan
dan aturan hukum ditambah dengan kompetensi manajemen dan hak asasi manusia.
Robert Hass (Sadjijono, 2005:195) juga memberikan indikator tentang good governance, yang rumusannya meliputi lima indikator, antara lain :
1. Melaksanakan hak asasi manusia
2. Masyarakat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik 3. Melaksanakan hukum untuk melindungi kepentingan
masyarakat
4. Mengembangkan ekonomi pasar atas dasar tanggungjawab kepada masyarakat
5. Orientasi politik pemerintah menuju pembangunan.
Dari rumusan prinsip umum pemerintahan yang baik yang berbeda - beda tersebut sedikit banyak dapat memberi gambaran dan pemahaman bagi aparatur pemerintah, komunitas masyarakat dan lembaga non pemerintah untuk digunakan sebagai dasar atau pedoman dalam menyelenggarakan pemerintahan, dan sebagai etika dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Aplikasi terhadap asas-asas dimaksud, bukanlah suatu tindakan yang mudah dan cepat dapat terpenuhi, akan tetapi banyak faktor yang dapat berpengaruh, baik dari hubungan lembaga yang satu dengan yang lain, sumber daya manusia, maupun sistem pengawasan yang dilakukan.
United Nation Development Programme (UNDP) merumuskan karakteristik good governance sebagaimana dikutip oleh Lembaga Administrasi Negara LAN (Sadjijono, 2005:189) meliputi :
1. Partisipasi (Participation)
Setiap warga Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian dalam proses bernegara, berpemerintahan serta bermasyarakat baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya.
Partisipasi warga Negara ini dilakukan tidak hanya pada tahapan implementasi, akan tetapi secara menyeluruh mulai tahapan penyusunan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi serta pemanfaatan hasil-hasilnya.
2. Penegakkan Hukum (Rule of law)
Good Governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu syarat kehidupan demokrasi adalah adanya penegakkan hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Oleh karena itu langkah awal penciptaan good governance adalah membangun sistem hukum yang sehat, baik perangkat lunak (soft ware), perangkat lunak (hard ware) maupun sumber daya manusia yang menjalankan sistemnya (human ware).
3. Transparansi (Transparancy)
Keterbukaan adalah merupakan salah satu karakteristik good governance terutama adanya semangat zaman serba terbuka dan akibat adanya revolusi informasi. Keterbukaan mencakup semua kepentingan publik.
4. Daya Tanggap (Responsivenees)
Responsivenees sebagai konsekwensi logis dari keterbukaan, oleh sebab itu setiap komponenyang terlibat dalam proses pembanguann good governance perlu memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan setiap stakeholders.
5. Orientasi pada consensus (Consensus Orientation)
Good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, baik dalam hal kebijakan maupun prosedur.
6. Keadilan (Equity)
Semua warga Negara mempunayi kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan.
7. Efektif dan efisien (Effectivenees and Efficiency)
Proses dan lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber yang tersedia sebaik mungkin.
8. Akuntabilitas (Accountability)
Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat bertanggung jawab kepada publik dan lembaga stakeholders. Akuntabilitas itu tergantung kepada organisasi tersebut untuk kepentingan internal dan eksternal organisasi.
9. Visi Strategis (Strategic Vision)
Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas serta jauh kedepan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini.
Apa yang dikemukakan oleh UNDP tersebut penekanannya adalah bahwa pemerintahan yang baik dapat terwujud apabila penyelenggaraan pemerinathan dijalankan dengan efektif dan efisien, bertanggung jawab kepada publik, menjaga hubungan yang seimbang antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat, dan menjaga soliditas pemerintah.
Walaupun Prinsip yang melandasi tata pemerintahan yang baik sangat bervariasi dari masing-masing institusi dan masing-masing pakar, namun paling tidak ada sejumlah prinsip yang dianggap melandasi good governance. Adapun uraian beberapa prinsip utama good governance yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah transparansi dan akuntabilitas ;
a. Prinsip Transparansi.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan harus mengarah pada kejelasan mekanisme formulasi dan implementasi kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang menggunakan prinsip transparansi.
Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas.
Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.
Transparansi oleh Joko Widodo (2001:25) diartikan “kebebasan seseorang memperoleh informasi”. Dalam konsep ini dapat ditarik suatu prinsip bahwa setiap orang bebas untuk menerima arus informasi. Prinsip ini sangat penting dalam kerangka penyelenggaraan pemerintah. Sebab penyelenggaraan pemerintah dengan kewenangan yang dimilikinya senantiasa lupa akan tanggungjawabnya, sebagaimana logika kekuasaan.
Dalam logika kekuasaan, penyelenggara negara terkadang melampaui kewenangannya sehingga merugikan masyarakat. Masuknya prinsip transparansi sehingga rakyat secara pribadi dapat mengetahui secara jelas dan tanpa ada yang ditutup tutupi tentang proses perumusan kebijakan publik dan implementasinya. Dengan kata lain, segala kebijakan dan implementasi kebijakan harus selalu dilaksanakan secara terbuka dan diketahui umum.
Konsep transparan terkait pula dengan konsep keterbukaan, yaitu suatu konsep yang mengandung makna bahwa setiap orang terbuka kesempatan untuk mengajukan tanggapan dan kritik terhadap pemerintahan yang dinilainya tidak transparan. Oleh sebab itu, pemerintah yang baik adalah pemerintah yang bersifat terbuka dan transparan dalam
memberikan data dan informasi yang memadai bagi masyarakat sebagai bahan untuk melakukan penilaian atas jalannya pemerintahan.
Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan proses pembuatan dan pelaksanaannya serta hasil-hasil yang dicapai (Bapenas dan Depdagri, dalam Lola LaloLo Krina,2003:18)
Setiap proses pengambilan keputusan tidak dibolehkan ada pemaksaan kehendak atau intimidasi. Setiap keputusan harus berdasarkan argumentasi yang demokratis terhadap setiap perbedaan pendapat yang muncul. Oleh sebab itu, pengambilan suara (voting) untuk menetapkan suatu keputusan akibat terjadinya perbedaan pendapat bukan hal yang tabu sepanjang keputusan yang dihasilkan bersifat mengikat kepada setiap orang.
Peran media juga sangat penting bagi transparansi pemerintah, baik sebagai sebuah kesempatan untuk berkomunikasi pada publik maupun menjelaskan berbagai informasi yang relevan, juga sebagai penjaga atas berbagai aksi pemerintah dan perilaku menyimpang dari para aparat birokrasi. Jelas media tidak akan dapat melakukan tugas ini tanpa adanya kebebasan pers, bebas dari intervensi pemerintah maupun pengaruh kepentingan bisnis.
Wujud nyata prinsip transparansi antara lain dapat dilihat apabila masyarakat mempunyai kemudahan untuk mengetahui serta memperoleh
data dan informasi tentang kebijakan, program, dan kegiatan aparatur pemerintah, baik yang dilaksanakan di tingkat pusat maupun daerah.
b. Prinsip Akuntabilitas.
Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat bertanggung jawab kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan.
Menurut Joko Widodo (2001:26) bahwa akuntabilitas adalah semua pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders. Disini berati bahwa prinsip penyelengga pemerintahan harus bertanggung jawab terhadap semua tindakannya. Prinsip ini mengandung filosofi bahwa penyelenggara pemerintah harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya kepada publik karena publiklah yang memberikan mandat untuk bertindak atas namaya, dalam perkembangannya akuntabilitas digunakan juga bagi penyelenggara pemerintah untuk melihat akuntabilitas efisiensi program ekonomi.
Akuntabilitas administrasi publik dalam dalam pengertian yang luas melibatkan lembaga-lembaga publik dan birokrat untuk mengendalikan bermacam-macam harapan yang berasal dari dalam dan luar otganisasinya. Strategi untuk mengendalikan harapan-harapan dari akuntabilitas administrasi publik tadi akan melibatkan dua factor kritis,
yaitu (1) Bagaimana kemampuan mendefinisikan dan mengendalikan (kontrol) harapan-harapan yang diselenggarakan (dilakukan) oleh keseluruhan lembaga khusus di dalam atau di luar organisasi. (2) Derajat kontrol keseluruhan terhadap harapan-harapan yang telah didefinisikan para agen tadi ( Joko Widodo, 2001:27)
Prof. Miriam Budiardjo (1998:7) mendefinisikan akuntabilitas adalah pertanggungjawaban pihak yang diberi mandat untuk memerintah kepada mereka yang memberi mandat itu. Akuntabilitas bermakna pertanggungjawaban dengan menciptakan pengawasan melalui distribusi kekuasaan pada berbagai lembaga pemerintah sehingga mengurangi penumpukan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi (chek and balance system).
Menurut F. Master (Sidik Sunaryo, 2004:36) terdapat 2 (dua) macam akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan, yaitu :
1. Obyektif Accountability, yakni pertanggungjawaban kepada atasan mengenai kinerja yang dilakukan dalam organisasi, hal ini dilakukan untuk menilai apakah yang dilakukan telah sesuai dengan hukum yang melandasi atau belum dan untuk waktu yang akan datang.
2. Subyek Accountability, yakni mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada siapapun diluar organisasi yang layak diberi pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban seperti ini diberikan dalam rangka demokrasi dan membuka partisipasi control masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas publik.
Akuntabilitas menurut UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme adalah :
”Setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Secara garis besar dapat disimpulkan akuntabilitas berhubungan dengan kewajiban dari instansi pemerintah maupun dari aparat yang bekerja didalamnya untuk membuat kebijakan maupun melakukan aksi yang sesuai dengan nilai yang berlaku maupun kebutuhan masyarakat, karena pemerintah bertanggungjawab baik dari segi penggunaan keuangan maupun sumber daya publik dan juga akan hasilnya.
Akuntabilitas internal harus dilengkapi akuntabilitas eksternal, melalui umpan balik dari para pemakai jasa pelayanan maupun dari masyarakat.
Prinsip akuntabilitas publik adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para stakeholders yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut.
Akuntabilitas mengandung relevansi yang baik dalam rangka memperbaiki birokrasi publik untuk mewujudkan harapan-harapan publik.
Untuk mewujudkannya, tampaknya bukan saja tergantung pada kemampuan birokrasi publik didalam mendifinisikan dan mengelola harapan-harapan publik, tapi juga tergantung pada kemampuan publik dalam melakukan kontrol atas harapan-harapannya. Itulah sebabnya dalam good governance diperlukan kontrol terhadap birokrasi publik agar dapat akuntabel. Selain itu akuntabilitas dapat menjadi sarana untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya
dari suatu kebijakan publik yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan bersama melalui suatu media pertanggungjawaban secara periodik. Dengan menggunakan berbagai prinsip-prinsip yang dianut dalam good governance penyelenggaraan pemerintahan dalam negara hukum segera dapat membantu membentuk penyelenggaraan pemerintahan yang baik sebagaimana yang didambakan negara dan masyarakat. Terbentuknya penyelenggara yang bersih dan baik akan mempercepat evolusi tipologi negara kesejahteraan yang menjadi dambaan masyarakat di Indonesia.