• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip keperawatan pada klien halusinasi

BAB II TUJUAN TEORI

H. Pelaksanaan

4. Prinsip keperawatan pada klien halusinasi

a. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik.

b. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap.

c. Obeservasi tingkah laku klien, yang terkait dengan halusinasinya : bicara dan tertawa tanpa stimulus, dan memandang ke kiri ke kanan depan seolah ada yang mengajak bicara.

d. Diskusikan dengan keluarga ( pada saat keluarga berkunjung pada kunjungan rumah) gejala halusinasi, cara yang dapat dilakukan, cara merawat keluarga yang halusinasi.

e. Ajarkan klien program pengobatan secara optimal

f. Menyamakan persepsi jika klien bertanya nyatakan secara sederhana pada perawat bahwa perawat tidak mengalami stimulus yang sama (tidak mendengar).

g. Sarankan dan kuatkan penggunaan interpersonal dalam memenuhi kebutuhan.

45 I. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dibagi dua jenis yaitu evaluasi proses atau fotmatif dilakukan selesai melekasanakan tindakan.

Evaluasi hasil atau somatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan.

Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah perawat lakukan untuk pasien halusinasi sebagai berikut

1. Klien

a. Menyebutkan jenis halusinasi b. Menyebutkan isi halusinasi c. Menyebutkan waktu halusinasi.

d. Menyebutkan frekuensi halusinasi.

e. Menyebutkan situasi yang menimbulkan halusinasi.

f. Menjelaskan respon terhadap halusinasi.

g. Mampu melaksanakan menghardik halusinasi.

h. Mampu melaksanakan bercakap-cakap jika terjadi halusinasi.

i. Membuat jadwal kegiatan harian sesuai jadwal.

j. Menggunakan obat secara teratur.

2. Keluarga

a. Menyebutkan pengertian halusinasi.

b. Menyebutkan jenis halusinasi yang dialami oleh pasien.

c. Menyebutkan tanda dan gejala halusinasi pasien.

d. Memperagakan latihan cara memutus halusinasi pasien.

e. Mengajak pasien bercakap-cakap saat tiba waktu pasien berhalusinasi.

f. Memantau aktivitas sehari-hari pasien sesuai jadwal g. Memantau dan memenuhi obat untuk pasien.

h. Menyebutkan sumber-sumber pelayanan kesehatan yang tersedia.

i. Memanfaatkan sumber-sumber pelayanan kesehatan terdekat.

46 BAB III TINJAUAN KASUS

Pada bab ini penulis akan menyajikan pemenuhan kebutuhan dasar pada Tn. W dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi penglihatan di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur. Dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan secara komperhensif yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Yang dilakukan dari tanggal 23 Mei sampai 25 Mei 2017.

Untuk mendapatkan data – data penulis melakukan wawancara dengan klien, perawat ruangan yang bertugas serta mempelajari catatan keperawatan dan catatan medis.

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Data Dasar Terlampir

2. Resume

Nama klien Tn.W berusia 33 tahun, jenis kelamin laki – laki, status belum menikah, berasal dari suku Betawi, agama Islam, pendidikan terakhir SMA, sumber informasi pasien, perawat ruangan dan status pasien, kline masuk tanggal 18 Mei 2017 pukul 11.33 WIB, Nomer Registrasi 010969, diagnosa medis skizofrenia paranoid.

Klien menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Jiwa Klender yang ke 2x, sebelumnya klien pernah menjalani pada tanggal 06 Januari 2016 dan masuk kembali pada tanggal 18 Mei 2017. Dengan alasan kurang lebih sudah satu bulan mulai ada perubahan sikap pasien mengalami sering berbicara sendiri, banyak bengong, sering menyendiri dan merasa bingung, sudah 3 minggu pasien tidak mau minum obat. Pasien mengatakan dirinya sering melihat bayangan candi mendut dikamar waktu sedang sholat, sehari bisa 7x bayangan itu muncul, klien merasa gelisah, hal yang dilakukan pasien saat melihat bayangan tersebut langsung tidur. Pasien bekerja sebagai teknisi komputer sering keluar kota dan jarang berada di rumah.

47

Pada saat perawat melakukan pengukuran tanda – tanda vital diperoleh data sebagai berikut tekanan darah 120/80 mmHg, suhu tubuh 36.5 C, nadi 80x/menit, frekuensi nafas 20x/menit. BB : 80 kg, TB : 165 cm.

Pasien mengatakan saat ini tidak ada keluhan apapun.

Pasien merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dua saudaranya berjenis kelamin perempuan, suadara perempuan yang kedua sudah menikah. Pasien masih tinggal serumah dengan orang tuanya. Klien dekat dengan keluarganya nya terutama ayahnya. Saat ini pasien sudah tidak berkerja dan kegiatan sehari – hari klien membantu orang tuanya seperti menyapu, mencuci piring dan mencuci pakaian dan kadang – kadang untuk bermain warnet untuk menyalurkan hoby nya dengan komputer.

Klien mengatakan klien saat ini sudah tidak bekerja dan sampai sekarang belum menikah karna belum mempunyai biaya. Klien merasa sudah putus dan dan sudah tidak semangat lagi. Harapan setelah menjalani perawatan dia mau berkumpul dengan keluarga dan ingin cepet menikah. Saat berada dirumah klien tidak aktif dalam kegiatan di dalam masyarakat lingkungan tempat tinggalnya, hubungan klien dengan lingkungan berkurang saat klien bekerja dan semenjak klien dirawat di RSIJ.

Klien manyakini merasa dirinya sakit karena ujian dari Allah SWT. Saat di Rs klien jarang menjalankan ibadah sholat.

Pada melakukan pengkajian klien terlihat tidak rapi, rambut terlihat gondrong, rambut terdapat ketombe, mata terlihat ada kotoran, kumis terlihat panjang, gigi terlihat kotor dan berwarna kuning. Klien mengatakan jarang mandi karna malas dan jika mandi klien tidak menggunakan sabun ataupun pasta gigi.

48 Terapi medis :

Clozapin 3 x 1 ( 25 mg) tablet / hari Risperidone 3 x 1 ( 2 mg ) tablet / hari Heximer 3 x 1 ( 2 mg ) tablet / hari

3. Data Fokus

 Data subjektif

- Klien mengatakan “ketika dirumah melihat bayangan candi mendut”.

- Klien mengatakan “bayangan itu sering datang pada saat ia sedang melakukan sholat” saat didalam kamar, munculnya kurang lebih 1-2 menit dalam sehari bisa sampai 7x perhari.

- Klien mengatakan “saat bayangan itu datang ia merasa gelisah dan merasa terganggu, hal yang dilakukan klien jika bayangan itu datang dia langsung tidur”.

- Klien mengatakan “dirumah klien suka marah-marah karena klien merasa lelah dengan pekerjaan yang menumpuk dan tidak bisa melanjutkan kuliahnya karena masalah biaya.

- Klien mengatakan “sering pergi keluar kota untuk bekerja dan meninggalkan keluarga dalam waktu yang cukup lama.”

- Klien mengatakan “pernah di tolak oleh seorang perempuan yang ia sukai dan klien merasa trauma”.

- klien mengatakan merasa malu karna sebagai laki – laki klien sudah tidak bekerja lagi dan belum menikah sampai sekarang.

- Klien mengatakan “sudah tidak punya semangat lagi untuk menjalani kehidupannya”.

- Klien mengatakan tidak aktif dalam kegiatan di masyarakat lingkungan tempat tinggalnya, hubungan klien dengan lingkungan berkurang saat klien bekerja dan semenjak klien dirawat di RSIJ - Klien mengatakan “dia dekat dengan orang tua dan saudaranya

terutama alm.ayahnya dan pada saat klien dirumah jarang mengobrol dengan anggota keluarga.

49

- Klien mengatakan “klien dirumah sakit jarang mandi dalam sehari bisa 1x dan jika mandi klien tidak menggunakan sabun atau pasta gigi”.

- Keluarga mengatakan awal masuk pada tanggal 06 januari 2016 klien suka marah-marah dirumah.

- Keluarga mengatakan “sudah kurang lebih 1 bulan pasien terlihat begong, sering menyendiri dan berbicara sendiri dan sudah kurang lebih 3 minggu pasien tidak mau minum obat dan mengurus dirinya”.

- Keluarga mengatakan saat berada dirumah orang tua tidak tahu bagaimana cara mensupport anaknya yang sedang mengalami kegagalan.

 Data objektif

- Klien tampak bingung dan gelisah saat sedang berinteraksi.

- Klien tampak menceritakan dengan jelas penyebab klien marah-marah karena pekerjaan yang menumpuk membuat klien merasa lelah, pekerjaan yang sering dilakukan di luar kota.

- Klien tampak tertawa sendiri dan mulut komat kamit dan afek labil.

- Klien tampak pandangan kosong dan selalu menunduk.

- Klien tampak tidak fokus saat berinteraksi - Klien tampak menjawab lambat.

- Klien tampak kurang bersosialisasi dengan orang sekitar.

- Klien tampak terlihat tidak rapi dengan rambut gondrong, rambut terdapat ketombe, mata terdapat kotoran, gigi terlihat kuning dan menggaruk – garuk badan dan tercium bau tidak sedap.

- Klien tampak berada di RS. Kiwa Islam Klender pada tanggal 17 Mei 2017.

50 4. Analisa Data

Berdasarkan hasil pengkajian yang didapat oleh penulis, maka didapatkan data fokus pada klien sebagai berikut :

Intial klien : Tn. W No. RM : 010969

Ruangan : RSIJK Usia : 33 Tahun

No Hari / Tanggal

Data Masalah

1 Selasa, 23 Mei 2017

Data subjektif :

- Klien mengatakan “dirumah klien suka marah-marah karena klien merasa lelah dengan pekerjaan yang menumpuk dan tidak bisa melanjutkan kuliahnya karena masalah biaya.

- Keluarga mengatakan awal masuk pada tanggal 06 januari 2016 klien suka marah-marah dirumah.

Data Objektif :

- Klien tampak menceritakan dengan jelas penyebab klien marah-marah karena pekerjaan yang menumpuk membuat klien merasa lelah, pekerjaan yang sering dilakukan di luar kota.

Resiko Perilaku Kekerasan

51 2 Selasa, 23

Mei 2017

Data subjektif :

- Klien mengatakan ketika dirumah melihat bayangan seperti candi mendut.

- Klien mengatakan bayangan itu datang pada waktu yang tidak tentu selama 1-2 menit saat dia sedang menjalankan sholat.

- Klien mengatakan ketika bayangan datang dia merasa gelisah.

- Klien mengatkan jika bayangan itu datang yang dilakukan hanya tidur.

Data Objektif :

- Klien tampak bingung dan gelisah, mulut tampak komat kamit, tampak tertawa sendiri tanpa ada hal yang lucu, terlihat tidak fokus saat berinteraksi.

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi (Penglihatan)

3 Selasa, 23 Mei 2017

Data Subjektif :

- Klien mengatakan sering menyendiri dan lebih sering berbaring dibangku.

- Klien mengatakan jarang berkomunikasi dengan teman disekitarnya.

- Klien mengatakan tidak aktif dalam kegiatan di masyarakat lingkungan tempat tinggalnya.

Isolasi Sosial

52

- Keluarga mengatakan saat dirumah klien menyendiri sering begong dan bingung.

Data Objektif :

- Klien tampak kuran bersosialisasi dengan teman sekitarnya selalu menyendiri dan terlihat sedang tidur di bangku.

- Klien tampak terlihat padangan kosong dan melamun.

4 Selasa, 23 Mei 2017

Data Subjektif :

- Klien mengatakan pernah ditolak cintanya oleh perempuan yang dia sukai dan klien merasa trauma.

- Klien mengatakan merasa malu karna sebagai laki – laki klien sudah tidak bekerja lagi dan belum menikah sampai sekarang.

Data Objektif :

- Klien tampak berbica lambat dan pelan, klien tampak menunduk saat diajak berkomunikasi.

Gangguan Konsep diri : Harga Diri Rendah

53 5 Selasa, 23

Mei 2017

Data Subjektif :

- Klien mengatakan jarang mandi, sehari bisa 1x.

- Klien mengatakan jika mandi tidak menggunakan sabun dan pasta gigi.

Data Objektif :

Klien tampak terlihat tidak rapi dengan rambut gondrong terdapat ketombe, mata terdapat kotoran, gigi terlihat kuning dan menggaruk – garuk badan serta tercium bau tidak sedap

Defisit Perawatan Diri

6 Selasa, 23 Mei 2017

Data Subjektif :

- Klien mengatakan sebelumnya pernah dirawat pada tanggal 06 Januari 2016 dan ini adalah yang ke 2x menjalani perawatan di Rs. Jiwa Islam Klender, - Keluarga mengatakan sudah

kurang lebih 3 minggu pasien tidak mau minum obat dan mengurus dirinya”.

Data Objektif :

Klien tampak berada di Rs. Jiwa Islam Klender Pengobatan yang dijalaninya kurang berhasil karna minum obat tidak teratur.

Regimen Terapi Inefektif

54 7 Selasa, 23

Mei 2017

Data Subjektif:

- Klien mengatakan paling dekat dengan ayahnya dan kurang dekat dengan ibu serta saudara.

- Keluarga mengatakan saat berada dirumah orang tua tidak tahu bagaimana cara mensupport anaknya yang sedang mengalami kegagalan.

Data Objektif :

Klien terlihat jarang dibesuk oleh keluarganya.

Koping Keluarga Tidak Efektif

Pohon Masalah

Gangguan Persepsi Sensori :

Halusinasi ( Penglihatan ) Resiko Perilaku

Kekerasan

Koping keluaga tidak efektif

Defisit Perawatan Diri

Akibat

Masalah utama / core

problem

Etiologi

Etiologi Regimen Terapi in

efektif.

Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

Isolasi Sosial : Menarik Diri

55 B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi (Penglihatan) 2. Defisit Perawatan Diri

3. Regimen Terapi In efektif 4. Koping keluarga tidak efektif

5. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah 6. Resiko perilaku kekerasan’

7. Isolasi Sosial : Menarik diri

56 C. PERENCANAA KEPERAWATAN

Adapun rencana keperawatan yang akan dilakukan kepada

Inisial klien : Tn. W Ruangan : RSIJK No Rm : 010969

No Dx

Dx keperawatan

Perencanaan Rasional

Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

1 Gangguan

1. Setelah 3x24 jam pertemuan klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat :

 Ekspresi wajah bersahabat.

 Menunjukkan rasa senang.

 Ada kontak mata.

 Mau berjabat tangan.

 Mau menyebutkan nama.

 Mau menjawab salam.

 Mau duduk berdampingan dengan perawat.

 Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.

1. Bina hubungan saling percaya dengan

menggunakan prinsip komunikasi terapeutik:

 Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

 Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan

 Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien

 Buat kontrak yang jelas

 Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi

 Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya

 Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien

 Hubungan saling

57

 Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien

 Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasiny a

2.1 Setelah 3x24 jam pertemuan klien menyebutkan:

 Isi

 Waktu

 Frekuensi

 Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi 2.2 Setelah 3x24 jam pertemuan klien

menyatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusinasi : sedang halusinasi :

 Tanyakan apahkan klien mengalami sesuatu ( halusinasi dengar / lihat / penghidu / raba / kecap)

 Jika klien menjawab ya, tanyakan apa yang sedang dialaminya

 Katakan bahwa perawat percaya klien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi)

 Katakan bahwa ada klien lain yang mengalami hal yang sama

 Kontak sering tapi singkat selain membina hubungan saling percaya, juga dapat memutuskan halusinasi.

 Mengenal perilaku

pada saat

halusinasi timbul memudahkan perawat dalam melakukan

intervensi.

58

 Katakan bahwa perawat akan membatu klien

2.3 Jika klien tidak sedang berhalusinasi klasifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan dengan klien :

 Isi, waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi ( pagi, siang, sore, malam atau sering dan kadang – kadang )

 Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi 2.4 Diskusikan dengan apa yang dirasakan jika

terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya

2.5 Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut

2.6 Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasinya. faktor pecentus timbulnya

halusinasi.

 Dengan

mengetahui wakti, isi, dan frekuensi munculnya

halusinasi mempermudah tindakan

keperawatan klien

yang akan

dilakukan perawat.

 Untuk

mengidentifikasi pengaruh halusinasi klien.

TUK 3 : Klien dapat mengontrol

3.1 Setelah 3x24 jam pertemuan klien menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk

3.1 Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan diri, dll)

 Upaya untuk memutuskan siklus halusinasi sehingga

59 halusinasin

ya

mngendalikan halusinya

3.2 Setelah 3x24 jam pertemuan klien menyebutkan cara baru mengontrol halusinasi

3.3 Setelah 3x24 jam pertemuan klien

dapat memilih dan

memperagakan cara mengatasi halusinasi ( penglihatan )

3.4 Setelah 3x24 jam pertemuan klien melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya

3.5 Setelah 3 X 24 jam pertemuan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok

3.2 Diskusikan cara yang digunakan klien,

 Jika cara yang digunakan adaptif beri pujian

 Jika cara yang digunakan maladaptif diskuskan kerugian cara tersebut

3.3 Diskusikan cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi :

 Katakan pada dirinya sendiri bahwa ini tidak nyata (“saya tidak mau dengar / lihat / penghidu / raba / kecap pada saat halusinasi terjadi)

 Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga) untuk menceritakan tentang halusinasinya

 Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari – hari yang telah disusun

 Meminta keluarga / teman / perawat menyapa jika sedang berhalusinasi 3.4 Bantu klien memilih cara yang sudah

dianjurkan dan latih untuk mencobanya 3.5 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang

dipilih dan dilatih

3.6 Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian

halusinasi tidak berlanjut.

 Berikan reward positif supaya meningkatkan harga diri klien.

 Memberikan alternatif pilihan bagi klien untuk mengontrol halusinasi.

 Memotivasi dapat meningkatkan kegiatan klien untuk mencoba memilih salah satu cara untuk

mencoba memilih salah satu cara mengendalikan halusinasi dan dapat

60

3.7 Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi

meningkatkan harga diri klien.

TUK 4 : keluarga, keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti

pertemuan dengan perawat 4.2 Setelah 2 X 24 jam pertemuan

keluarga menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi

4.1 Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan ( waktu, tempat dan topik ) 4.2 Diskusikan dengan keluarga ( pada saat

pertemuan keluarga / kunjungan rumah)

 Pengertian halusinasi

 Tanda dan gejala halusinasi

 Proses terjadinya halusinasi

 Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi

 Obat – obatan halusinasi

 Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri. Makan bersama,

berpengian bersama, memantau obat – obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi halusinasi)

 Beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana cara mencari

bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi dirumah

 Untuk mengetahui pengetahuan klien menyebutkan :

 Manfaat minum obat

5.1 Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat

 Dengan menyebabkan dosisi, frekuensi dan manfaat obat.

61 dengan baik  Kerugian tidak minum obat

 Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat 5.2 Setelah 3 X 24 jam pertemuan

klien mendemostrasikan penggunaan obat dengan benar 5.3 Setelah 3 X 24 jam pertemuan

klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter

5.2 Pantau klien saat penggunaan obat

5.3 Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar

5.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter

5.5 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter / perawat jika terjadi hal – hal yang tidak di inginkan.

 Diharapkan klien melaksanakan program pengobatan.

Menilai

kemampuan klien dalam

pengobatannya sendiri.

62

Tujuan Kriteria hasil Intervensi

2 Defisit

Perawatan Diri

TUM : Klien dapat mandiri dalam perawatan diri.

TUK :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

1. Dalam 3x interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat :

 Wajah ceria,

 Bersedia menceritakan perasaannya.

1. Bina hubungan saling percaya :

 Beri salam setiap berinteraksi.

 Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.

 Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.

 Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.

 Tanyakan perasaan dan amsalah yang dihadapi klien.

 Buat kontrak interaksi yang jelas.

 Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.

 Penuhi kebutuhan dasar klien.

2. Klien mengetahui pentingnya perawatan diri.

2. Dalam 3x interaksi klien menyebutkan :

 Penyebab tidak

2. Diskusikan dengan klien :

 Penyebab klien tidak merawat diri.

 Manfaat menjaga perawatan diri untuk keadaan

63 merawat diri.

 Manfaat menjaga perawatan diri.

 Tanda-tanda bersih dan rapi.

 Gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan.

fisik, mental, dan sosial.

 Tanda-tanda perawatan diri yang baik.

 Penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa dialami oleh klien bila perawatan diri tidak adekuat .

3. Klien mengetahui cara-cara melakukan perawatan diri.

3.1 Dalam 3x interaksi klien menyebutkan frekuensi menjaga perawatan diri :

 Frekuensi mandi.

 Frekuensi gosok gigi.

 Frekuensi keramas.

 Frekuensi ganti pakaian.

 Frekuensi berhias.

 Frekuensi gunting kuku.

3.2 Dalam 3x interaksi klien menjelaskan cara menjaga

1.1 Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri selama ini :

 Mandi.

 Gosok gigi.

 Keramas.

 Berpakaian.

 Berhias.

 Gunting kuku.

1.2 Diskusikan cara praktek perawatan diri yang baik dan benar :

 Mandi.

 Gosok gigi.

 Keramas.

64 perawatan diri :

 Cara mandi.

 Cara gosok gigi.

 Cara keramas.

 Cara berpakaian.

 Cara berhias.

 Cara gunting kuku.

 Berpakaian.

 Berhias.

 Gunting kuku.

1.3 Berikan pujian untuk setiap respon klien yang positif.

4. Klien dapat melaksanakan perawatan diri dengan bantuan perawat.

2. Dalam 3x interaksi klien mempraktekkan perawatan diri dengan dibantu oleh perawat : mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.

2.1 Bantu klien saat perawatan diri : mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.

2.2 Beri pujian setelah klien selesai melaksanakan perawatan diri.

5. Klien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri.

3. Dalam 3x interaksi klien melaksanakan praktek perawatan diri secara mandiri :

 Mandi 2x sehari.

 Gosok gigi sehabis makan.

3.1 Pantau klien dalam melaksanakan perawatan diri : mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.

3.2 Beri pujian saat klien melaksanakan perawatan diri secara mandiri.

65

 Keramas 2x seminggu.

 Ganti pakaian 1x sehari.

 Berhias sehabis mandi.

 Gunting kuku setelah mulai panjang.

6. Klien mendapatkan dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri.

6.1 Dalam 1x interaksi keluarga menjelaskan cara-cara membantu klien

dalam memenuhi

kebutuhan perawatan dirinya.

6.2 Dalam 1x interaksi keluarga menyiapkan sarana perawatan diri klien : sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, handuk, pakaian bersih, sandal, dan alat berhias.

6.3 Keluarga mempraktekkan perawatan diri pada klien.

1.1 Diskusikan dengan keluarga :

 Penyebab klien tidak melaksanakan perawatan diri.

 Tindakan yang telah dilakukan klien selama di rumah sakit dalam menjaga perawatan diri dan kemajuan yang telah dialami klien.

 Dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk meningkatkan kemampuan klien dalam perawatan diri.

1.2 Diskusikan dengan keluarga tentang :

 Sarana yang diperlukan untuk menjaga perawatan diri klien.

 Anjurkan kepada keluarga menyiapkan sarana tersebut.

1.3 Diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu

66

dilakukan keluarga dalam perawatan diri :

 Anjurkan keluarga untuk mempraktekkan perawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias, dan gunting kuku).

 Ingatkan klien waktu mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias, dan gunting kuku.

 Bantu jika klien mengalami hambatan dalam perawatan diri.

 Berikan pujian atas keberhasilan klien.

67 D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Merupakan tahap kerja dimana penulis memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada Tn. W selama 3 hari dari tanggal 23 Mei – 25 Mei 2017 sesuai rencana keperawatan yang telah dibuat.

Hari / tanggal

/ jam

No Dx Implementasi Keperawatan

Evaluasi Nama

/ 2. Mendiskusikan isi

halusinasi pasien 3. Mendiskusikan

waktu halusinasi pasien

4. Mendiskusikan frekuensi halusinasi

4. Mendiskusikan frekuensi halusinasi

Dokumen terkait