BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Landasan Teori
2.2.4 Prinsip Kerjasama
Di dalam komunikasi yang wajar agaknya dapat diasumsikan bahwa seorang penutur mengartikulasikan ujaran dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan bicaranya, dan berharap lawan bicaranya dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan itu (Grice via Wijana 2004: 44-55). Oleh karena itu, agar terjadi komunikasi yang efektif, maka seorang penutur perlu memperhatikan beberapa aspek, seperti kepadatan informasi, kejelasan tuturan, dan relevansi dengan fakta. Penelitian ini akan
memperhatikan aspek-aspek tersebut sebagai bahan analisis dalam humor Stand Up Comedy.
Wacana yang wajar terbentuk karena kepatuhan terhadap prinsip kerjasama komunikasi (cooperative principles) (Grice via Wijana, 2004: 54).
Secara garis besar ada beberapa maksim yang harus ditaati oleh peserta tindak tutur. Maksim-maksim itu adalah maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Berikut deskripsi maksim-maksim kerjasama Grice yang menaati sekaligus melanggar, beserta contohnya:
1. Maksim Kuantitas (The Maxim Of Quantity)
Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin.
Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan si penutur. Tuturan yang tidak mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur, dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas (Rahardi, 2005: 53). Selanjutnya, Wijana (1996:46) berpendapat bahwa maksim kuantitas menghendaki setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra tutur. Untuk memperjelas teori maksim kuantitas maka perhatikan contoh pertuturan berikut.
Contoh:
1. “Biarlah kedua pemuas nafsu itu habis berkasih-kasihan!”
2. “Biarlah kedua pemuas nafsu yang sama-sama mabuk cinta dan penuh nafsu birahi itu habis berkasih-kasihan!” (Rahardi, 2005: 53) Tuturan (1) dan (2) dituturkan oleh seorang pengelola rumah kost mahasiswa kepada anaknya yang sedang merasa jengkel karena perilaku penghuni kost yang tidak wajar dan bahkan melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Tuturan (1) sesuai dengan prinsip maksim kuantitas karena sifatnya yang informatif dan jelas. Hal tersebut dapat dilihat dengan membandingkan dengan tuturan (2) yang telah diberi tambahan informasi. Tanpa ditambah informasi lain, makna pada tuturan (1) sudah dapat dimengerti. Pada tuturan (2) terdapat pelanggaran prinsip kuantitas, karena terdapat tambahan informasi yang tidak diperlukan yaitu, pada kata “yang sama-sama mabuk cinta dan penuh nafsu birahi”, sehingga membuat kalimat tersebut tidak informatif dan melanggar prinsip kerjasama ini. Berdasarkan pendapat kedua ahli dan juga contoh di atas,maka peneliti menyimpulkan sebuah tuturan akan mematuhi maksim kuantitas jika (1) informasi yang dituturkan sesuai dengan apa yang dibutuhkan mitra tutur, (2) informasi yang dituturkan tidak boleh kurang ataupun melebihi dari apa yang dibutuhkan mitra tutur.
2. Maksim Kualitas (The Maxim Of Quality)
Dalam maksim kualitas, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta yang sebenarnya di dalam bertutur. Fakta itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas.
Misalnya seseorang harus mengatakan bahwa ibu kota Indonesia adalah Jakarta bukan kota-kota yang lain, kecuali kalau benar-benar tidak tahu. Akan tetapi,
bila terjadi hal yang sebaliknya, maka ada alasan mengapa hal demikian terjadi (Rahardi, 2005: 55).Lebih lanjut Rustono (1999:56) menyatakan dua ajaran maksim ini adalah “Jangan mengatakan apa yang anda yakini salah” dan
“Jangan mengatakan sesuatu yang anda tidak mempunyai buktinya”.
Untuk memperjelas maksud dari teori kedua pakar di atas maka perhatikan contoh berikut:
3. “Silakan menyontek saja biar nanti saya mudah menilainya!”
4. “Jangan menyontek, nilainya bisa E nanti!” (Rahardi, 2005: 55) Tuturan (3) dan (4) dituturkan oleh dosen kepada mahasiswanya di dalam ruang ujian pada saat ia melihat ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha melakukan penyontekkan.Tuturan (4) dinilai memenuhi maksim kualitas karena dosen tersebut mengatakan maksud sebenarnya dari tuturan tersebut, yaitu larangan untuk tidak menyontek dan ancaman jika menyontek akan mendapatkan nilai E. Sebaliknya, pada tuturan (3) dosen tersebut tidak mengatakan maksud sebenarnya, sehingga dikatakan melanggar maksim kualitas. Hal itu dapat terlihat dari kalimat “Silakan menyontek saja” yang dalam dunia pendidikan sangat tidak logis jika seorang dosen menyuruh mahasiswanya untuk memplagiasi pekerjaan sesama mahasiswa. Maksud kedua tuturan tersebut sebenarnya sama ,namun dalam tuturan (4) lebih memungkinkan terjadinya prinsip kerjasama karena mematuhi maksim kualitas dibandingkan tuturan (3) yang menggunakan implikatur percakapan khusus. Dari pendapat kedua pakar tersebut peneliti berhasil menyimpulkan bahwa dalam maksim kualitas
informasi yang diberikan harus logis (sesuai dengan fakta yang terjadi), dan juga benar (bertutur diikuti dengan bukti-bukti yang jelas).
3. Maksim Relevansi (The Maxim Of Relevance)
Berkaitan dengan maksim ini, Levinson (1983:102) menyatakan
“make your contributions relevant”, artinya buatlah kontribusi yang relevan atau sesuai dengan topik pembicaraan. Lebih lanjut, Rahardi (2005: 56) berpendapat bahwa Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian, dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerjasama. Untuk memahami maksud dari berbicara secara relevan perhatikan contoh yang dibuat oleh salah satu pakar berikut:
(5) Sang Hyang Tunggal : “ Namun sebelum kau pergi, letakkan kata-kataku ini dalam hati!”
Semar : “Hamba bersedia, ya Dewa
(Rahardi, 2005: 56)
Tuturan (5) dituturkan oleh Sang Hyang Tunggal kepada tokoh Semar dalam sebuah adegan pewayangan. Pada tuturan (5) dikatakan mematuhi maksim relevansi karena tokoh semar dalam tuturan tersebut memberikan jawaban yang sesuai dengan tuturan Sang Hyang Tunggal, sehingga terjadi kontribusi yang relevan antara penutur dan mitra tutur.
(6) Direktur : “Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani dulu!”
Sekretaris : “Maaf Bu, kasihan sekali nenek tua itu.” (Rahardi, 2005: 56) Tuturan (6) dituturkan oleh seorang direktur kepada sekretarisnya pada saat mereka bersama-sama bekerja di sebuah ruang kerja direktur. Pada saat itu,
ada seorang nenek tua yang sudah menunggu lama. Pada tuturan (6) terjadi pelanggaran maksim relevansi. Hal tersebut dibuktikan dari tuturan sang sekretaris, yakni “Maaf Bu, kasihan sekali nenek tua itu”.tuturan itu tidak memiliki relevansi dengan apa yang dituturkan sang direktur, yakni ”Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani dulu!”. Dengan demikian tuturan (6) dapat dipakai sebagai bukti bahwa maksim relevansi dalam prinsip kerjasama tidak selalu harus dipenuhi dan dipatuhi dalam pertuturan yang sebenarnya.
Pendapat kedua ahli di atas memiliki persamaan konsep bahwa bertutur secara relevan dengan topik pembicaraan akan mematuhi maksim relevansi ini.
4. Maksim Pelaksanaan (The Maxim Of Manner)
Menurut Grice (1975: 46), yang diterangkan kembali oleh Baryadi (2015: 90), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menegakkan maksim ini. “Finally, under the category of MANNER, which I understand as relating not (like the previous categories) to what is said but, rather, to HOW what is said is to be said, I include the supermaxim –„Be perspicuous‟–
and various maxims such as.”
“Akhirnya, dalam kategori CARA, dalam hal ini saya memahami bukan sebagai apa yang dikatakan (seperti kategori sebelumnya),melainkan tentang BAGAIMANA apa yang dikatakan itu harus diungkapkan, saya merumuskan supermaksim –Ungkapan secara tepat–dan bermacam-macam maksim sebagai berikut.”
1. Avoid obscurity of expression (Hindari ungkapan yang kabur).
2. Avoid ambiguity (Hindari ketaksaan).
3. Be brief (avoid unnecessary prolixity).Buatlah ringkas (hindari ungkapan yang berkepanjangan).
4. Be orderly (Ungkapkanlah sesuatu itu secara runtut).
Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta tutur, bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Orang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar Prinsip Kerjasama Grice,karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan (Rahardi, 2005: 57). Contoh:
(7) (+) “Ayo, cepat dibuka!”
(-) “Sebentar dulu, masih dingin.” (Rahardi, 2005: 57)
Tuturan (7) dituturkan oleh seorang kakak kepada adik perempuannya.
Pada tuturan ini terjadi kekaburan makna karena tuturan tersebut tidak jelas.
Tuturan si penutur (+)“Ayo, cepat dibuka!” sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh si mitra tutur. Kata dibuka dalam tuturan di atas mengandung kadar ketaksaan dan kekaburan yang sangat tinggi. Jadi maknanya pun menjadi sangat kabur. Dapat dikatakan demikian, karena kata itu dimungkinkan untuk ditafsirkan bermacam-macam. Demikian pula tuturan yang disampaikan oleh si mitra tutur (-), yakni “Sebentar dulu, masih dingin” mengandung kadar ketaksaan yang tinggi. Kata dingin pada tuturan itu dapat mendatangkan banyak kemungkinan persepsi penafsiran, karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa sebenarnya yang dingin itu. Tuturan-tuturan demikian itu dapat dikatakan melanggar prinsip kerjasama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan. Pada maksim ini, peneliti menggunakan teori
Grice dimana untuk mematuhi maksim pelaksanaan penutur harus menghindari ungkapan yang kabur, hindari ketaksaan(ambiguitas), bertutur dengan ringkas, bertutur secara runtut.