• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. Prinsip Pembelajaran Pada Siswa Autistik

Karakteristik siswa autis yang memiliki gangguan pada komunikasi, perilaku, dan interaksi sosial dapat mengganggu terlaksananya pembelajaran. Yosfan Afandi (2007, 156-157) menjelaskan ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan emosi, konsentrasi, dan perilaku pada siswa autis. Cara untuk mengatasi masalah emosi ialah berusaha mencari dan menemukan penyebabnya, berusaha menenangkan siswa dengan tetap bersikap tenang lalu setelah kondisi membaik kegiatan belajar dapat dilanjutkan. Disebabkan rentang waktu perhatian siswa autis cenderung singkat, maka guru dapat mensiasati dengan membuat kegiatan belajar menarik bagi siswa, adanya istirahat sejenak untuk menghindari kejenuhan siswa, dan waktu belajar bagi siswa ditingkatkan secara bertahap. Mengatasi masalah perilaku dapat dilakukan dengan memberikan reinforcement

(penguatan perilaku), tidak memberikan waktu luang bagi siswa untuk asyik dengan diri sendiri, membuat kegiatan yang menarik dan posistif, serta menciptakan situasi belajar yang tidak memicu munculnya perilaku tidak sesuai siswa autis.

Pembelajaran bagi siswa autis dilaksanakan dengan memegang prinsip khusus diantaranya terstruktur, terpola, terprogram, konsisten, dan kontinyu. Yosfan Afandi (2007: 160-162) menjelaskan prinsip pembelajaran siswa autis sebagai berikut:

a. Terstruktur artinya materi pembelajaran diberikan dari yang paling mudah bagi siswa.

b. Terpola berarti kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan jadwal yang terjadwal dan bersifat rutin.

c. Prinsip terprogram artinya pembelajaran disusun dengan jelas target apa yang akan dicapai agar mudah dievaluasi. Dalam membuat program pembelajaran materi disusun secara bertahap berdasarkan kemampuan siswa sehingga target program pertama menjadi dasar program selanjutnya.

d. Konsisten berarti tetap. Tetap bagi guru saat bersikap, merespon, dan memperlakukan anak sesuai karakter siswa autis. Konsisten bagi siswa yaitu mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai stimulan yang muncul pada ruang dan waktu yang berbeda. Konsisten bagi orang tua siswa ialah bersikap pada siswa sesuai dengan program pembelajaran yang telah ditentukan bersama sebagai wujud generalisasi pembelajaran di rumah dan di sekolah.

e. Kontinyu maksudnya kesinambungan antar prinsip dasar pengajaran, program pendidikan, dan pelaksanaan. Kontinyuitas tidak hanya dalam pembelajaran di sekolah, namun juga perlu ditindaklanjuti di rumah dan dilingkungan sekitar siswa.

Selain prinsip pembelajaran di atas terdapat beberapa pertimbangan untuk menyusun pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus, termasuk autis yang disebut dengan desain pembelajaran. Ontario Ministry of

Education (2007: 33-36) menjelaskan bahwa terdapat desain pembelajaran

a. Universality and equity (keuniversalan dan kewajaran). Siswa autis memiliki level kognitif, kemampuan komunikasi, keterampilan sosial, dan karakteristik perilaku yang bervariasi. Oleh karena itu guru harus mengumpulkan informasi untuk mengetahui kekuatan/kelebihan, kebutuhan, dan minat siswa guna mengidentifikasi kurikulum yang cocok, akomodasi yang dibutuhkan, dan pendekatan instruksional yang efektif.

b. Flexibility and inclusion. Banyak siswa autis memiliki kesulitan

memproses informasi dan tidak mampu segera merespon dan atas permintaan untuk tugas-tugas yang diharapkan. Siswa membutuhkan kelenturan mengenai waktu dan metode yang digunakan untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan. Guru perlu mempertimbangkan alternatif yang bervariasi seperti waktu yang diperpanjang dan kegiatan tambahan yang direncanakan untuk memastikan pengalaman belajar yang tepat sudah diberikan bagi seluruh siswa autis.

c. An appropriately designed space. Sebuah rancangan ruang belajar yang

cocok bagi siswa autis dapat membantu mewujudkan pembelajaran yang efektif. Hal ini disebabkan siswa autis memiliki hipersensitif pada rangsangan sensori (dapat berupa visual, suara, sentuhan, ataupun penciuman) yang dapat mengganggu proses pembelajaran. Respon siswa terhadap rangsangan tersebut dapat berupa penolakan belajar. Maka dari itu, guru mesti mempertimbangkan juga pada ukuran, ruang, dan rancangan fisik dan elemen visual dalam lingkungan belajar.

d. Simplicity. Guru sebaiknya memastikan bahwa informasi yang diberikan dalam situasi pembelajaran disajikan dengan jelas dan mudah dipahami oleh semua siswa. Hambatan komunikasi pada siswa autis seringkali membuat siswa autis sulit memproses informasi verbal seperti yang kompleks, abstrak, istilah popular, bahasa sehari-hari, dan salah menafsirkan metafora. Metode yang efektif untuk menyederhanakan informasi dan memudahkan siswa memahami meliputi penggunaan bahasa yang jelas dan singkat, memecah instruksi dan tugas-tugas menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, dan menggunakan bantuan visual (tertulis atau jadwal tergambar).

e. Safety.

Teachers need to consider possible safety hazards and elements with the

potential to cause accidents in the classroom. Staff should be aware of and able to act on any safety assessments, safety plans, or safety protocols that

may apply to specific students in the classroom.

Ditinjau dari penjelasan tersebut dapat dimaknai bahwa guru perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya bahaya dan elemen berpotensi menyebabkan kecelakaan di dalam kelas. Guru dan staf lainnya yang berada di dalam kelas harus menyadari dan mampu bertindak pada penilaian keamanan apapun, rencana keselamatan, atau protokol keamanan yang berlaku untuk siswa tertentu di dalam kelas.

Terdapat cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi gangguan belajar pada siswa autis, diantaranya dengan mencari dan menemukan penyebabnya, mengondisikan siswa dengan tenang agar mengikuti pembelajaran, membuat kegiatan belajar menarik bagi siswa, adanya istirahat

sejenak untuk menghindari kejenuhan siswa, waktu belajar bagi siswa ditingkatkan secara bertahap, memberikan reinforcement (penguatan perilaku), tidak memberikan waktu luang bagi siswa untuk asyik dengan diri sendiri, membuat kegiatan yang menarik dan posistif, serta menciptakan situasi belajar yang tidak memicu munculnya perilaku tidak sesuai siswa autis.

Berdasarkan paparan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bagi siswa autis dilaksanakan dengan prinsip terstruktur, terpola, terprogram, konsisten, dan kontinyu. Terdapat beberapa pertimbangan untuk menyusun program pembelajaran bagi siswa autis diantaranya universality and equity, flexibility and inclusion, An

appropriately designed space, simplicity, dan safety.

B. Kajian Tentang Pembelajaran

Dokumen terkait