• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Filosofis dan Profil Pendidikan Agama Islam

3. Prinsip Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang dicetuskan dan ditetapkan oleh sekolah secara dinamis dan progresif. Hal ini berati, bahwa kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masyarakat yang sedang

membangun.93 Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mengacu

dan berdasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar hasil pengembangan kurikulum tersebut sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, dan kebutuhan daerah, serta kebutuhan bangsa itu sendiri, sehingga terwujudlah tujuan dan cita-cita bersama, mulai tingkat yang mendasar sampai pada skala nasional.

Ada beberapa prinsip pengembangan kurikulum secara umum yang perlu dibahas terlebih dahulu sebelum mengkaji prinsip pengembangan secara khusus, sebagai berikut:

114

b. Prinsip Relevansi

Relevansi mempunyai kedekatan hubungan sesuatu dengan apa yang terjadi. Apabila dikaitkan dengan pendidikan, berarti perlunya kesesuaian antara program pendidikan dengan tuntutan kehidupan masyarakat. Pendidikan dikatakan relevan bila hasil yang diperoleh

akan berguna bagi kehidupan seseorang.94

Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki dalam program

kurikulum:95

1) Relevansi keluar, yaitu:

a) Kesesuaian atau keserasian antara pendidikan dengan lingkungan

hidup siswa;

b) Kesesuaian antara pendidikan dengan kehidupan anak didik di

saat sekarang dan yang akan datang;

c) Kesesuaian antara pendidikan dengan tuntutan dunia kerjanya

bagi siswa.

d) Kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi.96

2) Relevansi ke dalam, yaitu:

Kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum,

94 Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), 179.

95 Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, 150.

115

yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian. Relevansi

internal ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.97

c. Prinsip Fleksibelitas

Fleksibelitas berarti tidak kaku, dan ada semacam ruang gerak yang memberikan kebebasan dalam bertindak. Di dalam kurikulum,

fleksibelitas dapat dibagi menjadi dua macam, yakni:98

1) Fleksibelitas dalam memilih program pendidikan

Fleksibelitas di sini maksudnya adalah bentuk pengadaan program-program pilihan yang dapat berbentuk jurusan, program-program spesialisasi, ataupun program-program pendidikan keterampilan yang dapat dipilih murid atas dasar kemampuan dan minatnya.

2) Fleksibelitas dalam pengembangan program pengajaran

Fleksibelitas di sini maksudnya adalah dalam bentuk memberikan kesempatan kepada pendidik dalam mengembangkan sendiri program-program pengajaran dengan berpatok pada tujuan dan bahan pengajaran di dalam kurikulum yang masih bersifat umum.

Memberi kebebasan terhadap ruang gerak peserta didik dan pendidikan dalam bertindak di lapangan. Hal ini dikarenakan dalam diri anak didik terdapat banyak perbedaan-perbedaan dalam segala hal; bakat, kemampuan membaca, menulis (belajar), keterampilan, dan sebagainya. Dengan demikian sekolah dapat memberi fasilitas yang luas terhadap siswa. Dengan terbentuknya pengadaan program pilihan,

97 Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, 151.

116

jurusan, program spesialisasi, program pendidikan keterampilan dalam dan program-program lain yang dapat dipilih siswa atas dasar

kemampuan, kemauan serta minat dan bakat yang dimilikinya.99

Begitu juga seorang guru sedapat mungkin mengembangkan sendiri program-program pengajarannya, dengan berpatokan dan berpegang teguh pada tujuan dalam pengajaran di dalam kurikulum yang masih bersifat umum. Upaya-upaya di atas dilakukan agar rancangan kurikulum dan pengembangannya serta praktiknya di lapangan dapat akomodatif di setiap saat dan kesempatan yang ada di sekolah.

d. Prinsip Kontinuitas

Dengan prinsip kontinuitas ini, perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau tidak berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan. Pengembangan kurikulum perlu dilakukan secara serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerjasama antara para pengembang kurikulum sekolah dasar dengan SMTP, SMTA, dan Perguruan

Tinggi.100 Bahkan kesinambungan antara satu bidang studi dengan

berbagai bidang studi lainnya untuk menghindari tumpang-tindihnya materi pelajaran yang dilaksanakan pada satuan pendidikan.

99 Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 127.

117

Prinsip kesinambungan dalam pengembangan kurikulum menunjukkan adanya saling terkait antara tingkat pendidikan, jenis program pendidikan, dan bidang studi. Minimal ada dua kesinambungan

dalam pengembangan kurikulum ini:101

1) Kesinambungan di antara berbagai tingkat sekolah

a) Bahan pelajaran (subject matters) yang diperlukan untuk belajar

lebih lanjut pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi hendaknya sudah diajarkan pada tingkat pendidikan sebelumnya atau di bawahnya.

b) Bahan pelajaran yang telah diajarkan pada tingkat pendidikan

yang lebih rendah tidak harus diajarkan lagi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga terhindar dari tumpang-tindih dalam pengaturan bahan dalam proses belajar mengajar.

2) Kesinambungan di antara berbagai bidang studi

Kesinambungan di antara berbagai bidang studi menunjukkan bahwa dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan hubungan antara bidang studi yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, untuk mengubah angka temperatur dari skala Celcius ke skala Fahrenheit dalam IPA, diperlukan keterampilan dalam pengalian pecahan. Karenanya, pelajaran mengenal bilangan pecahan tersebut hendaknya sudah diberikan sebelum anak didik mempelajari cara mengubah temperatur itu.

101 Idi, Pengembangan Kurikulum…, 182.

118

e. Prinsip Praktis

Prinsip keempat adalah praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prisip efisiensi. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar

dilaksanakan.102

Prinsip efisiensi sering kali dikonotasikan dengan prinsip ekonomi yang berbunyi: Dengan modal atau biaya, tenaga, dan waktu yang sekecil-kecilnya akan dicapai hasil yang memuaskan. Efisiensi proses belajar mengajar akan tercipta, apabila usaha, biaya, waktu dan tenaga yang digunakan untuk menyelesaikan program pengajaran tersebut sangat optimal dan hasilnya dapat dicapai seoptimal mungkin, tentunya

dengan pertimbangan yang rasional dan wajar.103

Dalam pengembangan kurikulum, prinsip efisiensi harus mendapat perhatian termasuk efisiensi segi waktu, tenaga, peralatan, dan biaya. Efisiensi waktu perlu direncanakan kegiatan belajar siswa agar tidak banyak membuang waktu di sekolah. Efisiensi penggunaan tenaga dan peralatan perlu ditetapkan jumlah minimal siswa yang harus dipenuhi oleh sekolah dan cara menentukan jumlah guru yang dibutuhkan. Dengan mengusahakan tercapainya berbagai segi efisiensi di atas,

102 Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum…, 151.

119

diharapkan dapat dicapai efisiensi dalam pembiayaan pendidikan.104

f. Prinsip Efektivitas

Efektivitas dalam kegiatan berkenaan dengan sejumlah apa yang

direncanakan atau diinginkan dapat dilaksanakan dan dicapainya.105

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan program pendidikan dan proses belajar mengajar yaitu berkenaan dengan masalah efektivitas mengajar guru dan efektivitas belajar siswa. Efektivitas mengajar guru berkaitan dengan sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik.

Efektivitas belajar siswa, berkaitan dengan sejauh mana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan telah dapat dicapai melalui kegiatan

belajar mengajar yang telah dilaksanakan. 106 Efektivitas belajar

mengajar dalam dunia pendidikan mempunyai keterkaitan erat antara guru dan siswa kepincangan salah satunya akan membuat terhambatnya pencapaian tujuan pendidikan.

Prinsip pengembangan kurikulum yang lebih khusus berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian. Interaksi antara keempat komponen tersebut selalu mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum.

Berikut ini diuraikan dengan lebih mendetail tentang prinsip-prinsip khusus di atas.

104 A. Hamid Syarif, Pengenalan Kurikulum (Pasuruan: Garuda Buana Indah, 1993), 51.

105 Subandiyah, Pengembangan…, 51.

120

1) Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan

Tujuan menjadi pusat dan arah semua kegiatan pendidikan. Tujuan tersebut hendaknya dirumuskan secara spesifik dan operasional seluruh

kegiatan belajar mengajar berlangsung.107Di samping itu, tujuan

pendidikan mencakup pada tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:

a) Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah yang dapat ditemukan

dalam dokumen lembaga negara mengenai tujuan dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.

b) Survei mengenai persepsi orang tua siswa/masyarakat tentang

kebutuhan mereka, yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.

c) Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu

dihimpun melalui angket atau wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.

d) Survei tentang man power.

e) Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama.

f) Penelitian

2) Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan

107 A. Hamid Syarif, Pengenalan…,76.

121

Isi pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah materi kurikulum

yang disusun oleh seorang guru.108

Dalam undang-undang pendidikan tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab IX pasal 39 telah ditetapkan bahwa:

Isi kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya mencapai tujuan pendidikan

nasional.109

Sesuai dengan rumusan tersebut, isi kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a) Materi kurikulum berupa bahan pembelajaran yang terdiri dari

bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan pembelajaran.

b) Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan

masing-masing satuan pelajaran. Perbedaan dalam ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran disebabkan oleh perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.

c) Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan

nasional. Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional merupakan target tertinggi yang hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.

108 Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 25.

109 Tim Redaksi Fokusmedia, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Fokusmedia, 2003), 89.

122

Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu

mempertimbangkan beberapa hal:110

d) Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam bentuk

perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.

e) Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap dan

keterampilan.

f) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan

sistematis.

Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. Untuk hal tersebut diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.

3) Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar

Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya

memperhatikan hal-hal sebagai berikut:111

a) Apakah metode atau teknik belajar mengajar yang digunakan

cocok untuk mengajar bahan pelajaran?

110 Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum…, 153.

123

b) Apakah metode atau teknik tersebut memberikan kegiatan yang

bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individu siswa?

c) Apakah metode atau teknik tersebut memberikan uraian kegiatan

yang bertingkat-tingkat?

d) Apakah metode atau teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan

untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotorik?

e) Apakah metode atau teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa

atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?

f) Apakah metode atau teknik tersebut mendorong berkembangnya

kemampuan baru?

g) Apakah metode atau teknik tersebut menimbulkan jalinan

kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat?

h) Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar

yang menekankan pada learning by doing (belajar sambil berbuat)

di samping learning by seeing and knowing (belajar sambil

melihat dan mengetahui).

4) Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian

Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran:112

a) Dalam penyusunan alat penilaian (tes) hendaknya diikuti

langkah-langkah sebagai berikut: rumusan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Uraikan

124

ke dalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati. Hubungan dengan bahan pelajaran, tulislah butir-butir tersebut.

b) Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan

beberapa hal:

(1) Bagaimana kelas, usia dan tingkat kemampuan kelompok

yang akan dites?

(2) Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan tes?

(3) Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau obyektif?

(4) Berapa banyak butir tes perlu disusun?

(5) Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh siswa?

c) Dalam pengelolaan suatu penilaian hendaknya diperhatikan

hal-hal sebagai berikut:

(1) Norma apa yang digunakan dalam pengelolaan hasil tes?

(2) Apa digunakan formula question?

(3) Bagaimana pengelolaan skor ke dalam skor masak?

(4) Skor standar apa yang digunakan?

(5) Untuk apakah hasil tes digunakan?