BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
F. Prinsip-prinsip dalam Jual Beli
Dalam syari’at islam bidang muamalat menmberikan prinsip-prinsip
umum yang harus dipegang di dalam menjalankan kegiatan-kegiatan yaitu:
1. Pada dasarnya segala bentuk mu’amalat adalah mubah, kecuali yang ditentukan lain oleh al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
2. Mu’amalat dilakukan atas dasar suka rela tanpa mengandung unsure paksaan.
25 Al-Sun’ani, op. cit., h.83
3. Mu’amalat dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindarkan madharat dalam hidup masyarakat.
4. Mu’amalat dilakukan dengan memelihara nilai-nilai keadilan, menghindari unsur-unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan.26
Dengan demikian, beberapa hal yang harus dipedomani dalam konteks ini adalah menghindari unsur spekulasi yang cenderung bersifat maisir yaitu gambling (judi), data dan informasi komoditi jelas baik yang menyangkut satuannya, kualitasnya, kriteria, jenis dan sifat-sifatnya serta harga dan penyerahannya, nilai guna yang membawa nasihat dan tidak membahayakan.
Kegiatan jual beli yang berpedoman pada prinsip-prinsip ini maka kegiatan mu’amalat yang dijalankan akan bermanfaat antara sesame manusia dan sah menurut hukum islam. Dalam aktivitas jual beli yang berpedoman pada prinsip-prinsip diatas maka kegiatan bermu’amalat yang dijalankan tersebut akan bermanfaat antara sesama manusia dan sah menurut hukum islam. sehingga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari terdapat unsur tolong-menolong antar manusia dan roda kehidupan ekonomi akan berjalan positif karena apa yang mereka lakukan akan menguntungkan bagi kedua belah pihak.
26 Ahmad Azhar Basyir, Asas-Asas Hukum Islam Muamalat,(Hukum Perdata Islam), ed:
Revisi (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 15-16.
31
BAB III
PROFIL WAHBAH ZUHAILI
A. Wahbah Zuhaili
1. Profil Wahbah Zuhaili
Wahbah Zuhaili adalah ulama kontemporer yang lahir di Dair ‘Atiyah kecamatan Faiha, Provinsi Damaskus Suriah pada tahun 1932 H. Nama lengkanya adalah Wahbah bin Musthafa Zuhaili, anak dari Musthafa al-Zuhaili. Ayahnya adalah seorang petani dan pedangang yang hafal al-quran serta mencintai assunnah.1 Sedangkan ibunya bernama Hajjah Fatimah binti Musthafa Sa’adah. Wanita shalihah yang memiliki sifat warak dan teguh dalam menjalankan syari’at islam.
Wahbah Zuhaili adalah seorang ulama di bidang tafsir dan juga ahli fiqih.
Ia banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Beliau adalah ulama yang hidup diabad ke-20 yang sejajar dengan tokoh-tokoh lainya seperti Thahir ibnu Asyur, Said Hawwa, Sayyid Qutb, Muhammad abu Zahrah, Mahmud Syaltut Ali Muhammad al-khafif, Abdul Ghani, Abdul Khaliq dan Muhammad Salam Madkur.2
1 Saiful Amir Ghofur, Profil Para Mufassir al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani,2008), h. 174
2 Lisa Rahayu, “Makna Qaulan dalam al-Quran; Tinjauan Tafsir Tematik Menurut Wahbah Zuhaili” (Skripsi Sarjana, Fakultas Ushuluddin Universitas UIN SUSKSA Riau, Pekanbaru, 2010), h.18
Adapun kepribadianya beliau adalah sangat terpuji di kalangan masyarkat Syiria baik itu dalam amal-amal ibadahnya maupun ketawadhuanya, di samping juga memiliki pembawaan yang sederhana. Meskipun memiliki mazdhab Hanafi, namun dalam pengembangan dakwahnya beliau tidak mengedepankan madzhab atau aliran yang dianutnya. Tetap bersikap netral dan proporsional.
2. Aktivitas Belajar, Guru-Guru dan Murid-Muridnya
Pendidikan masa kecil beliau diawali dari sekolah dasar (ibtidāiyah) yang berada di kampungya sendiri, bersamaan dengan itu beliau juga belajar al-Qur’an yang juga masih berada di tanah kelahiranya. Pada tahun 1946 Wahbah menyelesaikan pendidikan ibtidaiyah nya dan melanjutkan pendidikanya di kuliah Sharī‟ah di Damaskus dan selesai pada tahun 1952. Karena semangat nya dalam belajar dan kecintaan nya terhadap ilmu, sehingga ketika beliau pindah ke Cairo beliau mengikuti beberapa kuliah secara bersamaan, yaitu di Fakultas Bahasa Arab al-Azhar University dan Fakultas Shari’ah di Universitas Ain Shâm3
Ketika itu beliau memperoleh tiga Ijazah antara lain :
a. Ijazah B.A dari fakultas Syariah Universitas al-Azhar pada tahun 1956.
b. Ijazah Takhasus Pendidikan dari Fakultas Bahasa Arab Universitas alAzhar pada tahun 1957.
c. Ijazah B.A dari Fakultas Syari‟ah Universitas Ain Syam pada tahun 1957.4
3 Sayyid Muhammad Alî Ayâzi, Al-Mufassirun Ḥayâtuhum wa Manâhijuhum (Teheran:
Wizânah al-Thaqâfah wa al-Inshâq al-Islâm, 1993), h. 684-685.
4 Sayyid Muhammad, ibid, h. 685
33
Dalam masa lima tahun beliau mendapatkan tiga ijazah yang kemudian diteruskan ke tingkat pasca sarjana di Universitas Kairo yang ditempuh selama dua tahun dan memperoleh gelar M.A dengan tesis berjudul “al-Zirā’i fi as-Siyāsah as-Syar’iyyah wa al-Fiqh al-Islāmi”, dan merasa belum puas dengan pendidikannya beliau melanjutkan ke program doktoral yang diselesaikannya pada tahun 1963 dengan judul disertasi “Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islāmi” di bawah bimbingan Dr. Muhammad Salam Madkur.5
Pada tahun 1963 M, ia diangkat sebagai dosen di fakultas Syari’ah Universitas Damaskus dan secara berturut – turut menjadi Wakil Dekan, kemudian Dekan dan Ketua Jurusan Fiqh Islami wa Madzahabih di fakultas yang sama. Ia mengabdi selama lebih dari tujuh tahun dan dikenal alim dalam bidang Fiqh, Tafsir dan Dirasah Islamiyyah.6
3. Karya-karyanya
Kecerdasan Wahbah al-Zuhaili telah dibuktikan dengan kesuksesan akademisnya, hingga banyak lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga sosial yang dipimpinnya. Selain keterlibatnnya pada sektor kelembagaan baik pendidikan maupun sosial beliau juga memiliki perhatian besar terhadap berbagai disiplin keilmuan, hal ini dibuktikan dengan keaktifan beliau dan produktif dalam menghasilkan karya- karyanya, meskipun karyanya banyak dalam bidang tafsir dan fiqh akan tetapi dalam penyampaiannya memiliki
5 Ardiansyah, Pengantar Penerjemah, dalam Badi al-Sayyid al-Lahham, Sheikh Prof. Dr.
Wahbah al-Zuḥailī: Ulama Karismatik Kontemporer – sebuah Biografi ( Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), Cet. ke-1, h. 13.
6 Wahbah al-Zuḥailī, Al-Tafsîr al-Munîr fī al- ‘Aqîdah wa al-Sharî’ah wa al-Manhaj (Damaskus: Dār al-Fikr, 1998), Cet. ke-2, h.34.
relefansi terhadap paradigma masyarakat dan perkembangan sains. Di sisi lain, beliau juga aktif dalam menulis artikel dan buku- buku yang jumlahnya hingga melebihi 133 buah buku. Bahkan, jika tulisan-tulisan beliau yang berbentuk risalah dibukukan maka jumlahnya akan melebihi dari 500 makalah.7 Dan adapun karya-karya beliau yang sudah terbit adalah sebagia berikut:
1. Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islâmi-Dirâsah Muqâranah, Dâr al-Fikr, Damaskus, 1963
2. Al-Wasit fi Ushûl al-Fiqh, Universitas Damaskus, 1966
3. Al-Fiqh Al-Islâmi fi Uslub al-Jadid, Maktabah al-Hadits, Damaskus, 1967
4. Al-Darûrât al-Syar’iyyah, Maktabah al-Farabi, Damaskus, 1969 5. Nazâriat al-Damân, Dâr al-Fikr, Damaskus, 1970
6. Al-Usûl al-Ammah li Wahdah al-Din al-Haq, Maktabah al- Abassiyah, Damaskus, 1972
7. Al-Alaqt al-Dawliah fî al-Islâm, Muassasah al-Risâlah, Beirut, 1981 8. Al-Fiqh al-Islâm wa Adillatuhu, (8 Jilid ), Dâr al-Fikr, Damaskus, 1984 9. Ushûl al-Fiqh al-Islâmi (2 Jilid), Dâr al-Fikr, Damaskus, 1986
10. Juhûd Taqnin al-Fiqh al-Islâmi, Muassasah al- Risâlah, Beirut, 1987 11. Fiqh al-Mawâris fi al-Shari’ah al-Islâmiah, Dâr al-Fikr, Damaskus, 1987 12. Al-Wasâyâ wa Al-Waqaf fi al-Fiqh al-Islâmi, Dâr al-Fikr, Damaskus,
1987
7 Lisa Rahayu, op. cit., h. 22
35
13. Al-Islâm Din al-Jihâd lî al-Udwân, Persatuan Dakwah Islam Antar Bangsa, Tripoli, Libya, 1990
14. Al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, (16 Jilid), Dār al-Fikr, Damaskus, 1991
15. Al-Qisah Al-Qur’âniyyah Hidâyah wa Bayân, Dâr Khair, Damaskus, 1992
16. Al-Qur’ân Al-Karim Al-Bunyâtuh Al-Tasri’iyyah Aw Khasâisuh al- Hasâriyah, Dâr al-Fikr, Damaskus, 1993
17. Al-Ruẖsah al-Syari’ah-Aẖkāmuhu wa Dawabituhu, Dār al-Khair, Damaskus, 1994
18. Khasâis Al-Kubra li Hûquq Al-Insân fî al-Islâm, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1995
19. Al-Ulûm Al-Syari’ah Bayân Al-Wahdah Wa al-Istiqlāl, Dâr al- Maktabi, Damaskus, 1996
20. Al-Asas wa Al-Masâdir Al-Ijtihâd Al-Musytarikah Bayân al-Sunah wa al-Syiah, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1996.
21. Al-Islâm wa Tahadiyyah al-‘Asr, Dâr al-Maktabi, Damaskus,1996 22. Muwajâhah Al-Ghazu Al-Taqâfi Al-Sahyuni wa al-Ajnâbi, Dâr al-
Maktabi, Damaskus,1996
23. Al-Taqlid fi Madhahib Islâmiah inda Sunah wa Syiah, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1996
24. Al-Ijtihâd al-Fiqhi al-Hadits, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1997 25. Al-Urûf wa Al-Adah, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1997
26. Bay al-Asam, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1997
27. Al-Sunnah Al-Nabawiyyah, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1997 28. Idârah Al-Waqaf Al-Kahiri, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1998 2
29. Al-Mujâdid Jamaluddin Al-Afghani, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 1998 30. Taghyir Al-Ijtihâd, Dâr Al-Maktabi, Damaskus, 2000
31. Tatbiq Al-Syari’ah al-Islâmiah, Dâr Al-Maktabi, Damaskus, 2000 32. Al-Zirâ’i fi Al-Siyâsah Al-Syar’iyyah wa Al-Fiqh Al-Islâmi, Dâr al-
Maktabi, Damaskus, 1999
33. Tajdid al-Fiqh al-Islâmi, Dâr al-Fikr, Damaskus,2000 34. Al-Tsaqâfah wa al-Fikr, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 2000
35. Manhâj Al-Da’wah fi Al-Sirâh Al-Nabawiyah, Dâr Al-Maktabi, Damaskus, 2000
36. Al-Qayyim Al-Insâniah fi Al-Qur’ân Al-Karim, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 2000
37. Haq Al-Hurriah fi Al-‘Alām, Dâr Al-Fiqh, Damaskus, 2000 38. Al-Insân fi al-Qur’ân, Dâr Al-Maktabi, Damaskus, 2001
39. Al-Islâm wa Usûl Al-Hadârah Al-Insâniah, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 2001
40. Usûl Al-Fiqh Al-Hanafi, Dâr al-Maktabi, Damaskus, 2001.
Dari sekian banyak karya beliau, penulis akan mendalami buku al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu khususnya pada muamalat maliyah al-muasiroh tentang hukum jual beli emas secara tidak tunai.
37
BAB IV
HUKUM JUAL BELI EMAS SECARA CICIL MENURUT WAHBAH ZUHAILI
A. Hukum Jual Beli Emas Secara Cicil Menurut Wahbah Zuhaili :
1. Hukum Jual Beli Emas Secara Cicil
Didalam bermuamalat ( jual beli ) Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa semua jual beli itu adalah mubah, sebagaimana yang dikutip dari perkataan Imam Syafii “pada dasarnya semua jual beli itu mubah hukumnya jika sama-sama rida antara kedua belah pihak selama jual beli tersebut dibenarkan oleh syariat, kecuali apa yang telah dilarang oleh Rasulullah S.A.W”. seperti
Para pedagan yang jujur dan dipercaya (kedudukanya) bersama para nabi, para orang-orang yang jujur, dan para Syuhada.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa semua transaksi dibolehkan didalam islam kecuali yang telah diharamkan dan transaksi emas masuk
1 Wahbah Zuhaili, op. cit., h. 3307
kedalam katagori transaaksi yang diharamkan jika tidak dijual secara cash, didalam ilmu fiqh tergolong pada akad sharf, secara Bahasa sharf berarti bertambah , semantara menurut istilah : jual beli mata uang dengan mata uang sejenis atau tidak sejenis, atau jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, atau emas dengan perak, telah mejadi perhiasan (musowigh) atau masih dalam bentuk batangan.2
Pada transaksi sharf ini islam tidak melarangnya selama terlepas dari unsur riba dan sangat mengharamkannya, karena terdapat kedzaliman didalamnya, salah satu jenis riba yang diharamkan adalah riba bai’ dan jual beli emas secara tangguh atau murobahah merupakan bentuk transaksi yang mengandung unsur riba.
Secara umum jual beli emas memiliki 4 syarat : al-taqâbud, al-tamatsul, dan tidak adanya khiyar maupun ta’jîl
a. Penyerahan (Taqâbud) Barang Sebelum Berpisah Antara Penjual dan Pembeli :
Salah satu sayarat pada akad sharf yaitu penyerahan antara uang dan barang bersamanaan sebelum berpisah antara keduanya dari majlis akad, untuk mencegah terdapatnya riba nasiah, sebagaimana hadist nabi saw.
2 Wahbah Zuhaili, op. cit., h.3659
39 tunai, dan perak dengan perak (harus) sama takaranya dan secara tunai.
: ملسو هيلع الله ىّلص هلوقو
« زجانب ًابئاغ امهنم اوعيبت لا
4
»
Artinya :
Jangan kalian menjual antara keduanya yang tidak hadir dengan yang hadir
Maka apabila keduanya berpisah sebelum menerima (uang atau barang) atau salah satunya, akad tersebut rusak mennurut Imam Hanafi atau batal menurut ulama yang lain karena hilangnya syarat (taqâbud) tadi, pada ahirnya jual beli tersebut menjadi hutang dengan hutang dan terjadi riba : yang akan menjadi bertambah pada salah satu diantara (uang atau barang)5, dan penyerahan ( taqâbud) adalah syarat ketika barang tersebut sejenis maupun berbeda jenisnya.
Yang dimaksud dengan berpisah : yaitu berpisahanya kedua belah pihak (‘aqidâni) dengan badan mereka dari tempat akad, mengadap kedua belah pihak pada arah yang berbeda, atau pergi salah satunya dan tetap pada tempat berakad yang lainya. Apabila mereka tetap berada pada
3 HR.Jamaah kecuali Imam bukhari dari Ubadah Bin Shamit
4 Abdullah al-Bassam, op. cit., h.464
5 Al-Syaukâni, Fathu al-qadir, (Riyadl: Al-Nasyir al-Dauli, 2010), Cet. ke-1, h.369-371
tempat akad dan tidak berpisah meskipun percakapan pada tempat akad lama, atau mereka berjalan menuju arah yang sama dan belum berpisah dengan badan mereka, maka belum dianggap berpisah ; Karena yang di maksud berpisah yaitu dengan badan mereka.6
b. Memiliki ukuran dan berat yang sama jika jenisnya sama (al-tamatsul)
Jika menjual (barag ribawi) dan jenisnya sama seperti emas dengan emas, perak dengan perak, maka tidak boleh dijual kecuali dengan berat yang sama, meskipun berbeda kualitasnya, salah satunya memiliki karat yang tinggi atau memiliki sifat (baru atau bentuk) yang lebih baik dari yang lainya. Sebagaimana hadist yang telah dikemukakan diatas bahwa jual beli emas di tinjau dari ukuran gram tersebut bukan dari sifat emasnya. Sesuai dengan kaidah syariat
)ءاوس اهئيدرو اهديج(
Artinya :
Bagus dan jeleknya (sifat) emas adalah sama.
c. Memiliki Akad yang Tidak Terdapat Khiyar Syarat didalamanya:
Pada akad (sharf) tidak boleh terdapat adanya khiyar yang diajukan oleh kedua belah pihak atau salah satunya, karena penyerahan (taqâbudh) sudah termasuk syarat pada akad tersebut.
d. Tidak Ada Penangguhan (al-ta’jîl)
6 Albadai’ bab 5, h.215
41
Salah satu syarat pada akad sharf adalah tidak adanya penangguhan dalam teransaksi baik itu uangnya maupun barangnya, jika tidak maka akad tersebut menjadi rusak; karena penyerahan (uang maupun barang) harus dilakukan sebelum berpisah, dan penangguhan menyebabkan telatnya serah terima.
Dua syarat terahir ini termasuk dari cabang pada serah terima yang harus dilakukan dalam harta-harta ribawi. Dan dalil disyartkan adanya larangan dalam penagguhan adalah : hadis riba yang telah disebutkan di atas bahwa wajib adanya serah terima secara langsung atau tunai pada setiap transaksi harta ribawi. Dan hadits Abi Manhal yang diriwayatkan oleh saykaini ( bukahi dan muslim) :
ديب ادي ناك ام(
سأب لاف هب
.)ابر وهف ةئيسن ناك امو
Artinya :
Pada setiap ( barang ribawi) ditransaksikan secara tunai maka tidak apa baginya, dan setiap yang ditransaksikan secara tunda atau tangguh maka itu adalah riba.
2. Landasan Hukum Diharamkanya Jual Beli Emas Secara Cicil :
Wahbah Zuhaili menyandarkan fatwanya pada dalil-dalil dan pendapat
ulama a. Hadist:
الله لوسر لاق لاق هنع الله يضر تماصلا نب ةدابع نعو
ربلاو ةضفلاب ةضفلاو بهذلاب بهذلا" :ملسو هيلع الله ىلص
لثمب لاثم حلملاب حلملاو رمتلاب رمتلاو ريعشلاب ريعشلاو ربلاب ملسم هاور "ديب ادي ءاوسب ءاوس
7
Artinya :
Emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, tamr dengan tamr, garam dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian, selama dilakukan dari tangan ke tangan (kontan) (HR.Muslim).
سر نأ هنع الله يضر يردخلا ديعس يبأ نعو
Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau menjual/membarterkan emas dengan emas,melainkan sama-sama (beratnya) dan janganlah engkau lebihkan sebagian atas lainnya. Dan janganlah engkau membarterkan perak dengan perak malainkan sama-sama (beratnya), dan janganlah engkau lebihkan sebagian atas lainnya. Dan janganlah engkau menjual sebagian darinya dalam keadaan tidak ada di tempat berlangsungnya akad
7 Abdullah al-Bassam, op. cit., h. 464
8 Abdullah al-Bassam, op. cit., h. 463
43
perniagaan dengan emas atau perak yang telah hadir di tempat berlangsungnya akad perniagaan. (Muttafaqun‘alaih).
Dari Nash Hadist diatas emas disebutkan secara tekstual sebagai harta ribawi yang proses transaksinya harus dilakukan dengan berat yang sama dan secara tunai jika emas dengan emas, namun apabila emas dengan jenis harta ribawi yang lainya maka syaratnya hanya secara tunai.
b. Pendapat Ulama :
Pemikiran Wahbah Zuhaili ini dilandaskan dari ayat dan hadis-hadist Rasulullah s.a.w dan ulama, seperti
Imam Syafi’I : Tidak boleh (menjual) emas dengan emas atau uang dengan uang atau sesuatu yang dimakan atau diminum dari jenisnya kecuali dengan setara dan harus serah terima secara langsung( yadan bi yadin), apabila sesuatu tersebut adalah barang yang ditimbang maka menjualnya dengan cara ditimbang, apabila sesuatu tersebut adalah barang yang ditakar maka menjualnya dengan cara ditakar, dan tidak boleh menjual sesuatu yang ditimbang namun ia melakukanya dengan cara menakar begitupun sebaliknya, seperti menjual emas dengan emas dengan cara menakar kemungkinan emas tersebut memiliki takaran yang sama namun memiliki berat yang berbeda, dan tidak ada khiyar didalam jual beli tersebut.9
9 Muhammad bin Idris Al-Syâfi’i, op. cit., h.30
Selain itu para ulama salaf dan khalaf bersepakat bahwa jual beli emas tidak bisa dilakukan secara tangguh, sebagaimana keputusan dari Majma’ Al Fiqh Al Islami (devisi fikih OKI) yang diadakan pada muktamar di Abu Dhabi pada tahun 1995 yang berbunyi
“Menekankan kembali pendapat seluruh ahli fikih yang melarang menukar emas perhiasan dengan yang tidak perhiasan dengan ukuran yang tidak sama”.10
c. Kaidah Fikih :
حلاصملا بلج نم ىلوأ دسافملا ءرد
artinya:
menolak kerusakan harus didahulukan dibanding mengambil kemaslahatan
3. Analisis Hukum Jual Beli Emas Secara Cicil:
Didalam menetapkan hukum jual beli emas secara cicil Wahbah Zuhaili melandaskan pada hadits-hadits rasulullah saw, dimana rasulullah saw menyatakan bahwa jual beli emas harus secara tunai, jika tidak maka akan jatuh ke dalam riba11.
Pada jual beli emas ini terdapat dalil yang menyebutkan secara eksplisit bahwa jual beli emas tidak boleh dilakukan dengan cara tidak tunai, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ubadah Bin Shamit.
10 Erwandi Tarmizi , op. cit., h.437
11 Abdullah al-Bassam, op. cit., h. 464
45
Beberapa yang harus diperhatikan pada redaksi tersebut antara lain: kata ( بهذلا ; (لا( apabila masuk pada isim jenis atau kata benda jenis seperti ( emas, perak, manusia, jin, dan sebagainya, maka لا menunjukkan cakupan secara keseluruhan benda tersebut, atau disebut juga لا istighrâqiyyah12. Dengan demikian, maka kata بهذلا berarti seluruh jenis emas, baik itu logam mulia emas, baik emas perhiasan, emas murni atau emas yang sudah tercampur, dll. Kemudian kata لثمب لاثم dan ديب ادي adalah dua syarat yang harus dipenuhi pada jual beli emas dan benda ribawi lainya.
Dalil tentang pelarangan jual beli emas secara tidak tunai baik hadits Ubadah Bin Shamit13 dan hadist Abu Said Al-khudry14 masing-masing menyiratkan illat hukum atas enam benda ribawi tersebut. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat :
1. Al-Wazîr : Illat yang terdapat pada emas dan perak adalah (Al-waznu) timbangan, dan pada harta ribawi lainya adalah (alkailu) takaran.
2. Ibnu Taimiyah : Illat yang terdapat pada emas dan perak adalah (Al-tsamaniah) alat tukar sebagaimana yang telah disepakati oleh jumhur ulama.
Majma’ Fiqh Al-Islami menyatakan bahwa mata uang pada mulanya hanya terdapat pada emas dan perak, dan illat yang terdapat pada keduanya adalah (tsamaniyah) , illat tersebut tidak hanya terdapat pada emas dan
12 Muhammad Shidqi bin Ahmad, Kasyfu al-Syâtir, (al-Risalah al-‘âla,iyyah, 2013), Cet, ke-1, h.139
13 Abdullah al-Bassam, op. cit., h.464
14 Abdullah al-Bassam, ibid, h.463
perak saja, begitu juga mata uang beredar sekarang ini telah menjadi alat tukar dan telah menggantikan posisi emas dan perak; karena mengandung illat yang sama. Dengan begitu Majma’ Fikih Islami menetapkan bahwa : Mata uang kertas telah memiliki hukum yang sama dengan emas sebagai alat tukar. Maka diwajibkan untuk mengeluarkan zakat, dan termasuk benda ribawi yang terdapat didalamnya riba nasiah dan fadl, Karena memiliki kesamaan illat antara mata uang dan emas maupun perak maka transaksi menggunakan uang kertas hukumnya sama dengan menggunakan emas ketika dijual secara sejenis.15
Selain itu penulis juga melihat yang menyebabkan jual beli emas tidak boleh dicicil adalah karena posisi emas masih digunakan dalam beberapa bentuk uang. Di antaranya uang dinar yang mulai disosialisasikan dan beredar di Indonesia, selain itu masih digunakan sebagai cadangan devisa bank-bank dan pemerintahan. Emas juga berfungsi sebagai alat untuk menyelesaikan utang-utang internasional, dan sebagai media penyimpan nilai. Dr. Fuad Dahman yang dikutip pernyataannya dalam buku mata uang Islam menyebutkan: “Bentuk lahir kondisi ini (yakni peredaran uang kertas) memberi kesan fungsi emas sebagai uang sudah berakhir. Namun kenyataan sebaliknya, menghilang dari peredaran tidak menghalangi dua fungsinya yang penting yang masih ada. Pertama, bagi individu-individu emas masih tetap berfungsi sebagai barang simpanan dalam skala luas. Setiap orang semampunya berusaha untuk menjadikannya tabungan yang diyakini lebih
15 Abdullah al-Bassam, op. cit., 467
47
baik dan lebih terjamin dari kertas bank. Kedua, emas masih digunakan untuk memenuhi pembayaran-pembayaran luar negeri. Negara yang saldo anggaran pembayarannya negatif, mau tidak mau harus mengekspor emas untuk menutupi defisit anggaran pembayarannya”.16
Dengan begitu maka illat (tsamaniyh) masih tetap melekat pada emas, dan uang kertas yang beredar kini dapat dikiaskan kepada emas sebagai alat pengukur nilai, maka hukum jual beli emas secara cicil hukumnya haram
Dengan begitu maka illat (tsamaniyh) masih tetap melekat pada emas, dan uang kertas yang beredar kini dapat dikiaskan kepada emas sebagai alat pengukur nilai, maka hukum jual beli emas secara cicil hukumnya haram