• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Kemampuan Membaca Pemahaman

2. Prinsip-prinsip Kemampuan Membaca Pemahaman

Roger Farr (Prana, 1997:3) memandang bahwa kegiatan membaca sebagai jantungnya pendidikan. Lebih jelas lagi, membaca itu bisa diumpamakan sebagai urat nadinya pendidikan. Hal ini berarti bahwa tidak ada kegiatan pendidikan tanpa kegiatan membaca. Coba kita bayangkan, suatu lembaga tidak ada kegiatan membaca sama sekali, apa yang akan terjadi? Dari pendapat ahli tersebut di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa betapa pentingnya kegiatan membaca dalam suatu lembaga pendidikan. Karena membaca merupakan salah satu indikator penting yang turut menentukan kualitas lembaga pendidikan itu. Jika output kita ingin baik dan berkualitas, mari kita perbaiki peringkat membaca anak didik kita khususnya pemahaman membaca. Kemampuan pemahaman membaca sebenarnya dapat kita tingkatkan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan pembiasaan dan latihan. Agar membaca dapat tumbuh subur dalam diri anak itu, maka yang harus dilakukan adalah memotivasi dan memberikan contoh yang bijaksana. Cara sekolah membangkitkan

motivasi membaca, salah satunya dengan mengadakan lomba sinopsis yang diikuti oleh semua siswa dan guru, sehingga warga sekolah betul-betul terlibat dalam suasana membaca dan bersaing memperoleh reward dari sekolah. Tetapi ingat, bukan reward yang menjadi tujuan utama tetapi menciptakan iklim membaca. Selain sinopsis dapat pula bercerita, yaitu menceritakan kembali isi bacaan dari salah satu wacana yang telah dibaca. Dari pelajaran ini siswa memperoleh pelajaran ganda, yaitu membaca dan menulis bahkan bercerita.

Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. Menurut McLaughlin & Allen (2002), prinsip-prinsip membaca yang didasarkan pada penelitian yang paling mempengaruhi pemahaman membaca ialah seperti yang dikemukakan berikut ini.

a. Pemahaman merupakan proses konstruktivis sosial.

b. Keseimbangan kemahiraksaraan adalah kerangka kerja kurikulum yang membantu perkembangan pemahaman.

c. Guru membaca yang profesional (unggul) mempengaruhi belajar siswa. d. Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif

dalam proses membaca.

e. Membaca hendaknya terjadi dalam konteks yang bermakna.

f. Siswa menemukan manfaat membaca yang berasal dari berbagai teks pada berbagai tingkat kelas.

g. Perkembangan kosakata dan pembelajaran memengaruhi pemahaman membaca.

h. Pengikutsertaan adalah suatu faktor kunci pada proses pemahaman. i. Strategi dan keterampilan membaca bisa diajarkan.

j. Asesmen yang dinamis menginformasikan pembelajaran membaca pemahaman.

a. Pemahaman Merupakan Proses Konstruktivis Sosial

Teori konstruktivis memandang pemahaman dan penyusunan bahasa sebagai suatu proses membangun. Menurut Cox (1999) anak-anak terus menerus membangun makna baru pada dasar pengetahuan sebelumnya yang mereka miliki untuk proses komunikasi. Sebagai metafor untuk belajar bahasa, maksud konstruktivisme ialah pemakai bahasa adalah pembangun makna, apa yang mereka bangun dan pengetahuan sebelumnya adalah bahan untuk membangun makna (Spivey dalam Cox, 1999)

Sedangkan Andersen (dalam McLaughlin & Allen, 2002) mengemukakan bahwa kaum konstruktivis yakin bahwa siswa membangun pengetahuan dengan menghubungkan pengetahuan dengan pengetahuan yang telah diketahuinya. Dalam membaca, konsep ini direfleksikan pada perkembangan belajar yang meyakini bahwa belajar terjadi apabila informasi baru diintegrasikan dengan apa yang diketahui. Seorang siswa yang mempunyai lebih banyak pengalaman dalam suatu topik tertentu,

lebih mudah membuat hubungan antara apa yang diketahuinya dengan apa yang akan dipelajarinya.

Selain itu, McLaughlin & Allen (2002) menjelaskan konstruktivisme dimanifestasikan dalam kelas yang dicirikan oleh siswa, yang bisa membangkitkan gagasan-gagasan, pemilihan sendiri, kreativitas, interaksi, berpikir kritis, dan konstruksi makna pribadi. Dalam konteks ini tugas kemahiraksaraan autentik mengasimilasikannya dengan pengalaman dunia nyata, menyediakan suatu tujuan belajar dan mendorong siswa agar belajar merupakan miliknya.

Menurut Cox (1999) konstruktivisme mengaplikasikan belajar bahasa dalam empat cara berkut ini.

1) Pembaca membangun makna dengan aktif ketika mereka membaca daripada hanya menerima pesan secara pasif.

2) Teks tidak mengatakan semuanya; pembacalah yang mengambil informasi dari teks.

3) Satu teks tunggal bisa mempunyai makna yang banyak karena adanya perbedaan antara pembaca dan konteks.

Lebih lanjut konstruktivisme juga mengaplikasikan pengajaran bahasa. Guru bisa membantu siswa belajar empat keterampilan berikut.

1) Membuat gabungan antara apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka pelajari.

2) Menggunakan strategi untuk membaca (misalnya membuat prediksi) dan menulis (misalnya, menggambarkan pengalaman sebelumnya).

3) Berpikir tentang proses membaca dan menulis mereka sendiri.

4) Mendiskusikan tenggapan-tanggapan mereka tentang teks yang mereka baca dan tulis.

b. Keseimbangan Kemahiraksaraan Merupakan Kerangka Kerja yang Membantu Perkembangan Pemahaman

Keseimbangan kemahiraksaraan merupakan kerangka kerja kurikulum yang memberikan kedudukan yang sama antara membaca dan menulis serta mengenal pentingnya dimensi kognitif dan afektif kemahiraksaraan. Kemahiraksaraan makna membuatnya terlibat dalam proses membaca dan menulis secara penuh, walaupun mengenal pentingnya strategi dan keterampilan yang digunakan oleh pembaca dan penulis yang ahli (Carlos & Schen dalam McLaughlin dan Allen, 2002).

Pearson (2001) menyarankan bahwa model pembelajaran pemahaman yang didukung oleh penelitian terakhir sebenarnya lebih dari keseimbangan antara

kesempatan belajar, menghubungkannya, dan mengintegrasikannya. Keseimbangan kemahiraksaraan memilih dimensi kognitif sosial dan afektif serta mempromosikan urutan berpikir, interaksi tanggapan pribadi, dan pemahaman yang lebih tinggi. Meletakkan belajar mengajar dalam kerangka kerja kurikulum berarti menciptakan sesuatu lingkungan yang optimal untuk pelaksanaan belajar.

c. Guru Membaca yang Unggul Memengaruhi Belajar Siswa

Guru yang unggul sadar apa yang dikerjakan dengan baik dan apa yang dibutuhkan siswa untuk berhasil. Guru yang unggul mengetahui pentingnya setiap siswa memiliki pegalaman kemahiraksaraan. Guru yang ahli ialah guru yang membuat perbedaan pada keberhasilan siswa.

Peranan guru dalam proses membaca, antara lain menciptakan pengalaman yang memperkenalkan, memelihara, atau memperluas kemampuan siswa untuk memahami teks. Hal ini mempersyaratkan guru melaksanakan pembelajaran dengan langsung, memodelkan, membantu meningkatkan, memfasilitasi, dan mengikutsertakan dalam pembelajaran (Ann & Raphael dalam McLaughlin & Allen, 2002).

Guru yang unggul yakin bahwa semua anak bisa belajar. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kebutuhan siswa secara pribadi. Guru tersebut tau bahwa motivasi merupakan unsur penting dari belajar mengajar. Guru yang profesional juga memahami bahwa membaca adalah proses sosial konstruktivis yang paling berfungsi

dalam situasi nyata. Mereka mengajar dengan cara kaya dengan bahan cetakan, serta lingkungan yang kaya dengan konsep.

Guru-guru seperti itu mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang berbagai aspek kemahiraksaraan, memcakup membaca dan menulis. Mereka mengajar untuk berbagai tujuan, menggunakan metode yang berbeda-beda, bahan pelajaran dan pengelompokan pola-pola untuk memfokuskan pada kebutuhan individu, minat dan gaya belajar. Mereka juga mengetahui strategi yang digunakan pembaca yang baik dan mereka mampu mengajar siswa bagaimana menggunakan strategi-strategi tersebut.

d. Pembaca yang Baik Memegang Peranan yang Strategis dan Berperan Aktif dalam Proses Membaca

Dalam paradigma baru, kurikulum menekankan hubungan yang kuat antara kemahiraksaraan dan isi. Siswa belajar pentingnya membaca, menulis, dan berpikir kritis untuk keefektifan belajar mandiri. Mereka belajar bagaimana menggunakan kemahiraksaraan sebagai salah satu alat menemukan dan menguasai isi bacaan. Strategi yang berdasarkan kemahiraksaraan mendukung kurikulum baru dengan menekankan proses belajar, berpikir kritis, dan memonitor diri sendiri (Cox, 1999).

Melalui suatu proses menilai diri sendiri dan perbaikan yang terus-menerus, siswa harus belajar mengontrol belajar mereka sendiri. Karena penekanan pada proaktif dan bertanggung jawab, kemahiraksaraan mata pelajaran menjadi alat yang

bermakna bagi siswa. Siswa yang mempunyai sikap positif terhadap belajar mereka sendiri dengan sendirinya juga menjadi pembaca yang baik.

Sedangkan menurut McLaughlin & Allen (2002), banyak peneliti yang meneliti tentang pembaca yang baik. Menurutnya, pembaca yang baik ialah pembaca yang berpartisipasi aktif dalam proses membaca. Mereka mempunyai tujuan yang jelas serta memonitor tujuan membaca mereka dari teks yang mereka baca. Pembaca yang baik menggunakan strategi pemahaman untuk mempermudah membangun makna. Strategi ini mencakup tujuan, membuat pertanyaan sendiri, membuat hubungan, memvisualisasikan, mengetahui bagaimana kata-kata membentuk makna, memonitor, meringkas, dan mengevaluasi. Peneliti yakin bahwa dengan menggunakan strategi tersebut siswa menjadi pembaca yang metakognitif (Keene & Zimmerman, 1997); (Palincsar & Brown, 1984; Roehler & Duffy, 1984, dalam McLaughlin & Allen, 2002).

Sedangkan menurut Anderson (dalam Burn, dkk.1996) pembaca yang baik bisa mengintegrasikan informasi dengan terampil dalam teks dengan pengetahuan sebelumnya tentang topik. Sebaliknya, pembaca yang tidak baik mungkin terlampau menekankan simbol-simbol dalam teks atau terlampau yakin pada pengetahuan sebelumnya tentang topik. Pembaca yang tidak baik, dengan fokus utamanya pada teks mungkin menghasilkan kata-kata yang bertele-tele yang secara grafis sama dengan yang ada dalam teks. Ini terjadi karena pembaca tidak berusaha menghubungkan apa yang mereka baca dengan pengalaman mereka. Pembaca yang

tidak baik yang sangat tergantung pada pengalaman sebelumnya mungkin gagal menggunakan petunjuk yang memadai yang terdapat dalam teks untuk sampai pada pesan yang dimaksudkan.

e. Membaca Hendaknya Terjadi dalam Konteks yang Bermakna

Siswa perlu setiap hari mengakrabi teks dalam berbagai tingkat kesukaran. Ketika tingkat teks yang sedang digunakan maka guru membantu siswa meningkatkan pengalaman belajar dan siswa menerima berbagai tingkat dukungan, tergantung pada tujuan dan setting pengajaran. Sebagai contoh, apabila teks tersebut merupakan tantangan, guru bisa menggunakan membaca nyaring untuk memberikan dukungan yang penuh pada siswa. Apabila teks itu tepat untuk pembelajaran, siswa mempunyai dukungan seperti yang diperlukan, dengan dorongan guru atau tanggapan apabila dipersyaratkan. Terakhir, apabila teks tepat untuk membaca mandiri, dibutuhkan sedikit atau tanpa dukungan (McLaughlin and Allan, 2002).

Sedangkan Gambrell (2001) yang dikutip oleh McLaughlin and Allan, (2002) mengemukakan bahwa transaksi berbagai aliran secara luas mencakup biografi, fiksi sejarah, legenda, puisi, dan brosur meningkatkan pemahaman membaca siswa.

f. Siswa Menemukan Manfaat dari Bertransaksi dengan Berbagai Teks pada Berbagai Tingkat

Siswa perlu membaca setiap hari teks dari tingkat yang berbeda. Apabila tingkat teks akan digunakan, guru hendaknya memberikan bantuan untuk meningatkan dan memprluas pengalaman belajar siswa, seterusnya siswa menerima berbagai tingkat dukungan tergantung pada tujuan dan setting pengajaran.

Bertransaksi dengan berbagai jenis materi bacaan akan meningkatkan pemahaman siswa. Pengalaman membaca berbagai jenis materi bacaan memberikan siswa pengetahuan sejumlah struktur teks dan meningkatkan proses memahami sutu teks. Gambell (dalam McLaughlin and Allan, 2002) mengemukakan bahwa dengan bertransaksi dengan berbagai jenis teks-mencakup biografi fiksi sejarah, legenda, puisi, dan brosur-meningkatkan kinerja membaca siswa.

g. Perkembangan Kosakata dan Pengajaran Mempengaruhi Pemahaman Membaca Teori konstruktivis sosial memainkan peranan yang penting pada perkembangan kosakata. Menurut Burns, Roe, dan Ross (1996) sukar menentukan usia yang tepat untuk belajar makna yang tepat dari kata. Awal pada proses perkembangan bahasa, mereka belajar membedakan antara antonim, sinonim, makna ganda, definisi abstrak, dan seterusnya. Selain itu, Snow, Griffin dan Burns (dalam McLaughlin and Allan, 2002) mengamati “belajar konsep-konsep baru dan kata-kata yang menyandikanya merupakan perkembangan pemahaman yang penting.”

Dalam tinjauanya pada penelitian yang sudah ada Blachowies dan Fisher (dalam McLaughlin and Allan, 2002) mengidentifikasikan empat petunjuk (guide lines) untuk pengajaran kosakata. Mereka mengemukakan bahwa (1) siswa hendaknya diperkenalkan secara aktif dalam memahami kata-kata dan dihubungkan dengan strategi-strategi, (2) belajar kosakata hendaknya sesuai dengan selera (keinginan) siswa, (3) diajarkan mengakrabi kata-kata, dan (4) mengembangkan kosa katanya melalui wacana-wacana yang diulang penggunaanya dari berbagai sumber informasi.

Sedangkan menurut Bauman dan Kameenui (dalam McLaughlin and Allan, 2002) menyarankan bahwa pegajaran kosakata secara langsung dan belajar dari konteks sebaiknya seimbang. Pengajaran sebaiknya bermakna bagi siswa, mencakup kata-kata dari bacaan siswa dan memfokuskan pada berbagai strategi untuk menentukan mana kata-kata yang tidak dikenal siswa.

h. Pengikutsertaan Merupakan Faktor Kunci dalam Proses Pemahaman

Keterlibatan pembaca bertransaksi dengan cetakan membangun pemahaman berdasarkan pada hubungan antara pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru.

Tierry (dalam MC Laughlin & Allen, 2002) menggambarkan proses berpikir dan menyarankan menjadi bagian dari cerita dalam pikiran mereka. Guru bisa mempertahankan.

Dan mengembangkanya dengan mendorong siswa membaca untuk tujuan yang jelas dan nyata dan merespons dengan cara-cara yang bermakna, selalu memutuskan pada pemahaman, hubungan pribadi, dan tanggapan pembaca. Baker dan Wigfield (dalam Mc laguhlin & Allen, 2002) menjelaskan bahwa keterlibatan membaca termotivasi untuk membaca dengan berbagai tujuan, memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya untuk membangkitkan pemahaman baru serta berpartisipasi dalam interaksi sosial yang bermakna tentang bahan bacaan.

i. Strategi dan Keterampilan Pemahaman bisa Diajarkan

Penelitian terakhir mendemontrasikan bahwa ketika siswa mengalami strategi pengajaran pemahaman langsung, strategi tersebut meningkatkan pemahaman teks tentang topik baru. Pertanyaan-pertanyaan pemahaman sering timbul pada tingkat pemahaman literal, ditegaskan dan kemudian dikoreksi, pemahaman dinilai, tetapi tidak diajarkan (Hubert dkk, 1998). Menurut Mc laguhlin & Allen, (2002) strategi pemahaman mencakup sebagai berikut.

1) peninjauan-mengaktifkan latar belakang pengetahuan memprediksi dan menyusun tujuan;

2) membuat pertanyaan sendiri-membuat pertanyaan untuk memandu membaca; 3) membuat hubungan, menghubungkan membaca dengan dirinya sendiri, teks,

4) memvisualisasikan-menciptakan gambaran secara mental sambil membaca; 5) mengetahui bagaimana kata menjadi kalimat bermakna, memahami

kata-kata melalui perkembangan kosakata-kata yang strategis, mencakup penggunaan sintaksis, yang memeri petunjuk makna kata untuk menemukan kata-kata yang tidak dikenal;

6) memonitor-menanyakan “bisakah ini dipahami?”, serta memperjelas dengan mengadaptasi proses strategis untuk mengakomodasi tanggapan;

7) meringkas-menyintesiskan gagasan-gagasan yang penting; 8) mengevaluasi-membuat pertimbangan-pertimbangan.

Mengaitkan keterampilan dan strategi-strategi bisa mempermudah siswa memahami strategi pemahaman yang umumnya lebih kompleks dari keterampilan pemahaman.

j. Asesmen Dinamis Menginformasikan Pengajaran Pemahaman

Assesmen merupakan koleksi data, seperti nilai tes dan catatan-catatan informal untuk mengukur hasil belajar siswa, sedangkan evaluasi adalah interpretasi dan analisis dari data. Menilai kemajuan siswa penting karena memungkinkan guru menemukan kelebihan dan kekurangan, merencanakan pengajaran dengan tepat, mengomunikasikan kemajuan siswa kepada orang tua, dan untuk mengevaluasi keefektifan strategi mengajar.

Terkait dengan pernyataan diatas, menurut Mc laguhlin & Allen, (2002) assesmen dinamis yang biasanya informal alamiah, bisa digunakan dalam berbagai setting pengajaran. Assesmen ini mencakup membantu meningkatkan pengalaman belajar siswa yang mempunyai berbagai tingkat dukungan guru. Menilai dalam konteks ini menangkap kemampuan siswa yang muncul dan menyediakan pandangan yang mungkin tidak sedikit dikumpulkan pada portofolio karena menyediakan pandangan terhadap pertumbuhan secara terus menerus.

3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kemampuan Membaca Pemahaman

Dokumen terkait