BAB II LANDASAN TEORI
4. Prinsip-Prinsip Koperasi
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
Prinsip ini mengandung arti bahwa seseorang tidak boleh dipaksa untuk menjadi anggota koperasi, akan tetapi harus bedasarkan kesadarannya sendiri.
b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
Prinsip pengelolaan secara demokrasi didasarkan pada kesamaan hak suara bagi setiap anggota dalam pengelolaan dan pengembangan koperasi.
25 Arifinal Chaniago, Perkoperasian Indonesia, (Bandung: ANGKASA, 1982), Hal. 25-26
c. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil dan sebanding dengan besarnya jasa atau kinerja masing-masing anggota. Sisa hasil usaha (SHU) ialah selisih antara pendapatan yang diperoleh dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaan usaha.
Pendapatan koperasi diperoleh dari pelayanan anggota dan masyarakat.
d. Pemberian balas jasa yang terbatas pada modal
Anggota ialah pemilik koperasi yang sekaligus sebagai pemodal dan sebagai pelanggan. Simpanan yang disetor oeh anggota kepada koperasi akan dipergunakan koperasi untuk melayani anggota, termasuk dirinya sendiri.26
e. kemandirian27 5. Azas Koperasi
Koperasi Indonesia berazazkan kekeluargaan dan bergotong-royongan. Azas ini juga sesuai dengan kepribadian atau sikap bangsa Indonesia, yang juga menganut tata kehidupan yang berazazkan kekeluargaan dan saling bekerja sama serta saling membantu. Maka dari itu azas koperasi meliputi:
26 Sattar, Buku Ajar Ekonomi Koperasi , (Yogyakarta: DEEPUBLISH, 2018), Hal. 47-52
27 Suhartono, “Analisis Komparasi Kinerja Keuangan Koperasi Simpan Pinjam dengan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 2013-2017”. Jurnal Kajian Bisnis Vol. 27. No 2, 2 019, Hal. 209
a. Azas Kekeluargaan, yang mencerminkan atau memperlihatkan adanya kesadaran diri dari hati nurani manusia untuk bekerja sama dalam koperasi oleh semua orang dan untuk semua orang, di bawah pimpinan pengurus serta pemilikan dari setiap anggota atas dasar keadilan dan kebenaran serta keberanian seseorang dalam berkorban untuk kepentingan bersama.
b. Azas Gotong-royong, yang artinya dalam koperasi terdapat keinsyafan atau kesadaran dan semangat bekerja, rasa bertanggung jawab bersama tanpa memikirkan diri sendiri melainkan selalu memikirkan kesejahteraan bersama.28
6. Landasan Koperasi
a. Landasan Idiil, ialah dasar atau landasan yang dapat digunakan dalam usaha untuk mencapai cita-cita koperasi atau tujuan koperasi.
b. Landasan Strukturil , yang artinya tempat berpijak koperasi dalam susunan kehidupan bermasyarakat.
c. Landasan Mental, yang merupakan setia kawan dan kesadaran berpribadi.29
28 Pandji Anoraga dan Ninik Widiyanti, Dinamika Koperasi , (Jakarta, BINA ADIAKSARA dan RINEKA CIPTA 2003), Hal. 17-18
29 Ibid. Hal 8- 9
B. Koperasi Syariah
1. Pengertian Koperasi Syariah
Koperasi hukum syariah adalah suatu bentuk koperasi yang memiliki prinsip, tujuan dan kegiatan usahanya berdasarkan hukum syariah Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Secara umum koperasi syariah ini merupakan badan usaha koperasi yang menjalankan aktivitas usahanya berdasarkan pada prinsip-prinsip hukum syariah. Seluruh unit usaha, produk dan operasional koperasi ini dilakukan sesuai dengan ajaran Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia, tidak akan kita temukan kandungan atau unsur-unsur riba, maysir dan gharar dalam sistem operasi koperasi.
Berbeda pula dengan sistem koperasi konvensional yang tidak mementingkan prinsip-prinsip Islam dan tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadist.
Selain itu koperasi syariah lebih dikenal dengan nama koperasi jasa keuangan syariah (kjks) dan unit jasa keuangan syariah koperasi (ujks). Koperasi jasa keuangan syariah adalah koperasi yang melakukan kegiatan usaha di bidang pembiayaan, investasi, dan tabungan sesuai dengan pola bagi hasil (hukum syariah). Unit jasa keuangan syariah adalah unit usaha dalam koperasi dan kegiatan usahanya didasarkan pada model bagi hasil dan bergerak di bidang pembiayaan, investasi dan simpanan sesuai dengan pola bagi hasil
(syariah), sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi yang bersangkutan. Koperasi syariah adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatanya berdasarkan prinsip syariah sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas kekeluargaan.30
2. Tujuan Koperasi Syariah
Tujuan koperasi syariah ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya dan seluruh masyarakat, serta turut berkontribusi pada pembentukan tatanan ekonomi yang adil sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Selain tujuan itu koperasi syariah juga mempunyai tujuan yang lain yaitu :
a. Mensejahterakan perekonomian anggotanya sesuai dengan norma dan ajaran Islam.
b. Menciptakan persaudaraan yang baik, kemakmuran dan keadilan sesama anggota.
c. Kekayaan didistribusikan secara adil diantara anggota berdasarkan konstribusi mereka. Islam mentolerir kesenjangan antara kekayaan dan pendapatan karena manusia tidak sama atau berbeda dalam hal karakter, kemampuan, kesunngguhan atau keikhlasan dan bakat.
30 Triana Sofiani, “Konstruksi Norma Hukum Koperasi Syariah Dalam Kerangka Sistem Hukum Koperasi Nasional”. Jurnal Hukum Islam (JHI) Vol. 12. 2 014, Hal. 136
Perbedaan di atas adalah penyebab perbedaan dalam pendapatan dan kekayaan.
d. Kebebasan pribadi dalam kesejahteraan sosial didasarkan pada pemahaman bahwa manusia diciptakan hanya untuk menaati Tuhan.31
3. Fungsi Koperasi Syariah
a. Membangun atau membina, mengembangkan potensi dan kemampuan anggota, terutama seluruh lapisan masyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonominya.
b. Memperkuat kualitas sumber daya anggota dan menjadikan mereka lebih amanah, professional, konsisten dan konsekuen di dalam menerapkan prinsip-prinsip Islam dan hukum syariah Islam.
c. Selalu berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian yang merupakan usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
d. Sebagai mediator antara menyandang dana dengan penggunaan dana, sehingga tercapainya optimalisasi pemanfaatan harta.
e. Menguatkan atau memperkuat kelompok-kelompok anggota, sehingga dapat bekerja sama melakukan pengawasan terhadap koperasi secara efektif.
31 Muhammad Niki Septia Harvena, Skripsi: “Analisis Pengaruh Partisipasi Anggota Terhadap penerimaan Sisa Hasil Usaha (SHU) ” (Bandung: UNISBA, 2016), Hal. 29-30
f. Mengembangkan dan memperluas kesempatan kerja.
g. Menumbuhkembangkan usaha-usaha produktif anggota.
4. Prinsip Koperasi Syariah
a. Kekayaan ialah amanah Tuhan yang tidak dapat dimiliki oleh siapapun secara mutlak.
b. Manusia diberikan kebebasan bermu’amalah selama sesuai dengan ketetuan syariat Islam.
c. Manusia adalah khalifah Allah SWT dan pemakmur di muka bumi.
d. Menjunjung tinggi nilai keadilan serta menolak setiap bentuk ribawi dan pemutusan sumber dana ekonomi pada segelintir orang atau sekelompok orang saja.
Prinsip-prinsip dasar lainnya yaitu:
a. Larangan dalam melakukan perbuatan maysir, yang artinya segala bentuk perbuatan berjudi (gambling) yang dapat mematikan sektor rill dan tidak produktif.
b. mearangan semua kegiatan usaha yang melanggar kesusilaan dan norma sosial.
c. Larangan gharar yaitu segala bentuk transaksi yang tidak transparan dan tidak jelas bentuknya sehingga dapat berpotensi merugikan salah satu pihak.
d. Larangan haram ialah objek transaksi dan kegiatan usaha yang diharamkan syariah.
e. Larangan riba merupakan segala bentuk distorsi mata uang menjadi komoditas dengan mengenakan tambahan (bunga) pada transaksi kredit atau pinjaman dan pertukaran atau barter lebih antar barang ribawi sejenis.
5. Landasan Koperasi Syariah
a. Koperasi syariah yang berlandaskan kepada pancasila dan undang-undang dasar 1945.
b. Koperasi syariah yang berazaskan kekeluargaan.
c. Koperasi syariah berlandaskan syariah Islam yaitu berpedoman kepda Al-Qur’an dan Hadist dengan saling tolong-menolong (ta’awun) dan saling menguatkan (takaful).32
C. Partisipasi Anggota
1. Pengertian Partisipasi Anggota
Partisipasi merupakan faktor terpenting yang mendukung keberhasilan atau perkembangan suatu organisasi. Pada saat yang sama, menurut peneliti lain “Partisipasi anggota adalah keadilan bagi anggota untuk memikul kewajiban dan menggunakan hak keanggotaan secara bertanggung jawab”.33 Berbeda lagi pengertian partisipasi anggota koperasi antara lain:
32 Ibid. Hal. 139
33 Latifah Nur Aini, Op.Cit. Hal. 29
a. Partisipasi anggota adalah perubahan yang dilakukan oleh masyarakat secara sukarela dan memutuskan secara mandiri..
b. Partisipasi anggota adalah keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan dan lingkungannya.
c. Partisipasi adalah proses positif, artinya individu atau kelompok yang bersangkutan berinisiatif dan mengekspresikan kebebasannya untuk meletakan hal itu.34
Partisipasi anggota adalah keikutsertaan anggota dalam organisasi koperasi dan perusahaan koperasi baik sebagai pemilik maupun sebagai pelanggan.35 Selain itu, partisipasi anggota merupakan faktor utama dalam mendorong kegiatan untuk mempertahankan dan memelihara ikatan kesatuan dalam koperasi. Koperasi sebagai business entity dan social entity didirikan oleh anggota –anggota untuk menggapai manfaat tertentu melalui partisipasi anggota. Maka dari itu, koperasi harus memiliki kegiatan tertentu untuk menjabarkan dan menguraikan bentuk-bentuk partisipasi dan memacu manfaat bersama, bagi pihak koperasi maupun anggotanya36
34 Muhammad Anasrulloh, Op.Cit. Hal. 107
35 Tiris Sudrartono, Op. Cit .Hal. 67
36 Thoby Mutis, Pengembangan Koperasi , (Jakarta, PT GRAMEDIA WIDIASARANA INDONESIA, 1992), Hal. 93
Jadi partisipasi anggota adalah suatu proses dimana ikut sertanya anggota dalam menjalankan hak dan kewajiban secara mental atau emosional untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembangkan secara luas tentang koperasi sehingga dapat tercapainya tujuan atau keinginan koperasi yang diimpikan.
2. Pentingnya Partisipasi Anggota
Menurut Kementrian Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia. Partisipasi anggota merupakan kunci keberhasilan organisasi dan usaha koperasi. Secara harfiah, partisipasi berarti meningkatkan peran serta orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan organisasi dan usaha koperasi.
Pendirian koperasi untuk memenuhi kebutuhan anggotanya, artinya perusahaan koperasi benar-benar dapat memenuhi kebutuhan para anggotanya, begitu pula sebaliknya, para anggota menggunakan atau memanfaatkan jasa atau pelayanan koperasi, perhatian dan bertanggung jawab terhadap perusahaan koperasi dalam bentuk kontribusi berbagai bentuk tabungan maupun ikut menanggung resiko usaha koperasi, serta secara proaktif ikut serta dalam berbagai bentuk maupun proses pengambilan keputusan usaha koperasi.
Partisipasi anggota didasarkan pada identitas ganda (dual identity), yaitu anggota sebagai pemilik sekaligus sebagai pengguna.
Sebagai pemilik, anggota koperasi dituntut untuk berpartisipasi atau dituntut untuk berperan dalam penyertaan modal, pengawasan dan proses membuat keputusan, sedangkan sebagai pengguna atau pelanggan, anggota koperasi wajib memanfaatkan dan menggunakan fasilitas, layanan, barang maupun jasa yang disediakan oleh koperasi.
ketergantungan antara anggota dengan pihak koperasi atau sebaliknya akan menentukan baik dan buruknya perkembangan organisasi maupun usaha koperasi. Semakin kuat ketergantungan anggota dengan perusahaan atau pihak koperasi maka semakin tinggi dan baik pula perkembangan organisasi dan usaha koperasi, sehingga koperasipun dapat merasakan manfaat keberadaan koperasi dan koperasi semakin sehat berkembang sebagai badan usaha atas dukungan anggota secara penuh. Koperasi memberikan manfaat secara ekonomi langsung maupun tidak langsung bagi anggota dan anggota mendukung, berinteraksi dan proaktif bagi perkembangan usaha koperasi.37
37 Deputi Bidang Pengembangan SDM, Partisipasi Anggota Koperasi. (Jakarta, 2010)
Kemudian ciri-ciri anggota yang ikut berpartisipasi baik itu seperti :
a. Anggota koperasi tersebut dapat melunasi atau membayar simpanan pokok dan simpanan wajib secara tertib dan teratur b. Anggota dapat membantu koperasi dengan suntikan modal untuk
koperasi disamping simpanan pokok dan simpanan wajib sesuai dengan kemampuan atau kesanggupan anggota koperasi masing-masing
c. Menjadi anggota yang loyal atau setia terhadap koperasi, dengan anggota koperasi yang setia dan tetap menggunakan jasa koperasi maka koperasi dapat berkembang
d. Menghadiri serta mengikuti dengan cermat rapat-rapat dalam pertemuan secara aktif, dengan begitu anggota koperasi dapat menyumbangkan ide, saran dan pendapatanya untuk perubahan koperasi di masa yang akan datang supaya perubahan tersebut dapat membawa koperasi ke lembaga yang lebih luas dan dapat berkembang pesat
e. Menggunakan hak sebagai anggota koperasi untuk mengawasi jalannya usaha koperasi38
38 Aldita Yoga Pamungkas, Skripsi: “Pengaruh Partisipasi Anggota dan Pelayanan Kredit Terhadap Keberhasilan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI))” (Surakarta: UMS, 2016), Hal.
10
3. Bentuk Partisipasi Anggota
Secara umum terdapat beberapa bentuk partisipasi anggota koperasi yaitu:
a. Ikut serta dalam pengambilan keputusan rapat anggota (ikut hadir dalam rapat, keaktifan, dan dapat menyampaikan atau mengemukakan pendapat, saran, ide, gagasan, atau kritik bagi koperasi)
b. Berkontribusi dalam modal (seperti dalam berbagai jenis tabungan atau simpanan seperti simpanan pokok, simpanan sukarela, simpanan wajib, jumlah dan frekuensi meyimpan simpanan, penyertaan modal)
c. berpartsipasi dalam memanfaatkan pelayanan (dalam berbagai jenis unit usaha koperasi, besaran transaksi bedasarkan waktu dan unit usaha yang dimanfaatkan, besaran pembelian atau penjualan barang maupun jasa yang dimanfaatkan, cara pembayaran maupun cara pengambilan, bentuk transaksi, serta waktu layanan)
d. Partisipasi dalam pengawasan koperasi (ikut menyampaiakan kritik, tata cara penyampaian kritik, ikut serta melakukan pengawasan jalannya organisasi dan usaha koperasi).39
39 Ibid
Bentuk-bentuk partisipas anggota :
a. Keikutsertaan anggota dalam Organisasi (RAT) b. Ikusertanya anggota dalam permodalan
c. Kemudian ikutsertanya anggota dalam pemanfaatan jasa usaha yang disediakan oleh koperasi.40
Bentuk partisipasi anggota oleh peneliti lain:
a. Partisipasi anggota dalam menyimpan modal
Anggota koperasi memberikan sejumlah uang dalam berbagai bentuk simpanan yaitu simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Dalam kehidupan koperasi, modal sangat dibutuhkan untuk dapat melaksanakan dan mengembangkan usaha.
Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman.
Dana sendiri ini dapat berupa simpanan wajib, pokok dan sukarela, sedangkan dana pinjaman dapat berasal dari anggota koperasi lainnya, anggota bank dan lembaga keuangan lain, penerbitan obligasi dan surat utang atau sumber lain yang sah (UU No.25 Tahun 1992 pasal 41).41
40 Latifah Nur Aini, Op. Cit. Hal. 30
41 Syintia Rahmah Hidayah, Skripsi: “Pengaruh Pendidikan Perkoperasian dan Kemampuan Manajerial Pengurus Terhadap Partisipasi Anggota Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS)”
(Semarang: UNS, 2015), Hal. 19-20
b. Partisipasi anggota dalam mengikuti rapat anggota tahunan (RAT)
Partisipasi anggota yang mana anggota ikut serta menghadiri rapat anggota tahunan, anggota berpartisipasi atau ikut memberikan kritik, ide, pendapat, saran pada saat mengikuti rapat anggota tahunan. Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi sesuai bunyi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Pasal 22.42
Partisipasi anggota ini erat kaitannya dengan rapat anggota, karena pada rapat anggota tersebut benar-benar mewakilkan keinginan dan kehendak anggota, sehingga setiap anggota mempunyai hak suara yang sama dalam pengambilan keputusan, begitupun bagi anggota yang tidak hadir suaranya tidak dapat diwakilkan kepada anggota yang lainnya. Partisipasi anggota dalam demokrasi koperasi dapat dilakukan dalam rapat anggota, baik rapat anggota tahunan maupun rapat anggota yang dilakukan sewaktu-waktu diperlukan.43
c. Partisipasi anggota dalam memanfaatkan jasa usaha
Partisipasi anggota dalam memanfaatkan atau penggunaan jasa usaha koperasi dilakukan melalui anggota menjadi pelanggan setia koperasi yaitu melalui belanja atau transaksi dengan usaha
42 Doni Atmaja, Op. Cit. Hal. 7
43 Syintia Rahmah Hidayah, Op. Cit. Hal. 19
koperasi.44 Partisipasi anggota dalam penggunaan jasa koperasi dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas jasa koperasi.
Pelayanan itu sendiri merupakan suatu usaha koperasi dengan mengupayakan berbagai kegiatan yang sejalan dengan kepentingan anggotanya sebagai bentuk kepedulian dan perhatian terhadap anggotanya. Hal yang perlu dilakukan adalah bekerja keras untuk meningkatkan mental anggota, bahwa akan merugi kita sebagai anggota yang tidak mau menggunakan jasa koperasi karena koperasi merupakan organisasi ekonomi yang disusun dan diorganisir oleh anggota.45
4. Upaya Meningkatkan Partisipasi Anggota
Terdapat berbagai cara untuk meningkatkan partisipasi anggota baik menggunakan pendekatan materi maupun non materi.
a. Metode materi yang dibahas adalah dengan memberikan komisi dan penghargaan (insentif), bonus atau tunjangan bagi anggota yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan setiap organisasi dalam koperasi atau menyediakan barang dan jasa.
44 Doni Atmaja, Op. Cit. Hal. 7-8
45 Syintia Rahmah Hidayah, Op. Cit. Hal. 20
b. Pendekatan atau metode non materi yaitu memberikan motivasi kepada semua komponen, dengan cara mengikutsertakan seluruh anggota dalam proses pengambilan keputusan secara bersama.
Salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi anggota adalah dengan memberikan kesempatan kepada seluruh komponen dan anggota koperasi untuk berpartisipasi aktif dalam perencanaan usaha dan proses pengambilan keputusan. Anggota secara langsung berpartisipasi dan aktif dalam perencanaan usaha atau bisnis dan proses pengambilan keputusan dengan semua anggota ini adalah upaya bersama untuk bersama-sama merancang pola dan struktur layanan koperasi untuk anggota, kerangka perusahaan dan tanda-tanda atau indikasi keberhasilan koperasi. Koperasi sebagai badan usaha semua anggota serta pengurus berpartisipasi dan berkolaborasi dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan bisnis akan meningkatkan kesadaran pemanfaatan pelayanan dan rasa tanggung jawab semua pihak untuk kemajuan dan perkembangan koperasi. Dengan kesadaran, persatuan dan tanggung jawab seluruh anggota akan meningkatkan partisipasi anggota, yang pada akhirnya akan memungkinkan koperasi tumbuh dan berkembang.
Peningkatan partisipasi anggota sangat berhubungan erat dengan tingkat pelayanan, akan tetapi pelayanan berhubungan erat
dengan beban kerja atau daya dukung yang ada pada koperasi. Hal yang berkaitan dengan ini ialah pengaturan fungsi dan peran dari pengelola dalam memberikan pelayanan prima bagi anggota, sehingga dibutuhkan sistem pengaturan atau pendelegasian kewenangan yang jelas dan proporsional. Keseluruhan unsur pengelola koperasi harus mempunyai fungsi dan tugas yang jelas sehingga dapat merasakan bahwa fungsi tersebut merupakan kepercayaan dari anggota koperasi.
Begitu pula para anggota harus meyakini bahwa apa yang dikerjakan oleh pengelola koperasi kepada diri anggota merupakan tugas yang telah didelegasikan kepada pengurus dan memberikan kepercayaan kepada pengelola koperasi untuk memberikan pelayanan prima kepada anggota koperasi.
Upaya dalam peningkatan partisipasi anggota akan berhasil apabila ada kesesuaian atau keselarasan antara anggota, manajemen organisasi dan program koperasi. Kesesuaian ini dapat dilihat dari unit, tingkat, kemauan atau keinginan, dan bakat dari pelayanan yang disediakan oleh koperasi. Kompetensi dan motivasi anggota dalam mengemukakan minat kebutuhannya kepada koperasi terefleksikan atau tersampaikan dalam keputusan manajemen koperasi dalam memberikan layanan barang dan jasa kepada anggota koperasi.
Anggota menyampaikan pendapat, saran dan kritik yang membangun
untuk koperasi dan manajemen koperasi mampu menindak lanjuti, menyelesaikannya secara efektif dan propesional, sehingga dapat merasakan manfaatnya bagi setiap anggota koperasi. Kesesuaian antara anggota, manajemen koperasi dan program koperasi akan terwujud pada saat mekanisme pengendalian partisipasi mencapai optimal dalam menyampaikan pendapat, dalam mengambil keputusan dan hak keluar.46
5. Peranan Anggota dalam kegiatan koperasi Peranan anggota dapat dibedakan:
a. Peranan anggota sebagai pemilik adalah memberikan kontribusinya atau ikut bekerja sama terhadap perencanaan, pembentukan dan pertumbuhan perusahaan koperasi dalam bentuk kontribusi keuangan melalui penyertaan modal, pembentukan cadangan, simpanan atau tabungan dan melalui usaha-usaha pribadinya, serta mengambil bagian dalam penetapan tujuan, pembuatan keputusan dan dalam proses pengawasan tata kehidupan koperasinya.
b. Peranan anggota sebagai pelanggan atau pengguna ialah dengan memanfaatkan dan mempergunakan semaksimal mungkin berbagai produk dan jasa yang disediakan oleh badan usaha koperasi dalam menunjang kepentingannya. Keikutsertaan atau peranan anggota
46 Deputi Bidang Pengembangan SDM, Partisipasi Anggota Koperasi. (Jakarta, 2010)
sebagai pengguna dapat diukur atau dilihat dari kesediaan anggota untuk memikul atau menerima kewajiban dan hak keanggotaan secara bertanggung jawab.47
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi anggota
a. Pelayanan, yang mana pelayanan sepertia apa dan bagaimana yang dapat diberikan oleh koperasi terhadap anggotanya, semakin baik pelayanan yang diberikan maka semakin tinggi pula partisipasi atau peran anggota terhadap koperasi.
b. Setiap anggota juga dapat menilai sejauh mana kemajuan atau perkembangan yang telah dilakukan oleh koperasi dalam usahanya.
c. Sejauh mana hubungan pihak koperasi dengan lembaga keuangan lainnya.
d. Serta bagaimana kepengurusannya dan manajemen koperasinya e. Pendidikan koperasi juga mempengaruhi tingkat partisipasi
anggota.
f. Kinerja koperasi
g. Tingkat kepercayaan anggota48
47 Tiris Sudrartono, Op. Cit. Hal. 67
48 Syintia Rahmah Hidayah, Op. Cit. Hal. 15-16
Selain itu partisipasi dapat dipertimbangkan oleh beberapa faktor antara lain :
a. Latihan berkesinambungan bagi calon anggota dan anggotanya b. Turun lapangan langsung dari para penggerak koperasi
c. Adanya perasaan atau insting yang kuat terhadap kelompok atau organisasi
d. Setiap anggota dan pengurus dapat berhasil baik, membuat kartu anggota, pembukuan yang benar, dan menerbitkan laporan keuangan bulanan
e. Mempertahankan dan menanam sikap mental yang berhubungan dengan berbagai macam simpanan atau tabungan, pemberian pinjaman, dan aspek-aspek untuk bekerjasama dengan koperasi f. Latihan bagi anggota untuk memenuhi, menganalisis, dan
mengadakan perjanjian pada saat permulaan
g. Faktor yang ada pada diri anggota sendiri seperti pengetahuan perkoperasian dan motivasi anggota49
7. Unsur-unsur dalam partisipasi anggota
Partisipasi anggota disini meruapakan unsur utama dalam memacu kegiatan serta mempertahankan ikatan pemersatu di dalam
49 Dhanie Istiani Aromatika, Skripsi: “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi Anggota Pada KUD Makmur Jaya” (Semarang: UNNES, 2011), Hal. 26-27
koperasi, partsipasi anggota ini harus terwujud dalam tindakan nyata.
Kemudian partisipasi anggota di dalam manajemen juga harus direalisasikan melalui berbagai cara antara lain :
a. Menerima dan melaksanakan atau mengerjakan anggaran dasar dan keputusan saat rapat anggota tahunan
b. Mengesahkan perubahan anggaran dan investasi yang penting c. Mengawasi pengurus dan mengelola secara dinamis
d. Memberikan ususlan untuk memeriksa keuangan agar tidak terjadinya penyelewengan
e. Membantu permodalan koperasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
f. Membayar simpanan yang menjadi kewajiban anggota g. Melakukan transaksi dan aktif dengan kegiatan koperasi
h. Memberikan kritikan dan sarannya terhadap pelaksanaan pengurus i. Mengikuti dan mendorong perkembangan koperasi, dengan begitu pihak koperasi dapat mengembangkan koperasi sesuai tujuan yang ditentukan.50
50 Syintia Rahmah Hidayah, Op. Cit. Hal. 17
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif merupakan mendiskripsikan data-data yang diperoleh dari lembaga atau instansi yang nantinya data tersebut akan ditarik sebuah kesimpulan tentang bagaimana perbandingan partisipasi anggota sebelum dan sesudah konversi dalam bentuk narasi. Penelitian kualitatif ialah metode penelitian yang lebih menekankan pada aspek
Pada penelitian ini penulis menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif merupakan mendiskripsikan data-data yang diperoleh dari lembaga atau instansi yang nantinya data tersebut akan ditarik sebuah kesimpulan tentang bagaimana perbandingan partisipasi anggota sebelum dan sesudah konversi dalam bentuk narasi. Penelitian kualitatif ialah metode penelitian yang lebih menekankan pada aspek