• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media

Dalam dokumen METODE PEMBELAJARAN (Halaman 42-47)

MEDIA PEMBELAJARAN A. Pengertian Media Pembelajaran

E. Prinsip-Prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media

Sudirman (1991) mengemukakan tiga kategori prinsip pemilihan media pembelajaran sebagai berikut.

pada

maksud dan tujuan pemilihan yang jelas.

2. Karakteristik Media Pembelajaran. Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dan segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya. 3. Alternatif Pilihan. Pada hakikatnya, memilih media merupakan suatu proses membuat keputusan dan berbagai alternatif pilihan.

Adapun prinsip pemilihan dan penggunaan media, menurut Sudjana (1991) ditulis pada bagian berikut :

1. Menentukan jenis media dengan tepat.

2. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat. 3. Menyajikan media dengan tepat.

Menurut Prof. Drs. Hartono Kasmadi M.Sc. bahwa di dalam memilih media

pendidikan perlu dipertimbangkan adanya 4 hal yaitu : Produksi, peserta didik, isi, dan guru. 1) Pertimbangan produksi :

a. Avaibility : tersedianya bahan. Media akan efektif dalam mencapai

tujuan, bila tersedia bahan dan berada pada system yang tepat.

b. Cost (harga) yang tinggi tidak menjamin penyusunan menjadi tepat,

demikian sebaliknya tanpa biasanya juga tidak akan berhasil, artinya tujuan belum tentu dapat dicapai.

c. Physical condition (kondisi fisik). Misalkan dengan warna yang

buram, akan mengganggu kelancaran belajar mengajar.

d. Accessibility to student (mudah dicapai) artinya : pembelian bahan

(peralatan) hendaknya yang dwi fungsi yaitu : guru dapat menggunakannya, peserta didik juga akan semakin mudah mencerna pelajaran.

e. Emotional impact. Sejauh mana yang dapat dicapai oleh pendidikan,

maka pelaksanaan pengajaran dengan menggunakan media harus mampu bernilai estetika sebab akan lebih menarik untuk menumbuhkan motivaasi.

2) Pertimbangan peserta didik :

a. Student characteristics (watak peserta didik)

Guru harus mampu memahami tingkat kematangan dan latar belakang peserta didik. Dengan demikian guru dapat menentukan pilihan-pilihan media yang

sesuai dengan karakter peserta didik, meliputi masalah tingkat kematangan peserta didik secara komprehensif (kesatuan menyeluruh).

b. Student Relevance (sesuai dengan peserta didik)

Bahan yang relevan akan memberi nilai positif dalam mencapai tujuan belajar, pengaruhnya akan meningkatkan pengalaman peserta didik, pengembangan pola piker, analisis pelajaran, hingga dapat menceritakan kembali (pelajaran yang diajarkan) dengan baik.

c. Student Involvement (keterlibatan peserta didik).

Bahan yang disajikan, akan memberikan kemampuan peserta didik dan keterlibatan peserta didik secara fisik dan mental (peran aktif peserta didik) untuk meningkatkan potensi belajar.

3) Pertimbangan Isi :

a. Curriculair relevance

Penggunaan media harus sesuai dengan isi kurikulum, tujuannya harus jelas, perlu dengan baik.

b. Content Suondness.

Perlu kejelian dalam memilih media, yaitu pembelian yang efektif, disesuaikan dengan kebutuhan. Pembelian hanya untuk referensi, bukan untuk demonstrasi. Jika memungkinkan guru harus mampu membuat sendiri media yang cocok dengan kebutuhan, up to date.

c. Presentation

Jika isi sudah tepat dan sesuai dengan kebutuhan, perlu juga cara menyajikan yang harus benar.

4) Pertimbangan guru :

a. Teacher utilization

Guru harus mempertimbangkan dari segi pemanfaatan media yang akan dipergunakan sebagai bahan pertimbangan :

- Apakah digunakan untuk kepentingan individu atau kelompok. - Apakah yang digunakan media tunggal ataau multi media. - Yang lebih penting berorientasi terhadap tujuan pendidikan.

b. Teacher peace of mind.

Media yang digunakan mampu memecahkan problem, jangan malah

menimbulkan masalah, maka perlu observasi dan review bahan-bahan tersebut belum disajikan.

Pemilihan Media yang Efektif dan Menyenagkan bagi Proses Pembelajaran

Peran guru dalam inovasi dan pengembangan media pengajaran sangat diperlukan mengingat guru dapat dikatakan sebagai pemain yang sangat berperan dalam proses belajar mengajar di kelas, yang hendaknya dapat mengolah kemampuannya untuk membuat media pengajaran lebih efektif dan efisien. Hal ini, menurut Wijaya dkk (1991:2), disebabkan perkembangan jaman yang terus terjadi tanpa henti dengan kurun waktu tertentu. Lembaga pendidikan hendaknya tidak hanya puas dengan metode dan teknik lama, yang menekankan pada metode hafalan, sehingga tidak atau kurang ada maknanya jika diterapkan pada masa sekarang. Perkembangan jaman yang begitu pesat dewasa ini membuat siswa semakin akrab dengan berbagai hal yang baru, seiring dengan perkembangan dunia informasi dan

komunikasi. Karena itu, sangat wajar jika kondisi ini harus diperhatikan oleh guru agar terus mengadakan pembaharuan (inovasi).

Pembaharuan atau inovasi dalam dunia kependidikan sering diartikan sebagai suatu upaya lembaga pendidikan dalam menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan cara memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas (Wijaya dkk, 1991:2).

Pada lembaga pendidikan, faktor yang menjadi penentu keberhasilan tujuan

pendidikan adalah guru. Hal ini ditegaskan oleh Samana (1994:16) bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan sekolah yang pada gilirannya akan sangat mempengaruhi kemajuan masyarakat yang menjadi suprasistem sekolah yang

bersangkutan. Masyarakat yang semakin rasional dan teknologis semakin membutuhkan jasa sekolah dan atau guru yang bermutu.

Terkait dengan inovasi di bidang media pengajaran, mutu guru akan dapat ditentukan dari seberapa jauh atau kreatif ia dalam pengembangan dan inovasi media pengajaran. Hal ini akan sangat membantu tugasnya sebagai profesional. Menurut Sudarminto (dalam Samana,

1994:21), guru yang profesional yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang diajarkannya secara efektif dan efisien. Lebih lanjut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang menjadi Departemen Pendidikan Nasional) melalui Proyek Pengembangan

Pendidikan Guru (P3G) (dalam Arikunto, 1990:239) telah merumuskan bahwa kompetensi profesional guru menuntut seorang guru untuk memiliki pengetahuan yang luas serta mendalam tentang bidang studi (subject matter) yang diajarkannya beserta penguasaan metodologis, dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritis, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu menggunakannya dalam proses belajar-mengajar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan guru dalam mengembangkan dan melakukan

pembaharuan media pengajaran merupakan salah satu indikator kompetensi profesionalnya. Konsekuensi yang harus diperhatikan adalah bahwa sikap statis (tidak kreatif) dan cara-cara yang konvensional semua pihak yang terlibat dalam dunia kependidikan, terutama guru, hendaknya dihilangkan. Guru harus aktif mencari dan mengembangkan sistem

pendidikan yang terbuka bagi inovasi teknologi media pengajaran. Dalam hal ini, penanaman sikap inovatif pada guru sangat penting dilakukan (Wijaya, 1991:1-2).

Terkait dengan semakin beragamnya media pengajaran, pemilihan media hendaknya memperhatikan beberapa prinsip.

Pertama, kejelasan maksud dan tujuan pemilihan media; apakah untuk keperluan hiburan,

informasi umum, pembelajaran dan sebagainya.

Kedua, familiaritas media, yang melibatkan pengetahuan akan sifat dan ciri-ciri media yang

akan dipilih.

Ketiga, sejumlah media dapat diperbandingkan karena adanya beberapa pilihan yang kiranya

lebih sesuai dengan tujuan pengajaran (Rahardjo, 1986:62-63).

Sejalan dengan pendapat di atas, Miarso (1986:105) menyatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan guru dalam penggunaan media secara efektif adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan kematangan dan pengalamannya serta karakteristik khusus yang ada pada kelompok belajarnya. Karaketristik ini antara lain adalah kematangan anak dan latar belakang pengalamannya serta kondisi mental yang berhubungan dengan usia

Selain masalah ketertarikan siswa terhadap media, keterwakilan pesan yang disampaikan guru juga hendaknya dipertimbangkan dalam pemilihan media. Setidaknya ada tiga fungsi yang bergerak bersama dalam keberadaan media. Pertama¸ fungsi stimulasi yang

menimbulkan ketertarikan untuk mempelajari dan mengetahui lebih lanjut segala hal yang ada pada media.

Kedua, fungsi mediasi yang merupakan perantara antara guru dan siswa. Dalam hal ini,

media menjembatani komunikasi antara guru dan siswa.

Ketiga, fungsi informasi yang menampilkan penjelasan yang ingin disampaikan guru. Dengan

keberadaan media, siswa dapat menangkap keterangan atau penjelasan yang dibutuhkannya atau yang ingin disampaikan oleh guru.

Dalam dokumen METODE PEMBELAJARAN (Halaman 42-47)

Dokumen terkait