• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Perdagangan Internasional dalam Kerangka

BAB II PENGATURAN KEGIATAN PERDAGANGAN

C. Prinsip-Prinsip Perdagangan Internasional dalam Kerangka

Poerwadarminta menyatakan,43 yang dimaksud dengan prinsip adalah asas (kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak, dan sebagainya), sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,44

Pengertian prinsip atau principle, Black’s Law Dictionary,

prinsip adalah dasar, asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya).

45

42

Abdul Manan, Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2014), hlm. 198-199.

43

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976).

44

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988).

45

Hendry Compbell Black, Black’s Law Dictionary (St. Paul Minn: West Publishing, 1983).

memberikan pernyataan sebagai berikut :

“A fundamental truth or doctrine, as of law; a comprehensive rule of doctrine which furnishes a basis or drigen for other, a settled rule of actions procedure or legal determination. A truth or preposition so clear that it can not be proves or contradicted anless by a preposition which is still cleaner. That which constitutes the essence of a body or its constituent parts. That which pertains theoretical part of a science”.

Pengertian prinsip di atas dapat diketahui bahwa prinsip hukum adalah suatu yang sangat mendasar bagi suatu konsep hukum. Prinsip hukum dalam pengertian substansif tidak merupakan bagian terpisah dari kategori norma-norma hukum, melainkan hanya berbeda dalam isi dan pengaruhnya.

Prinsip-prinsip dasar (fundamental principles) yang dikenal dalam hukum perdagangan internasional diperkenalkan oleh sarjana hukum perdagangan internasional, yaitu Profesor Aleksander Goldstajn. Beliau memperkenalkan tiga prinsip dasar tersebut, yaitu :

1. prinsip kebebasan para pihak dalam berkontrak (the principle of the freedom of contract);

2. prinsip pacta sunt servanda;

3. prinsip dasar penyelesaian sengketa melalui arbitrase; 4. prinsip dasar kebebasan komunikasi (navigasi).

Prinsip dasar lainnya disamping prinsip-prinsip dasar tersebut ialah prinsip dasar yang dikenal dalam hukum ekonomi internasional. Sejumlah prinsip yang mengendalikan GATT/WTO disetujui oleh anggotanya, yaitu :46

1. Reciprocity, suatu negara berada pada suatu posisi tawar- menawar

dalam rangka mengurangi hambatan perdagangan dengan harapan negara lain akan melakukan hal yang sama.

46

Ratya Anindita dan Michael R.Reed, Bisnis dan Perdagangan Internasional

2. Nondiscrimination, suatu negara akan memberikan seluruh anggota GATT preferensi yang sama. Hal ini sering disebut The Most Favored Nation principle (MFN).

3. Transparency, hambatan perdagangan seharusnya mudah dikenali

oleh yang lainnya, tidak disembunyikan.

4. National treatment, barang yang diterima diantara negara-negara

sebaiknya diperlakukan sama, tanpa mempermasalahkan negara asal barang tersebut.

5. Compensation, setiap negara dilarang memberikan kompensasi atas

kebijakan yang dilakukan oleh negara lain.

Prinsip hukum perdagangan internasional yang diatur dalam GATT/WTO, meliputi :47

1. Prinsip non-diskriminasi (Non-Discrimination Principle) Prinsip ini meliputi :

a. Prinsip Most Favoured Nation (MFN)

Semua negara anggota terikat untuk memberikan negara – negara yang lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor dan ekspor serta menyangkut biaya – biaya lainnya. Perlakuan yang sama tersebut harus dijalankan dengan segera dan tanpa syarat terhadap produk yang berasal atau yang ditujukan.

b. Prinsip National Treatment

47

Muhammad Sood, Hukum perdagangan internasional (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 45.

Suatu negara harus memberikan perlakuan yang sama terhadap produksi dalam negeri dan terhadap produksi luar negeri.

2. Prinsip resiprositas

Prinsip yang mensyaratkan adanya perlakuan timbal balik diantara sesama negara anggota WTO dalam kebijaksanaan perdagangan internasional. Artinya, apabila suatu negara dalam kebijaksanaan perdagangan internasionalnya menurunkan tarif masuk atas produk impor dari suatu negara, maka negara yang mengekspor produk tersebut wajib juga menurunkan tarif masuk untuk produk dari negara pertama tadi.48

3. Prinsip penghapusan hambatan kuantitatif (Prohibition of Quantitative Rectriction).

Prinsip ini diterapkan terutama dalam hal terjadinya pertukaran barang antara dua negara secara timbal balik, dan menghendaki adanya kebijaksanaan atau konsesi yang seimbang dan saling menguntungkan antara negara yang satu dengan yang lainnya dalam perdagangan internasional.

Hambatan kuantitatif dalam GATT/WTO adalah hambatan perdagangan yang bukan merupakan tarif atau bea masuk. Termasuk dalam katagori hambatan ini adalah kuota dan pembatasan ekspor secara sukarela. Menyadari bahwa pembatasan kuota cenderung tidak adil dan dalam prakteknya justru dikriminasi. Oleh karena itu, hukum perdagangan internasional melalui WTO, menetapkan menghendaki transparansi dan menghilangkan jenis hambatan kuantitatif49

48 Ibid. 49 Ibid., hlm. 46. . Jadi, jika ingin melakukan proteksi perdagangan internasional, tidak boleh

menggunakan kouta sebagai penghambat, melainkan hanya tarif yang hanya boleh diterapkan.

4. Prinsip perdagangan yang adil (fairness principles)

Prinsip fairness dalam perdagangan internasional ini diarahkan untuk menghilangkan praktik–praktik persaingan curang, dalam kegiatan ekonomi yang misalnya itu antara lain praktik dumping50 dan subsidi51

5. Prinsip tarif mengikat (binding tarif principles)

dalam perdagangan internasional. Maka, apabila hal diatas terjadi negara pengimpor yang dirugikan mempunyai hak untuk menjatuhkan sanksi balasan. Sanksi balasan itu adalah berupa pengenaan bea masuk tambahan yang disebut dengan bea masuk dumping yang dijatuhkan terhadap produk – produk yang di ekspor secara dumping dan countervailing duties atau bea masuk untuk barang – barang yang terbukti telah diekspor dengan fasilitas subsidi.

Setiap negara anggota WTO harus memenuhi berapapun besarnya tarif yang telah disepakatinya atau disebut dengan tarif mengikat. Pembatasan perdagangan bebas dengan prinsip tarif yang masih ditoleransi, misalnya melakukan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui kenaikan tarif (bea masuk). Penerapan tarif impor mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut52

a. Tarif sebagai pajak, adalah tarif terhadap barang impor (pajak barang impor) yang merupakan pengutan oleh negara untuk dijadikan kas negara.

:

50

Dumping adalah kegiatan yang dilakukan oleh produsen atau pengekspor yang melakukan penjualan barang di luar negeri dengan harga yang lebih rendah dari harga normal produk yang sejenis di negara pengimpor sehingga menimbulkan kerugian pada negara pengimpor.

51

Subsidi adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah terhadap pengekspor / produsen dalam negeri, baik berupa bantuan modal, keringanan pajak dan fasilitas lainnya.

52

b. Tarif untuk melindungi industri domestik dari praktik dumping yang dilakukan oleh negara pengekspor.

c. tarif untuk memberikan balasan terhadap negara pengekspor yang melakukan proteksi produk melalui praktik subsidi terhadap produk ekspor.

Dokumen terkait