• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PRO-KONTRA INTEGRASI KELEMBAGAAN

B. Pro-Kontra Merespon Integrasi

Beragam wacana dari para aktor penataan ruang yang mengiringi penggabungan lembaga agraria dan penataan ruang bagaikan suatu spektrum warna atau cahaya, terdapat wacana yang tidak setuju, netral/terserah, mendukung dan bahkan memiliki pandangan lain terhadap penggabungan kedua lembaga. Masing-masing wacana tersebut pemisahnya bias dan saling berkaitan dengan wacana lainnya. Somasundaran pada Tahun 2010 melakukan penelitian dalam disertasinya yang berjudul “Discourse-Level Relations for Opinion Analysis” yaitu bagimana setiap wacana yang disampaikan oleh seseorang menyiratkan posisinya terhadap suatu topik yang diperdebatkan, yaitu apakah ia berada dalam posisi setuju atau tidak setuju atau memiliki pandangan lain terhadap suatu topik yang diperdebatkan23. Somasundaran merekonstruksi bagaimana discourse-level relation dapat menjadi dasar klasifkasi dalam berbagai tipe pendapat yang kompleks seperti perdebatan politik dan idiologi.

Aspek-aspek yang diwacanakan oleh para pelaku penataan ruang tersebut seperti aspek substansi, dukungan fungsi kegiatan, struktur organisasi dukungan pelaksanaan teknis kegiatan, ke-wenang an pimpinan, fungsi keke-wenangan pemerintah, kegiatan

23 Swapna Somasundaran. Op. Cit.;

80 Sofi Puspasari & Sutaryono

dan pendekatan, lembaga tata ruang yang ideal, dan intervensi pemerintah pusat terhadap penataan ruang di daerah mencerminkan posisinya terhadap penggabungan lembaga agraria-pertanahan dan tata ruang. Berdasarkan uraian aspek-aspek penggabungan kedua lembaga, terlihat bahwa terdapat wacana yang menyatakan dukungan terhadap penggabungan kedua lembaga, bersikap netral terhadap penggabungan kedua lembaga, memiliki konsep yang berbeda terkait penggabungan kedua lembaga dan wacana yang menyatakan bahwa terdapat banyak perbedaan di antara keduanya sehingga sulit disatukan. Perbedaan wacana para pelaku penataan ruang tersebut sangatlah tipis dan bias menyerupai spektrum cahaya atau warna.

Kategorisasi wacana para pelaku penataan ruang tersebut terdapat dalam bagan pada Gambar 4.1. dan dapat diuraikan sebagai berikut:

Gambar 4. 1.Bagan Kategorisasi Wacana Para Pelaku Penataan Ruang

1. Mendukung: Penggabungan Lembaga Agraria dan Penataan Ruang Menjawab Permasalahan dalam Kegiatan Penataan Ruang

Penggabungan lembaga agraria dan penataan ruang menurut wacana para pelaku penataan ruang merupakan hal yang dinantikan

dan dianggap dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam kegiatan penataan ruang. Wacana yang dikemukakan oleh para pelaku penataan ruang tersebut umumnya dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa agraria dan tata ruang memiliki dimensi substansi yang sama sehingga harus diatur oleh lembaga yang sama.

Agraria dan tata ruang dianggap memiliki substansi yang sama yaitu ruang atau tanah. Selain dari aspek substansi para pelaku penataan ruang memiliki pandangan bahwa penggabungan lembaga agraria dan penataan ruang akan mendukung pelaksanaan fungsi kegiatan masing-masing terutama dalam pelaksanaan fungsi penataan ruang.

Kegiatan administrasi pertanahan yang terintegrasi dengan fungsi penataan ruang akan memudahkan dalam implementasi rencana tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kondisi ini akan memudahkan dalam mewujudkan penataan ruang yang lebih baik.

Wacana yang mencerminkan dukungan terhadap penggabungan lembaga agraria dan penataan ruang juga dilatarbelakangi aspek dukungan terhadap pelaksanaan teknis kegiatan. Data berbasis bidang tanah yang dimiliki oleh lembaga agraria dianggap sebagai data yang cukup penting untuk perubahan paradigma penataan ruang. Perencanaan tata ruang yang bersifat ideal menjadi rencana tata ruang yang dapat diimplementasikan. Adanya penggabungan kedua lembaga akan memungkinkan pandangan yang lebih komprehensif dari seorang perencana terkait nilai penggunaanya dan status kepemilikan hak atas tanah. Lembaga agraria juga dianggap memiliki tools atau alat yang dapat dipakai untuk memudahkan pelaksanaan kegiataan penataan ruang. Neraca penatagunaan tanah dan konsolidasi tanah atau land readjustment dianggap akan mendukung perencanaan skala mikro dan meso terutama dalam penataan suatu kawasan. Selain itu, rencana untuk mengaktifkan peran PPNS Kanwil BPN dan Kantor Pertanahan akan memiliki peran penting dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang yang rentan intervensi politik pemegang kekuasaan di daerah.

82 Sofi Puspasari & Sutaryono

2. Mendukung dengan Konsep yang Berbeda

Wacana pelaku penataan ruang menunjukkan pandangan bahwa penggabungan kedua lembaga dapat saling mendukung dalam fungsi kegiatan. Namun demikian untuk mendukung kegiatan penataan ruang yang lebih baik, penataan ruang harus menjadi domain utama karena secara konseptual penataan ruang dilakukan terlebih dahulu, yang kemudian dilanjuti dengan pengadministrasian pertanahan. Dukungan terhadap fungsi tersebut harus awali dari perubahan nomenklatur lembaga hasil penggabungan yaitu menjadi Kementerian Tata Ruang dan Pertanahan.

3. Netral: Penggabungan Lembaga Keputusan Pimpinan Pelaku penataan ruang memiliki pandangan bahwa penggabungan kedua lembaga tersebut janggal karena perbedaan fungsi kewenangan dan pemerintahan di antara kedua lembaga.

Namun demikian keputusan penggabungan tersebut merupakan keputusan pimpinan sehingga apa yang sudah diputuskan oleh pimpinan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pelaku penataan ruang memiliki anggapan bahwa penggabungan kedua lembaga merupakan fungsi pengaturan oleh pemerintah dan pimpinan sehingga harus ditaati dan dilaksanakan.

4. Tidak Setuju: Penggabungan Kedua Lembaga yang Memiliki Perbedaan Mendasar

Para pelaku penataan ruang tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya secara langsung terhadap adanya penggabungan kedua lembaga tersebut. Mereka membingkai wacana yang diungkapkannya dengan menyebutkan bahwa lembaga penataan ruang dengan lembaga agraria merupakan dua lembaga yang berbeda dan tidak akan bisa disatukan. Namun demikian pernyataan-pernyataan tersebut menyiratkan adanya ketidaksetujuan terhadap penggabungan kedua lembaga. Perbedaan antara lembaga penataan

ruang dan agraria terlihat dari wacana para pelaku penataan ruang terkait aspek fungsi kewenangan pemerintah, kegiatan dan pendekatan, konsep lembaga penataan ruang yang ideal dan intervensi pemerintah pusat terhadap penataan ruang di daerah.

Fungsi pemerintah dalam kegiatan penataan ruang dan pertanahan merupakan dua kewenangan yang berbeda. Fungsi penataan ruang saat ini menjadi kewenangan penuh pemerintah daerah, sedangkan fungsi pertanahan tetap dijalankan secara absolut oleh pemerintah pusat. Perbedaan fungsi kewenangan tersebut akan berimplikasi terhadap lembaga yang terbentuk pada setiap tingkatan pemerintahan. Lembaga yang terbentuk pada tingkatan pemerintah akan mencerminkan fungsi kewenangan yang dimilikinya. Oleh karena itu, pada pemerintah daerah tidak bisa dibentuk lembaga yang mengatur kewenangan absolut begitupun sebaliknya tidak bisa dibentuk lembaga yang mengatur fungsi penataan ruang pada lembaga vertikal di daerah. Pelimpahan kewenangan sudah diatur dalam asas dekonsentrasi. Adanya penggabungan lembaga agraria dan penataan ruang yang memiliki fungsi pemerintahan yang berbeda, menimbulkan adanya pandangan bahwa penggabungan kedua lembaga tersebut merupakan bentuk intervensi pemerintah pusat terhadap kegiatan penataan ruang di daerah.

Lembaga penataan ruang dan agraria dianggap memiliki perbedaan kegiatan dan pendekatan. Lembaga agraria identik dengan kegiatan administrasi pertanahan yang menggunakan pendekatan empiris dalam pembuktian yang berkaitan dengan perbuatan hukum di atas tanahnya. Di lain pihak, lembaga penataan ruang kegiatannya adalah mengatur manusia dalam memanfaatkan ruang atau tanahnya. Lembaga penataan ruang menggunakan pendekatan futuristik-preskriptif di mana pengaturan yang dilakukan oleh lembaga penataan ruang didasarkan pada analisis terhadap kondisi yang ingin dicapai di masa depan. Dalam pandangan pelaku

84 Sofi Puspasari & Sutaryono

penataan ruang yang mengacu pada kelembagaan penataan ruang yang ideal lembaga agraria/pertanahan bukan merupakan bagian dari kelembagaan penataan ruang yang ideal. Lembaga agraria hanyalah sebagai pendukung dan penyedia data dalam kegiatan penataan ruang.

Dokumen terkait