• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 43-7

C. Probity Audit atas Pengadaan Barang dan Jasa dalam Upaya

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan peran APIP dalam melakukan pengawasan adalah melaksanakan audit selama proses pengadaan barang/jasa berlangsung (realtime) yang disebut probity audit. BPKP adalah lembaga yang ditugaskan melakukan pembinaan terselenggaranya pemerintahan yang baik (good governance) sebagaimana diatur dalam pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, melalui terlaksananya sistem pengendalian intern dalam proses pengadaan barang/jasa, Probity Audit diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor: PER-362 /K/D4/2012 tentang Pedoman Probity Audit Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah Bagi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Tujuan pedoman audit ini adalah untuk meningkatkan integritas pelayanan publik melalui efektifitas hasil audit atas proses pengadaan barang/jasa yang berdasarkan pada peraturan dan prosedur pengadaan barang/jasa. Hal ini akan memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan efisiensi dan efektifitas pelaksanaan pengadaan barang/jasa secara nasional untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengadaan barang/jasa. Probity Audit dilakukan pada setiap tahapan proses pengadaan barang dan jasa, yang terdiri dari: 1. Perencanaan Pengadaan barang dan jasa, yaitu audit mulai dilaksanakan

pada saat identifikasi kebutuhan dalam penyusunan RUP yang merupakan bagian dari penyusunan RKA-KL/SKPD. Pelaksanaan prosedur audit dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung (Audit atas Proses/AP) dan/ atau segera setelah proses selesai (Audit atas Output/AO).

Khusus untuk kegiatan pembahasan anggaran di TIM Anggaran Eksekutif dan Pembahasan Anggaran di DPR/D, audit dilakukan pada saat proses pembahasan anggaran berlangsung melalui observasi.

2. Persiapan Pemilihan Penyedia Barang dan jasa, yaitu audit dilakukan dengan melihat dokumen output setiap tahapan pengadaan barang/jasa segera setelah tahapan persiapan pemilihan barang/jas selesai dilaksanakan oleh personil pengadaan.

3. Pemilihan Penyedia Barang dan Jasa dengan Pascakualifikasi, yaitu audit mulai dilaksanakan pada saat pengumuman pengadaan hingga penunjukan penyedia barang/jasa. Pelaksanaan prosedur audit dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung (Audit atas Proses/AP) dan/atau segera setelahh proses selesai (Audit atas Output/ AO).

4. Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan Prakualifikasi, yaitu audit dilaksanakan pada saat pengumuman prakualifikasi hingga penunjukan penyediaan barang/ jasa. Pelaksanaan prosedur audit dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung (Audit atas Proses/ AP) dan/ atau segera setelah proses selesai (Audit atas Output/ AO)

5. Penandatanganan dan Pelaksanaan Kontrak Jasa Konsultasi Badan usaha serta Pemanfaatannya, yaitu audit dilaksanakan atas tahapan penandatangan kontrak setelah ditetapkannya pemenang lelang ( Audit atas Output/ AO) namun sebelum ditandatanganinya kontrak pangadaan jasa. Kemudian pada pelaksanaan kontrak, audit dilaksanakan pada setiap tahapan proses pelaksanaan kontrak jasa konsultansi (Prosedur audit

dilaksanakan pada saat proses sedang berlangsung dan/ atau segera setelah proses selesai). Pada pemanfaatan hasil jasa konsultansi, audit dilaksanakan setelah adanya serah terima jasa dari penyedia kepada PPK sampai dengan jasa dimanfaatkan oleh pengguna jasa.

6. Penandatanganan dan Pelaksanaan Kontrak Jasa Konsultansi Perorangan serta Pemanfaatannya, yaitu audit dilaksanakan atas tahapan penandatanganan kontrak setelah ditetapkannya pemenang lelang namun sebelum ditandatanganinya kontrak pengadaan jasa, pada setiap tahapan proses pelaksanaan kontrak jasa konsultansi perorangan, dan setelah adanya serah terima dari penyedia kepada PPK sampai dengan jasa dimafaatkan oleh pengguna jasa (Pelaksanaan prosedur audit dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung dan/ atau segera setelah proses selesai).

7. Penandatanganan dan Pelaksanaan Kontrak Kontruksi serta Pemanfaatannya, yaitu audit dilaksanakan atas tahapan penandatanganan kontrak setelah ditetapkannya pemenang lelang namun sebelum ditandatanganinya kontrak pengadaan jasa, pada saat PPK menyerahkan lokasi pekerjaan kepada penyedia barang/ jasa, dan penyerahan hasil pekerjaan kontruksi kepada PA/KPA (Pelaksanaan prosedur audit dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung dan/ atau segera setelah proses selesai).

8. Penandatangan Kontrak dan Pelaksanaan Kontrak Pengadaan Barang/ Jasa lainnya serta Pemanfaatannya, yaitu audit dimulai setelah

pengumuman penetapan pemenang lelang namun sebelum ditandatanganinya kontrak, pada setiap tahapan proses pelaksanaan kontrak pengadaan barang/ jasa lainnya, dan pada setiap proses pemanfaatan pengadaan barang/ jasa lainnya (Pelaksanaan prosedur audit dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung dan/ atau segera setelah proses selesai).

Probity diartikan sebagai integritas (integrity), kebenaran (uprightness), dan kejujuran (honesty). Konsep probity tidak hanya digunakan untuk mencegah terjadinya korupsi atau ketidakjujuran tetapi juga untuk memastikan bahwa proses penyelenggaraan kegiatan sektor publik, seperti proses pengadaan barang/jasa, penjualan aset, dan pemberian sponsor/hibah dilaksanakan secara wajar, obyektif, transparan, dan akuntabel. Probity audit utamanya dilakukan terhadap paket pekerjaan yang bersifat strategis (melibatkan kepentingan masyarakat, merupakan pelayanan dasar masyarakat, dan terkait dengan isu politis). Dalam pelaksanaannya, probity audit dilakukan bersamaan dengan proses pengadaan barang/jasa atau segera setelah proses pengadaan barang/jasa terjadi (real time audit) (BPKP, 2012). Ditanya mengenai pemahamannya terkait Probity Audit, Auditor Inspektorat Kota Makassar, Bakhrun Silipu memaparkan:

“Probity Audit itu mengikuti jalannya Pengadaan Barang dan Jasa, dari perencanaan, tahap persiapan, pemilihan penyedia, tahap kontrak, terus pelaksanaan pengadaan itu sendiri, sampai ke tahap penyerahan.” (Wawancara, 24 Juli 2018)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa informan telah memiliki pengetahuan mengenai Pelaksanaan Probity Audit

atas Pengadaan barang dan jasa. Adanya pendekatan Probity Audit ini, merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk mengatasi berbagai kecurangan dan penyimpangan dalam proses pengadaan barang dan jasa yang selama ini dianggap sebagai penyumbang terbesar tindak pidana korupsi dalam sektor publik. Terkait dengan hal tersebut, Andry yang juga sebagai Auditor Inspektorat Kota Makassar menyatakan sebagai berikut:

“Memang salah satu poin krusial dalam pengelolaan dana sektor publik itu yaitu diproses pengadaan barang dan jasa. Biasanya Fraud di pengadaan barang dan jasa itu kan terjadi mulai dari awal tahap perencanaan, karena memang niat pastinya sudah direncanakan dari awal. Salah satu fungsi dari Probity Audit itu, yah bisa meminimalisir fraud ketika kita mulai mendampingi dari tahap perencanaan, sampai implementasi atau sampai dengan penyelesaian pengadaan”. (Wawancara 31 Juli 2018)

Lebih lanjut, beliau memaparkan:

“Keunggulan dari Probity Audit yaitu bisa berfungsi sebagai Early Warning System atau deteksi dini, karena disini kita mendampingi proses pengadaan pertahapan, dari tahap awal sampai tahap akhir. Ketika kita sudah mulai mengindentifikasi adanya indikasi-indikasi fraud di setiap tahapan-tahapan tersebut, kita bisa langsung menindaklanjuti, di banding dengan sudah direncanakan sudah dilaksanakan sudah selasai proses pengadaan baru kita turun ke lapangan, tentukan istilahnya ini Nasi sudah jadi bubur, itulah yang membedakan antara Post Audit dengan Probity Audit.” (Wawancara, 31 Juli 2018)

Hal tersebut senada dengan pernyataan Bakhrun Silipu, yang juga Auditor Inspektorat Kota Makassar sebagai berikut:

“Seharusnya iya, karena resiko-resiko pengadaan sebelum pengadaan itu dilaksankan sudah bisa di minimalisir dari tahap awal perencanaan. Harusnya Penyimpangan-penyimpangan yang biasanya terjadi selama proses pengadaan bisa di minimalisir”. (Wawancara, 24 Juli 2018)

Berdasarkan hasil wawancara diatas, ditambah dengan beberapa penjelasan sebelumnya mengenai Probity Audit atas pengadaan barang dan jasa, maka dapat di simpulkan bahwa dengan dilaksanakannya Pendekatan Probity Audit, penyimpangan- penyimpangan yang mungkin terjadi pada proses pengadaan barang dan jasa dapat dicegah atau di minimalisir karena dilakukannya pengawasan sejak dari tahap perencanaan pengadaan barang dan jasa hingga tahap pemanfaatan barang dan jasa tersebut, sehingga indikasi-indikasi adanya penyimpangan bisa di deteksi sejak dini dan langsung di tindaklanjuti. Dalam Probity Audit, auditor diberikan kewenangan untuk mengakses secara penuh seluruh catatan, personil ( Pengguna Anggaran, Kuasa Penggunaa Anggaran, Unit Layanan Pengadaan, Pejabat Pmbuat Komitmen, Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan, Kontraktor dan pihak lainnya yang terkait dengan pelaksanaan pengadaan dan jasa), mengamati pertemuan-pertemuan, melakukan kunjungan lapangan dan membuat copy (photo copy) dokumen relevan yang diperlukan, sehingga audit pengadaan barang dan jasa yang dilakukan dapat memberikan keyakinan bahwa pelaksana pengadaan barang dan jasa telah mentaati prinsip pengadaan sesuai ketentuan, yaitu efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil, dan akuntabel.

Probity Audit merupakan kegiatan penilaian (independen) untuk memastikan bahwa proses pengadaan barang dan jasa telah dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan prinsip penegakan integritas, kebenaran, kejujuran, dan memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Probity audit harus dilakukan sesuai dengan prinsip probity yang pada

dasarnya merupakan prinsip-prinsip pengadaan barang/jasa sebagaimana diatur dalam Perpres 54/2010 yaitu:

1. Efisien dan efektif sehingga belanja pengadaan barang/jasa dapat memaksimalkan nilai uang (best value for public money).

2. Transparan, terbuka, adil/tidak diskriminatif, dan bersaing.

3. Akuntabel yaitu seluruh proses pengadaan barang jasa dipertangungjawabkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 4. Bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest).

Dampak yang di hasilkan dari proses pengadaan barang dan jasa yang memenuhi prinsip-prinsip tersebut, yaitu menghindari konflik dan permasalahan, menghindari praktik korupsi, meningkatkan integritas sektor publik, memberikan keyakinan secara objektif dan independen atas kejujuran (Probity) proses pengadaan barang dan jasa, serta meminimalkan potensi adanya litigasi (permasalah hukum). Dengan demikian, Probity Audit yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku, dapat meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana sektor publik. Terkait dengan peningkatan akuntabilitas Pengelolaan dana sektor publik, hal tersebut sesuai dengan pernyataan Auditor Inspektorat Kota Makassar, Andry yang mengungkapkan:

“Secara khusus di pengadaan barang dan jasa, mungkin bisa lebih akuntabel, dapat meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana sektor publik khususnya dana-dana atas pengadaan barang dan jasa karena setiap tahapan audit yang dilakukan juga dapat memberikan jaminan dan keyakinan kita terhadap akuntabilitas per tahapan pengadaan barang dan jasa. Pada intinya bisa”. (Wawancara, 31 Juli 2018). Berdasarkan penjelasan sebelumnya dan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Probity Audit atas Pengadaan Barang

dan jasa dapat meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana sektor publik, karena dalam pelaksanaan Probity Audit, dilakukan pengawasan dari tahap awal hingga tahap akhir pengadaan barang dan jasa, sehingga dapat memberikan jaminan dan keyakinan mengenai pengadaan barang dan jasa yang lakukan sesuai ketentuan yang berlaku, serta tidak memungkinkan adanya penyimpangan yang terjadi.

D. Tantangan dalam Pelaksanakan Probity Audit atas Pengadaan Barang dan

Dokumen terkait