ôMt/ÎàÑãΝÍκön=tã
DATA JUMLAH SISWA SMK WIDYA DHARMA TUREN TAHUN AJARAN 2007/2008
A. Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMK Widya Dharma Turen
1. Anak didik
Membicarakan masalah anak didik, sesungguhnya sama dengan membicarakan tentang manusia yang memerlukan bimbingan, seperti yang diungkapkan Zuhairini dkk: Bahwasanya anak yang sudah dilahirkan membawa fitrah beragama dan kemudian tergantung kepada pendidik selanjutnya kalau mereka mendapat pendidikan agama dengan baik, maka mereka akan menjadi orang yang taat beragama, dan sebaliknya bila benih agama yang dibawa itu tidak dipupuk dan dibina dengan baik, maka anak akan menjadi orang yang tidak beragama.147
Maksud yang diungkapkan Zuhairini dkk adalah anak didik mempunyai tingkat pengetahuan agama yang tidak sama. Adakalanya anak didik yang memasuki sekolah sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan agama yang didapatnya dari pendidikan orang tuanya di rumah, atau mendapat dasar-dasar pengetahuan yang dapat dari jenjang sekolah yang dilalui sebelumnya.
Hal ini juga diungkapkan oleh beberapa siswa di sekolahan SMK Widya Dharma Turen
147
. Zuhairini dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm 32
“Asal lulusan yang berbeda. Sebagian peserta didik adalah lulusan SMP dan sebagaian adalah lulusan MTs. Perbedaan asal sekolah tersebut mempengaruhi modal awal peserta didik dalam menempuh pendidikan agama Islam di SMK Widya Dharma Turen Malang,, dimana peserta didik yang berasal dari MTs lebih mengerti dari pada mereka yang berasal dari lulusan SMP. Hal ini disebabkan karena lebih besarnya porsi pendidikan agama Islam di MTs dibandingkan dengan SMP”.148
Dengan demikian kesenjangan antara anak didik yang mempunyai dasar-dasar pengetahuan tentang agama yang memadai dengan anak didik yang belum memiliki dasar-dasar pengetahuan tentang agama, akan menjadi penghambat dalam pengajaran pendidikan agama Islam
2. Faktor pendidik
Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam proses pendidikan, karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam mendidik dan membimbing anak didik dalam proses belajar-mengajar kearah pembentukan kepribadian yang baik, cerdas, terampil dan mempunyai wawasan cakrawala berfikir yang luas serta dapat bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan kehidupannya.
Yang perlu diingat disini adalah bahwa pendidik tidak sekedar menolong, membimbing, tetapi pertolongan dan bimbingan yang dilakukan pendidik itu haruslah disadari dan dapat menghubungkan semua tingkatannya dengan tujuan pendidikan yang dikehendaki. Disamping itu, pendidik itu harus dapat menciptakan situasi pendidikan yang baik dan se-Islami mungkin bagi pendidikan agama pada khususnya, berpengetahuan
148
luas dan yang lebih penting lagi bagaimana pengetahuan tersebut dapat diamalkan serta diyakini, bukan hanya sekedar diketahui.
Agar guru agama dapat melaksanakan tujuan pembelajaran dengan sebaik-baiknya, maka dibutuhkan adanya syarat-syarat tertentu, disamping syarat-syarat yang harus dimilki oleh guru-guru pada umumnya, yaitu: mempunyai ijazah formal, yang perlu dilengkapi dengan sehat jasmani dan rohani, berakhlak baik, memiliki pribadi mukmin, muslim dan mukhsin, taat untuk menjalankan agama serta mampu memberikan tauladan yang baik kepada anak didik, memiliki jiwa pendidik dan rasa kasih sayang kepada anak didiknya, mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan, menguasai ilmu pengetahuan agama dan tidak mempunyai cacat rohani dan jasmani.149
Dari syarat-syarat dan sifat-sifat guru diatas dapat diambil pengertian bahwa dalam melaksanakan pendidikan agama, guru atau pendidik tidak hanya membimbing dalam proses belajar–mengajar semata, namun pada pendidikan agama bimbingan mengenai sikap keagamaan juga harus mendapat perhatian yang besar, sehingga dalam pelaksanaan pendidikan agama pendidik harus mampu memberikan anjuran-anjuran, norma-norma, macam-macam pengetahuan dan kecakapan yang berhubungan dengan agama.
3. Faktor kurikulum
149
Perlu diketahui bahwa kurikulum sangat berperan dalam dunia pendidikan, yang mana dapat mengantarkan pendidikan dalam kancah modern karena bentuknya telah tersusun secara sistematis dan terperinci. Hal ini, sesuai dengan pendapat yang diungkapkan Zuhairini dkk, dalam bukunya Methodik Khusus Pendidikan Agama bahwasanya kurikulum pendidikan agama Islam adalah semua pengetahuan, aktifitas dan juga pengalaman-pengalaman yang dengan sengaja secara sistematis diberikan oleh pendidikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama.150
Sesuai dengan pengertian diatas, maka kurikulum pendidikan agama termasuk alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama sehinga keberadaannya sangat diperlukan dengan tanpa menafikan faktor persesuaian dengan tujuan yang dirumuskan oleh pendidikan agama dan persesuaian dengan tingkat usia dan perkembangan serta kemampuan peserta didik.
4. Fakktor alat-alat pendidikan
Alat pendidikan menurut Sutari Imam Barnabid dalam bukunya Jalaludin dan Umar Said ialah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang disengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan di dalam pendidikan. Jadi alat pendidikan tidak terbatas pada benda-benda yang
150
bersifat kongkrit saja, tetapi juga berupa nasihat, tuntunan, contoh, hukuman dan sebagainya.151
Berkenaan dengan faktor alat-alat pendidikan, maka penulis kemukakan beberapa jenis media atau alat pendidikan yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk mengajar pendidikan agama. Adapun alat-alat pendidikan yang dipergunakan dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam, menurut Zuhairini dkk, dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu: alat pengajaran agama, alat pendidikan agama yang langsung dan alat pendidikan yang tidak langsung.152
Hal yang sama juga dipenjelasan Kepala sekolah Drs. Jasid Durachim
“Masih minimya sarana maupun prasarana di lingkungan sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung. Sarana langsung contohnya masih terbatasnya perpustakaan. Sarana tidak langsung contohnya adanya halaman yang kurang luas dan tanam tanaman yang sangat minim”.153
5. Faktor lingkungan
Lingkungan pendidikan Islam adalah suatu lingkungan yang didalamnya terdapat ci-ciri Keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik. Fungsinya untuk menunjang terjadinya proses kegiatan belajar-mengajar secara aman, tertib dan berkelanjutan.154
151
Jalaludin dan Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, (Jakarta: Raja Grafindo, 1994). hlm 57
152
Zuhairini dkk. Op. cit. hlm 50
153
Wawancara dengan Drs. Jasid Durachim, Kepala Sekolah SMK Widya Dharma Turen 17 Maret 2008
154
Pengaruh lingkungan dapat dikatakan positif bilamana lingkungan dapat memberikan dorongan atau motivasi dan rangsangan kepada peserta didik untuk berbuat hal-hal yang baik, sebagai contoh di sekolah anak mendapat pelajaran pendidikan agama dari guru agama dan di rumah anak selalu mendapatkan bimbingan dari orang tuanya, karena orang tuanya termasuk orang yang taat mengamalkan ajaran Islam, maka secara tidak langsung keagamaan peserta didik tersebut akan selalu terpupuk dan terbina dengan baik.
Dari keterangan tersebut, bahwa baik buruknya lingkungan itu dapat mempengaruhi berhasil dan tidaknya pengajaran agama yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan.
B. Upaya Mengatasi Problema Pelaksanan Pendidikan Agama Islam di