BAB IV DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
4.3. Produk Usaha
60
Membangun home industri memang tidak mudah karena bisa jadi semuanya akan dimulai dari angka nol. Kerja keras, sabar, pantang menyerah, dan ketekunanlah kunci utamanya. Jika sudah pada tahap aman, pelaku home industri kerap kali mengakui bahwa banyak sekali keuntungan mengelolah home industri di rumah sendiri.
Memang hasil yang biasa didapat tidaklah tetap seperti halnya menjadi karyawan pada sebuah perusahaan. Namun, sepanjang tetap mengolahnya dan berusaha maka hasil yang akan dinikmati juga akan signifikan. Keuntungan apa lagi yang diidamkan oleh banyak orang, manakala kita bisa mempunyai uang banyak tetapi tidak menggadaikan waktu bercengkrama kita dengan keluarga tercinta.
http://www.anneahira.com/home-industri.htm
4.3. Produk Usaha
Dalam penelitian ini produk yang dipilih oleh pemilik berupa sandal (alas kaki). Pemilihan jenis produk ini karena pembuatannya tidak susah dan gampang dilakukan. Dan pemilik melakukan suatu perencanaan dengan cara memilih bentuk sandal, designnya, serta kenyamaan dalam memakai. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
“Yang pertama karena produk sandal ini lebih muda cara pembuatannya dibandingkan dengan produk lain, contohnya sepatu lebih ribet bentunya. Terus klo perencanaan ya ada mbak, perencanaan seperti
memilih bentuk fisik sandal itu seperti apa, designnya seperti apa dan kenyamanaan dalam memakai, jika tidak nyaman kan gak enak dipakai.”
(Informan bapak M. Taufik)
Ide dari usaha ini dimulai dari pemilik usaha pertama kemudian dikembangkan oleh bapak M. Taufik dengan caranya sendiri melalui browsing di internet dan keluhan dari pelanggan agar dapat menyesuaikan pangsa pasar yang seperti apa yang diharapkan oleh konsumen saat ini. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"Idenya ya dari bapak saya dulu, kan bapak saya yang memulai usaha ini kemudian saya kembangkan dengan sering-sering melihat di internet dan kadang-kadang dari keluhan konsumen yang meminta produk jenis yang berbeda."
(Informan bapak M. Taufik)
4.4. Bahan Baku Usaha
Bahan baku yang dibutuhkan untuk usaha ini berupa spon motif dan polos, karet alas sandal atau sol, tali sandal, dan juga lem. Untuk satu lembar spon jadi 40 pasang, karet alas sandal atau sol jadi 10 pasang dan untuk satu kotak lem bisa jadi 400 pasang sandal. Berikut paparan bapak M. Taufik:
"Bahan bakunya ya spon ada spon motif dan spon polos,tali sandal, karet alas sandal atau sol,dan lem bahan bakunya. Untuk satu lembar spon
62
bisa jadi 40 pasang sandal, untuk satu karet alas sandal atau sol bisa jadi 10 pasang sandal, untuk 1 kotak lem bisa jadi 400 pasang sandal."
(Informan bapak Taufik) 4.5. Proses Produksi
Proses produksi yang dilakukan akan mempengaruhi keadaan produk yang dihasilkan karena produksi merupakan suatu kegiatan, metode atau teknik yang dilakukan untuk menciptakan atau menambah kegunanaan suatu barang/jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"Prosesnya untuk tahap pertama dilakukan pembentukan pola permukaan sandal yang bahan dasarnya spon dengan alat potong sesuai dengan design sandal yang diinginkan,karet alas sandal atau sol juga dipotong sesuai bentuk yang dinginkan, kemudian spon dan karet direkatkan dengan menggunakan lem, selanjutnya proses press pola sandal tadi dengan alat press, kemudian dibor dengan alat bor untuk melubangi agar mudah untuk memasang tali sandal, setelah tali dipasang tahap terakhir sandal dihaluskan dengan mesin grinda kemudian sudah siap untuk dijual."
(Informan bapak M. Taufik) 4.6. Pemasaran
Pemasaran dalam usaha ini ditujukan untuk semua orang karena semua orang bisa menggunakan produk ini menurut paparan dari bapak Taufik. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"Konsumen saya ya semua orang yang maumenggunakan produk saya ini, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa bisa menggunakan produk saya ini kok!"
(Informan bapak M. Taufik) 4.7. Karyawan
Setiap karyawan mempunyai tugas masing-masing tugasnya antara lain: melakukan pemotongan bentuk atau pola, menempelkan hasil dari potongan bentuk atau pola, memasang japitan sandal/tali sandal sampai sandal dihaluskan dan siap untuk dipakai. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"Ada 11 karyawan, karyawan tersebut mempunyai tugas masing-masing ada yang melakukan pemotongan bentuk atau pola, ngelem atau menempelkan hasil potongan tadi, sampai sandal tersebut dihaluskan untuk siap dipakai."
(Informan bapak M. Taufik) Pelatihan terhadap karyawan sangat perlu karena di samping mendapatkan hasil yang maksimal karyawan juga dapat melakukan pekerjaannya dengan benar. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"ya tentu saja klo tidak melakukan pelatihan tentu mereka tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan benar dan baik agar hasil yang dibuat juga memuaskan."
64
Sistem gaji yang dilakukan disini yaitu sistem borongan, sesuai dengan kinerja masing-masing karyawan. Sistem penggajian diberikan untuk menciptakan keseimbangan yang telah diberikan karyawan. Keseimbangan yang dimaksud adalah memberikan timbal balik atas kerja yang telah diberikan. Besarnya gaji karyawan sesuai dengan kinerjanya. Sehari karyawan mendapatkan gaji Rp 42.500 didapat dari Rp 8.500 dikalikan dengan lima kodi sehingga seminggu karyawan mendapatkan gaji sebesar Rp 225.000. berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"Mulai pukul 8 pagi sampai jam 4 sore. Sistem yang saya pakai menggunakan sistem borongan, jadi gajinya saya berikan sesuai kinerja mereka, biasanya saya memberikan gaji satu minggu sekali tepatnya hari sabtu sore karena minggunya mereka libur."
(Informan bapak M. Taufik) "ya tidak tentu mereka mendapatkan gaji/upah yang sama seperti yang saya bilang tadi sesuai dengan kinerja mereka. Biasanya satu hari itu gajinya untuk satu karyawan menghasilkan lima kodi sandal dengan upah Rp 8500 dikalikan lima kodi jadinya ya sekitar Rp 42.500 dikalikan satu minggu kerja dihitung 6 hari kerja ya sekitar Rp 255.000."
(Informan bapak M. Taufik) Karyawan sering melakukan lembur dalam menyelesaikan pekerjaannya. Mereka mendapatkan tambahan upah sama seperti gaji biasanya Rp 8.500, tergantung berapa kodi yang mereka dapatkan. Berikut paparan dari bapak M. Taufik:
"ya kadang-kadang mereka melakukan lembur tergantung pesanan berapa banyak yang diminta oleh konsumen. Sistemnya bukan jam tetapi berapa banyak produksi yang diperoleh, biasanya klo lembur dapat tambahan berapa kodi gitu satu kodinya dapatnya seperti gaji biasanya yang saya bilang tadi Rp 8.500."
(Informan bapak M. Taufik) Sekilas pemaparan diatas dari bapak M. Taufik adalah tentang usaha sandal (alas kaki) di Home Industri Wedoro Waru, Sioadrjo. Yang juga merupakan usaha pertama kali dan satu-satunya usaha yang telah ditekuni oleh keluarga bapak M. Taufik.
4.8. Industri UMKM di Indonesia
Sejarah perekonomian telah ditinjau kembali untuk mengkaji ulang peranan usaha skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Beberapa kesimpulan, setidak-tidaknya hipotesis telah ditarik mengenai hal ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat sebagaimana terjadi di Jepang, telah dikaitkan dengan besaran sektor usaha kecil. Kedua, dalam penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat sejak perang dunia II, sumbangan UMKM ternyata tak bisa diabaikan. (D.L. Birch, 1979)
Krisis yang terjadi di Indonesia pada 1997 merupakan momen yang sangat menakutkan bagi perekonomian Indonesia. Krisis ini telah mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor ekonomi berubah. Usaha besar satu persatu pailit karena bahan baku impor meningkat secara drastis,
66
biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun dan berfluktuasi. Sektor perbankan yang ikut terpuruk turut memperparah sektor industri dari sisi permodalan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi meneruskan usaha karena tingkat bunga yang tinggi. Berbeda dengan UMKM yang sebagian besar tetap bertahan, bahkan cendrung bertambah.
Ada beberapa alasan mengapa UMKM dapat bertahan di tengah krisis moneter 1997 lalu. Pertama, sebagian besar UMKM memproduksi barang konsumsi dan jasa-jasa dengan elastitas permintaan terhadap pendapatan yang rendah, maka tingkat pendapatan rata-rata masyarakat tidak banyak berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. Sebaliknya kenaikan tingkat pendapatan juga tidak berpengaruh pada permintaan. Kedua, sebagian besar UMKM tidak mendapat modal dari bank. Implikasinya keterpurukan sektor perbankan dan naiknya suku bunga, tidak banyak mempengaruhi sektor ini. Berbeda dengan sektor perbankan bermasalah, maka UMKM ikut terganggu kegiatan usahanya. Sedangkan usaha berkala besar dapat bertahan. Di Indonesia, UMKM mempergunakan modal sendiri dari tabungan dan aksesnya terhadap perbankan sangat rendah.
Terbukti saat krisis global yang terjadi beberapa waktu lalu, UMKM hadir sebagai suatu solusi dari sistem perekonomian yang sehat. UMKM merupakan salah satu sektor industri yang sedikit bahkan tidak sama sekali terkena dampak krisis global yang melanda dunia. Dengan bukti ini, jelas
bahwa UMKM dapat diperhitungkan dalam meningkatkan kekompetitifan pasar dan stabilisasi sistem ekonomi yang ada.
Kegiatan UMKM meliputi berbagai kegiatan ekonomi, namun sebagian besar berbentuk usaha kecil yang bergerak disektor pertanian. Pada 1996, data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah UMKM sebanyak 38,9 juta dengan rincian: sektor pertanian berjumlah 22,5 juta (57,9%); sektor industri pengolahan 2,7 juta (6,9%); sektor perdagangan, rumah makan dan hotel sebanyak 9,5 juta (24%); dan sisanya bergerak di bidang lain. Dari segi nilai ekspor nasional (BPS, 1998), Indonesia jauh tertinggal bila dibandingkan ekspor usaha kecil negara-negara lain, seperti Taiwan (65%), China (50%), Vietnam (20%), Hongkong (17%), dan Singapura (17%). Oleh karena itu, perlu dibuat kebijakan yang tepat untuk mendukung UMKM seperti antara lain: perijinan, teknologi, struktur, manajemen, pelatihan dan pembiayaan.
Dalam pembangunan ekonomi di Indonesia UMKM selalu digambarkan sebagai sektor yang mempunyai peranan penting, karena sebagian besar jumlah penduduknya berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sektor tradisional maupun modern. Peranan usaha kecil tersebut menjadi bagian yang diutamakan dalam setiap perencanaan tahapan pembangunan yang dikelola oleh dua departemen yaitu Departemen Perindustrian dan Perdagangan, serta . Departemen Koperasi dan UMKM. Namun, usaha pengembangan yang telah dilaksanakan masih belum memuaskan hasilnya karena pada kenyataannya kemajuan UMKM sangat
68
kecil dibandingkan dengan kemajuan yang sudah dicapai usaha besar. Pelaksanaan kebijaksanaan UMKM oleh pemerintah selama Orde Baru, sedikit saja yang dilaksanakan, lebih banyak hanya merupakan semboyan saja sehingga hasilnya sangat tidak memuaskan. Pemerintah lebih berpihak pada pengusaha besar hampir di semua sektor, antara lain perdagangan, perbankan, kehutanan, pertanian dan industri.
http://portaljakarta.com/peran-ukm-dalam-mendorong-kekompetitifan-perekonomian-indonesia
5.1. Pemisahan Biaya Tetap dan Biaya Variabel
Langkah pertama yang diperlukan dalam melakukan analisis titik pulang pokok dalam penelitian ini adalah melakukan pemisahan terhadap berbagai komponen biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam beroperasi kedalam komponen biaya tetap dan biaya variabel. Adapun biaya-biaya yang merupakan beban langsung bagi produk selama periode Januari s/d Desember 2011 dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bahan Baku
Untuk periode Januari s/d Desember 2011 berjumlah Rp 468.084.500,00. Biaya ini termasuk biaya variabel karena jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas. Dengan rincian sebagai berikut:
Spon motif Rp 31.250,00
Spon polos Rp 10.500,00
Tali Sandal Rp 30.000,00
Karet sandal/sol Rp 29.000,00
70 Total Rp 111.250,00/kodi Januari 362 kodi x 111.250 = Rp 36.482.000,00 Februari 359 kodi x 111.250 = Rp 36.179.750,00 Maret 415 kodi x 111.250 = Rp 41.821.750,00 April 371kodi x 111.250 = Rp 37.388.750,00 Mei 377 kodi x 111.250 = Rp 37.993.250,00 Juni 389 kodi x 111.250 = Rp 39.202.250,00 Juli 382 kodi x 111.250 = Rp 38.497.000,00 Agustus 420 kodi x 111.250 = Rp 42.325.500,00 September 379 kodi x 111.250 = Rp 38.194.750,00 Oktober 382 kodi x 111.250 = Rp 38.497.500,00 Nopember 392 kodi x 111.250 = Rp 39.504.500,00 Desember 418 kodi x 111.250 = Rp 42.124.000,00 Total tahun 2011 Rp 468.210.500,00
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Dalam perode Januari s/d Desember 2011 dirinci sebagai berikut:
Untuk biaya produksi upah karyawan berjumlah Rp 8.500,00/kodi, seharinya karyawan dapat memproduksi sekitar 5 kodi, jadi karyawan sehari dapat memperoleh Rp 42.000,00. Masa kerja 6 hari/minggu jadi karyawan per minggu dapat memperoleh Rp 255.000,00 sehingga satu bulan masa kerja karyawan dapat memperoleh sekitar Rp 1.020.000,00. Jika karyawan lembur atau menambah jam kerja maka karywan juga memperoleh upah tambahan sama seperti yang telah diberikan yaitu sejumlah Rp 8.500,00. Tergantung berapa banyak karyawan memproduksi barang. Biaya ini termasuk biaya variabel karena biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas.
Biaya paking berjumlah Rp 2.000,00/kodi sedangkan untuk biaya finising berjumlah Rp 2.500,00/kodi. Biaya ini juga termasuk biaya variabel karena biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas.
3. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Yang merupakan biaya kelompok ini adalah biaya untuk jasa sablon yaitu sebesar Rp 11.000,00 dan biaya untuk jasa floging (memasang merek
72
untuk sandal) sejumlah Rp 6.000,00. Biaya ini merupakan biaya variabel karena biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
4. Biaya Listrik
Untuk periode Januari s/d Desember 2011 berjumlah Rp 3.979.500,00. Biaya ini merupakan biaya semivariabel bagi perusahaan, karena biaya ini merupakan biaya yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
Dari uraian diatas maka diketahui bahwa terdapat satu elemen biaya yang merupakan komponen biaya semivariabel yaitu biaya listrik. Oleh karena itu, biaya listrik ini harus dipisahkan menjadi komponen biaya tetap dan biaya variabel pula. Untuk memisahkan komponen biaya semivariabel
tersebut, digunakan metode least square sebagai berikut:
Bulan Produksi dlm Kodi (X) Biaya Listrik (Y) X.Y X 2 Jan 362 320.000 115.840.000 131.044 Feb 359 305.250 109.584.750 128.881 Mar 415 345.000 143.175.000 172.225 Apr 371 325.500 120.760.500 137.641 Mei 377 327.000 123.279.000 142.129 Jun 389 338.500 131.676.500 151.321 Jul 382 330.000 126.060.000 145.924 Agt 420 349.250 146.685.000 176.400 Sept 379 328.750 124.596.250 143.641
Okt 382 331.500 126.633.000 145.924 Nov 392 332.000 130.144.000 153.664 Des 418 346.750 144.941.500 174.724 Jumlah: 4,646 3.979.500 1.543.375.000 1.803.518 Tabel 2 Y = a + bX
Dimana a merupakan konstanta biaya tetap, sedangkan b adalah konstanta
biaya variabel.
b = 557,978 ≈ 558
Jadi besarnya biaya variabel dalam komponen biaya listrik adalah sebesar
Rp. 558/kodi. Selanjutnya untuk menentukan biaya tetap, digunakan rumus:
74
Dari perhitungan diketahui besarnya biaya tetap dalam komponen
biaya listrik adalah sebesar Rp 115.586.
5.2. Menghitung Marjin Kontribusi Produk dan Break Event Point Produk
Langkah berikut dalam penelitian ini adalah menghitung besarnya marjin kontribusi yaitu besarnya penjualan (harga jual) produk dikurangi dengan seluruh biaya variabel. Berdasarkan uraian sebelumnya dapat diketahui bahwa biaya variabel dan biaya tetap yang ada dalam perusahaan adalah sebagai berikut:
Keterangan Biaya Tetap Biaya Variabel Bahan Baku:
1. Spon Motif (1,5 mm) 2. Spon Polos (10 mm) 3. Karet Alas (Sol) 4. Tali Sandal 5. Lem 10.500 31.250 29.000 30.000 10.500 Listrik 115.568 558 Tenaga Kerja 1. Jasa sablon 2. Jasa Fogging 3. Produksi 4. Packaging 5. Finishing 6. Lain-lain 11.000 6.000 8.500 2.000 2.500 5.000 Total : 115.568 146.808
Dari tabel diatas, maka diketahui total biaya variabel adalah sebesar Rp. 146.808 per kodi. Adapun harga jual produk adalah sebesar Rp. 190.000 per kodi. Dengan demikian besarnya marjin kontribusi adalah sebesar Rp. 190.000 – Rp. 146.808 = Rp. 43.192 per kodi. Apabila diprosentase, maka besarnya rasio marjin kontribusi adalah sebesar 22,73% (Rp. 43.192/Rp. 190.000). Hal ini berarti laba kotor dari perusahaan adalah sebesar 22,73% sebelum dikurangi biaya tetap dan pajak.
Selanjutnya untuk mengetahui berapa banyak produk yang harus terjual apabila perusahaan ingin tidak mengalami kerugian atau keuntungan
maka dihitung dengan menggunakan rumus titik pulang pokok (Break Even
Point).
Dari perhitungan diatas diketahui bahwa perusahaan akan mencapai titik pulang pokok (impas) apabila mampu menjual produk sebanyak 3 kodi setiap bulannya.
76
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat BEP yang relatif sangat rendah adalah disebabkan perusahaan tidak melakukan (menghitung) besarnya biaya depresiasi mesin yang digunakan dalam proses produksi meskipun dalam metode akuntansi hal ini merupakan salah satu elemen biaya tetap yang penting. Selain itu, perusahaan juga tidak menghitung gaji tetap bagi pemilik sebagai biaya yang harus dikeluarkan, karena pemilik telah bekerja dan mengelola usaha tersebut.
5.3. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan memakai sumber data yang berangkat dari keterangan para informan dilapangan. Perbedaan waktu sangat berpengaruh, karena apa yang terjadi dilapangan saat ini, tidak bisa dijadikan sebuah patokan bahwa akan terjadi juga di waktu yang berbeda, juga keterbatasan dalam hal finansial peneliti yang cukup menguras biaya. Dan juga faktor izin ke perusahaan home industri untuk melakukan penelitian. Sehubungan dengan keterbatasan tersebut, maka peneliti mengharapkan bahwa segala sesuatu yang dihasilkan melalui penelitian ini, dapat dijadikan masukan bagi peneliti yang akan datang.
6.1. Kesimpulan
Dengan berakhirnya penelitian ini, maka peneliti dapat mengambil suatu gambaran kesimpulan berdasarkan hasil analisis yang dapat penulis kemukakan disini adalah sebagai berikut:
1. Home Industri di Wedoro Waru, Sidoarjo selama ini tidak melakukan pemisahan atas biaya-biaya yang ada kedalam elemen biaya variabel maupun biaya tetap.
2. Rasio marjin kontribusi dari produk yang ada adalah cukup tinggi.
3. Perusahaan akan mencapai titik pulang pokok(break even point- BEP) apabila mampumenjuala produk sebanyak 3 kodi per bulan.
6.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah penulis sampaikan dimuka, maka saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi Home Industri di Wedoro Waru, Sidoarjo
Sebaiknya pemilik usaha melakukan klasifikasi terhadap berbagai biaya-biaya yang telah dilakukan serta melakukan pencatatan secara sistematis
78
terhadap aktivitas keuangan mereka agar memudahkan pemilik dalam mengambil keputusan berkaitan dengan usaha tersebut.
Selanjutnya, pemilik perlu memasukkan elemen biaya depresiasi mesin kedalam perhitungan biaya, karena melalui hal tersebut maka pemilik dapat merencanakan investasi kembali terdap mesing-mesin yang digunakan. Sehingga peralatan produksi yang dipakai akan mampu up to date.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, akan banyak peneliti-peneliti lain yang tertarik untuk menggunakan metode penelitian kualitatif dalam melakukan penelitian, untuk peneliti selanjutnya akan lebih baik lagi bila penelitian tidak hanya dilakukan ke home industri saja tetapi pada usaha yang lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai sejauh mana penerapan rasio marjin kontribusi sebagai alat penetapan harga dan produk yang harus terjual untuk mencapai break even point.
---,2008, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
Anonim, 2002, Kamus Besar Bahasa indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta Anonim, 2011, Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian dan Sripsi Program
Studi akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “veteran” Jawa Timur, Surabaya
Alma, Buchari, 2004, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Penebit Alfabeta, Bandung
Horngren, Charles T., dkk, 2005, Akuntansi Biaya Penekanan Manajerialjilid 1, Penerbit PT INDEKS Kelompok Gramedia
Miles, Matthew B, dan Huberman, A, Michael, 2007, Analisa Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode baru. Cetakan pertama, Penerbit Universitas Indonesia (UI-PRESS)
Mulyadi, 2009, Akuntansi Biaya, Penerbit BPFE Yogyakarta, Yogyakarta
Riyanto, Bambang, 2010, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Penerbit BPFE Yogyakarta, Yogyakarta
Stanton, William J., 1991, Prinsip Pemasaran Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta Sugiyono, 2005, Memahami Penelitian Kualitatif, Penerbit Alfabeta, Bandung Supriyono, 1999, Akuntansi Manajemen I : Konsep Dasar Akuntansi
Manajemen dan Proses Perencanaan Edisi Kelima, Penerbit BPFE Yogyakarta, Yogyakarta
Syamsuddin, Lukman, 2005, Manajemen Keuangan Perusahaan, Penerbit PT. Handita, Yogyakarta
Yuhertiana, Indrawati, 2009, Panduan Penelitian Kualitatif bagi Pemula, Penerbit EurekaSmart Publishing
Pratamasari, Frinta, 2008, Peranan Analisis Break Even Point Sebagai Alat Bantu Bagi Manajemen Dalam Menunjang Efektivitas Laba Perusahaan (Studi Kasus pada PT MBT Utama), Jurnal Sripsi dan Tesis Wordpress.com, 21 Maret 2008
Jurnal
Aryan Aditantra, Ikhwan, 2011, Analisis Pemahaman Laba Dalam Penentuan Laba Optimal : Studi Kasus Pada Pedagang Keliling, Skripsi FE Universitas Diponegoro, Semarang
Fatimatuz Zahro, Afrohah, 2003, Analisis Marjin kontribusi Untuk Penentuan Kombinasi Produk Pada Perusahaan Pakaian jadi UD. Denny Malang, Skripsi FE Universitas Muhamadiyah, Malang
Website http://galeriukm.web.id/news/kriteria-usaha-mikro-kecil-dan-menengah-umkm http://samuelhasiholan.wordpress.com/2011/05/12/peran-sektor-ukm-pada-ekonomi-indonesia/ http://fe.unsyiah.ac.id/forum-dekan-fakultas-ekonomi-se-indonesia/ http://tryusnita.wordpress.com/2009/05/06/biaya-berbagai-macam-pengertian-biaya/ http://www.scribd.com/doc/30389966/9/Pengertian-harga http://celicarose.wordpress.com/2010/04/30/artikel-akuntansi/ http://www.anneahira.com/home-industri.htm http://portaljakarta.com/peran-ukm-dalam-mendorong-kekompetitifan-perekonomian-indonesia