BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Produksi Getah Pinus
Berdasakan Berita Acara Sensus Pohon Pinus pada bulan Mei 2009 yang dilakukan Perhutani bersama dengan LMDH Kemuning Asri dan LMDH Rukun Makmur di RPH Gombeng areal tegakan pinus yang siap sadap memiliki luas sebesar 463,5 ha dengan jumlah pohon 81.850. Areal tersebut terbagi dalam 16 anak petak dengan 5 tempat pengumpulan getah.
20
Dari Tabel 6 dapat diketahui kerapatan tegakan mempengaruhi produksi getah pinus. TPG 1 dan TPG 2 memiliki kerapatan yang tinggi sebesar 26 dan 21 pohon per plot. Jika dibandingkan TPG 3 dan TPG 4 yang kerapatannya 18 dan 16 pohon per plot, TPG 1 dan TPG 2 rata-rata getah pinus yang dihasilkannya lebih rendah. Menurut HadiPoernomo (1980), kerapatan jumlah pohon per hektar pada tegakan yang terlalu rapat akan banyak menyebabkan pohon pinus tertekan. Pohon yang tertekan ini tidak banyak mengeluarkan getah, bahkan sering tidak mengeluarkan getah sama sekali pada waktu disadap.
Tabel 6. Rata–rata produksi getah pinus di tempat pengumpulan getah tiap pungutan (satu kali dalam seminggu)
TPG Luas Banyak pohon Plot Rata-rata pohon per plot Rata-rata produksi getah per plot Rata - rata produksi getah
per pohon per plot Produksi getah per ha ( Ha ) (0,1 ha) (kg) (kg) 1 159,4 32.294 8 26 3,2 0,12 32,13 2 118,4 23.669 6 21 3,5 0,17 35 3 65 8.263 3 18 4,3 0,24 43 4 24,2 4.168 1 16 4,2 0,26 42 5 96,5 13.456 5 16 2,7 0,17 27,4 jumlah 463,5 81.850 23 96 18,0 0,97 179,53
Sumber : Data Primer Hasil Pengukuran Di Lapangan (2010)
Tabel 7. Produksi getah pinus per bulan TPG Luas Produksi getah per ha
per minggu Produksi getah per ha per bulan Produksi getah total di TPG per bulan Produksi rata-rata per tahun per ha
( Ha ) (kg) (kg) (kg) (kg) 1 159,4 32,13 128,5 20.482,9 1.542 2 118,4 35 140 16.576 1.680 3 65 43 172 11.180 2.064 4 24,2 42 168 4.065,6 2.016 5 96,5 27,4 109,6 10.576,4 1.315,2 Jumlah 463,5 179,53 718,1 62.880,9 8.617,2 Rataan 35,905 143,62 12.576,18 1.627,98
Sumber : Data Primer Hasil Pengukuran Di Lapangan (2010)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa produksi getah pinus tertinggi tiap bulannya terdapat di TPG 3 dengan rata-rata produksi getah per 172 kg/ha. Sedangkan produksi terendah sebesar 109,6 kg/ha tiap bulannya terdapat di TPG 5. Namun jika dilihat produksi getah per pohon di tiap plotnya TPG 1 merupakan yang terendah yaitu sebesar 0,12 kg. Secara keseluruhan, produksi di TPG 5
21
masih lebih rendah dari TPG 1 karena TPG1 memiliki areal lebih luas dengan jumlah pohon dua kali lipat lebih banyak.
Dari hasil produksi getah per bulannya di konversi ke dalam satuan Kg/tahun/ha kemudian dibuat perbandingan antara produksi nyata di hutan, di TPG, dengan data sekunder yang di dapat. Produksi dihutan merupakan hasil dari getah yang di pungut sendiri kemudian langsung di timbang, sedangkan produksi di TPG merupakan hasil dari pungutan yang dilakukan penyadap kemudian dilakukan penimbangan di TPG. Hasil dari perbandingan tersebut sebagai berikut: Tabel 8. Perbandingan produksi getah pengukuran di hutan, TPG dan data
sekunder
Sumber data Luas Keterangan Produksi getah rata-rata
(ha) Hutan TPG Data Primer 463,5 Kg/tahun/ha 1.627,98 1.161,90 Data Sekunder Penelitian Syamsu (2009) 2.231,72 1.872,62 Data Perhutani (2003-2007) 1.582,31
Sumber : Data Primer Pengukuran di Lapangan (2010) dan Data Sekunder Hasil Penelitian Syamsu (2009) dan Laporan Kemajuan Sadapan Getah Pinus KPH Banyuwangi Utara Tahun 2003-2007
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa hasil pengukuran produksi getah di hutan cenderung lebih tinggi di bandingkan dengan pengukuran di TPG ataupun data sekunder dari Perhutani. Perbedaan ini terjadi karena penimbangan getah di TPG tidak dilakukan untuk setiap tempat/alat angkut getah yang dibawa penyadap melainkan dengan asumsi bahwa penimbangan satu ember/jirigen penuh getah mampu mewakili berat ember/jirigen berikutnya (setiap ember penuh getah dianggap memiliki berat yang sama). Sedangkan yang ditimbang hanya ember dengan getah yang tidak penuh. Hal tersebut mereka lakukan agar menghemat waktu dalam penimbangan karena alat angkut yang digunakan sama dan merupakan pembegian dari Perhutani sendiri. Hal ini mengakibatkan banyak getah pinus yang tidak terukur secara nyata pada saat penimbangan. Perbedaan lain yang tampak dari Tabel 8 adalah penurunan produksi di tahun 2010. Hal ini dikarenakan ada perubahan musim yang terjadi di tahun 2010, yang biasanya di bulan Juli sampai November mengalami kemarau, di tahun 2010 terdapat hujan
22
hampir sepanjang tahun. Bahkan di bulan Oktober dan November di RPH Gombeng mengalami curah hujan yang cukup tinggi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan produksi getah tidak konstan tiap bulannya, namun yang paling berpengaruh adalah perubahan musim. Perubahan musim yang terjadi akan mempengaruhi potensi tegakan pinus dan pola aktifitas masyarakat, dimana pola aktifitas masyarakat tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap produksi getah pinus tersebut. Musim kemarau merupakan musim yang paling ideal untuk melakukan penyadapan getah pinus. Umumnya di musim kemarau produksi getah yang dihasilkan jauh lebih banyak dibandingkan di musim penghujan. Hal ini dikarenakan pada musim kemarau getah pinus lebih bersifat cair sehingga luka yang diberikan di pohon pinus akan banyak mengeluarkan getah. Selain itu masyarakat, dalam hal ini penyadap, cenderung lebih giat beraktifitas di kegiatan penyadapan getah. Menurut Kloot (1951) dalam Suharlan (1983) musim panas akan memberikan produksi yang tinggi. Tetapi musim panas yang terus menerus menyebabkan getah cepat kering dan aliran getah dapat terhenti. Bukan hanya aktifitas di areal sadapan saja yang meningkat di musim kemarau, kegiatan di areal tebangan juga meningkat. Hal ini dikarenakan tanah yang kering memudahkan kegiatan tebangan dan proses pengangkutan. Kondisi ini dapat menyebabkan masyarakat mencari sumber mata pencaharian baru sebagai tukang rencek (pencari kayu bakar). Pada musim penghujan, biasanya terjadi di bulan Desember sampai bulan April, menyebabkan kondisi lahan sering basah sehingga para penyadap tidak masuk ke dalam hutan untuk memperbaharui luka dan mengumpulkan getah. Unsur iklim lain yang berpengaruh terhadap produksi getah pinus adalah suhu dan kelembaban. Cuaca yang dingin akan membuat getah lebih kental sehingga memperlambat aliran getah.
Selain itu pola aktifitas masyarakat serta adanya fenomena yang terjadi di dalam masyarakat yang berkaitan dengan perayaan hari keagamaan dan hari besar lainnya juga akan berpengaruh terhadap produksi getah pinus. Pada tahun 2010, Idul Fitri yang jatuh di bulan September, menyebabkan kebutuhan masyarakat meningkat dibandingkan hari-hari biasa sehingga memotivasi para penyadap untuk menghasilkan getah sebanyak-banyaknya setelah perayaan Idul Fitri selesai.
23
Hal ini dilakukan untuk menutupi pengeluaran rumah tangga selama Idul Fitri berlangsung. Sedangkan di bulan Ramadhan, sebulan sebelum Idul Fitri, terjadi penurunan produksi getah karena energi yang dikeluarkan para penyadap berkurang.
Pada waktu musim tanam yang biasanya jatuh pada musim penghujan, para penyadap yang memiliki sawah akan mengerjakan sawahnya, sedangkan