• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN DISKUSI

A. Produksi Pengetahuan

Produksi pengetahuan merupakan interaksi antara hasil riset dasar yang memiliki kesiapterapan teknologi level 1-3 dan orientasi akademik. Berdasarkan analisis data, diidentifikasi sejumlah ragam penghiliran hasil riset dari ragam produksi pengetahuan yaitu tugas akhir mahasiswa29, umpan balik pada pendidikan dan riset, publikasi berupa artikel ilmiah dan/atau buku, indeks peneliti, jumlah sitasi, dan/atau jabatan pada organisasi/asosiasi.

Tugas akhir (TA) mahasiswa berupa skripsi/tesis/disertasi merupakan karya yang dihasilkan dari akumulasi keilmuan dan pengalaman mahasiswa selama proses pendidikan/pengajaran. TA menjadi ragam penghiliran dengan kuantitas terbesar dibandingkan ragam penghiliran lainnya, utamanya yang berasal dari TA mahasiswa Strata-1 atau Program Diploma. Sebagai contoh, rerata TA di ITB sebanyak 1.800 TA per tahunnya (Laporan Kelulusan ITB, 2018).

29 Tugas akhir pada berbagai jenjang pendidikan tinggi adalah tugas akhir (untuk jenjang Diploma), skripsi (untuk jenjang strata-1), tesis (untuk jenjang strata-2), dan disertasi (untuk jenjang strata-3).

145 Orientasi

Riset

Jenis Penelitian dan Tingkat Kesiapterapan Teknologi

Penghiliran Dasar Penghiliran Terapan/Pengembangan

TKT = 1-3 TKT = 4-9

Orientasi Akademik Produksi Pengetahuan (Skenario 1)

Prakomersialisasi (Skenario 4) Output tugas akhir mahasiswa

(output skripsi/tesis/disertasi)

Sistem/kebijakan/rekayasa sosial Formula, desain, purwarupa

Publikasi:artikel ilmiah, buku Karya seni dan pertunjukan Teknologi aplikasi Umpan balik pendidikan dan riset Sertifikasi Produk Paten, Lisensi, Lisensi terbuka

Indeks peneliti, jumlah sitasi Perusahaan pemula berbasis teknologi Hak cipta Jabatan pada organisasi/asosiasi

Teknologi tepat guna dengan TKT 1-3 Teknologi tepat guna dengan TKT 4-9 Usaha Baru di masyarakat Rancangan kebijakan/model/sistem Identifikasi potensi ekonomi regional Peningkatan kinerja mitra UMKM

Pemberdayaan masyarakat/komunitas Merk dagang Dampak sosial di masyarakat

Kuliah Kerja Nyata Orientasi Industri Kolaborasi Industri

(Skenario 3)

Komersialisasi (Skenario 6)

Mahasiswa magang Produksi skala laboratorium/prakomersial Purwarupa terlindungi HKI Alumni yang bekerja di industri USO/Perusahaan perintis/start-up Lisensi/lisensi paten Kolaborasi riset akademisi-industri Perusahaan induk dan anak perusahaan Paten Bersama, royalti

Kontrak penelitian industri Kontribusi pendapatan bagi perguruan tinggi

Ekuitas perguruan tinggi pada USO atau perusahaan pemula

Konsultasi industri Akses ke fasilitas mitra kerjasama

Sertifikasi keahlian/profesi Dokumen rencana bisnis Pajak

Sumber: data diolah (2019)

146 Setelah TA selesai disusun maka output TA (e.g. purwa rupa, rekomendasi teknis, rancangan sistem, atau sebuah evaluasi kinerja) dapat langsung diimplementasikan pada subjek penelitian. Hal ini dikarenakan selama penyusunan TA, mahasiswa mendalami permasalahan riil yang terjadi pada subjek penelitian dan berusaha memecahkannya. Dosen dan mahasiswa dimotivasi oleh upaya mengembangkan keilmuan. TA menghasilkan output potensial berupa purwarupa, rekomendasi teknis, atau rancangan sistem dengan TKT=1-3. Contoh output penghiliran hasil riset berupa tugas akhir hasil kolaborasi dosen-mahasiswa disajikan Tabel 5.3.

Tabel 5.3 Contoh Penghiliran TA Hasil Kolaborasi Dosen-Mahasiswa Judul

Satria Putra Kanugrahan Eka Firmansyah, S.T., .Eng., Sumber: http://etd.ugm.ac.id diakses pada 19 Agustus 2018

Ragam SPP selanjutnya adalah umpan balik pada pendidikan, umpan balik berupa pengembangan materi ajar, pemutakhiran referensi, revisi parsial kurikulum, atau perbaikan metode pengajaran. Adapun umpan balik untuk riset antara lain berupa ide riset, pengembangan peta jalan penelitian, pemutakhiran referensi, atau kebutuhan baru untuk bidang kolaborasi pendidikan dan penelitian.

147 B. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat merupakan interaksi antara riset dasar dan orientasi pengabdian kepada masyarakat. Berdasarkan analisis data, ragam penghiliran pemberdayaan masyarakat yang diidentifikasi yaitu teknologi tepat guna atau rancangan kebijakan dengan TKT=1-3, program pemberdayaan masyarakat, dan program kuliah kerja nyata.

Teknologi tepat guna terutama dihasilkan dari pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh sivitas akademika dan program kreativitas mahasiswa (PKM). PkM merupakan mandat akademisi setelah pendidikan dan penelitian. Adapun PKM yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti merupakan program yang bertujuan memfasilitasi potensi mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya di perkuliahan kepada masyarakat luas. PkM dan PKM menghasilkan teknologi tepat guna dengan berbagai TKT sesuai skema. Sebagai contoh, skema PKM Penerapan Teknologi menghasilkan teknologi tepat guna dengan TKT s.d. 3 karena telah diujicobakan pada lingkungan terbatas. Contoh teknologi tepat guna yang dihasilkan oleh PKM disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4 Contoh Teknologi Tepat Guna Mahasiswa PKM

Nama Ketua PKM Teknologi Tepat Guna yang Dihasilkan TKT Riya Febrianti Tele-Fishing: Pemanenan Ikan di Bagan Perahu

Berbasis Internet Of Things

3 Nur Khasan Fatoni Smart Seeder: Mesin Penjatah Benih Sayuran 3 Tegar Nur Hidayat THE PEEX (The Pest Exterminator): Pembasmi

Hama Serangga Nokturnal Tanaman Padi

3 Sanhaji STAR-TREX (Sulphur Transporting Machine) :

Transportasi Pertambangan Belerang Berbasis Generator Brake System

3

148 Ragam penghiliran pemberdayaan masyarakat dipicu oleh adanya masalah yang terjadi di masyarakat yang membutuhkan penyelesaian. Masyarakat yang dimaksud adalah penduduk yang bermukim di suatu wilayah (i.e. perdesaan atau perkotaan). Masyarakat juga dapat berwujud institusi misal: sekolah, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), koperasi, badan usaha milik desa, dan/atau badan usaha berskala besar (i.e. perusahaan atau korporasi).

Pada perguruan tinggi di Indonesia, PkM merupakan dharma ketiga akademisi, setelah pendidikan dan penelitian. PkM pada jenis strategi pemberdayaan masyarakat belum memiliki motif komersial. PkM bertujuan memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat (Buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2018). Sebagai contoh, pengabdi UGM, Denny Irawati, M.Si., Ph.D. berupaya memecahkan masalah kebutuhan pakan sapi oleh peternak di sekitar hutan Wanagama dan Sodong dengan menerapkan teknologi fermentasi untuk pembuatan pakan sapi. Adapun contoh kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang lainnya disajikan pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5 Penghiliran dalam bentuk Teknologi Tepat Guna Dosen

Pengabdi

Institusi Masalah yang terjadi di Masyarakat

Solusi/Teknologi yang Ditawarkan Akademisi Denny Irawati UGM Kebutuhan pakan sapi

kelompok peternak

Penerapan teknologi fermentasi untuk pembuatan pakan sapi Lies Mira Yusiati UGM Masalah global warming

pada peternakan ruminansia

Pemanfaatan teknologi natural methane reducing Prof.Dr.Ing. Mitr

a Djamal

ITB Kebutuhan teknologi tepat guna industri gula rakyat

Modifikasi cerobong asap

Dewi Apri Astuti IPB Rendahnya produktivitas industri pengolahan susu

Teknologi pembibitan kambing perah I Wayan

Darmawan

IPB Kebutuhan bahan baku industri kreatif

Teknologi pengawetan kayu

149 Selain itu, berdasarkan pilihan individu, akademisi dapat bertugas sebagai Dosen Pembimbing Lapangan untuk mahasiswa yang mengikuti KKN30. Skenario 2 menghasilkan teknologi tepat guna yang dikembangkan akademisi bersama mahasiswa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat. Walau menghasilkan produk/teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat namun tingkat kesiapterapan teknologinya masih berada pada tingkat 1-3. Menurut Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, KKN-PPM UGM merupakan kolaborasi mahasiswa multi dan lintas disiplin ilmu yang difungsikan sebagai agen perubahan karena menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dasar pengambilan keputusan.

Pada ilmu sosial, terdapat ragam penghiliran skenario 2 yang berbeda dengan ilmu alam sebagaimana contoh pada Tabel 5.4. Ragam penghiliran ilmu sosial dapat berwujud kegiatan yang dilakukan sivitas akademika antara lain perancangan kebijakan, sistem kerja, atau meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia. Sebagai contoh, kegiatan Gugus Tugas Papua UGM (GTP UGM) di bawah Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM. Papua merupakan kepulauan di bagian timur Indonesia yang mengalami ketertinggalan pembangunan – baik pendidikan maupun infrastruktur – dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya misal Pulau Jawa.

30 Kuliah kerja nyata adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu (UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pelaksanaan kegiatan KKN berlangsung antara satu sampai dua bulan dan bertempat di daerah setingkat desa. Mulai tahun 2012, pemerintah mengadopsi Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang dikembangkan oleh UGM (Buku Panduan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 2012). KKN-PPM memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

150 GTP UGM menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bertujuan utama meningkatkan tata kelola pemerintahan dan kualitas kehidupan bermasyarakat.

Tiga strategi penghiliran Skenario 2 yang dilakukan GTP UGM adalah 1) melakukan pendampingan tata kelola pemerintah, contoh: Pendampingan Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir pada 30 Januari 2018; 2) membantu meningkatkan akuntabilitas, contoh: Pelatihan e-planning dan e-budgeting bagi Pemerintah Kabupaten Mappi pada 15 Januari 2018; dan 3) membangun jejaring, contoh: UGM Menyapa Alumni pada 3 Februari 2018 di Provinsi Papua Barat.

Penghiliran ilmu sosial berimbas pada proses transfer data, informasi, dan pengetahuan dari akademisi kepada masyarakat (i.e. pemerintah daerah). Dalam jangka panjang, penghiliran ilmu sosial berdampak pada meningkatnya akuntabilitas tata kelola pemerintah daerah, dan kualitas hidup masyarakat. Bagi akademisi, penghiliran Skenario 2 berpotensi menghasilkan output berupa publikasi dan/atau hak cipta atas sistem/kebijakan yang memiliki TKT=3.