HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
4.2.3. Produktivitas kacang hijau (V. radiata)
a. Jumlah polong
Berdasarkan hasil uji analisis secara statistik menunjukkan bahwa hasil
terbaik terhadap pembentukan jumlah polong ditunjukkan oleh pemberian
formulasi pengenceran pupuk biofertilizer 1:10 dengan kombinasi dosis dan
intensitas 15.3 yaitu rata-rata sebesar 100.00±6.0 per perlakuan. Hal ini
dikarenakan pada formulasi tersebut memiliki pertumbuhan tinggi batang dan
jumlah daun yang optimal, keadaan tersebut disebabkan kemungkinan oleh
adanya kandungan jumlah koloni mikroba simbiosis atau non-simbiosis pada
tanah yang mampu menyediakan unsur hara seimbang serta zat pengatur tumbuh
bagi tanaman sehingga dapat diserap oleh akar tanaman secara optimal. Seperti
diketahui secara umum daun merupakan organ penghasil fotosintat utama, jumlah
daun yang banyak dan memiliki luas penampang yang lebar akan menyediakan
tempat untuk fotosintesis lebih banyak, sehingga akan diperoleh hasil fotosintat
yang lebih banyak. Jumlah daun yang terbentuk terkait erat dengan tinggi
SKRIPSI APLIKASI FORMULASI PENGENCERAN.... FAWA’IDUL KHOIR
tanaman, karena pertumbuhan daun sangat bergantung pada perolehan sinar
matahari setelah tersedianya unsur hara. Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner
et al (1991), yang menjelaskan bahwa penambahan tinggi tanaman secara langsung dapat meningkatkan jumlah daun yang mengandung pigmen klorofil
yang berfungsi menyerap cahaya untuk digunakan dalam proses fotosintesis untuk
menghasilkan karbohidrat (glukosa) dan oksigen.
Pada fase pertumbuhan vegetatif unsur hara yang diserap oleh akar
tanaman dan hasil fotosintat dari proses fotosintesis awalnya akan tertimbun pada
bagian batang dan daun yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan utama
pembentukan polong setelah terbentuknya bunga pada tanaman leguminoseae
(Adisarwanto, 2003). Karbohidrat digunakan untuk membentuk senyawa-senyawa
lain yang dibutuhkan dalam pembentukan struktur sel tanaman dan untuk
mendukung aktivitas metabolisme lain atau diakumulasikan dalam sel organ
tertentu sehingga proses pembentukan polong semakin cepat dan menghasilkan
polong yang banyak (Sitompul dan bambang, 1995). Akibatnya polong yang
terbentuk pada formulasi 15.3 menghasilkan jumlah polong yang terbanyak jika
dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh yang lebih baik dibanding
penelitian sebelumnya oleh Chusnia, (2012) yang mengemukakan bahwa
pemberian pupuk biofertilizer dengan dosis dan frekuensi 15.3 mampu
meningkatkan pembentukan jumlah polong tanaman kacang hijau dengan rata-rata
sebesar 10,00±7,94 per tanaman pada media tanam polybag. Berdasarkan hasil uji
beda menunjukkan bahwa pengaruh pemberian formulasi pengenceran pupuk
SKRIPSI APLIKASI FORMULASI PENGENCERAN.... FAWA’IDUL KHOIR biofertilizer 1:10 dengan kombinasi dosis dan intensitas 15.3 menghasilkan hasil jumlah polong yang berbeda nyata terhadap perlakuan yang lain.
Pada perlakuan tanpa pemupukan menunjukkan hasil jumlah polong
terendah dengan rata-rata sebesar 41.00±4.00 per perlakuan. Hal ini dikarenakan
pada formulasi tersebut memiliki pertumbuhan vegetatif yang tidak optimal
sehingga proses kemunculan bunga terhambat dan berdampak negatif pada
pembentukan jumlah polong kacang hijau.
b. Berat polong
Berdasarkan hasil uji statistik pada parameter berat polong menunjukkan
bahwa hasil berat polong terbaik ditunjukkan oleh pemberian formulasi
pengenceran pupuk biofertilizer 1:10 dengan kombinasi dosis dan intensitas 15.3
yaitu rata-rata sebesar 89.26±7.55 g/perlakuan. Hal ini dikarenakan kemungkinan
pada awal pembentukan biji dalam polong asimilat yang disimpan di dalam kulit
polong mampu disalurkan secara optimal melalui unting pembuluh yang
bercabang dari jaringan pembuluh yang merentang pada kulit polong dan
kemudian lewat melampaui tali pusar ke integument yang digunakan sebagai
bahan utama dalam proses pembentukan biji yang selanjutnya akan menghasilkan
berat polong lebih baik (mugnisyah dkk, 1990). Di dukung oleh Ma’rufah, (2008)
menyatakan bahwa pada tanaman legum, kebanyakan tidak mampu untuk
memobilisasi hasil asimilat (unsur hara dan fotosintat) yang disimpan sebelum
pembentukan polong, akibatknya pembentukan biji sangat bergantung pada
asimilat yang dibentuk selama pembentukan polong tersebut. Sehingga, semakin
tinggi serapan unsur hara dan simpanan hasil fotosintat pada waktu pertumbuhan
SKRIPSI APLIKASI FORMULASI PENGENCERAN.... FAWA’IDUL KHOIR
vegetatif maka semakin banyak pula asimilat yang akan disimpan pada waktu
pembentukan polong yang nantinya akan mempengaruhi kualitas biji yang
dihasilkan (Syarif, 1993). Menurut Rahmianna dan Bell (1998), menjelaskan
bahwa hasil yang tinggi pada berat polong dipengaruhi oleh persentase biji bernas,
rendahnya persentase biji muda, dan jumlah polong harnpa serta rata-rata berat
satu biji.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh yang lebih baik dibanding
penelitian sebelumnya oleh Chusnia, (2012) yang mengemukakan bahwa
pemberian pupuk biofertilizer dengan dosis dan frekuensi 15.3 mampu
meningkatkan pembentukan berat polong tanaman kacang hijau dengan rata-rata
sebesar 0,82±0,05 g/tanaman pada media tanam polybag. Berdasarkan hasil uji
beda menunjukkan bahwa pengaruh pemberian formulasi pengenceran pupuk
biofertilizer 1:10 dengan kombinasi dosis dan intensitas 15.3 menghasilkan hasil berat polong yang tidak berbeda nyata terhadap perlakuan formulasi 15.2, dan K+.
Sedangkan pada perlakuan tanpa pemupukan menunjukkan hasil berat polong
terendah dengan rata-rata sebesar 39.33±2.54 g/perlakuan. Hal ini dikarenakan
kurangnya unsur hara dan hasil asimilat yang tersimpan pada kulit polong
sehingga menghasilkan biji yang berkualitas tidak baik, sehingga menyebabkan
berat polong ringan.
c. Berat biji
Berdasarkan hasil uji statistik pada parameter berat biji menunjukkan
bahwa hasil berat biji terbaik ditunjukkan oleh pemberian formulasi pengenceran
pupuk biofertilizer 1:10 dengan kombinasi dosis dan intensitas 15.3 yaitu rata-rata
SKRIPSI APLIKASI FORMULASI PENGENCERAN.... FAWA’IDUL KHOIR
sebesar 67.57±8.17 g/perlakuan. Hal ini dikarenakan kemungkinan pada awal
proses pengisian biji sampai biji tersebut masak, tanaman mampu
mentranslokasikan berbagai senyawa (asimilat unsur hara dan hasil fotosintat)
secara optimal agar biji mengandung cadangan makanan yang cukup, sehingga
memiliki tekstur yang besar dan bulat. Untuk perkembangannya, biji
menggunakan bahan-bahan terutama karbohidrat hasil fotosintat dari proses
fotosintesis dalam bentuk derivat sukrosa dan protein yang berasal dari sintesis
unsur nitrogen dalam tanaman, menurut (Mimber, 1990 dalam Muzammil, 2004)
mengemukakan bahwa unsur nitrogen merupakan komponen essensial dalam
asam amino yang menjadi dasar pembentukan protein, juga dalam basa nitrogen
yang terdapat dalam asam nukleat dan senyawa yang berkerabat sepert ATP
(Tjitrosomo dkk., 1993) yang akhirnya menambah berat kering biji, sehingga
mampu memproduksi biji dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh yang lebih baik dibanding
penelitian sebelumnya oleh Chusnia, (2012) yang mengemukakan bahwa
pemberian pupuk biofertilizer dengan dosis dan frekuensi 15.3 mampu
meningkatkan pembentukan berat biji tanaman kacang hijau dengan rata-rata
sebesar 5,41±0,41 g/tanaman pada media tanam polybag. Berdasarkan hasil uji
beda menunjukkan bahwa pengaruh pemberian formulasi pengenceran pupuk
biofertilizer 1:10 dengan kombinasi dosis dan intensitas 15.3 menghasilkan hasil berat biji yang berbeda nyata terhadap hasil perlakuan yang lain. Sedangkan pada
perlakuan tanpa pemupukan menunjukkan hasil berat polong terendah dengan
rata-rata sebesar 27.13±2.17 g/perlakuan. Hal ini dikarenakan kurangnya unsur
SKRIPSI APLIKASI FORMULASI PENGENCERAN.... FAWA’IDUL KHOIR
hara yang diserap dan disimpan oleh tanaman, sedangkan unsur hara sangat
berpengaruh terhadap pembentukan biji, akibatnya tanaman menghasilkan biji
yang berkuantitas dan berkualitas tidak baik.
Dari uraian di atas menjelaskan bahwa pemberian konsorsia mikroba
inokulan pada formulasi pengenceran pupuk biofertilizer 1:10 dengan kombinasi
dosis dan intensitas 15.3 per tanaman merupakan kombinasi dosis dan intensitas
optimal dalam meningkatkan hasil produktivitas tanaman, hal tersebut
dikarenakan pada formulasi 15.3 mengandung sejumlah konsorsia mikroba yang
lengkap dan efektif dalam menyediakan unsur hara yang diperlukan bagi tanaman.
Selain itu, mikroba inokulasi yang terkandung dalam formulasi tersebut mampu
menghasilkan suatu senyawa zat pengatur tumbuh dan senyawa antibiotik yang
dapat melindungi tanaman dari hama penyakit sehingga hasil produksi tanaman
kacang hijau menjadi optimal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Simanungkalit
dan Saraswati, (2007) bahwa mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk
hayati dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara yang tersedia bagi tanaman.
Disamping itu, konsorsia mikroba dalam pupuk hayati mampu menghasilkan
fitohormon dan siderofor yang secara langsung dapat meningkatkan pertumbuhan
tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Silahoi (2008) yang menjelaskan
bahwa ketersediaan unsur hara yang cukup berperan dalam pertumbuhan tanaman
dalam fase vegetatif menghasilkan hasil produksi yang tinggi pada fase generatif.
Aplikasi pemberian formulasi pengenceran pupuk biofertilizer 1:10
dengan kombinasi dosis dan intensitas 15.3 pada pertanian organik efektif untuk
meningkatkan hasil panen, selain itu juga lebih hemat dalam pemakaian serta
SKRIPSI APLIKASI FORMULASI PENGENCERAN.... FAWA’IDUL KHOIR
memiliki keuntungan tertentu yang berdampak positif pada tanah misalnya dapat
memperbaiki kualitas tanah baik sifat fisik, sifat biologi dan sifat kimia tanah. Hal
ini sesuai dengan Karama et al. (1990) dalam Mukhlis, (2014) mengemukakan
bahwa bahan organik memiliki fungsi-fungsi penting dalam tanah yaitu fungsi
fisika tanah seperti memperbaiki agregasi dan permeabilitas tanah, sifat kimia
dapat meningkatkan tukar kation tanah, meningkatkan daya sanggah tanah dan
meningkatkan ketersediaan beberapa unsur hara, serta efesiensi penyerapan unsur
fosfor, dan fungsi biologi sebagai sumber energi utama bagi aktifitas jasad renik
tanah. Maka, formulasi ini dapat dijadikan alternatif pengganti pupuk kimia di
bidang pertanian, di dukung oleh Stevenson (1982) bahwa di masa sekarang perlu
adanya perbaikan lingkungan salah satunya dengan mengaplikasikan bakteri
penambat nitrogen bebas yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk
kimia.
4.2.4 Efektifitas formulasi terhadap produktivitas kacang hijau (V. radaita