RIWAYAT HIDUP
2.2 Produktivitas Primer dan Klorofil-a
Plankton adalah organisme yang hidup melayang ata u mengambang di perairan. Plankton dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan cara makan, keberadaan/dominasi/sebaran, asal- usul, ukuran, bentuk dan koloni sel, serta alat penangkapan. Pengelompokan plankton yang paling umum didasarkan pada cara makannya. Berdasarkan cara makannya, plankton dapat dikelompokkan ke dalam bakterioplankton, fitoplankton, dan zooplankton (Wardhana 2003).
Menurut Wardhana (2003) fitoplankton merupakan tumbuhan planktonik berklorofil yang umumnya terdiri atas Bacillariphyceae, Clorophyceae, Dinophyceae dan Haptophyceae. Selain berklorofil, fitoplankton juga memiliki bahan makanan cadangan yang umumnya berupa pati atau lemak, dinding sel yang tersusun dari selulosa, serta bentuk flagel yang beragam. Zooplankton merupakan kelompok planter yang mempunyai cara makan holozoik.
8 Menurut Odum (1971) fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopis yang hidupnya melayang dalam air dan pergerakannya pasif tergantung pada gerakan air. Fitoplankton memiliki berbagai fungsi yaitu:
1) Sebagai pemosok oksigen utama bagi organisme akuatik; 2) Mengubah zat anorganik menjadi zat organik ;
3) Sebagai sumber makanan bagi zooplankton; 4) Menyerap gas- gas beracun seperti NH3 dan H2S; 5) Sebagai indikator tingkat kesuburan perairan;
6) Sebagai indikator pencemaran, contohnya Skeletonema sp akan melimpah di perairan dengan kadar nutrisi tinggi; dan
7) Sebagai penyedia zat antibiotik seperti penisilin dan streptomisin.
Sebaran klorofil-a di laut barvariasi secara geografis maupun berdasarkan kedalaman perairan. Variasi tersebut diakibatkan oleh perbedaan intensitas cahaya matahari, dan kosentrasi nutrien yang terdapat di dalam suatu perairan. Fujita (1970) diacu dalam Hatta (2001) mengklasifikasikan alga laut berdasarkan efisiensi fotosintesa pigmennya yaitu tipe klorofil-a dan b untuk alga hijau dan euglenoid; tipe klorofil-a, c dan caratenoid untuk diatom, dinoflagellata dan alga coklat; serta tipe klorofil-a dan ficobilin untuk alga merah dan alga hijau biru. Levinto (1982) diacu dalam Hatta (2001) menyatakan bahwa fitoplankton berfotosintesis menggunakan klorofil-a, c dan pigmen tambahan seperti protein fucoxanthin dan peridinin yang secara lengkap menggunkan semua cahaya da lam spectrum tampak. Sebaran klorofil-a di laut lebih tinggi konsentrasinya pada perairan pesisir pantai dan semakin rendah pada lepas pantai. Namun beberapa daerah perairan lepas pantai dijumpai konsentrasi klorofl-a yang cukup tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang dihasilkan melalui proses fisik massa air dimana massa air dalam mengangkat nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan (Valiela 1984).
Tingkat kesuburan suatu ekosistem perairan dapat digambarkan dengan produktivitas primer. Indikator variabel produktifitas primer perairan adalah jumlah kuantitatif fotosintesis seperti kandungan oksigen (DO), jumlah dan kelimpahan komponen produsen. Kelimpahan komponen produsen akan berpengaruh terhadap keanekaragaman produktivitas perikanan.
9 Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari senyawa-senyawa anorganik. Biasanya produktivitas primer dianggap sebagai pendanaan fotosintesis. Jumlah seluruh bahan organik yang terbentuk dalam proses produktivitas dinamakan produksi primer kotor atau produksi total. Jumlah sisa produksi primer kotor setelah sebagian digunakan tumbuhan untuk respirasi (Nybakken 1992). Produktivitas primer dari suatu ekosistem, komunitas, atau berbagai unit kehidupan yang lain didefinisikan sebagai kecepatan daripada penyimpanan energi radiasi matahari melalui proses fotosintesis dan kemosintesis dari organisme. Lebih lanjut dijelaskan bahwa produktivitas primer dari tumbuhan hijau adalah sebagai jumla h energi yang disimpan per unit waktu per area (Odum 1971).
Nontji (1993) mengatakan bahwa rata-rata konsentrasi klorofil-a di perairan Indonesia kira-kira 0,19 mg/m3 dan 0,16 mg/m3 selama musim barat sedangkan 0,24 mg/m3 selama musim timur. Faktor yang dapat meningkatkan konsentrasi klorofil-a di lautan adalah adanya peristiwa upwelling yang salah satu pemicunya adalah sistem angin muson. Hal ini berkaitan dengan daerah asal dimana massa air diperoleh. Rendahnya kosentrasi klorofil-a tersebut disebabkan konsentrasi nutrien lebih rendah akibat upwelling tidak terjadi dalam skala besar. Fitoplankton yang subur umunya terdapat diperairan sekitar muara sungai atau perairan lepas pantai yang mengalami upwelling. Kedua lokasi tersebut terjadi proses penyuburan karena masuknya zat hara kedalam lingkungan. Zat- zat hara yang ada di laut berasal dari daratan yang dialirkan oleh sungai. Pada tipe rantai makanan, produsen utama diawali dengan tumbuhan hijau yang ada di laut, selanjutnya dimakan oleh konsumen pertama hingga konsumen tertinggi.
Sumber: Nybakken 1992
10 Produktivitas primer merupakan mata rantai makanan yang memegang peranan penting bagi sumberdaya perairan melalui produktivitas primer, energi akan mengalir dalam ekosistem perairan dimulai dengan fiksasi oleh tumbuhan hijau melalui proses fotosistesis. Peningkatan suplai zat hara dan tersedianya zat hara khususnya nitrogen dan fosfor merupakan faktor kimia perairan yang dapat mempengaruhi produktivitas primer disamping faktor fisik cahaya matahari dan temperatur. Oksigen merupakan komponen penting yang dibutuhkan organisme perairan yang berfungsi sebagai regulator pada proses metabolisme tanaman dan hewan air (Odum 1971). Fotosintesis adalah suatu proses permulaan yang penting dimana organisme dapat membantu atau mensintesa glukosa (karbohidrat) dari ikatan- ikatan anorganik karbondioksida (CO2) dan air (HO2). Hal ini menyangkut serangkaian reaksi- reaksi yang dapat disingkat sebagai reaksi berikut ini (Nybakken 1992):
Karbondioksida + Air Glukosa + Oksigen 6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Hubungan makan- memakan sedemikian rupa sehingga setiap pemangsa memangsa beberapa jenis makanan dan setiap jenis makan dimakan oleh banyak jenis hewan, maka demikian tidak dapat dinyatakan sebagai deretan-deretan mata rantai yang terletak bersebelahan. Jika digambarkan maka jumlah seluruh rantai makanan dalam suatu masyarakat ini dimanakan jejaring makan (food web) (Romimohtarto 2005).
2.3 Pola Musim Penangkapan
Pola musim penangkapan digunakan untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan penangkapan. Menurut Dajan (1985) pola musim penangkapan dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan metode moving average (rata- rata bergerak). Perhitungan pola musim penangkapan menggunakan data hasil tangkapan dan upaya penangkapan bulanan.
Pengukuran variasi musim dilakukan dengan cara mengisolasi trend, variasi, cycle dan residu dari deret berkala asal. Variasi musim adalah fluktuasi- fluktuasi sekitar trend yang berulang secara teratur setiap tahun, residu
Matahari Nutrien
11 merupakan fluktuasi yang disebabkan oleh faktor-faktor random, trend menggambarkan gerakan deret berkala secara rata-rata dan variasi cycle adalah variasi deret berkala yang meliputi priode setahun lebih, dimana lama dan amplitude cycle tidak pernah sama. Variasi musim murni diperoleh dengan cara merata-ratakan deret berkala yang bebas dari trend dan cycle (Dajan 1985).
Dajan (1985) mengatakan bahwa keunggulan menggunakan metode rata- rata bergerak yaitu dapat mengisolasi fluktuasi musiman sehingga dapat menentukan saat yang tepat untuk melakukan operasi penangkapan dan dapat menghilangkan trend atau kecenderungan yang bisa dijumpai pada metode deret waktu. Metode ini juga memiliki kerugian yaitu tidak dapat menghitung pola musim penangkapan sampai tahun terakhir data.