2. PROFIL DAERAH
2.2 Profil Daerah Kota Salatiga
Berdasarkan posisi geografisnya, Kota Salatiga dibatasi beberapa desa yang masuk dalam Wilayah Kabupaten Semarang. Batas sebelah utara adalah Kecamatan Pabelan dan Kecamatan Tuntang, sebelah Selatan adalah Kecamatan Getasan dan Kecamatan Tengaran. Sementara batas sebelah barat adalah Kecamatan Tuntang dan Kecamatan Getasan dan sebelah timur adalah Kecamatan Pabelan dan Kecamatan Tengaran
Secara administratif Kota Salatiga terdiri dari empat kecamatan yaitu Kecamatan Sidorejo, Kecamatan Tingkir, Kecamatan Sidomukti dan Kecamatan Argomulyo.
Kecamatan Argomulyo memiliki wilayah terluas yaitu 18,53 km² atau sebesar 32,63 persen dari total wilayah Kota Salatiga. Dengan luas total 56,78 km², Kota Salatiga terdiri dari 6,31 km2 (11,11 persen) lahan sawah; 17,58 km² (30,96 persen) lahan pertanian bukan sawah dan 32,89 km2 (57,93 persen) bukan lahan pertanian.
Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten
552,44 552,44
52,67 72,86
52,67 72,86
2019 2020
2.2.1 Perekonomian dan Sektor Ekonomi Unggulan Kota Salatiga
Perkembangan ekonomi yang ditunjukkan melalui nilai PDRB menunjukkan bahwa dari tahun 2018-2020, sektor industri pengolahan merupakan sektor yang menyumbang PDRB tertinggi dengan rata-rata kontribusi sebesar 31.54%.
Tabel 2.6 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku di Kota Salatiga (miliar rupiah) 2018-2020
2018 2019 2020 Rata-Rata % Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 567,53 599,35 606,14 591,01 4,56
Pertambangan & Penggalian 5,22 5,36 5,44 5,34 0,04
Industri Pengolahan 3.835,46 4.161,27 4.276,68 4.091,14 31,54
Pengadaan Listrik dan Gas 23,31 24,23 24,71 24,08 0,19
Pengadaan air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 8,20 8,67 9,09 8,65 0,07
Konstruksi 1.790,90 1.918,62 1.851,19 1.853,57 14,29
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil, dan Sepeda Motor 1.629,05 1.756,07 1.703,30 1.696,14 13,07 Transportasi dan Pergudangan 363,07 400,61 303,20 355,63 2,74 Penyediaan akomodasi & Makan Minum 920,16 1.001,71 949,27 957,05 7,38
Informasi dan Komunikasi 385,31 428,89 511,23 441,81 3,41
Jasa Keuangan dan Asuransi 440,72 462,86 471,77 458,45 3,53
Real Estate 579,42 609,36 612,78 600,52 4,63
Jasa Perusahaan 154,42 175,63 167,00 165,68 1,28
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
dan Jaminan Sosial Wajib 652,23 689,70 690,22 677,38 5,22
Jasa pendidikan 662,72 718,06 721,23 700,67 5,40
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial 197,62 214,67 239,46 217,25 1,67
Jasa lainnya 123,83 135,22 127,24 128,76 0,99
Sumber: Kota Salatiga Dalam Angka, 2021
Sektor lain yang juga menjadi topangan PDRB Kota Salatiga adalah sektor
5,84% 5,88%
5,22%
2017 2018 2019 2020
-1,68%
Kota Salatiga. Kontributor tertinggi lainnya adalah sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor yang memiliki kontribusi terhadap PDRB sebesar 13,07%.
Sementara itu sektor Pertambangan & Penggalian, sektor Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang serta Jasa lainnya merupakan tiga sektor penyumbang PDRB yang paling rendah bahkan kontribusinya masih dibawah 1%. Kontribusi dari masing-masing sektor tersebut adalah sektor Pertambangan & Penggalian sebesar 0,04%, sektor Pengadaan air Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 0,07% serta Jasa lainnya sebesar 0,99%
Jika dilihat dari laju pertumbuhan PDRB, selama tahun 2017 hingga tahun 2019 laju pertumbuhan PDRB relatif meningkat yaitu sebesar 5.22% pada 2017, 5.84%
pada 2018, dan 5.88% pada 2019. Namun pada tahun 2020 seperti daerah lainya karena adanya pandemi covid 19, PDRB di Kota Salatiga mengalami penurunan hingga negatif 1.68%.
Gambar 2.4 Pertumbuhan Ekonomi Kota Salatiga 2017-2020
Penurunan laju PDRB diatas terutama disebabkan oleh menurunnya secara tajam laju pertumbuhan PDRB untuk sektor transportasi dan pergudangan dimana pada tahun 2018 memiliki laju pertumbuhan PDRB sebesar 6,76% dan pada tahun 2019 sebesar 8,26% namun pada tahun 2020 turun menjadi negatif 26,86%.
Tabel 2.7. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku di Kota Salatiga 2018- 2020
2018 2019 2020
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 4,55 3,18 (0,59)
Pertambangan & Penggalian (0,17) 1,36 (1,06)
Industri Pengolahan 4,72 6,58 0,04
Pengadaan Listrik dan Gas 3,91 3,86 2,92
Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 5,44 3,80 2,14
Konstruksi 6,14 4,07 (3,85)
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil, dan Sepeda Motor 5,33 5,54 (3,76)
Transportasi dan Pergudangan 6,76 8,26 (26,86)
Penyediaan akomodasi & Makan Minum 7,25 7,50 (5,85)
Informasi dan Komunikasi 11,77 10,19 19,02
Jasa Keuangan dan Asuransi 3,76 3,42 1,84
Real Estate 5,35 3,74 (0,13)
Jasa Perusahaan 10,57 10,17 (6,85)
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 5,21 4,55 (1,27)
Jasa pendidikan 6,87 6,58 (0,18)
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial 8,15 6,84 8,92
Jasa lainnya 9,21 8,42 (7,09)
Sumber: Kota Salatiga Dalam Angka, 2021
Selain sektor transportasi dan pergudangan, sektor jasa lainnya dan jasa perusahaan juga mengalami penurunan laju PDRB yang cukup signifikan. Sektor jasa lainnya pada tahun 2018 memiliki laju pertumbuhan PDRB sebesar 9.21%
dan pada tahun 2019 sebesar 8,42% namun pada tahun 2020 turun menjadi negatif 7,09%. Sementara sektor jasa perusahaan tahun 2018 memiliki laju pertumbuhan PDRB sebesar 10,57% dan pada tahun 2019 sebesar 10,17%
namun pada tahun 2020 turun menjadi negatif 6,85%.
Sektor lainnya yang mengalami laju pertumbuhan negatif di tahun 2020 adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Pertambangan & Penggalian; Konstruksi;
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor; Penyediaan akomodasi & Makan Minum; Real Estate; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib serta Jasa pendidikan
Meskipun sebagian sektor mengalami pertumbuhan yang negatif, namun sektor Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik dan Gas; Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan Asuransi serta Jasa kesehatan dan kegiatan sosial masih memiliki pertumbuhan yang positif walaupun masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Industri Pengolahan pada tahun 2020 memiliki pertumbuhan sebesar 0,04%, Pengadaan Listrik dan Gas memiliki pertumbuhan sebesar 2,92%; Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang memiliki pertumbuhan sebesar 2,14%, Informasi dan Komunikasi memiliki pertumbuhan sebesar 19,02%; Jasa Keuangan dan Asuransi memiliki pertumbuhan sebesar 1,84% serta Jasa kesehatan dan kegiatan sosial memiliki pertumbuhan sebesar 8,92%
2.2.2 Kependudukan Kota Salatiga
Penduduk Kota Salatiga pada tahun 2016 berjumlah 186.316 jiwa, tahun 2017 berjumlah 188.928 jiwa, pada tahun 2018 berjumlah 191.571 jiwa pada tahun 2019 menjadi 194.084 jiwa, namun dan terjadi penurunan jumlah penduduk pada tahun 2020 menjadi 192.322 jiwa.
Sumber: Kota Dalam Angka, 2017-2021
Gambar 2.5 Jumah Penduduk Kota Salatiga 2016-2020
Jika dilihat dari data per kecamatan, Kecamatan Sidorejo merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling banyak yaitu 52.819 jiwa. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak kedua adalah Kecamatan Argomulyo dengan jumlah penduduk 49.295 jiwa dan jumlah penduduk terbanyak ketiga adalah Kecamatan Tingkir dengan jumlah penduduk sebanyak 45.971 jiwa. Kecamatan Sidomukti merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling sedikit yaitu sebanyak 44.237 jiwa
Dari sisi kepadatan penduduk per km2, Kecamatan Tingkir merupakan kecamatan yang memiliki kepadatan paling tinggi yaitu 4.357 per km2. Selanjutnya, Kecamatan Sidomukti merupakan kecamatan terpadat kedua setelah Kecamatan Tingkir dengan kepadatan 3.860 per km2. Sedangkan kecamatan terpadat selanjutnya adalah Kecamatan Sidorejo dengan kepadatan 3.252 per km2. Kecamatan Argomulyo meskipun merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak kedua, namun memiliki kepadatan yang paling rendah
196.000
Tabel 2.8 Jumlah Penduduk, Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Per Kecamatan di Kota Salatiga Tahun 2020
Kecamatan
Sumber: Kota Salatiga Dalam Angka. 2021
Jika dilihat dari laju pertumbuhan penduduk, Kecamatan Argomulyo memiliki laju pertumbuhan penduduk selama 2010-2020 yang paling tinggi yaitu sebesar 2,02% disusul oleh Kecamatan Tingkir dengan laju 1.39% dan Kecamatan Sidomukti dengan laju pertumbuhan sebesar 1.29%. Kecamatan Sidorejo meskipun merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak namun memiliki laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu sebesar 0,23%.
Berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan oleh penduduk Kota Salatiga yang berusia 15 tahun keatas, menunjukkan bahwa sebagian besar dari penduduk yang termasuk dalam kategori angkatan kerja telah bekerja yaitu sebanyak 102.053 jiwa dan yang merupakan pengangguran terbuka sebanyak 8.203 jiwa.
Jika dipilah berdasarkan jenis kelamin, 59.500 penduduk angkatan kerja berjenis kelamin laki-laki dan 50.756 berjenis kelamin perempuan. Angkatan kerja berjenis kelamin laki-laki ini terdiri dari 55.101 telah bekerja dan 4.399 merupakan pengangguran terbuka. Sementara, angkatan kerja berjenis kelamin perempuan sebanyak 46.952 telah bekerja dan 3.804 merupakan pengangguran terbuka.
Tabel 2.9 Penduduk Kota Salatiga Berdasarkan Kegiatan Utama dan Jenis Kelamin Tahun 2020
Kegiatan Utama Laki laki Perempuan Total Angkatan Kerja 59.500 50.756 110.256
Bekerja 55.101 46.952 102.053
Pengangguran Terbuka 4.399 3.804 8.203
Bukan Angkatan Kerja 16.624 30.120 46.744
Sekolah 7.745 7.111 14.856
Mengurus Rumah Tangga 4.284 20.199 24.483
Lainnya 4.595 2.810 7.405
Total 76.124 80.876 157.000
Sumber: Kota Salatiga Dalam Angka. 2021
Berdasarkan kelompok bukan angkatan kerja, sebagian besar penduduk bukan angkatan kerja memiliki aktivitas utama mengurus rumah tangga yaitu sebanyak 24.438 penduduk. Kategori bukan angkatan kerja yang sekolah sebanyak 14.856 penduduk dan yang termasuk dalam kategori lainnya sebanyak 7.405 penduduk.
Penduduk bukan angkatan kerja sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu 30.120 penduduk dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16.624 penduduk. Penduduk bukan angkatan kerja yang berjenis kelamin laki-laki, yang termasuk dalam kategori sekolah sebanyak 7.745 penduduk, mengurus rumah tangga sebanyak 4.284 penduduk dan kategori lainnya sebanyak 4.595 penduduk.
Sementara, penduduk bukan angkatan kerja yang berjenis kelamin perempuan, yang termasuk dalam kategori sekolah sebanyak 7.111 penduduk, mengurus rumah tangga sebanyak 20.199 penduduk dan kategori lainnya sebanyak 2.810 penduduk.
2.2.3 Dukungan Infrastruktur Kota Salatiga
Kondisi dari infrastruktur di Kota Salatiga dari tahun 2016-2019 baik jaringan drainase, jaringan irigasi maupun jalan yang berada dalam kondisi baik mengalami peningkatan dari tahun ketahun.
Tabel 2.10 Kondisi Infrastruktur Kota Salatiga 2016-2020
Indikator Sat 2016 2017 2018 2019 Persentase Jaringan Drainase Kondisi Baik % 90,87 75 98,43 97,72 Persentase Jaringan Irigasi Dalam Kondisi Baik % 92 95 86,2 90,06 Persentase Jalan Dalam Kondisi Baik % 87,85 84,64 90,96 90,14
Sumber: RKPD Kota Salatiga, 2021
Kondisi jaringan drainase yang dalam kategori baik pada tahun 2016 sebanyak 90,87% namun pada tahun 2017 menurun menjadi 75%. Pada tahun 2018 terjadi kenaikan yang cukup signifikan sebesar 98,43% namun kembali mengalami penurunan menjadi 97,72 pada tahun 2019. Sementara, kondisi jaringan irigasi yang dalam kondisi baik pada tahun 2016 sebanyak 92% dan meningkat menjadi 95% pada tahun 2017 namun pada tahun 2018 meningkat menjadi 86,2%. Pada tahun 2019, jaringan irigasi yang dalam kondisi baik meningkat menjadi 90,06%.
Kondisi jalan yang masuk dalam baik pada tahun 2016 sebanyak 87,85%, tahun 2017 terjadi penurunan menjadi 84,64% dan meningkat menjadi 90,96% pada tahun 2018. Pada tahun 2019 terjadi penurunan kondisi jalan yang masuk dalam baik menjadi sebanyak 90,14%.
Dalam rangka menunjang seluruh aktivitas masyarakat, perbaikan infrastruktur jalan senantiasa dilakukan oleh pemerintah Kota Salatiga. Dari sejumlah ruas jalan yang kurang lebih sepanjang 337 km, sebagian besar memiliki kondisi baik.
Tabel 2.11 Kondisi Jalan di Kota Salatiga 2017-2019 Kondisi Panjang Jalan
2017 2018 2019
Baik 287,992 292,477 242,15
Sedang 16,98 12,636 50,04
Rusak Ringan 29,919 30,77 43,32
Rusak Berat 2,58 1,588 1,94
Jumlah 337,471 337,471 337,45
Sumber: RKPD Kota Salatiga, 2021
Pada tahun 2017, dari sepanjang 337,471 km ruas jalan di Salatiga sepanjang 287,992 km berada dalam kondisi baik, 16,98 km berada dalam kondisi sedang, 29,919 km berada dalam kondisi rusak ringan dan 2,58 berada dalam kondisi rusak berat. Kondisi yang hampir sama terjadi pada tahun 2018, dari sepanjang 337,471 km ruas jalan di Salatiga sepanjang 292,477 km berada dalam kondisi baik, 12,636 km berada dalam kondisi sedang, 30,77 km berada dalam kondisi rusak ringan dan 1,588 berada dalam kondisi rusak berat. Kondisi jalan pada tahun 2019 adalah 242,15 km berada dalam kondisi baik, 50,04 km berada dalam kondisi sedang, 43,32 km berada dalam kondisi rusak ringan dan 1,94 berada dalam kondisi rusak berat.
Selain memiliki jalan kota, di Kota Salatiga juga dilewati jalan nasional sepanjang 13,855 km pada tahun 2017-2019
Gambar 2.6 Panjang Ruas Jalan Nasional dan Jalan Kota di Kota Salatiga 2017-2019
Jalan Nasional Jalan Kota 400
350 337,471 337,471 337,471
300 250 200 150 100
50 13,855 13,855 13,855
0
2017 2018 2019
Pariwisata di Indonesia memiliki banyak keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Menurut Kementerian Pariwisata (2018) keunggulan kompetitif dan komparatif tersebut ditunjukan antara lain (1) kemampuannya sebagai penghasil devisa terbesar melampaui sektor Migas, Batubara dan Minyak Kelapa Sawit (2) menjadi pariwisata terbaik di kawasan regional bahkan melampaui ASEAN (3) adanya country branding yaitu Wonderful Indonesia serta (4) melimpahnya alokasi sumber daya
Meskipun memiliki keunggulan tersebut diatas, pariwisata di Indonesia dihadapkan permasalahan dan tantangan yaitu; (1) kesiapan masyarakat di sekitar destinasi pariwisata yang masih belum optimal (2) Perkembangan dan kesiapan destinasi pariwisata yang masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Bali (3) Unsur-unsur SAPTA PESONA Pariwisata (aman, tertib, bersih, nyaman, indah, ramah dan kenangan) belum sepenuhnya terwujud di destinasi-destinasi pariwisata (4) Sifat atau ego sektoral (5) masih minimnya kolaborasi dan kerjasama antara objek wisata yang berbatasan. Permasalahan tersebut menuntut langkah dan upaya yang terpadu yang salah satunya diwujudkan dalam sebuah kebijakan pengembangan pariwisata.
3.1 DUKUNGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH PUSAT
Dukungan dari pemerintah pusat terwujud melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Rencana Induk Pembangunan