Pendahuluan
Kepulauan Sumatera merupakan pulau dengan laju deforestasi paling tinggi di Indonesia. Deforestasi diperkirakan sebesar 6.5 juta ha di Sumatera pada kurun waktu 1985 hingga 1997 (FWI 2002). Sumatera telah kehilangan hutan seluas 7.5 juta ha periode 1990 hingga 2010 (Margono et al. 2012). Deforestasi di Sumatera periode 2000 hingga 2006 sekitar 0.292 juta ha per tahun. Akan tetapi, deforestasi ini menurun drastis menjadi sekitar 0.073 juta ha per tahun pada periode 2006 hingga 2012 (Sulistiyono et al. 2015a).
Kehilangan hutan tertinggi pada tingkat provinsi terjadi di Provinsi Riau yakni sebesar 42% tahun 1990 hingga 2010. Secara keseluruhan, hutan di Sumatera sudah musnah sekitar 70% dalam periode 1990 hingga 2010 (Margono et al. 2012). Indikator laju dan luas area deforestasi telah banyak digunakan untuk pemantauan deforestasi (FWI 2002; FWI 2011; Ferraz et al. 2009; Margono et al. 2012; Sulistiyono et al. 2015a). Nilai laju deforestasi tidak mampu mengambarkan secara detail proses terjadinya deforestasi. Bahkan, dalam keadaan tertentu, nilai laju deforestasi berpotensi memberikan informasi yang keliru. Diantaranya adalah nilai laju yang rendah tidak semua berarti bahwa kondisi hutannya baik. Laju yang rendah dapat disebabkan oleh rendahnya luas hutan awal yang tersisa atau kondisi hutan yang telah habis pada peristiwa deforestasi sebelumnya.
Perbaikan informasi berdasarkan perhitungan laju deforestasi telah dilakukan melalui beberapa penelitian (Hietel et al. 2004 dan Ferraz et al. 2009). Penelitian tersebut membangun profil dari variabel kategori penggunaan lahan (Hietel et al. 2004) dan menggunakan proporsi laju dan matrik kelengkungan deforestasi yang disebut profil kelengkungan deforestasi (Ferraz et al. 2009). Penelitian tersebut masih fokus pada proporsi laju sebagai indikator utama. Beberapa penelitian tersebut belum menilai peran keberadaan luas hutan awal untuk mendeskripsikan proses kejadian deforestasi dan belum mengkaji peran luas hutan awal terhadap perbedaan arti nilai laju deforestasi.
Penelitian analisis profil deforestasi ini dilakukan untuk menemukan formulasi baru penilaian deforestasi. Profil deforestasi memperhatikan pentingnya keberadaan luas hutan pada awal pengamatan. Disamping itu, penelitian ini menguraikan arti nilai laju deforestasi. Luas hutan awal dan besarnya laju deforestasi menentukan dan menggambarkan proses terjadinya deforestasi pada periode tertentu. Penelitian profil deforestasi ini dilakukan untuk menemukan teknik penilaian lain untuk melengkapi penilaian deforestasi dalam suatu periode pengamatan.
Profil deforestasi didefinisikan sebagai informasi kejadian deforestasi. Profil deforestasi merupakan kombinasi antara luas hutan awal (small/medium/large), nilai deforestasi yang tinggi pada periode awal atau akhir pengamatan (early/middle/lately deforestation), laju deforestasi tinggi pada periode awal atau akhir (low/moderate/high deforestation). Selain itu, profil kombinasi lainnya adalah daerah tanpa deforestasi dan daerah tanpa hutan. Unit penelitian adalah seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Sumatera. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi dan memformulasikan profil deforestasi berbasis kabupaten sebagai alternatif penilaian deforestasi.
Metode Penelitian Pengolahan Data
Penelitian bagian ini menggunakan data tutupan lahan Kementerian Kehutanan RI tahun 1990, 1996, 2000, 2006, 2011 dan 2013. Penggunaan data perubahan lahan secara historis dapat meningkatkan ketepatan klasifikasi citra (Perz et al. 2003). Peta administrasi menggunakan data yang dikeluarkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 2010.
Pengolahan data dilakukan dengan mengoverlay peta tutupan lahan dengan peta administrasi Sumatera. Perubahan tutupan lahan hasil overlay dilakukan pada beberapa periode. Perubahan tutupan lahan dilihat berdasarkan hasil klasifikasi tutupan lahan Kementerian Kehutanan yang terdiri dari 23 kelas tutupan (PPIK 2008). Enam kelas tutupan yakni hutan primer, hutan sekunder, hutan rawa primer, hutan rawa sekunder, hutan mangrove primer dan hutan mangrove sekunder digabung menjadi kelas tutupan hutan. Hutan tanaman dibiarkan dalam kelompok sendiri karena diasumsikan tidak mengalami perubahan tutupan secara permanen. Tutupan lain (17 tutupan lahan) digabung menjadi kelas tutupan bukan hutan (Panta et al. 2008 dan Mon et al. 2012). Data tutupan lahan juga diolah untuk menghasilkan data luas hutan awal tiap kabupaten tahun 1990, 2000 dan 2013.
Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan hasil overlay antara perubahan tutupan lahan dengan administrasi kabupaten di Sumatera pada beberapa periode. Analisis data pertama yang dilakukan adalah analisis deforestasi. Deforestasi diartikan sebagai perubahan tutupan lahan dari tutupan hutan menjadi tutupan bukan hutan secara permanen. Deforestasi yang terjadi dibagi menjadi beberapa periode yaitu periode 1990–1996, 1996–2000, 2000–2006, 2006–2011, 2011–2013 dan 1990–2013.
Pemantauan deforestasi membutuhkan kalkulasi laju deforestasi (Ferraz et al. 2009). Analisis laju deforestasi dilakukan untuk mengetahui laju dan luas deforestasi pada masing-masing kabupaten di Kepulauan Sumatera. Analisis laju deforestasi dilakukan pada semua periode pengamatan. Deforestasi tahunan dihitung dengan persamaan laju perubahan penutupan hutan tahunan yang diturunkan dari hukum bunga berganda (WRI 1995; FAO 1995; Menon dan Bawa 1997; Ramesh et al. 1997; Prasad 1998; Puyravaud 2003; Ferraz et al. 2009). Laju deforestasi tahunan (r) direkomendasikan karena lebih intuitif dibanding formula yang digunakan oleh FAO (q) (Puyravaud 2003). Nilai r selalu lebih tinggi dibanding q. Laju perubahan penutupan hutan tahunan (r, %/tahun) dihitung berdasarkan luas tutupan hutan awal (A1, ha) pada periode awal (t1, tahun) dan luas tutupan hutan akhir (A2, ha) pada periode akhir (t2, tahun). Formula tersebut dirumuskan sebagai berikut (Puyravaud 2003):
r = ( 1
� − � ) x ln ( �
� ) ... (1)
Luas dan laju deforestasi selama periode pengamatan pada tiap kabupaten dijelaskan secara deskriptif. Perubahan dan kecenderungan kejadian deforestasi secara spasial selama periode pengamatan dapat memberikan informasi tren kejadian deforestasi di Sumatera.
Analisis selanjutnya adalah analisis profil deforestasi yang dilakukan untuk mengidentifikasi variabel lain yang berpengaruh terhadap kejadian deforestasi. Identifikasi aspek yang mengungkapkan sejarah dan kejadian deforestasi telah diteliti oleh Ferraz et al. (2009). Penelitian tersebut memperlihatkan tren terjadinya deforestasi berdasarkan pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan Hietel et al. yang menciptakan profil dari variabel kategori penggunaan lahan (Hietel et al. 2004). Analisis profil deforestasi ini dilakukan dengan memperhatikan pentingnya keberadaan luas hutan awal yang dimiliki setiap daerah, periode kejadian deforestasi dan laju deforestasi.
Profil deforestasi didefenisikan sebagai kombinasi antara tiga komponen. Komponen pertama adalah proporsi luas hutan awal terhadap luas kabupaten yang dikategorikan sebagai kecil, sedang dan besar (small, medium, large). Komponen kedua adalah proporsi yang menandakan kejadian deforestasi tertinggi dari dua periode yakni periode pra reformasi (1990 hingga 2000) dan periode pasca reformasi (2000 hingga 2013). Proporsi ini mengukur kejadian deforestasi berdasarkan laju deforestasi per periode. Proporsi ini dikategorikan sebagai awal, pertengahan dan akhir (early, middle, lately deforestation). Komponen penyusun profil yang ketiga adalah laju deforestasi periode 1990 hingga 2013. Kategori ini dikelompokkan menjadi rendah, sedang dan tinggi (low, moderate, high deforestation). Formula masing-masing proporsi dituliskan sebagai berikut:
PLH = WHA � % ... (2) PKD = If LD − LD > % ; ℎ� PKD = I Else : If LD − LD < − % ; ℎ� PKD = III � � ∶ PKD = II ... (3) LD = average (LD1;LD2) ... (4) Keterangan:
PLH : Proporsi luas hutan awal tiap kabupaten;
small (<30%), medium (30% – 50%), large (>50%) LHA : Luas hutan awal tahun pengamatan (Ha)
LWK : Luas wilayah administrasi kabupaten (Ha)
PKD : Proporsi kejadian deforestasi; early, middle, lately LD1 : Laju deforestasi periode pertama 1990 – 2000 (%) LD2 : Laju deforestasi periode kedua 2000 – 2013 (%) LD : Laju rata-rata deforestasi periode 1 dan 2; low (<1%), moderate (1% – 2%), high (>2%)
Nilai proporsi luas hutan awal (PLH) lebih kecil dari 30% dikategorikan sebagai wilayah dengan luas hutan yang kecil (small), nilai PLH dengan nilai 30 hingga 50% termasuk dalam kategori sedang (medium), dan nilai PLH lebih besar 50% (large). Nilai proporsi kejadian deforestasi (PKD) lebih besar pada periode pertama dikategorikan sebagai kejadian deforestasi yang tinggi pada periode awal/reformasi (early deforestation). Nilai PKD yang tinggi pada akhir periode dikategorikan sebagai kejadian deforestasi periode akhir/pasca reformasi (lately deforestation). Nilai PKD yang tinggi pada kedua periode dikategorikan sebagai middle deforestation. Nilai rata-rata laju deforestasi (LD) yang lebih kecil 1% dikategorikan sebagai low deforestation, nilai LD 1% hingga 2% dikategorikan
sebagai moderate deforestation, sedangkan LD yang lebih dari 2% tergolong high deforestation. Pengkategorian PLH berdasarkan aturan RTRW tentang tetapan luas hutan dalam suatu wilayah yaitu minimal 30%. Pengkategorian LD (low dan high deforestation) berdasarkan nilai laju deforestasi 2% didasarkan pertimbangan bahwa laju deforestasi yang terjadi di Asia Tenggara rata-rata 1% periode 1990 hingga 2000 dan 0.4% periode 2000 hingga 2010 (FAO 2010). Nilai laju deforestasi 2% didorong oleh beberapa pertimbangan seperti kondisi luas hutan yang lebih besar, jumlah penduduk yang lebi besar dan kejadian deforestasi yang tinggi selama ini di Indonesia dibanding negara-negara khususnya Asia Tenggara.
Kombinasi antara proporsi luas hutan awal, kejadian deforestasi dan laju rata- rata deforestasi membentuk 27 profil deforestasi. Selain 27 profil tersebut, dikategorikan pula kabupaten yang tidak mempunyai hutan (no forest area/NFA) dan kabupaten yang memiliki hutan tapi tidak mengalami deforestasi (no deforestation/ND). Faktor penyusun profil deforestasi dianalisis dengan laju deforestasi tahunan untuk melihat faktor yang paling berhubungan. Kategorisasi profil deforestasi dibangun menggunakan matrik spasio-temporal deforestasi yang memodifikasi matrik skenario sejarah penggunaan lahan (Ferraz et al. 2009).
Tabel 4 Matrik spatio-temporal deforestasi di Sumatera
No Profil Deforestasi Kode NPR
1 Kecil-awal-rendah (Small-early-low) 1-1-1 1 2 Kecil-awal-sedang (Small-early-moderate) 1-1-2 2 3 Kecil-awal-tinggi (Small-early-high) 1-1-3 3 4 Kecil-pertengahan-rendah (Small-middle-low) 1-2-1 4 5 Kecil-pertengahan-sedang (Small-middle-moderate) 1-2-2 5 6 Kecil-pertengahan-tinggi (Small-middle-high) 1-2-3 6 7 Kecil-akhir-rendah (Small-lately-low) 1-3-1 7
8 Kecil-akhir-sedang (Small- lately-moderate) 1-3-2 8
9 Kecil-akhir-tinggi (Small-lately-high) 1-3-3 9 10 Sedang-awal-rendah (Medium-early-low) 2-1-1 10 11 Sedang-awal-sedang (Medium-early-moderate) 2-1-2 11 12 Sedang-awal-tinggi (Medium-early-high) 2-1-3 12 13 Sedang-pertengahan-rendah (Medium-middle-low) 2-2-1 13 14 Sedang-pertengahan-sedang (Medium-middle-moderate) 2-2-2 14 15 Sedang-pertengahan-tinggi (Medium -middle-high) 2-2-3 15 16 Sedang-akhir-rendah (Medium-lately-low) 2-3-1 16 17 Sedang-akhir-sedang (Medium-lately-moderate) 2-3-2 17 18 Sedang-akhir-tinggi (Medium-lately-high) 2-3-3 18 19 Besar-awal-rendah (Large-early-low) 3-1-1 19 20 Besar-awal-sedang (Large-early-moderate) 3-1-2 20 21 Besar-awal-tinggi (Large-early-high) 3-1-3 21 22 Besar-pertengahan-rendah (Large-middle-low) 3-2-1 22 23 Besar-pertengahan-sedang (Large-middle-moderate) 3-2-2 23 24 Besar-pertengahan-tinggi (Large-middle-high) 3-2-3 24 25 Besar-akhir-rendah (Large-lately-low) 3-3-1 25 26 Besar-akhir-sedang (Large-lately-moderate) 3-3-2 26 27 Besar-akhir-tinggi (Large-lately-high) 3-3-3 27
Keterangan :
Profil Deforestasi : 1-2-3; 1 = LH 2 = KD 3 = LD Luas Hutan (LH) : 1 = Kecil 2 = Sedang 3 = Besar Kejadian Deforestasi (KD) : 1 = Periode I (Pra Reformasi)
2 = Periode pertengahan kedua periode
3 = Periode III (Pasca Reformasi)
Laju Rata-rata Deforestasi (LD) : 1 = Rendah 2 = Sedang 3 = Tinggi
NPR : Nomor Profil
Sintesa Penelitian
Profil deforestasi yang terbentuk disintesa dengan membuat tingkat kerawanan profil deforestasi. Tingkat kerawanan deforestasi mempertimbangkan salah satu variabel pembentuk profil deforstasi. Laju deforestasi tahunan pada tiap kabupaten/kota dalam satu profil yang sama dikelompokkan dan dihitung rata-rata laju deforestasi tahunannya. Berdasarkan nilai rata-rata laju tahunan tersebut, setiap kelompok profil deforestasi yang terbentuk dirangking dari yang terkecil hingga terbesar. Selisih nilai terendah dan tertinggi rata-rata laju deforestasi tahunan dihitung dan dikelaskan menjadi tiga kelas atau tingka kerawanan deforestasi di Sumatera.
Tingkat kerawanan profil deforestasi yang terjadi pada 152 kabupaten/kota di Sumatera dikelompokkan berdasarkan kategori matrik tingkat kerawanan deforestasi pada Tabel 5. Tabel ini juga akan memperlihatkan pola penyebaran profil dan sekaligus pola sebaran kerawanan deforestasi di Sumatera.
Tabel 5 Matrik tingkat kerawananan deforestasi di Sumatera No Kelompok Profil
Deforestasi Rangking
Rata-rata LDT
(ha/tahun) Kriteria
1 Profil I I < 175 677.8 Tidak rawan
2 Profil II II 175 677.9−333 315.6 Rawan
3 Profil III III >333 315.6 Sangat rawan
Keterangan : LDT = Laju deforestasi tahunan
Hasil dan Pembahasan Luas Hutan, Luas, Laju dan Sebaran Deforestasi
Kepulauan Sumatera memiliki luas hutan sebesar 21 185 442.52 ha tahun 1990. Luas hutan tahun 2013 tersisa 12 324 316.79 ha. Luas wilayah Sumatera adalah 47 693 690 ha. Beberapa penelitian di Sumatera yang sejalan dengan hasil penelitian ini telah memperlihatkan besarnya luas hutan yang hilang selama lebih dari 20 tahun. Luas hutan di Sumatera tahun 2000 sebesar 15.69 juta ha yang kemudian menurun menjadi 13.58 juta ha pada tahun 2010 (Margono et al. 2012). Luas hutan Sumatera tahun 2008 sebesar 0.219 juta ha kemudian menurun menjadi 0.113 juta ha pada tahun 2012 (Wedastra et al. 2013). Luas tutupan hutan tahun 2011 sebesar 14.84 juta ha (MoF 2012) dan kemudian menurun menjadi 13.97 juta ha pada tahun 2012 (MoF 2014).
Berdasarkan analisis tutupan lahan mengunakan data tutupan lahan Baplan 2013, diperoleh luas hutan tertinggi kabupaten pada awal pengamatan (tahun 1990) di Kabupaten Pelalawan seluas 982 011.20 ha. Luas hutan yang tersisa pada akhir pengamatan (tahun 2013) seluas 337 737.56 ha. Luas hutan tertinggi dan terendah tingkat provinsi dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Luas hutan tertinggi dan terendah tingkat kabupaten/kota tahun 1990 dan 2013 di Sumatera
No Provinsi Luas Hutan (Ha) Peringkat
1990 2013
1 Riau 5 657 461.03 1 799 956.22 1
2 Nangroe Aceh Darussalam 3 753 162.33 3 188 207.15 2
3 Jambi 1 208 469.85 1 208 469.85 3
4 Kepulauan Riau 320 005.66 267 918.31 10
Luas hutan tahun 1990, 2000 dan 2013 dapat dilihat pada Gambar 4 berikut:
Gambar 4 Luas hutan tahun 1990, 2000 dan 2013 per provinsi di Sumatera Berdasarkan analisis terhadap luas hutan pada tiap kabupaten/kota di Kepulauan Sumatera ditemukan bahwa terdapat 12 kabupaten/kota (7.89%) tidak memiliki hutan. Dua belas kabupaten/kota ini tidak memiliki hutan sejak tahun 1990. Kabupaten/kota tersebut adalah Kota Jambi (Provinsi Jambi), Kota Metro (Provinsi Lampung), Kota Banda Aceh (Provinsi Nangroe Aceh Darussalam), Kota Bukit Tinggi dan Kota Pariaman (Provinsi Sumatera Barat), Kota Lubuk Linggau dan Kota Prabu Mulih (Provinsi Sumatera Selatan), Kota Binjai, Gunung Sitoli, Pematang Siantar, WPNK-Su dan Tebing Tinggi (Provinsi Sumatera Utara).
Luas deforestasi terbesar di Sumatera selama periode 1990 hingga 2013 terjadi di Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Luas hutan Rokan Hilir yang terdeforestasi seluas 464 559.85 ha atau rata-rata 20 198.25 ha per tahun dengan laju deforestasi sebesar 31.79%. Luas deforestasi pada lima kabupaten/kota terbesar di Sumatera semua terjadi di Provinsi Riau. Lima kabupaten tersebut yaitu Kabupaten Rokan Hilir, Pelalawan, Indragiri Hilir, Kampar dan Bengkalis. Deforestasi terkecil terjadi di Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat sebesar 5.53 ha.
Laju deforestasi terendah tingkat kabupaten/kota di Sumatera terjadi Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat (0.06%). Laju deforestasi terendah kedua dan ketiga terjadi Kabupaten Lampung Utara (0.09%) dan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung (0.13%). Laju deforestasi tertinggi dan periode tertinggi terjadinya deforestasi dapat dilihat pada Tabel 7. Laju deforestasi tertinggi di Sumatera menunjukkan kejadian deforestasi yang terjadi pada awal periode pengamatan yakni 1990–2000.
Tabel 7 Laju deforestasi tertinggi dan periode deforestasi tertinggi tingkat kabupaten/kota periode1990 − 2013 di Sumatera
No Kabupaten/kota Provinsi Laju Deforestasi 1990-2013 (%) Periode Deforestasi 1 Mesuji Lampung 81.72 1996−2000
2 Labuhan Batu Selatan Sumatera Utara 57.56 1996−2000
3 Pekanbaru Riau 48.76 1990−1996
Laju deforestasi tingkat provinsi tertinggi terjadi di Provinsi Riau (Sulistiyono et al. 2015a). Konversi areal hutan menjadi areal non hutan di Indonesia terutama diakibatkan oleh konversi menjadi areal perkebunan sawit Broich et al. 2011). Konversi hutan menjadi areal perkebunan dilakukan oleh perusahaan besar dan konversi akibat perambahan masyarakat (Romijn et al. 2013).
Luas hutan dan luas deforestasi secara umum saling berhubungan. Luas hutan yang tinggi berpeluang mendorong terjadinya deforestasi yang tinggi. Deforestasi yang tinggi di Sumatera banyak terjadi terutama pada wilayah yang memiliki areal hutan yang luas. Kondisi ini terjadi antara lain di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hilir, Kampar, Kuantin Singingi, Rokan Hilir, Siak, Ogan Komering Ilir dan Tebo. Disamping itu, kabupaten dengan hutan yang luas dan deforestasi yang rendah juga terjadi. Kondisi ini seperti ini terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kepulauan Meranti, Kerinci dan Batam. Selain itu, ditemukan pula beberapa kabupaten dengan luas hutan yang kecil dengan kejadian deforestasi yang tinggi. Kejadian ini terjadi di Kabupaten Langsa, Lhokseumawe, Dumai dan Sibolga.
Hasil analisis juga menemukan bahwa terdapat lima kabupaten/kota (3.29%) yang tidak mengalami deforestasi. Lima kabupaten/kota tersebut adalah Kota Bandar Lampung, Palembang, Pangkal Pinang, Samosir dan Solok. Deforestasi tidak terjadi disebabkan oleh dua faktor. Pertama, kabupaten/kota tersebut mampu menjaga dan melindungi hutannya dari aktifitas yang menyebabkan deforestasi. Kedua, kabupaten/kota tersebut tidak memiliki areal hutan. Areal hutan yang telah habis ini disebabkan oleh deforestasi pada periode sebelum pengamatan (sebelum 1990).
Perhitungan deforestasi hanya berdasarkan laju deforestasi dapat menimbulkan kesalahan informasi (FWI 2002; FWI 2011; Broich et al. 2011; Margono et al. 2012; MoF 2012; Wedastra et al. 2013; MoF 2014; Sulistiyono et al. 2015a). Akibatnya, pemaknaan tentang informasi kondisi hutan suatu daerah atau negara berpotensi memberikan informasi yang keliru. Nilai deforestasi yang rendah (atau nol) secara umum telah diartikan bahwa kabupaten/kota tidak mengalami deforestasi. Nilai yang rendah digeneralisir pemaknaannya sebagai
daerah yang lebih baik dibanding daerah yang mengalami deforestasi yang tinggi. Nilai laju deforestasi yang tinggi dimaknai sebagai daerah yang mengalami kerusakan hutan yang besar. Nilai laju yang rendah dimaknai sebagai daerah yang kondisi hutannya cukup terkendali. Kesalahan pemaknaan terhadap nilai luas dan laju deforestasi ini secara umum terjadi. Penilaian ini terjadi baik di level kabupaten dan provinsi di Indonesia bahkan di dunia. Kondisi ini juga terjadi dalam penilaian tingkat kerusakan hutan di Sumatera (FWI 2011; Broich et al. 2011; Margono et al. 2012; MoF 2012; MoF 2014; Sulistiyono et al. 2015a).
Penelitian ini menemukan 17 kabupaten/kota di Sumatera yang tidak mengalami deforestasi. Kabupaten/kota ini memiliki laju deforestasi nol selama periode 1990–2013. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa 17 kabupaten/kota yang tidak mengalami deforestasi tersebut berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada keberadaan hutan awal dan kemampuan menjaga hutan dari deforestasi. Daerah yang tidak memiliki areal hutan sejak periode awal pengamatan (1990) sebanyak 12 kabupaten/kota. Selain itu, terdapat lima kabupaten/kota yang mampu menjaga hutan yang tersisa terhadap deforestasi.
Hasil analisis spasial sebaran kejadian deforestasi memperlihatkan peta sebaran deforestasi yang terjadi selama periode 1990–2013 (Gambar 5 hingga Gambar 10). Deforestasi telah terjadi pada periode 1990 hingga 1996 terutama di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Periode kedua (1996– 2000), deforestasi semakin meluas dan tersebar di seluruh provinsi di Sumatera. Deforestasi mengalami perubahan sebaran dan cenderung mengumpul pada beberapa provinsi pada periode ketiga (2000–2006). Sebaran deforestasi ini terjadi di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Pada periode (2006– 2011), sebaran deforestasi condong lebih luas terjadi ke arah timur dan selatan terutama di Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau.
Periode terakhir (2011–2013), deforestasi masih terjadi walaupun cenderung mengalami penurunan. Kejadian seperti ini terjadi di Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau dan Jambi. Sepanjang periode pengamatan, deforestasi memperlihatkan tren deforestasi yang menurun. Tren deforestasi yang menurun disebabkan oleh semakin menurunnya ketersediaan luas hutan (Margono et al. 2012). Hasil analisis menunjukkan pula bahwa deforestasi tertinggi di Sumatera terjadi di Provinsi Riau (56%). Deforestasi Riau hampir mencapai 50% total areal terdeforestasi di seluruh Sumatera selama periode 1990 hingga 2011 (Margono et al. 2012).
Berdasarkan analisis perubahan tutupan lahan periode 1990 hingga 2013, diperoleh fakta bahwa konversi hutan (deforestasi) menjadi penggunaan lain terbesar adalah menjadi areal perkebunan seluas 2.275 juta ha. Konversi terbesar kedua dan ketiga setelah perkebunan adalah pertanian lahan kering campur 1.766 juta ha dan belukar rawa seluas 1.29 juta ha. Konversi terbesar berikutnya adalah tanah terbuka/kosong dan semak. Berdasarkan temuan lapangan, fakta konversi hutan menjadi areal perkebunan ini terjadi secarabesar-besaran dan terus menerus selama periode pengamatan. Selain perkebunan, ekspansi masyarakat terhadap areal hutan dengan membuka areal perkebunan dan pertanian juga selalu terjadi hingga saat ini. Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa masyarakat memperluas areal perkebunan atau pertanian mereka dengan memasuki dan merambah areal hutan. Areal hutan ini diekspansi untuk memperluas wilayah kelola
dan ditanami tanaman perkebunan. Penyediaan alat dan biaya pembukaan lahan hingga penyediaan bibit tanaman perkebunan terkadang dibantu oleh perusahaan perkebunan. Hasil perkebunan akan ditadah oleh perusahaan perkebunan tersebut. Bahkan dalam beberapa temuan lapangan diperoleh bahwa terkadang perusahaan berani memberikan upah hasil tanaman perkebunan diawal sebelum panen. Perubahan hutan menjadi tutupan lain selama periode 1990 hingga 2013 ditunjukkan pada Tabel 8.
Tabel 8 Perubahan tutupan hutan menjadi tutupan lain selama periode 1990−2013 di Sumatera
No Tahun 1990 – 2013 Luas (ha)
1 Hutan – Bandara 97.41 2 Hutan – Air 845.50 3 Hutan – Transmigrasi 9 148.73 4 Hutan – Rawa 15 986.37 5 Hutan – Pertambangan 22 454.94 6 Hutan – Permukiman 26 746.00 7 Hutan – Sawah 40 317.54 8 Hutan – Tambak 48 980.93 9 Hutan – Rumput 52 569.46
10 Hutan – Pertanian lahan kering 302 599.08
11 Hutan – Semak/belukar 836 727.83
12 Hutan – Tanah terbuka/kosong 945 624.40
13 Hutan – Belukar rawa 1 249 291.05
14 Hutan – Pertanian lahan kering campur 1 765 909.22
15 Hutan – Perkebunan 2 275 173.28
Total 7 592 471.74
Penelitian tentang faktor yang mempengaruhi deforestasi masih kurang diteliti (Mon et al. 2012). Temuan tabel diatas dan temuan dilapangan menunjukkan bahwa faktor pendorong deforestasi di Sumatera serupa dengan beberapa penelitian sebelumnya. Tiga penyebab deforestasi adalah ekspansi pertanian, pemanenan kayu, pengembangan infrastruktur dan lima faktor pendorong. Kelima faktor pendorong yaitu kependudukan, ekonomi, teknologi, kebijakan dan institusi serta faktor budaya (Geist et al. 2002 dan Mon et al. 2012).
Pemicu utama deforestasi adalah pertanian, baik untuk tanaman pangan atau peternakan (Houghton 2012). Selain itu, pemicu deforestasi dan degradasi hutan di daerah tropis antara lain ialah perladangan berpindah, lahan pertanian, peternakan, pembalakan (untuk industri kayu dan kayu bakar), pengeringan dan pembakaran lahan gambut, perkebunan, dan kebakaran hutan. Selain itu, perubahan penggunaan lahan dapat dipengaruhi oleh topografi, aksessibilitas, distribusi lahan kota dan lahan pertanian. Faktor distribusi lahan secara signifikan terkait dengan PDB per kapita. Deforestasi juga lebih cepat terjadi pada derah datar dan rendah (Sheng et al. 2008). Tingkat lereng yang rendah hingga menengah memperlihatkan degradasi yang tinggi dibanding lereng yang curam. Daerah ini dimanfaatkan untuk pertanian, hortikultura, agroforestry dan penggembalaan oleh masyarakat (Nandy et al. 2011).
Gambar 5Spasial-temporal deforestasi di Sumatera periode 1990–1996
Gambar 7Spasial-temporal deforestasi di Sumatera periode 2000–2006
Gambar 9 Spasial-temporal deforestasi di Sumatera 2011–2013
Profil Deforestasi di Sumatera
Berdasarkan analisis profil deforestasi diperoleh bahwa deforestasi tingkat kabupaten di Kepulauan Sumatera periode 1990 hingga 2013 didominasi oleh profil Small-lately-low deforestation. Profil ini terjadi di 16 kabupaten/kota (11.85%). Kejadian deforestasi tertinggi berikutnya dikategorikan sebagai profil Small-early- high deforestation. Profil ini terjadi di 11 kabupaten/kota (8.15%). Profil deforestasi ketiga terbanyak adalah Large-early-low deforestation. Large-early-low deforestation terjadi di 10 kabupaten/kota (7.41%). Profil deforestasi terendah adalah Medium-lately-moderate dan Medium-lately-high deforestation yang terjadi pada masing-masing satu kabupaten/kota (0.74%). Profil Large-no deforestation tidak ditemukan selama periode pengamatan. Profil tertinggi Small-lately-low deforestation dan Small-early-high deforestation menunjukkan bahwa deforestasi