• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Hormonal Ikan Brek dan Ikan Lukas Selama Domestikas

Dalam dokumen 3. naskah isi monograf priyo s 31 08 2017 (Halaman 37-45)

SEBAGAI FAKTOR KEBERHASILAN DOMESTIKAS

B. Profil Hormonal Ikan Brek dan Ikan Lukas Selama Domestikas

Pengambilan sampel darah pada kedua jenis ikan uji baik betina maupun jantan dilakukan pada akhir masing-masing periode pre domestikasi (1; 2; 4 dan 8 bulan).

Tabel 5.7. Range kadar hormon steroid pada ikan Brek pada awal periode pre domestikasi 1; 2; 4dan 8 bulan dari sampel dengan bobot badan terendah – tertinggi

Seks

ikan Hormon

Kadar hormon

1 bulan 2 bulan 4 bulan 8 bulan

Betina Est (pg/ml) Prog (ng/ml) FSH (mIU/ml) 1246,3-1365,3 0,29 – 0,33 10,6 – 10,87 996,2 -1058,0 0,48 – 0,55 12,63 - 14,17 1458,04 –1625,12 0,69 – 0,72 11,94 – 14,56 1396,2-1734,6 0,81-0,89 12,72-15,68 Jantan Testos(ng/ml) 4,18 – 5,84 6,79 – 8,32 8,91 – 9,26 7,94-9,92 37

Tabel 5.8. Range kadar hormon steroid pada ikan Lukas pada akhir periode pre domestikasi 1; 2; 4 dan 8 bulan dari sampel dengan bobot badan terendah – tertinggi

Seks

ikan Hormon

Kadar hormon

1 bulan 2 bulan 4 bulan 8 bulan

Betina Est (pg/ml) Prog (ng/ml) FSH (mIU/ml) 632,45 – 679,05 0,20 – 0,29 8,26 – 9,87 468,35 – 509,27 0,34 – 0,49 9,63 - 12,17 395,18 – 487,02 0,44 – 0,52 9,04 – 11,89 658,3-854,8 0,62-0,76 9,86-13,74 Jantan Testos(ng/ml) 3,98 – 4,74 4,79 – 6,39 6,82 – 6,98 7,37-9,34 Keterangan :

Est = estradiol; Prog = progesteron; Testos = testosteron; FSH =Follicle Stimulating Hormone

Terdapat dinamika hormonal (turun dan naiknya kadar hormon) yang cenderung relatif sama dari keempat jenis hormon yang dianalisis dari kedua jenis ikan uji pada akhir masing-masing periode pre domestikasi. Profil hormonal ikan-ikan teleostei, baik dari perairan laut maupun tawar (non budidaya) beberapa telah dilaporkan oleh Frantzena et al. (2004); Skjæraasen et al. (2004); Shimizu (2003); Zanui et al. (1995). Semua author ini melaporkan penelitiannya mengenai hubungan pengaruh fotoperiode terhadap profil hormonal dan perkembangan reproduksi ikan uji. Tetapi periodisitas level beberapa hormon ikan uji ini didapatkan dari kelompok ikan-ikan yang tertangkap di perairan alami dari berbagai periode musim, untuk daerah tropis kurang informasinya.

Gambar 5.4. Kadar hormon estradiol-17 β kedua jenis ikan betina uji pada akhir masing-masing periode pre domestikasi

Gambar 5.5. Kadar hormon progesteron kedua jenis ikan betina uji pada akhir masing-masing periode pre domestikasi

Gambar 5.6. Kadar hormon FSH kedua jenis ikan betina uji pada akhir masing-masing periode pre domestikasi

Gambar 5.7. Kadar hormon testosteron kedua jenis ikan betina uji pada akhir masing-masing periode pre domestikasi

Penelitian penelusuran profil hormonal dan aktivitas gametogenesis ikan-ikan Familia Cyprinideae (Brek dan Lukas) yang tertangkap di Sungai Serayu ini bertujuan untuk menggali informasi awal profil hormonal dan tingkat perkembangan reproduksi ikan-ikan tangkapan yang dipre domestikasikan di kolam-kolam budidaya, sebelum ikan-ikan tersebut siap untuk dibudidayakan.

Merupakan suatu kesulitan pada kegiatan domestikasi ini, yakni upaya untuk menyeragamkan status reproduksi pada kondisi pasca mijah materi ikan-ikan uji, sehingga dapat diikuti proses perubahan hormonal dan gametogenesis dari nol jam pasca mijah sampai dengan periode mijah berikutnya, ternyata sulit untuk dilaksanakan. Bila dilihat pada Tabel 5.12. mengenai data keberhasilan proses pemijahan, maka jelaslah bahwa waktu yang dibutuhkan bagi ikan-ikan Brek dan Lukas untuk dapat memijah (inipun dibantu dengan induksi gonadotrofin eksternal, ovaprim) adalah setelah induk-induk jantan betina Brek dan Lukas telah menyelesaikan periode pre domestikasi 8 bulannya (sejak Februari 2009 – Oktober 2009).

Di alam bebas, pada perairan seperti sungai, danau, laut, aktivitas fisiologi reproduksi ikan-ikan yang hidup di dalamnya sangat dipengaruhi oleh fotoperiodisitas setempat (Zanuy et al. 1995). Zanuy mengamati pengaruh fotoperiode hari-hari terang yang panjang yang dan hari-hari gelap terhadap profil hormonal plasma 17β-estradiol (E2) dan proses vitelogenesis ovarium, fekunditas, waktu pemijahan dan kualitas telur

ikan sea bass. Fekunditas relatif dari kelompok ikan terpapar hari terang yang pendek sama dengan kelompok kontrol 257.000 butir telur dengan 230.000 butir telur/ kg induk betina siap mijah. Tetapi pada kelompok ikan terpapar hari terang panjang fekunditas relatifnya menurun sampai dengan separoh dari nilai fekunditas kelompok kontrol (124.000 butir telur).

Upaya pre domestikasi ikan dari lingkungan in situ (sungai, danau, perairan laut dan lain-lain) ke lingkungan ex situ barunya (misal kolam budidaya) akan selalu diikuti serangkaian proses adaptasi terhadap terhadap kondisi baru tersebut, termasuk pengaruh paparan fotoperioda di lingkungan barunya. Upaya tersebut dilakukan oleh Kujawa et al. (1999) pada ikan-ikan liar dalam status hampir punah di Polandia, yang didomestikasi melalui perlakuan model kolam pembenihan untuk induk matang gonad dengan pemijahan buatan.

Materi ikan Brek dan Lukas pada kegiatan domestikasi ini adalah induk-induk (sebagai induk hasil tangkapan dari sungai Serayu, dengan pedoman rasio panjang dan bobot tubuh / morfologi berdasarkan pengalaman para nelayan pemancing ikan yang diprediksi sebagai induk dewasa). Dalam hal ini sulit untuk dapat menyeragamkan syarat reproduksi tertentu pada materi awal tersebut, misal dengan kondisi IKG, fekunditas dan hormonal tertentu; tentunya harus melalui pembedahan yang artinya harus mengorbankan/membunuh ikan materi terrsebut. Tetapi dengan mengorbankan minimal satu ekor sampel induk sebelum

dilepaskan untuk di pre domestikasikan ke kolam budidaya, diperoleh data awal beberapa parameter reproduksi pada penelitian ini.

Data fluktuasi profil keempat jenis hormon ikan-ikan uji jantan dan betina yang tersaji Tabel 5.7; Tabel 5.8 dan data Indeks Kematangan Gonad pada Tabel 5.11. serta gambaran aktivitas gametogenesis baik oogenesis maupun spermatogenesis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan parameter-parameter tersebut sampai akhir periode pre domestikasi 8 bulan. Meskipun tidak diikuti dengan keberhasilan induksi pemijahan di akhir periode pre domestikasi 1; 2; dan 4 bulan, hanya kelompok Lukas yang berhasil mijah pada akhir periode pre domestikasi 2 bulan (Tabel 5.12). Kelompok Brek dan Lukas telah berhasil mijah pada akhir periode pre domestikasi 8 bulan.

Reproduksi pada ikan dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang mengontrol kelenjar endokrin terutama yang berperan dalam pembentukan hormon reproduksi yang diperlukan untuk perkembangan gonad, gametogenesis dan siklus reproduksi (Fujaya, 2002). Shimizu (2003) menjelaskan bahwa proses reproduksi, penyiapan pemasakan kelamin ikan sampai dengan periode pemijahan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, fotoperioda dan temperatur. Selanjutnya dijelaskan bahwa pada musim kering (summer) dengan hari terang yang

pendek (≤13L), proses kemunduran gonad yang kuat memulai

berhentinya periode pemijahan. Tetapi kedua peneliti Fujaya dan

shimizu, meneliti ikan-ikan pada daerah sub tropis yang tentunya sangat berbeda kondisinya dengan fotoperiode daerah tropis.

Proses pre domestikasi ikan uji ini dimulai pada bulan Februari. Sampai akhir Bulan Februari hujan terakhir masih turun, meskipun frekuensi tidak setiap hari. Mulai Maret sampai dengan Agustus biasanya di daerah Banyumas sudah mulai memasuki musim kemarau. Meskipun demikian input air kolam percobaan tidak pernah kekurangan, mengingat lokasi kolam sangat dekat dengan sumber mata air yang berasal dari Baturaden. Seperti ikan-ikan tropis lainnya, tentunya ikan sungai Brek dan Lukas secara alami terkondisi pada kisaran alami fotoperiode 12L:12D hingga 14L:10D bahkan sampai 16L:8D.

Gambar 5.8. Diagram proporsi oosit (masing-masing tahapan perkembangan) pada masing-masing periode pre domestikasi

Keterangan :

P1b = pre domestikasi 1 bulan; P2b = pre domestikasi 2 bulan; P4b = pre domestikasi 4 bulan; P8b = pre domestikasi 8 bulan

cns = chromatin nuclear stage

ps = perinuclear stage

ca = cortical alveolar stage

vs = vitellogenic stage

ms = mature / ripe stage

Profil hormon 17β- estradiol dari kedua kelompok ikan uji pada akhir pre domestikasi 2 (P2b) dan 4 bulan (P4b) menurun dibandingkan kadar awalnya pada pre domestikasi 1 bulan (Tabel 4.6; Tabel 4.7). Profil hormon progesterone, FSH dan Testosteron justru relatif meningkat dari periode pre domestikasi 1 bulan sampai akhir periode pre domestikasi 8 bulan (P8b). Periode pre domestikasi 2 bulan (P2) dimulai pada bulan Maret - Mei, pre domestikasi 4 bulan (P4b) dimulai bulan Februari – Juni, sedangkan pre domestikasi 8 bulan dimulai pada bulan februari – Oktober. Periode P2b dan P4b berada pada musim kemarau, dimana hari

terang yang panjang bisa maksimal (≥ 14L).

Penurunan kadar 17β-estradiol dari periode P1b, P2b, tetapi pada P4b dan P8b kadarnya justru terus meningkat bersamaan dengan peningkatan kadar hormon progesteron mulai dari periode P2b, P4b sampai dengan akhir periode P8b (Gambar 5.5). Keadaan ini merupakan suatu hal yang menarik karena proporsi oosit tahap vitelogenic stage (vs) pada akhir periode P4b dan P8b terus meningkat (Gambar 5.8).

Menurut Biswas et al. (2005) hormon 17β-estradiol yang diproduksi pada ovarium sebagian akan menuju ke hati untuk memacu sintesis vitelogenin. Vitelogenin yang diproduksi oleh hati akan dibawa ke gonad melalui aliran darah dan diinternalisasi ke dalam sitoplasma oosit pada proses vitelogenesis (Fujaya, 2002). Proses vitelogenesis akan mengakibatkan bertambah besarnya volume oosit sebagai suatu proses perubahan tahapan perkembangan oosit ke tahapan vitelogenesis pre

mature (Çakici dan Üçüncü, 2007). Dalam hal ini pola regulasi hormonal kedua jenis ikan Brek dan Lukas belum dapat dijelaskan, karena dalam penelitian ini tidak dilakukan pengukuran kadar vitelogenin selama periode pre domestikasi. Oleh karena itu, penelitian ini belum dapat menjelaskan apakah profil vitellogenin (fluktuasinya) mengikuti fluktuasi 17β- estradiol dan progesteron.

Kadar hormon testosteron dan FSH meningkat dari periode P1b, P2b, P4b sampai dengan P8b pada kedua jenis ikan uji Brek dan Lukas. Pada umumnya, kelompok ikan dari Familia Cyprinidae dapat melakukan mijah sepanjang tahun seperti juga Nilem (Osteochilus hasselti) dan Tawes (Puntius javanicus). Fasilitasi testosteron dan FSH pada ikan jantan dan betina adalah memicu gametogenesis ke arah pematangan gonad.

C. Gametogenesis/Gonadogenesis, Proporsi Oosit, Proporsi

Dalam dokumen 3. naskah isi monograf priyo s 31 08 2017 (Halaman 37-45)

Dokumen terkait