• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. DESKRIPSI WILAYAH dan INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.3 Profil Informan

4.3.1 Profil Informan Pengrajin Sepatu Bunut

4.3.1.1 Nama : Doni Artadi

Umur : 32 Tahun

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : SMA

Toko : Egalite

Abang Doni bekerja sebagai pengrajin sepatu Bunut di mulai sejak tahun 1998 hingga sekarang. Jadi, abang Doni ini sudah bekerja sebagai pengrajin sepatu kurang lebih sekitar 15 tahun. Abang Doni memiliki 2 orang anak yang masih kecil. Abang Doni awalnya bekerja sebagai pengrajin sepatu ditempat orangtuanya, orangtua bang Doni ini memiliki usaha sepatu Bunut menjual dan membuat sekaligus juga menerima tempahan sepatu Bunut. Setelah orangtua Bang Doni ini pensiun sebagai pengrajin sepatu maka usahanya diteruskan oleh Bang Doni sendiri. Orangtua Abang Doni membuka usaha sepatu Bunut pada tahun 90an dengan bermodalkan uang Rp.500.000 yang didapat dari pinjaman saudara, kemudian pada tahun 1998 usaha tersebut di ambil alih oleh Abang Doni. Keahlian membuat sepatu Abang Doni didapat dari melihat dan belajar mencoba membuat sepatu dari para pekerja dan orangtua Abang Doni. Karena sering melihat para pengrajin dan orangtuanya bekerja muncul keinginan Abang Doni untuk belajar membuat sepatu. Jumlah yang bekerja di usaha sepatu Abang Doni sekitar 5 orang. Mulai dari pemotongan pola untuk tapak sepatu dan pola kulit sepatu, menyeset atau menipiskan kulit agar mudah dilipat atau dibentuk, pengeleman dan lain sebagainya. Pekerja tersebut merupakan saudara dan pemuda yang tinggal disekitar rumah orangtua Abang Doni. Abang Doni dulu pernah kuliah sampai semester 4 di suatu

Universitas swasta di Medan namun karena kurangnya biaya maka Bang Doni berhenti kuliah

dan kemudian meneruskan usaha orangtuanya .Hal yang menyebabkan Abang Doni tersebut

harus berhenti melanjutkan kuliahnya karena ekonomi keluarga yang kurang mencukupi. Maka dari itu daripada melanjutkan kuliah Bang Doni memutuskan untuk berhenti dan mulai menekuni menjadi pengrajin sepatu. Selain dapat membantu orangtua juga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari. Hasil yang didapat dari membuat sepatu ini pun lumayan menguntungkan dikarenakan banyak yang telah mengenal usaha sepatu Abang Doni yaitu toko sepatu EGALITE. Dalam sehari usaha sepatu Abang Doni dapat memproduksi 10 pasang sepatu/hari dan 30 pasang sandal/hari. Ketika hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri atau Natal hasil penjualan sepatu banyak peminatnya, ditambah lagi bila ada pameran-pameran Dinas Perindustrian dan Perdagangan sering mengambil contoh sepatu di usaha milik Abang Doni ini. Abang Doni lebih memilih menjadi pengusaha sepatu dibandingkan menjadi pekerja kantoran karena lebih menguntungkan menjadi wiraswasta dan tidak terpaku pada waktu kerjanya. Menurut Abang Doni pendapatan selama Hari Raya bisa mencapai Rp.50.000.000. Dalam sehari pendapatan dari penjualan sepatu Abang Doni tidak menentu. Hal ini dikarenakan Abang Doni hanya menjual sepatu di toko sepatu yang terdapat di depan rumah orangtuanya. Kadang ada juga yang menempah sepatu ke tempat usaha Abang Doni. Abang Doni membeli kulit dan bahan-bahan untuk membuat sepatu ini di Medan. Usaha membuat sepatu Bunut ini menurut Abang Doni sangat menguntungkan karena hasilnya yang didapat juga lumayan. Dalam membuat sepasang sepatu hanya diperlukan modal sekitar Rp.92.000 itu pun tergantung dari model sepatunya. Namun Abang Doni dapat menjual Sepatu dimulai dari harga Rp. 150.000 sampai jutaan. Hambatan yang dirasakan ketika harga bahan baku pembuatan sepatu naik dan ketika bahan bahan baku tersebut langka.

4.3.1.2 Nama : Andika

Umur : 28 Tahun

Status : Lajang

Pendidikan Terakhir : SMA

Toko : MC ( Mustika Citra )

Usaha pengrajin sepatu abang Andika di mulai pada tahun 2000 sampai sekarang dengan bermodalkan uang sebesar Rp.6.000.000; yang didapat dari pinjaman dengan saudara Bang Dika mulai membuka usaha sepatu. Keahlian membuat sepatu yang dimiliki Bang Dika yang merupakan panggilan dari Andika ini di dapat dari belajar dengan orang yang telah mahir atau terampil dalam membuat sepatu. Setelah belajar selama kurang lebih 2 tahun dan dianggap mampu untuk membuka usaha sepatu maka dengan bermodalkan uang yang didapat dari pinjaman saudara tersebut abang Dika pun mulai membuka usaha sepatunya yang bernama MC yang merupakan singkatan nama dari adiknya sendiri yaitu Mustika Citra. Pengrajin yang bekerja di tempat usaha abang Dika sebanyak 4 orang yaitu saudara dan beberapa orang yang tinggal di daerah rumahnya tersebut. Dika membuka usahanya di depan rumah orangtuanya yang terletak dipinggir jalan lintas Sumatera. Abang Dika yang membuat sepatu dan adiknya Citra yang merupakan panggilan dari Mustika Citra yang menjual sepatu buatan abangnya di toko sepatunya. Pada tahun 2010 abang Dika berangkat ke Sidoarjo dengan beberapa pengrajin sepatu yang terpilih untuk melakukan pelatihan dan mengembangkan keahlian yang dimilikinya yang dimiliki dan dibiayai oleh Dinas Tenaga Kerja. Abang Dika juga pernah menjadi juara pertama dalam perlombaan untuk mendesain sepatu. Abang Dika mengatakan usaha sepatunya ini sangat menguntungkan apabila mendekati hari-hari libur atau hari-hari besar seperti Hari raya Idul Fitri, Natal dan Tahun

Baru. Untung yang di dapat bisa mencapai Rp.5.000.000 lebih. Hasil dari membuat sepatu ini diakui Dika yang masih melajang dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya dikarenakan Bang Dika masih tinggal dengan kedua orangtuanya. Hambatan yang dirasakan oleh Bang Dika apabila bahan baku naik ditambah lagi sepi orderan apabila semua bahan baku harganya melonjak naik.

4.3.1.3 Nama : Johari Hidayat

Umur : 60 Tahun

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : SD

Toko : Teguh Gunawan

Bapak Johari telah membuka usaha sepatu Bunut selama 28 tahun. Sebelum pabrik sepatu Uni Royal Bunut tutup, Pak Johari telah membuka usaha sepatu ini. Keahlian membuat sepatu yang dimiliki Pak Johari berasal dari belajar pada teman-temannya yang berasal dari Medan. Sebelum bekerja sebagai pengrajin sepatu Pak Johari pernah bekerja di pengeboran lepas pantai, kemudian Pak Johari berhenti karena istri Pak Johari tidak mengizinkannya bekerja jauhnya. Pak Johari mempunyai 2 orang anak laki-laki yang sudah dewasa. Anak pertama telah berumah tangga dan tinggal di Jawa dan anak kedua masih lajang. Anak kedua Pak Johari inilah yang sering membantu untuk membuat sepatu. Nama Toko sepatu beliau yaitu toko sepatu Teguh Gunawan di ambil dari nama anak keduanya. Pak Johari hanya mempunyai seorang pekerja yaitu anaknya yang bernama Teguh. Pak Johari tidak mempekerjakan orang lain karena anaknya tidak suka bila ada orang lain yang ikut bekerja di toko sepatu miliknya. Pak Johari sangat bangga kepada anaknya karena anak Pak Johari yang bernama Teguh tersebut mempunyai kelainan yaitu tidak dapat berbicara dan

pernah bersekolah di sekolah luar biasa hanya sampai SD saja. Hal ini dikarenakan mahalnya uang sekolah dan jauhnya jarak sekolah luar biasa dengan rumah Pak Johari membuat Pak Johari tidak melanjutkan sekolah anaknya. Bila ada orang yang hendak membeli sepatu dan kebetulan orangtuanya sedang berada di belakang rumah maka anak Pak Johari memanggil orangtuanya dengan menggunakan peluit. Teguh sangat rajin membantu Pak Johari dan sangat bersemangat dalam bekerja. Anak pertama Pak Johari bekerja di pabrik sepatu adidas yang berada di Jawa dan anak pertama Pak Johari ini juga sudah 2 kali mengikuti pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara yang berada di Medan sebelum akhirnya dikontrak oleh pabrik sepatu adidas. Modal awal Pak Johari dalam membuat sepatu Bunut ini hanyalah selembar kulit yang kemudian diubah menjadi sepatu. Dengan bermodalkan selembar kulit tersebut dan keterampilan yang Pak Johari dapat, Pak Johari dapat membuka usaha sepatu Bunut. Di tangan Pak Johari kulit untuk membuat sepatu tidak dapat bersisa sama sekali karena dari sisa-sisa kulit yang dipakai untuk membuat sepatu dapat di gunakan dan di olah menjadi hiasan-hiasan pada sepatu yang Pak Johari buat seperti bentuk pita atau bunga. Sepatu Bunut Pak Johari mempunyai ciri khas tersendiri yaitu terdapat lambang kuda didalam sepatunya dan tulisan yang digunakan dalam membuat sepatunya pun masih menggunakan ejaan lama yaitu BOENOET. Pak Johari hanya menjual sepatu Bunut buatannya saja tidak seperti penjual lain ada juga yang menjual produk sepatu lain. Pak Johari juga menerima tempahan sepatu, namun apabila hendak menempahkan sepatu kepada Pak Johari harus memberikan uang dp atau uang muka terlebih dahulu untuk modal usaha misalnya ada yang mau pesan sepatu sampai Rp.2.000.000 maka Pak Johari minta uang mukanya Rp.1.500.000. Hal ini di karena Pak Johari masih kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya. Penghasilan Pak Johari juga tidak menentu tergantung dari orang beli atau pesanan orang maka penghasilan Pak Johari cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. Bantuan yang diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga

tidak sampai kepada Pak Johari. Menurut Pak Johari pernah ada pendataan untuk penerimaan bantuan namun bantuan yang diharapkan tidak datang juga dan pernah juga membuat proposal untuk mendapatkan bantuan namun bantuannya tidak dapat juga. Pak Johari juga pernah mengikuti pelatihan membuat sepatu ke Sidoarjo yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara yang terletak di Medan. Selain membuat sepatu Pak Johari juga membudidayakan tanaman Binahong atau tanaman Cina. Tanaman Binahong ini mempunyai banyak khasiat seperti diabetes, kolesterol, asma dan stroke. Menurut Pak Johari tanaman ini banyak juga yang mencari karena khasiatnya ditambah lagi dapat memberikan uang tambahan untuk Pak Johari.

4.3.1.4 Nama : M. Rasyid

Umur : 56 Tahun

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : SMA

Toko : Gucci

Bapak M. Rasyid mulai membuka usaha sepatu pada tahun 2002 sampai sekarang. Dengan memperkerjakan 4 orang pekerja Pak Rasyid membuka usaha sepatunya. Selain membuat sepatu Pak Rasyid juga menjual sepatu langsung di Toko yang terdapat di depan rumahnya. Dengan bermodalkan uang sebesar Rp.5.000.000 Pak Rasyid memulai usaha sepatu Bunutnya tersebut. Pak Rasyid mempunyai 3 orang anak yang anaknya sudah dewasa dan 1 diantaranya sudah menikah. Anak Pak Rasyid juga ikut membantu membuat sepatu. Ketrampilan yang dimiliki Pak Rasyid didapat dari belajar dengan tetangganya yang telah mahir dalam membuat sepatu. Pak Rasyid juga ikut terjun langsung dalam pembuatan sepatu Bunut. Penghasilan yang didapat tidak menentu bisa dapat sampai Rp.10.000.000 tergantung

dari ramainya pembeli akan tetapi ketika hari-hari besar seperti Lebaran dan Natal penjualan sepatu meningkat. Dari hasil tersebut sangat mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari keluarga Pak Rasyid. Pak Rasyid mendapatkan bantuan dari Dinas Koperasi UMKM berupa pinjaman Rp.5.000.000. Menurutnya bantuan tersebut sangat membantu dan pembayarannya juga tidak terlalu memberatkan para pelaku usaha karena pembayarannya dapat dicicil. Rumah yang dimiliki Pak Rasyid juga cukup besar dan terbuat dari batu. Pak Rasyid juga memiliki sebuah kendaraan roda 4 yaitu mobil. Pak Rasyid merupakan ketua kelompok perkumpulan pengrajin sepatu Bunut yang di tunjuk langsung oleh Lurah Bunut dengan persetujuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

4.3.1.5 Nama : Sutomo

Umur : 58 Tahun

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : SD

Toko : Baizuri

Bapak Sutomo membuka usaha sepatu dengan modal Rp. 4.000.000 yang didapat dari hasil menabung dan pinjaman dari saudaranya. Pak Sutomo memulai usaha pada tahun 2006 hingga sekarang. Pak sutomo bekerja sendiri dalam pembuatan sepatu. Bukan karena tidak mau mempekerjakan orang lain tapi menurut Pak Sutomo membuat sepatu ini dapat dikerjakannya sendiri karena pekerjaan sebagai pengrajin sepatu ini tidak susah dan sudah terbiasa serta membuat sepatu ini tidak terpaku oleh waktu. Jadi, apabila Pak Tomo capek maka dia akan berhenti dan beristirahat terlebih dahulu.. Biasanya Pak Sutomo membuka usaha sepatunya jam 07.30 pagi sampai jam 10.00 malam. Pak Tomo dibantu anaknya yang perempuan untuk berjualan sepatu. Penghasilan yang didapat dari hasil menjual dan membuat

sepatu ini sangat mencukupi. Menurut Pak Tomo bekerja sebagai pengrajin sepatu Bunut ini enak karena tidak terpaku dengan waktu kalau capek tinggal istirahat saja. Penghasilan dari usaha sepatu ini pun tidak menentu karena kadang ramai pembeli dan kadang sepi kadang sehari hanya laku 4 pasang sepatu atau sendal. Kalau pendapatan sehari bisa Rp.500.000 itu pun masih pendapatan kotor karena belum dipotong biaya untuk pembelian bahan baku sepatu lagi. Bangunan toko sepatu Pak Tomo pun terbuat dari batu dan kondisi lantai rumah juga terbuat dari semen. Letak toko sepatu Pak Tomo pun diujung dekat dengan lapangan Golf. Hambatan yang dirasakan oleh Pak Tomo bila harga bahan baku pembuatan naik karena otomatis harga sepatu atau sandal pun ikut naik. Maka hal ini berdampak jadi sepinya pembeli. 4.3.1.6 Nama : Budianto Umur : 49 Tahun Status : Menikah Pendidikan Terakhir : SMP Toko : Reva

Pak Budianto memulai usaha sepatu Bunut pada tahun 2001 dengan bermodalkan uang sebesar Rp.5.000.000; yang didapat Pak Budi dari tabungan. Pak Budianto memiliki 3 orang pekerja yang berasal dari saudara dan warga yang tinggal disekitar kelurahan Bunut. Pak Budianto berkata selama, selama menjalankan usaha sepatunya ini Pak Budi pernah mengalami pasang surut seperti sepinya pembeli, naiknya bahan baku pembuatan sepatu yang disebabkan oleh kenaikan bahan bakar minyak dan lain sebagainya. Pak Budianto memiliki 4 orang anak yang telah dewasa dan sudah ada juga yang telah menikah. Untuk membuka usaha toko sepatu Pak Budianto dibantu oleh istrinya sedangkan Pak Budi sendiri membuat

sepatu dengan para pekerjanya. Pak Budi mulai membuat sepatu dari pagi pukul 8 sampai pukul 5 sore. Penghasilan yang didapat Pak Budi selama menjual sepatu tidak menentu karena tergantung dari pembelian sepatu atau sandal ketika hari itu. Namun, pembelian akan meningkat apabila mendekati atau menjelang hari-hari besar seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

4.3.1.7 Nama : Junaewan

Umur : 51 Tahun

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : SMA

Toko : Ryan

Pak Junaewan memulai usaha sepatunya pada tahun 2004 dengan modal Rp.6.000.000; yang didapat Pak Junaewan dari pinjaman terhadap saudaranya. Dengan dibantu oleh pekerjanya yang berjumlah 3 orang yang berasal dari warga yang tinggal dekat dengan rumah Pak Junaewan. Kadang apabila banyak pesanan anak Pak Junaewan ikut juga membantu membuat sepatu. Usaha tempat Pak Junaewan membuat dan menjual sepatu bernama Ryan yang diambil Pak Junaewan dari nama anaknya. Kesulitan yang dirasakan Pak junaewan selama membuat sepatu adalah bila bahan baku langka, naiknya harga bahan baku, dan sepinya pembeli karena hal tersebut berpengaruh terhadap penjualan sepatu. Selama hari-hari biasa hasil dari penjualan sepatu tidak menentu. Namun, apabila menjelang hari-hari-hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Natal, Tahun Baru dan hari-hari libur lainnya. Para pegawai dari instansi pemerintahan juga kadang menempah sepatu untuk kerja mereka.

4.3.1.8 Nama : Jupri

Umur : 53 Tahun

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : SMP

Toko : Astina

Pada tahun 2005 dengan bermodalkan uang sebesar Rp.6.000.000; pak Jupri mulai

membuka usaha sepatunya dengan dinama Astina yang diambil dari nama istri Pak Jupri. Modal yang didapat Pak Jupri untuk membuka usaha sepatunya ini didapat dari pinjaman terhadap Bank. Pak Jupri memiliki 5 orang pekerja yang merupakan anak, saudara dan warga yang tinggal disekitar rumah Pak Jupri. Masing-masing pekerja memiliki tugasnya sendiri seperti ada yang membuat pola diatas kulit, melembutkan kulit, menjahit dan lain sebagainya. Usaha sepatu Pak Jupri di mulai dari pukul 8 sampai dengan pukul 5 sore. Penghasilan Pak Jupri tidak menentu tergantung dari pembelian pada saat itu. Pak Jupri mengatakan pernah hanya laku 2 sepatu saja dalam sehari. Jadi, pendapatan Pak Jupri pada saat itu sekitar Rp.400.000;. untung yang didapat dari penjualan sepatu inilah yang digunakan oleh keluarga Pak Jupri untuk kebutuhan sehari-hari ditambah lagi untuk menggaji para pekerja yang bekerja untuk Pak Jupri. Usaha sepatu Astina milik Pak Jupri juga menerima tempahan sepatu. Tempahan sepatu dan penjualan sepatu akan meningkat bila mendekati Hari Raya, Natal,Tahun Baru dan hari-hari Libur lainnya. Hambatan dalam pembuatan sepatu yang dirasakan oleh Pak Jupri jika langkanya kulit atau naiknya harga bahan baku pembuatan sepatu dan naiknya bahan bakar minyak karena berdampak bagi penjualan sepatu.

Dokumen terkait