• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM

III.3 Profil Khalayak Ruru Radio

Khalayak media radio atau yang biasa disebut dengan pendengar, memiliki kekhasan dibanding khalayak media lainnya, seperti surat kabar, majalah, televisi, maupun internet. Mike Finnegan, seorang broadcaster, penulis Bringing “personality”to Audio Journal, menilai, bagi pendengarnya radio merupakan one- on-one medium, artinya bagi pendengar, radio itu merupakan komunikasi orang per orang yaitu antara penyiar dengan pendengar itu sendiri. Radio juga bisa menciptakan theatre of mind yang ini tidak cukup digambarkan oleh televise. Selain itu menurut Finngan, radio juga bisa menjadi sahabat bagi pendengarnya. (Mike Finnegan, Bringing “Personality” to Audio Journal, http://www.audiojournal.net/tips.htm, diakses 18 Agustus 2016 )

Oom Leo selaku Direktur Utama Ruru Radio mengatakan bahwa pendengar di Ruru Radio adalah pendengar yang memang mempunyai niatan untuk

 

mendengarkan karena ketertarikan mereka dengan konten- konten yang dibawakan. Konten seperti program Lokal Wisdom beserta event- event yang diadakan.

“orang yang mau ndengerin kita ya emang orang yang punya niatan. Emang sih sarananya umum tapi kan ga ada yang ngontrol, kita ada di ranah dunia maya gitu, siapa yang mau ngontrol? Susah.” (Oom Leo, Indepth Interview, 2016, mei 26).

Meskipun Ruru Radio masih belum melakukan survey perihal data dan karakter pendengar namun karakter khalayak Ruru Radio telah terepresentasikan dengan sendirinya melalui interaksi di akun- akun media sosialnya dan pengunjung yang datang di tiap event yang mereka buat. Ruru Radio memang masih belum memiliki profil pendengar namun hal tersebut bukan berarti membuat mereka lemah dalam sisi manajemen. Radio- radio konvensional memang pada umumnya memiliki data profil pendengarnya, seperti di radio Istara FM di Surabaya dengan program acaranya yaitu “Hip To The Hop”. Profil dari remaja pendengar acara tersebut di Surabaya merupakan identitas dari responden penelitian. Indikator dari profil dalam analisis data tersebut meliputi jenis kelamin, usia, agama, status perkawinan, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan pengeluaran per bulan.

Tabel III.3.1. Jenis Kelamin Responden (N-=100)

No. Jenis Kelamin F %

1 Laki- laki 53 53

2 Perempuam 47 47

 

Tabel III.3.2. Usia Responden (N=100)

Tabel III.3.3 Agama Responden (N=100)

No Agama F % 1 Islam 82 82 2 Kristen 11 11 3 Hindu 1 1 4 Khatolik 6 6 Total 100 100

Tabel III.3.4 Status Perkawinan Responden (N=100) No Status Perkawinan F % 1 Belum Menikah 95 95 2 Menikah 5 5 Total 100 100 No Usia F % 1 17 6 6 2 18 7 7 3 19 24 24 4 20 9  9  5 21 21  21  6 22 20  20  7 23 2  2  8 24 8  8  9 25 3  3  Total  100  100

 

Tabel III.3.5 Pendidikan Terakhir Responden (N=100) No Pendidikan Terakhir F %

1 SMP 6 6

2 SMA 84 84

3 S1 10 10

Total 100 100

Tabel III.3.6 Pekerjaan Responden

Tabel III.1.7 Pengeluaran Perbulan Responden (N=100)

No Tingkat Pengeluaran F % 1 <Rp 250.000 18 18 2 Rp 250.000<Rp 500.000 55 55 3 Rp 500.000<Rp 750.000 11 11 4 Rp 750.000<Rp 1.000.000 5 5 5 >Rp 1.000.000 11 11 Total 100 100 (Putri, 2008)

Berdasarkan hasil keseluruhan analisis data yang berkenaan dengan profil dari pendengar acara “Hip To The Hop” Radio Istara FM di Surabaya, dapat ditarik sebuah garis besar, secara jenis kelamin ada pertimbangan antara pendengar dari

No Jenis Pekerjaan F %

1 Pelajar/Mahasiswa 89 6

2 Swasta 11 84

 

jenis kelamin laki- laki dan perempuan dengan rentang usia yang dominan antara 19-22 tahun. Pendengar di Istara memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Dalam hal pekerjaan, status pekerjaan mereka pada umumnya adalah pelajar dan mahasiswa dengan mayoritas belum menikah serta mempunyai tingkat pengeluaran yang rendah. Perihal pengeluaran dapat disimpulkan bahwa rata- rata pengeluaran responden perbulan antara kurang < Rp 250.000 sampai dengan < Rp 500.000 berada dalam golongan rendah, hal ini dikarenakan bahwa usia mereka masih muda dan belum memiliki pekerjaan karena masih menyandang status mahasiswa dan belum memiliki pekerjaan yang tetap.

Profil khalayak radio Istara FM diatas berperan sebagai pembanding dengan Ruru Radio yang masih belum memiliki profil khalayak, namun hal tersebut tidak menjadi sebuah minus atau kelemahan bagi Ruru Radio dalam sisi manajemen. Manajemen di Ruru Radio mengandalkan media sosial sebagai fasilitas untuk berinteraksi dan mengenal lebih dekat dengan para pendengar. Dalam proses komunikasi yang terjadi di media radio, terjadi interaksi dalam bentuk umpan balik (feedback). (Winarso, 2004). Umpan balik itu merupakan bentuk khas dari pesan. Umpan balik bisa datang dari dua arah, dari diri sendiri (self feedback) maupun dari orang lain. Pada media radio, umpan balik bisa diperoleh dari internal personil radio maupun pendengar yang mendengarkan siaran radio. Bentuk umpan balik bisa dilakukan dengan memberi masukan maupun kritik. Namun di Ruru Radio proses interaksi antara pihak radio dengan pendengar terlihat selalu no response dan hal tersebut dapat terpantau melalui akun- akun media sosialnya. Khalayak Ruru Radio yang memberikan comment terlihat cukup jarang mendapat respon langsung melalui

 

media sosialnya, kecuali media sosial Twitter. Ruru Radio melakukan respon timbal balik dengan para pendengar melalui opsi Retweet. Respon balasan seperti sebuah komentar jarang diberikan namun lebih diperbincangkan melalui announcer saat on air.

“Tunjukin ke corporate bahwa lu yang butuh kita, bukan kita yang butuh lu. Kalo perlu berantem sekalian, kita udah biasa miskin sih soalnya. Mereka pasti takut sama semangat yang kita punya dan pasar yang kita punya. Jadi keuangan untuk membangun sebuah radio itu didasari dengan sistim lo yang butuh gua, nih gua tawarin program bagus, kalo lo gamau lo bakal nyesel setengah mati, buat seperti itu ke mereka.” (Oom Leo, Indepth Interview, 2016, mei 26).

Ruru Radio memiliki beberapa poin menarik perihal diferensiasi Ruru Radio dengan radio- radio lainnya. Ruru Radio membawa semangat indie atau no mainstream karena kejenuhan mereka dengan dunia media konvensional yang semakin lama semakin tidak inovatif. Radio konvensional sekarang ini sudah jarang yang membawakan konten musik indie. Ruru Radio juga menggunakan prinsip menciptakan sesuatu dengan tidak berjarak terbukti melalui program- program dan event yang diadakan. Ruru Radio membangun sistem keuangan dengan bermodalkan ide- ide yang kreatif, perihal biaya dan keuangan tetap mencari dana sponsor namun tetap berada di prinsip “Korposorasi yang butuh gua” yang bermakna meskipun korporasi membantu biaya dan mendanai program- program di Ruru, namun itu bukan berarti korporasi bisa mengatur konten yang dibawakan oleh Ruru Radio itu sendiri. Tidak seperti Radio komersil atau konvensional yang takluk terhadap

 

korporasi karena radio komersil memilih untuk patuh dengan korporasi atau pihak iklan karena mereka menghidupi radio dari hal- hal tersebut.