BAB III PROFIL BUKU
D. Profil Lembaga Formal
okola didirikan pada tahun 2003 oleh Ibu Butet Manurung dan empat rekannya sesama pendidik yang telah lama menjalankan berbagai macam kegiatan di komunitas Orang Rimba di Jambi. SOKOLA berupaya untuk memberikan
kesempatan belajar bagi komunitas adat dan kelompok marjinal lain di wilayah terpencil di Indonesia yang tidak terjangkau oleh sekolah formal.
SOKOLA menggunakan metode praktis baca-tulis-hitung yang dikembangkan oleh Butet selama tinggal bersama Orang Rimba, sebagai sebuah pengetahuan dasar bagi komunitas dalam menghadapi berbagai bentuk perubahan yang muncul.
Visi SOKOLA adalah “Sekolah untuk Kehidupan”, sedangkan misi dari SOKOLA adalah untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi tantangan dari dunia modern yang selalu mendesak. Hingga tahun 2013, SOKOLA telah menjangkau 14 program pendidikan pada komunitas di berbagai wilayah yang ada di Indonesia, memberikan manfaat bagi lebih dari 10.000 penduduk, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Beberapa tujuan umum dari SOKOLA adalah antara lain: 1) dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah mengenai kurikulum masyarakat adat, Sokola ingin dapat dilibatkan karena tidak dipungkiri bahwa Sokola memiliki banyak pengalaman, metode dan pendekatan yang digunakan pun efektif dalam proses pembelajaran, selama sekitar 21 tahun Sokola mengalami
78Informasi mengenai Profil Lembaga Formal Sokola Rimba ini, peneliti dapatkan melalui proses kegiatan wawancara terstruktur yang peneliti lakukan dengan pihak tokoh penulis buku, Ibu Butet Manurung, pada hari Senin, 25 Mei 2020, Pukul 14.11-15.30 WIB.
S
76
proses jatuh bangun, selama 4 tahun ini Sokola dijadikan sebagai konsultan kementerian untuk membentuk sebuah bentuk kurikulum yang berpihak kepada masyarakat adat; 2) Sokola ingin menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat adat, siapapun yang ingin belajar atau mereplikasi program Sokola, bisa belajar bareng di Sokola, Sokola mempersiapkan banyak training, sumber data, dan dokumentasi yang dapat digunakan; Sokola memiliki sebuah bentuk departemen penelitiian yang akan banyak melakukan pengkajian-pengkajian terhadap data hasil penelitian lapangan; 3) Sokola membuka program baca tulis dan advokasi di seluruh Indonesia; 4) Sokola berharap kepada anak muda, mahasiswa, para relawan untuk ikut serta dalam proses kegiatan Sokola.
Pada dasarnya, mereka yang berusaha untuk belajar memahami hakikat menjadi seorang relawan hanya bermodalkan niat saja, mereka tidak memiliki pemahaman menjadi seorang relawan, bagaimana cara untuk memberdayakan masyarakat, banyak yang beranggapan bahwa jika Ibu Butet sudah masuk ke dalam rimba dan sudah mampu menyelesaikan permasalahan tertentu di rimba itu tandanya sudah selesai dan itu adalah bentuk kerelawanan, bukan seperti itu. Hakikat menjadi seorang volunter itu adalah bagaimana cara volunter tersebut untuk menghasilkan sebuah bentuk perubahan yang berarti; jika masyarakat di suatu tempat sudah mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri, itu baru berhasil; bukan volunter itu yang membantu mereka tetapi dia yang mendorong mereka hingga mampu menyelesaikan permasalahan sendiri. Menurut Ibu Butet, kerelawanan di Indonesia mengalami syndrome juru selamat atau pahlawan, seakan-akan merasa paling pintar, mengerti, dan memahami; para relawan seharusnya datang untuk belajar, berusaha untuk lebih membiasakan diri, dan nantinya menyimpulkan apa yang harus dilakukan nantinya untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul.
Konsep pendidikan SOKOLA adalah pendidikan kontekstual dan sekitar 16 Sokola di Indonesia menerapkan konsep pendidikan tersebut.
Sebuah bentuk pendidikan dalam konteks Sokola adalah pendidikan yang
77
benar-benar menjadikan diri seseorang bermanfaat untuk sekitarnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, kurikulum harus dibentuk oleh dirinya sendiri dan menyesuiakan setiap masanya; jika masalah yang muncul di tahun selanjutnya berbeda dengan masalah yang muncul di tahun sebelumnya, maka otomatis kurikulumnya pun juga berubah. Sebuah bentuk pendidikan kontekstual menghasilkan konten atau isi kurikulum yang dibentuk dengan konteks di tempat tersebut atau bisa kita sebut sebagai metode hadap masalah. Contohnya: dulu banyak pencuri kayu liar, masyarakat rimba akan belajar tentang bagaimana cara untuk mengusir pihak tersebut, belajar tentang apa dampak hutan yang gundul terhadap sungai dan mata pencaharian mereka; lingkungan rimba dijadikan sebagai kawasan hutan lindung, mereka belajar tentang apa yang dimaksud dengan hutan lindung, kenapa mereka menjadi kehilangan hak atas hutan akibat hutan lindung tersebut, mungkin harus dengan cara mendemo, membuat sebuah bentuk peta, membuat sebuah film tentang kearifan lokal, dan sebagainya.
Perubahan yang muncul di Sokola sejak tahun 2008 hingga saat ini adalah munculnya kader yaitu masyarakat lokal yang melanjutkan proses kegiatan pengajaran, membela hak murid-muridnya; kader tersebut sudah memiliki kemampuan untuk mengorganisasikan diri dan menyelesaikan permasalahan tertentu yang muncul. Kader tersebut tergabung ke dalam sebuah kelompok yaitu Kelompok Makekal Bersatu (KMB) yang menjalankan sebuah usaha (enterpreunership), mendokumentasikan kehidupan masyarakat rimba melalui sebuah bentuk film, sudah mampu menjalankan program pendidikan tanpa bantuan dari Ibu Butet, dkk; dan menerima perubahan dengan memilih-milih (mempertimbangkan untung dan ruginya) tanpa harus kehilangan identitas jati diri mereka sendiri.
Pendekatan yang digunakan oleh Sokola dalam menjalankan proses kegiatan pendidikan adalah pendekatan etnografi, yang banyak digunakan oleh para antropolog (bergerak dalam bidang budaya), sangat cocok untuk masyarakat adat dengan mengkonstruksikan pemahaman kita mengenai adat rimba dalam sebuah struktur di kepala sehingga mudah untuk memahami dan
78
menyerapnya. Pendekatan etnografi diajarkan kepada semua guru-guru yang ada di lapangan, mereka semua memiliki kemampuan untuk memandang diri mereka sendiri, bagaimana cara mereka memandang diri mereka sendiri, struktur yang dapat dipelajari ketika kita belajar di rimba dipahami dengan pendekatan etnografi yang berupa kebenaran dalam versi lokal, contohnya:
kebahagiaan masyarakat rimba adalah keadaan hutan yang terjaga; cantik bagi masyarakat rimba adalah perempuan yang pendek, rambutnya panjang, dan hidungnya pesek; sosok yang hebat bagi masyarakat rimba adalah sosok yang bisa manjat pohon madu, pintar dalam berburu, pintar dalam berdiplomasi melawan masyarakat luar. Pendekatan etnografi berhubungan langsung dengan sebuah bentuk relativisme budaya.
Hambatan yang paling sering dialami oleh lembaga Sokola dalam proses menjalankan program pendidikan adalah dalam hal dana. Sebenarnya, ada beberapa kumpulan praktisi pendidikan yang bersedia untuk membantu Sokola; jika Sokola mau maka Sokola dapat menerima bantuan dari banyak pihak, tetapi Sokola tidak mau untuk menerima bantuan dari pihak yang kemungkinan besar akan berdampak buruk bagi lingkungan sehingga susah untuk mendapatkan uang, pemerintah yang berlandaskan dengan agama atau politik. Selain dalam hal dana, persepsi umum masyarakat kota yang ingin mengubah masyarakat rimba menjadi masyarakat kota juga merupakan salah satu hambatan yang dialami oleh lembaga Sokola dalam menjalankan program pendidikan.