IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. Profil Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di daerah Bogor, Jawa Barat. Kabupaten Bogor memiliki 40 Kecamatan, dua diantaranya adalah Kecamatan Pamijahan dan Kecamatan Ciampea. Kecamatan tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan dua dari empat kecamatan yang tergolong empat besar kasus gizi kurang dan buruk di Kabupaten Bogor pada tahun 2006. Selain itu dua kecamatan tersebut relatif lebih jauh dari pusat kota sehingga akses penduduk terhadap informasi kesehatan, gizi, pertumbuhan dan perkembangan anak lebih rendah dibandingkan dua kecamatan lainnya.
Berikut adalah gambaran lokasi penelitian yang diacu dari monografi desa dan kecamatan, serta diunduh dari www.wikipedia.com.
4.1.1. Sekilas tentang Bogor
Bogor adalah sebuah kota di Pulau Jawa Barat dengan populasi kira-kira 800,000 orang di wilayah perkotaan dan 2,000,000 orang di daerah pinggiran kota, sehingga populasi totalnya mencapai 3 juta orang. Bogor adalah ibukota Indonesia selama kedudukan Inggris di bawah Stamford Raffles dan juga pada masa kedudukan Belanda sepanjang musim kemarau, kemudian dikenal sebagai Buitenzorg. Bogor memiliki istana presiden, taman yang memiliki rusa, dan Kebun Raya Bogor di pusat kota. Pohon karet dibawa ke kebun raya Buitenzorg's pada tahun 1883. Bogor tempat bagi Institut Bogor Pertanian dan CIFOR, Pusat Kajian Internasional untuk kehutanan. Pada tahun 450, Bogor menjadi bagian dari Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu pertama di Pulau Jawa, dan yang kedua di Indonesia setelah Kerajaan Kutai di Kalimantan. Raja Tarumanegara yang paling populer adalah Purnavarman,
34
yang berkuasa sekitar 5 abad. Selama pemerintahannya, kerajaan mencapai zaman keemasannya. Kota kemudian dengan nama Pakuan, ibukota oleh kerajaan Jawa Barat Sunda Galuh, datang dari pendiri kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Bogor kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Siliwangi (1482), yang dikuasai oleh Raja Siliwangi.
Bogor sekarang menyimpan banyak catatan batu (prasasti) dari kedua kerajaan, yaitu Tarumanegara dan Siliwangi. Prasasti tersebut, tersebar ke seluruh kota, pinggiran kota, dan daerah Bogor pedesaan, ditulis dalam Bahasa Sansekerta dan menggunakan sistem penulisan Pallava. Prasati yang paling terkenal adalah "Prasasti Ciaruteun", "Kaki Gajah" dan "Prasasti Batutulis".
Prasasti Ciaruteun adalah suatu batu bundar besar yang ditemukan di suatu pinggiran sungai yang mana terdapat jejak kaki Purnavarman diukir bersamaan dengan tulisan Pallava. Jejak kaki menunjukkan bahwa Purnavarman itu adalah utusan atau jelmaan dari dewa Hindu Vishnu. Tentu saja, teks pada batu membandingkan jejak kakinya dengan Dewa Vishnu. Batu bundar besar tersebut sekarang telah dipindahkan ke tempat yang dilindungi dengan pagar besi melingkupinya, hanya beberapa kilometer dari sungai tempat ditemukannya. Sementara itu prasasti Kaki Gajah, sesuai dengan namanya, berupa batu pipih coklat yang ditandai dengan jejak kaki gajah. Gajah tersebut diduga merupakan gajah raja Purnavarman. Prasasti ini ditemukan tidak jauh dari Prasasti Ciaruteun. Prasati lain adalah prasati Batutulis yang terletak di wilayah Batutulis di Bogor. Sekarang ditempatkan di dalam rumah, di seberang kediaman presiden Sukarno (Presiden pertama RI). Terdapat koleksi empat batu. Batu yang kecil pertama, terdapat jejak kaki Siliwangi, ditempatkan di depan batu yang kedua dengan jejak lututnya. Batu yang ketiga lebih besar, pipih, batu coklat yang diukir tegak lurus dan ditulis Raja dengan bahasa Sansekerta. Tiga batu ini diatur sedemikian sehingga memberi kesan bahwa raja benar-benar berlutut manakala sedang
35
mengukir. Batu terakhir adalah suatu batu karang silindris aneh yang di letakkan disamping sisa-sisa lainnya. Banyak orang mengatakan bahwa itu adalah staff Siliwangi, walaupun nampak mustahil karena batu karang ini sungguh lebar garis tengahnya.
Wilayah di pinggiran kota Bogor menjadi bagian dari Kabupaten Bogor. Sekarang kota Bogor dijuluki "Kota Hujan", memberi kesan bahwa sangat basah dan hampir selalu hujan bahkan sepanjang musim kemarau. Kabupaten Bogor adalah suatu kabupaten di Pulau Jawa Barat, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 3,440.71 km² dan populasi 3,945,000 jiwa (2003). Kabupaten Bogor dibagi menjadi 35 kecamatan. Cibinong adalah ibukota dari Kabupaten Bogor Pulau Jawa Barat, Indonesia.
Bahasa tradisional Bogor adalah Bahasa Sunda. Bahasa Sunda Bogor sedikit lebih kasar dan menggunakan lebih banyak bahasa ―slang‖ dibanding dengan Bahasa Sunda dari bagian wilayah priangan lainnya di Jawa Barat. Dalam kaitan dengan perluasan Jakarta, banyak orang dari tempat berbeda dan suku yang berbeda tinggal di Bogor. sehingga penggunaan baasa Indonesia, sebagai bahasa nasional resmi, menjadi semakin umum di wilayah perkotaan tersebut.
Alat transportasi terpopuler di Bogor adalah "angkot" (singkatan angkutan kota). Mereka melayani rute tertentu yang ditandai oleh kombinasi dari angka yang tertera di mobil mereka dan warna mobilnya, yang terdiri dari warna biru dan hijau. Angkot tersebut dikendarai oleh pemilik pribadi dan dengan tarif yang sudah ditetapkan. Bis dan taksi tidak tersedia dengan jumlah yang banyak, terutama taksi karena relatif lebih mahal. Minibus biasanya lebih sering terlihat di kota. Sementara itu, jalan kereta api yang menghubungkan Bogor dengan kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta (ke utara) dan Sukabumi (ke selatan).
36
4.1.2. Kecamatan Ciampea
Kecamatan Ciampea terletak di bagian Barat Kota Bogor 15 Km dari pusat Kota Bogor. Kecamatan Ciampea memiliki 13 desa. Berdasarkan rekapitulasi Formulir Pelaporan Pendataan Status Gizi di Puskesmas UPTD (Unit Pelaksanaan Tingkat Daerah) Kelompok kontrol dan pertimbangan lokasi, maka terpilihlah Desa Benteng dan Desa Cibanteng sebagai wilayah penelitian.
Desa Benteng. Desa Benteng terletak 45 Km dari kota Bogor, memiliki luas wilayah 248.15 Ha, yang terbagi dalam 2 dusun, 7 Rukun Warga (RW), dan 38 Rukun Tetangga (RT). Jumlah Penduduk per Desember 2007 berjumlah 10,858 jiwa (laki-laki 5,530 jiwa dan perempuan 5,328 jiwa) dan 2,267 KK. Mayoritas penduduk beragama Islam, namun terdapat juga penduduk beragama Katholik, Protestan, dan Hindu. Prosentase terbesar bermata pencaharian buruh, yang lainnya adalah sebagai petani, pedagang, pegawai negeri, TNI/POLRI, pensiunan/purn, wiraswasta, pengrajin, tukang bangunan, penjahit, tukang las, pengemudi ojek, bengkel, supir angkutan, dan lainnya. Pendidikan penduduk beragam dari yang tidak tamat SD sampai lulus sarjana, namun prosentase terbesar penduduk berpendidikan SD (Sekolah Dasar)/MI (Madrasah Ibtidaiyyah). Terdapat berbagai sarana dan prasarana pendidikan, peribadatan, kesehatan, perekonomian di Desa Benteng yaitu: Sarana pendidikan berupa 2 buah SD Negeri, 1 buah RA/TK Al- Quran, 4 buah Madrasah ibtidaiyah, dan 1 pondok pesantren; sarana peribadatan terdapat 11 buah Mesjid dan 13 buah Mushola; sarana kesehatan berupa 12 Posyandu, Dokter praktek swasta (2 orang), Bidan Desa (1 orang), Bidan praktek swasta (1 orang), Paraji beranak terlatih (2 orang), dan kader posyandu (48 orang); sarana perekonomian dan perdagangan berupa toko/warung, 1 buah Toko material bangunan dan 8 buah Wartel/kios telepon; selain itu terdapat sarana dan prasarana lainnya seperti lapangan badminton (11 buah) dan lapangan bola volley (3 buah).
37
Desa Cibanteng. Desa Cibanteng berjarak 25 km dari kota Bogor, merupakan desa swadaya dengan luas wilayah 162,185 Ha, terbagi dalam 7 Rukun Warga (RW), dan 41 Rukun Tetangga (RT). Jumlah Penduduk sebanyak 14,263 orang (7,431 orang laki – laki dan 6,832 orang perempuan) dengan jumlah kepala keluarga adalah sebanyak 4,487 KK. Mayoritas penduduk beragama Islam (13,212 orang), sisanya beragama Khatolik, Protestan, dan Hindu. Prosentase terbesar sebagai karyawan Swasta (4,620 orang) dan buruh (2,632 orang), sisanya adalah pedagang, petani, PNS/TNI-POLRI.
4.1.3. Kecamatan Pamijahan
Kecamatan Pamijahan terletak di bagian Barat, sekitar 25 Km dari pusat Kota Bogor. Berdasarkan data balita dengan status gizi kurang (Rekapitulasi Formulir Pelaporan Pendataan Status Gizi di Puskesmas Unit Pelaksanaan Tingkat Daerah Pamijahan) serta pertimbangan lokasi, maka dari 15 Desa di Kecamatan Pamijahan, Desa Gunung Sari dan Gunung Picung ditetapkan sebagai lokasi penelitian.
Desa Gunung Sari. Desa Gunung Sari berjarak 57 Km dari Ibu Kota Kabupaten Bogor, memiliki luas wilayah 1,344.83 Ha dan berada pada ketinggian 600 – 800 m dari permukaan laut. Bentuk wilayah Desa Gunung Sari yang dominan adalah berbukit sampai bergunung, sisanya berbukit dan berombak, dan berombak sampai datar. Jumlah penduduknya 12,316 jiwa (6,389 jiwa laki-laki dan 5,927 jiwa perempuan), atau 3,035 keluarga, yang terbagi dalam 3 Dusun, 9 Rukun Warga (RW), dan 43 Rukun Tetangga (RT). Mayoritas penduduk beragama Islam (12,310 orang), bermata pencaharian sebagai buruh tani (2,780 orang), dan tingkat pendidikan tidak tamat SD/sederajat (4,635 orang). Jumlah angkatan kerja laki-laki adalah 3,035 orang dan 2,840 orang angkatan kerja perempuan.
Prasarana pengairan yang terdapat di Desa Gunung Sari berupa 4 buah air terjun dan 2 buah sungai. Lalu lintas desa melalui darat berupa jalan aspal, jalan diperkeras, dan jalan
38
tanah. Alat transportasi yang digunakan penduduk untuk beraktivitas yaitu 40 buah angkot dan 170 ojek. Sarana perekonomian yang tercatat berupa Koperasi dan lembaga Kredit; pasar radisional dan semi permanen; dan sekitar 500 buah toko, kios, dan warung. Terdapat 2 buah Lingkungan pengasuhan Industri (dengan 15 orang tenaga kerja), 92 penginapa/losmen/hotel kecil (dengan 92 orang tenaga kerja), 4 buah rumah makan/warung makan (dengan 8 orang tenaga kerja), perdagangan (500 buah dengan 500 orang tenaga kerja), dan angkutan (40 buah dengan 40 orang tenaga kerja).
Desa Gunung Picung. Desa Gunung Picung berjarak 51 Km ke Ibu Kota Kabupaten Bogor, memiliki luas wilayah 876.5 Ha dan berada pada ketinggian 600 – 900 m dari permukaan laut. Jumlah penduduknya 12,140 jiwa (6,211 jiwa laki-laki dan 5,929 jiwa perempuan) atau 2,875 Kepala Keluarga, yang terbagi dalam 4 Dusun, 12 Rukun Warga (RW), dan 43 Rukun Tetangga (RT). Mayoritas penduduk beragama Islam (12,134 orang), dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD/sederajat (5,755 orang), dan prosentase terbesar bermata pencaharian pedagang (500 orang). Masih terdapat penduduk usia dewasa yang buta huruf (109 orang).
Berbagai beberapa sarana pertanian, perekonomian dan perdagangan, pendidikan, peribadatan, dan kesehatan. Prasarana pengairan berupa 4 buah air terjun, 2 buah sungai, dan 1 buah PAM. Lalu lintas desa adalah melalui darat, baik berupa jalan aspal, jalan diperkeras, dan masih terdapat jalan tanah. Alat transportasi yang sering digunakan penduduk dalam beraktivitas yaitu angkot, ojek, dan sepeda. Sarana perekonomian berupa Koperasi kredit dan Simpan Pinjam, pasar tradisional, dan yang paling banyak adalah toko/kios/warung. Terdapat satu industri besar dan lebih banyak Lingkungan pengasuhan Industri. Sarana pendidikan hanya ada Taman Kanak-Kanak (1 buah) dan Sekolah Dasar Negeri (6 buah). Sedangkan sarana dan prasarana peribadatan berupa 16 buah Mesjid dan 44 buah Mushola. Terdapat 12 Posyandu yang dijadikan sarana dan prasarana kesehatan di
39
Desa Gunung Picung. Tenaga medis yang melaksanakan praktik di Desa Gunung Picung yaitu Bidan Desa (1 orang), Bidan praktek swasta (1 orang), Paraji beranak terlatih (7 orang), dan Dukun sunat (3 orang).