Bab I Pendahuluan 1
II.5 Profil Dan Visi Misi Pasangan ZIKIR
II.5.2 Profil Muzakkir Manaf
Pria yang akrab disapa Mualem (gelar yang disematkan kepada sesorang
yang memiliki pengetahuan tinggi tentang ilmu kemiliteran, yang memiliki
kemampuan untuk melatih pasukannya) ini lahir di Seuneudon, Aceh Utara pada
tahun 1964. Ia sudah terlibat dalam perjuangan Aceh bersama GAM sejak usia muda. Sejak 1986 hingga 1989, bersama beberapa pemuda Aceh pilihan lainnya beliau dikirim ke Libya untuk mengikuti pendidikan militer di Camp Tajura.
Ketika kembali ke Aceh, sama seperti kombatan GAM lainnya Muzakkir bergabung bersama kombatan GAM lainnya untuk meneruskan perjuang. Mantan GAM untuk menggantikan Panglima GAM terdahulu, Abdullah Syafie yang meninggal pada tanggal 22 Januari 2002. Usai MoU Helsinski ditandangani pada 15 Agustu 2005, sayap militer GAM dibubarkan, dan kemudian dibentuk KPA (Komite Peralihan Aceh) sebagai wadah transisi mantan kombatan GAM ke masyarakat sipil biasa. Sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2005 hingga sekarang, Muzakkir menjabat sebagai ketua KPA. Sekaligus juga Ketua Umum Partai Aceh sejak tahun 2007 hingga 2012. Pada tanggal 2 Maret 2013 Muzakkir Manaf terpilih kembali secara aklamasi sebagai ketua Partai Aceh dalam musyawarah partai yang digelar di Banda Aceh.
Tabel II.5
Biodata Singkat Muzakkir Manaf
Nama : Muzakkir Manaf
Tempat, Tanggal Lahirr : Seuneudon, 1964
Alamat : Banda Aceh
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Kawin
Riwayat Pendidikan : - SDN Seuneudon Kabupaten Aceh Utara
- SMP Negeri Idi Kabupaten Aceh Timur
- SMA Negeri Panton Labu Kabupaten Aceh Utara
GAM - Panglima Wilayah Pase GAM 1998 – 2002
- Wakil Panglima Pusat GAM 1998 – 2002
- Panglima GAM 2002 – 2005
- Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) 2005 –
sekarang
- Ketua umum Partai Aceh 2007 – 2012 dan 2012 -
...
II.6 VISI dan MISI pasangan ZIKIR
Visi yang diusung oleh pasangan ini adalah “ACEH YANG BERMARTABAT, SEJAHTERA, BERKEADILAN, DAN MANDIRI BERLANDASKAN UU PA SEBAGAI WUJUD MoU HELSINSKI”. Kata-kata yang tergabung dalam kalimat membentuk visi tersebut memiliki makna yang diuraikan seperti di bawah ini.
Bermartabat dapat mewujudkan melalui penuntasan peraturan-peraturan hasil turunan UUPA dan peraturan perundangan lainnya, pelaksanaan tatakelola pemerintahan yang baik dan bersih, bebas dari praktek korupsi, kolusi dan Nepotisme serta penegakan supremasi hukum dan HAM, mengangkat kembali budaya Aceh yang islami dan pelaksanaan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatanan
kehidupan bermasyarakat. Sejahtera adalah terwujudnya kesejahteraan
masyarakat Aceh melalui pembangunan ekonomi berazaskan pada potensi unggulan lokal dan berdaya saing, pengoptimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan geopolitik Aceh, peningkatan indeks pembangunan manusia dan
mengembangkan kemampuan menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Berkeadilan adalah terwujudnya pembangunan yang adil dan merata
yang dilakukan secara partisipatif, proporsional dan berkelanjutan berdasarkan
prinsip kebutuhan dan aza manfaat bagi masyarakat Aceh. Dan Mandiri adalah
Aceh mampu memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang melimpah dan keunggulan geostrategis melalui penguatan kapasitas sumberdaya manusia, efisiensi dan efektifitas anggaran, serta penguasaan tekonologi informasi, sehingga bermanfaat bagi masyarakat Aceh.
Kalimat selanjutnya yang berbunyi “Berlandaskan UUPA sebagai wujud
MoU Helsinki” memiliki makna mewujudkan pelaksanaan Pemerintah Aceh yang efektif dan efisien sebagaimana yang telah dituangkan dalam Undang-undang tersebut guna tercapainya masyarakat Aceh yang mandiri, makmur dan sejahtera dalam bingkai NKRI.
Adapun misi pasangan ini dalam mewujudkan visi Aceh tersebut ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan Aceh sebagai berikut: Misi Pertama yaitu memperbaiki tata kelola Pemerintahan Aceh yang amanah melalui Implementasi dan penyelesaian turunan UUPA untuk menjaga perdamaian yang abadi. Misi ini bermaksud mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan amanah melalui implementasi peraturan-peraturan turunan UUPA. Selanjutnya peningkatan profesionalisme dan pengelolaan sumberdaya aparatur, penguatan sistem pendataan penyelenggaraan pemerintahan, peningkatan kualitas pelayanan publik melalui efisiensi struktur pemerintahan, membangun transparansi dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah. Menjadikan UUPA dan
turunan peraturannya sebagai acuan pelaksanaan dan percepatan pembangunan Aceh secara menyeluruh serta mewujudkan perdamaian abadi di provinsi Aceh.
Misi kedua adalah menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam disemua sektor kehidupan masyarakat, yang bermakna membangun masyarakat Aceh yang beriman, bertaqwa, beakhlak mulia, beretika dan berkarakter, dengan mengangkat kembali budaya Aceh yang bernafaskan Islami dalam upaya pengembalian harkat dan martabat masyarakat Aceh. dan juga mengimplementasikan budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatanan pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat secara efektif dan tepat.
Misi ketiga yaitu memperkuat struktur ekonomi dan kualitas sumber daya manusia. Maksudnyaadalah mengembangkan kerangka ekonomi kerakyatan melalui peningkatan potensi sektor unggulan daerah dalam upaya membangun kualitas hidup masyarakat secara optimal, menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran dalam memenuhi capaian Milenium Development Goals (MDGs), memperluas kesempatan kerja melalui pembangunan infrastruktur ekonomi sektor riil dan pemihakan kepada sektor pertanian yang berbasis potensi lokal masing-masing wilayah. Selain itu meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat Aceh adalah mewujudkan kualitas pelayanan pendidikan melalui peningkatan angka partisipasi sekolah, menurunkan angka buta aksara, meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) dalam berbagai tingkat pendidikan, menurunkan disparitas antarwilayah, gender dan sosial ekonomi serta antar satuan pendidikan. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui meningkatnya angka harapan hidup,
menurunnya angka kematian bayi, menurunnya angka prevalensi gizi buruk serta efektifitas penanganan penyakit menular guna pencapaian MDG’s.
Misi terakhir yaitu melaksanakan Pembangunan Aceh yang proporsional, terintegrasi dan berkelanjutan. Artinya adalah terwujudnya masyarakat Aceh yang mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang berdaya guna dan berhasil guna secara optimal dengan mendorong masyarakat yang lebih produktif, kreatif, dan inovatif.
BAB III
ANALISIS STRATEGI POLITIK PARTAI ACEH
III.1 Konsolidasi Internal
Strategi politik merupakan usaha-usaha yang dilakukan seseorang atau
kelompok untuk mencapai tujuan dalam bidang politik39
Dalam proses pemenangan Partai Aceh juga melakukan manuver-manuver dalam membangun serta menjalankan strategi-strategi politiknya, agar tujuan yang . Strategi politik sangat penting dalam proses mencapai kemenangan dalam pemilu yang dimana terdapat kompetisi yang sangat ketat baik itu partai maupun calon legislatif. Strategi politik ini akan mempengaruhi pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan atau suatu kedudukan dalam dunia politik, dan dari sini lah memperjelas bahwasanya strategi politik merupakan sarana untuk mewujudkan suatu kedudukan atau cita-cita dalam berpolitik.
Langkah strategi, dikalangan militer terdapat ungkapan yang amat terkenal
yang berbunyi, “to win the war, not to win the battle” yang berarti memenangkan
perang, bukan memenangkan pertempuran. Dalam hal ini, sangat diperlukan strategi untuk memenangkan perang, sedangkan taktiknya adalah untuk memenangkan pertempuran. Demikian pula strategi komunikasi politik suatu partai, karena berhasil atau tidaknya strategi politik secara efektif banyak ditentukan oleh strategi komunikasi.
diinginkan oleh partai dapat terealisasi dengan baik sesuai visi dan misi serta kesepakatan internal partai. Dalam hal ini strategi politik awal yang dilakukan Partai Aceh adalah konsolidasi internal.
Proses awal yang dilakukan Partai Aceh dalam menghadapi pemilu adalah konsolidai internal, karena ketika internal sudah kuat dan matang maka dalam pemenangan akan lebih mudah, seperti yang disampaikan Kamaruddin SH ,
“Yang pertama dilakukan adalah konsolidasi internal. Konsolidasi internal ini untuk mengidentifikasi faksi-faksi politik di internal. Karena memang dalam komunikasi politik tidak bisa dinafikan suatu keniscayaan adanya faksionalisasi. Jadi kita untuk mengukur kadar politik pemenangan, kita jelas mengidentifikasi faksi mana yang tidak mendukung. Dan kemudian setelah konsolidasi dan mengidentifikasi itu kita melakukan pembersihan di internal. Jadi jelas dia berkiblat kemana. Karena memang keniscayaan politik di internal partai politik pasti terjadi faksionalisasi40
“Persiapan awal adalah Konsolidasi kader dan simpatisan partai, mengkonsolidasikan kader dan simpatisan partai untuk loyal dan bertanggung jawab terhadap pemenangan pasangan ZIKIR. Mengingat jika dilihat secara esensinya ada dua calon dari GAM. Yaitu Irwandi dan pasangan ZIKIR. Karena pada
.”
Hal ini juga di pertegas oleh Kausar yang dimana adalah Sekretaris pemenangan Partai Aceh,
40
Hasil wawancara dengan Wakil Ketua Partai Aceh Kamaruddin, SH pada tanggal 10 Mei 2013 di Kota Banda Aceh
dasarnya Irwandi dan timnya juga merupakan eks-kombatan GAM. Konsolidasi ini juga dilakukan dalam bentuk “membersihkan” para kader ataupun anggota KPA yang pro terhadap Irwandi, kemudian digantikan dengan kader yang loyal terhadap PA dan pasangan ZIKIR41
Melalui hasil wawancara diatas terlihat jelas bahwa pada awal prosesi penentuan calon yang akan diusung, terjadi dinamika yang sengit dalam pemilihan nama calon gubernur, karena masih ada faksional yang seperti itu di bentuk dalam tubuh partai dan Komte Peralihan Aceh (KPA). Sebagaimana sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, organisasi sebagai wadah bagi mantan kombatan ini juga salah satu pelakon dari suksesi pasangan zikir. Dalam sistem demokrasi dewasa ini, hal-hal seperti itu sangat wajar terjadi. Namun, untuk mengarahkan ke arah satu tokoh yang hendak diusung partai, tentulah strategi-strategi dalam pemenangan kesepakatan di partai harus di lakukan terlebih dahulu. Karena
.”
Dari sini dapat dilihat bahwasanya hal yang paling penting dalam mendirikan suatu bangunan adalah dengan memperkuat dasar bangunan terlebih dahulu, seperti yang dilakukan oleh Partai Aceh, sebelum jauh terjun ke lapangan dalam proses pemenangan yang di identifikasi terlebih dahulu adalah kondisi internal partai. Didalam internal partai harus di identifikasi faksionalisasi yang terjadi, karena tidak bisa di pungkiri di kubu partai sendiri ada faksi-faksi yang terbangun, oleh karena itu harus ada pengkrucutan yang dilakukan dengan metoda-metoda yang dapat mempersatukan pandangan untuk memenangkan calon yang akan di usung.
41
Hasil wawancara dengan Sekretaris Pemenangan Pusat Partai Aceh 2012, Kausar pada tanggal 09 Mei 2013 di Medan
menurut kader partai Aceh, pertarungan yang sangat sengit itu adalah ketika pertarungan dilakukan di internal partai. Mengutip perkataan Motinggo Busye yang pernah menyatakan bahwasanya, “jangan lah takut dilanda ombak kalau
berumah ditepi pantai”.42
Hal ini juga diperparah lagi oleh keengganan dari partai Aceh untuk mendaftarkan pasangannya yaitu dr. Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf ke Komite Independen Aceh (KIP) sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Aceh periode 2012-2017 dikarenakan peraturan mengenai Pemilukada 2012 di Aceh masih membolehkan keikutsertaan calon independen. Padahal menurut para petinggi partai Aceh adanya peraturan yang memperbolehkan keikutsertaan calon
Artinya adalah jangan pernah takut melakukan pertarungan, jika memang pertarungan itu sudah didepan mata. Dengan kata lain sikap harus ditentukan jika memang di internal partai sendiri sudah terjadi dua pendapat yang berbeda dalam menentukan pasangan atau calon mana yang hendak diusung oleh partai. Karena stigma yang telah terbentuk adalah siapa pun calon yang diusung partai Aceh, bisa dipastikan menang dalam pilkada.
Awal mula konflik yang terjadi di tubuh Partai Aceh, dapat kita lihat ketika Irwandi Yusuf mendeklarasikan diri untuk mencalonkan kembali sebagai calon Gubernur Aceh periode 2012-2017, sedangkan dari pihak internal partai Aceh menyatakan tidak akan mendukung Irwandi Yusuf lagi. Namun, kondisi ini membuat organisasi pendukung partai Aceh yaitu Komite Peralihan Aceh (KPA) terpecah. Ada beberapa pimpinan KPA di wilayah (tingkatan kabupaten/kota) yang cenderung pro terhadap Irwandi Yusuf.
42
independen menciderai isi dari Undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang menyatakan bahwa keikutsertaan calon independen pada Pemilukada di Aceh hanya diperbolehkan pada Pemilukada tahun 2006 dan untuk
Pemilukada berikutnya harus melalui partai nasional dan partai lokal43
“..., PA secara kelembagaan menolak dengan tegas yudical
review yang dilakukan oleh Mukhlis Mukhtar dkk ke MK mengenai pasal dalam UUPA No.11 Tahun 2006 yang mengatur mengenai keikutsertaan calon independen pada Pilkada Aceh hanya satu kali saja yaitu pada Pilkada tahun 2006. Sedangkan menurut UU tentang Pemilu tahun 2008 bahwa calon independen diperbolehkan ikut dalam Pilkada di seluruh Indonesia. Berarti secara otomatis isi undang-undang tersebut telah menggugurkan salah satu pasal dalam UUPA no.11 tahun 2006 yaitu tentang calon independen itu sendiri. PA tidak sepakat UUPA diutak-atik oleh pemerintah pusat. Kami beranggapan UUPA merupakan penjelmaan dari MoU Helsinski sehingga menjaga keutuhan dari UUPA merupakan sebuah keharusan demi terawatnya perdamaian di Aceh. Dari situlah dimulai polemik mengenai aturan Pemilukada di Aceh
. Mengenai hal ini Kausar mengatakan:
44
Pada fase “konflik” itu berlangsung itulah, banyak kader-kader partai Aceh dan juga para eks kombatan yang tergabung dalam wadah Komite Peralihan
.”
43
Hal ini dijelaskan dalam UU No. 11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh pada pasal 256 BAB XXXIX tentang Ketentuan Peralihan, lihat
44
Hasil wawancara dengan Sekretaris Pemenangan Pusat Partai Aceh 2012, Kausar pada tanggal 09 Mei 2013 di Medan
Aceh (KPA) yang dianggap “membelot” ke kubu Irwandi Yusuf. Bahkan ada beberapa eks kombatan yang jelas-jelas mengusung Irwandi seperti Sofyan Dawoed, Thamrin Ananda, Tgk. Muksalmina, dan Muslim Hasballah. Namun ada juga para kader eks kombatan ini diangap “abu-abu” yaitu masih berada dilingkungan partai Aceh namun juga tidak menunjukkan keseriusan dalam rangka memenangkan pasangan ZIKIR.
Kondisi ini membuat para pimpinan partai Aceh untuk mengambil kebijakan tegas terhadap kader-kader yang dianggap “membelot” ini. Momennya adalah ketika partai Aceh dan KPA melakukan rekonsolidasi terhadap seluruh kadernya. Konsolidasi ini juga dalam rangkan “membersihkan” kader-kader yang membelot tersebut. Puncaknya adalah pemecatan terhadap beberapa pimpinan KPA yang meliputi wilayah Aceh Besar, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara.
Dari aspektasi politik, pemecatan anggota jika tidak sesuai dengan tujuan mayoritas kader partai sah-sah saja, namun, alangkah baiknya jika ini tidak terjadi sebelum dilakukan tahapan-tahapan, seperti komunikasi intensif dalam menyatukan pemikiran yang sama. Namun ternyata hal ini juga tidak di indahkan beberapa yang tercium memiliki kedekatan dengan Irwandi dan cenderung akan mengusung Irwandi. Maka dari itu lah, terjadi pemecatan yang dilakukan oleh pimpinan KPA pusat yaitu Muzakkir Manaf (juga ketua Partai Aceh), dan kemasan yang di publikasikan adalah orang-orang ini tidak setia dengan kesepakatan MoU Helsinki dan orang-orang ini bisa dikatakan tidak patuh terhadap kebijakan kelompok khususnya kebijakan partai.
Langkah ini diaangap efektif karena tindak lanjut dari kebijakan ini adalah memberikan cap atau simbol kepada para pembelot yang sudah terang-terangan mendukung Irwandi Yusuf dan kader yang dipecat dengan istilah “pengkhianat”. Jadi kader-kader yang masih berada diinternal terpacu untuk solid, kompak dan serius untuk memenangkan pasangan yang diusung oleh partai, yaitu pasangan ZIKIR. Kesolidan kader ini modal paling utama dalam rangka untuk menjalankan strategi-stretagi yang telah disusun seperti strategi membangun citra ketokohan.
Setelah selesai dengan perbedaan pandangan yang terjadi dari faksi-faksi internal Partai Aceh sendiri, maka langkah-langkah strategis berikutnya dengan melakukan konsolidasi eksternal. Konsolidasi eksternal ini dilakukan dalam
rangka untuk meraih dukungan dan legitimasi dari stake holder politik Aceh baik
yang ada di Aceh maupun para tokoh Aceh yang ada di Jakarta seperti yang disampaikan Kausar berikut ini:
“...Yang kedua adalah melakukan konsolidasi eksternal, yaitu menghimpun sejumlah spektrum politik yang ada di Aceh seperti tokoh Aceh di pusat (Jakarta), sejumlah partai nasional yang ada di pusat maupun Aceh mengingat elemen sipil seperti PNS, pers, dan elemen militer aktif seperti TNI dan anggota POLRI yang ada di Aceh sudah dikuasai oleh Irwandi45”
45