BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.1.3. Profil Perguruan Tinggi Penelitian
4.1.3.1. UISU (Universitas Islam Sumatera Utara) Jenis PerguruanTinggi : Swasta
A l a m a t : Jl. Sisingamangaraja, Kampus Munawarah Teladan, Kotak Pos 1217, Medan, Sumatera Utara 20217
Telepon : (061) 7869790, 6860916 F a x : (061) 7868049, 7860916
E-Mail : [email protected], [email protected] Homepage / Website : http://www.uisu.ac.id
Tanggal Berdiri : 1952
Pendiri : H. Bahrum Jamil (alm), Adnan Benawi, Sariani AS, Rivai Abdul Manaf (alm), dan Sabaruddin Ahmad.
Universitas pertama di luar Pulau Jawa ini didirikan oleh sekelompok pemuda Islam yang 'awam' pendidikan tinggi, hanya lulusan SMA yang belum pernah kuliah, bahkan di antaranya masih duduk di SMA. Mula-mula mereka hanya membuka Fakultas Hukum. Maka dua tahun kemudian disusul dengan Fakultas Agama yang diubah menjadi Fakultas Syariah dan Fakultas Ekonomi. Berikutnya, 1957, Fakultas Sastra dan FKIP didirikan. Tiga tahun kemudian dibuka Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah, Dilanjutkan dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan Fakultas Pertanian pada 1964,
serta Fakultas Kedokteran pada 1965. Pada 1997 Fakultas Syariah digabung dengan Fakultas Tarbiyah atas ketentuan Departemen Agama, menjadi Fakultas Agama Islam (FAI). Sedangkan Fakultas Dakwah berdiri sendiri sebagai Sekolah Tinggi di bawah Yayasan UISU.
Jumlah Mahasiswa : 13.500 Jumlah Alumni : 21.645 Jumlah Dosen Tetap : 326 Jumlah Dosen Lulusan S2 : 214 Jumlah Dosen Lulusan S3 : 36
Luas Kampus : 512.587 m2
Koleksi Perpustakaan : 29.864 judul, 79.558 eksemplar, luas 991 m2
Laboratorium : 28 buah, luas 4.902 m2. Setiap fakultas eksakta UISU memiliki laboratorium sendiri.
Fasilitas Lain : Sarana perkuliahan dan sarana olah raga untuk mahasiswa
4.1.3.2. IBBI
Ketua Pembina : Juswan
Ketua Pengurus : Amrin Susilo Halim Ketua STIE : Prof.Dr. Amrin Fauzi
Ketua STMIK : Ir.B.Ricson Simarmata, MSEE
IBBI dirintis dengan pikiran untuk berdiri pada tahun 1994 dan mulai dibangun pada tahun 1996. Didirikan, dibangun, didukung atas dasar obsesi dari para pendiri dan pendukung untuk ikut serta yang semula dari kalangan bisnis elektronik sebagai mitra
pemerintah menyelengarakan lembaga pendidikan tinggi di bidang ilmu ekonomi dan bisnis. Ide ini direalisasikan berdasarkan suatu studi yang relatif panjang. Dilakukan oleh beberapa tokoh formal maupun informal yang keseluruhannya terlibat dalam berbagai kegiatan baik secara berencana, pemikir dan pelaku ekonomi maupun bisnis di wilayah Sumatera Utara. Terdiri dari mereka yang berjenjang pendidikan S-1, S-2, S-3 bahkan guru besar serta beberapa orang praktisi. Untuk memenuhi harapan sebagai lembaga pendidikan tinggi yang layak serta representatif. Disediakan gedung permanen kemudian disebut sebagai kampus yang dipergunakan sebagai pelaksana proses belajar mengajar, dengan fasilitas yang sangat memadai. Dewasa ini IBBI telah mulai mendapat apresiasi yang cukup menggembirakan dari masyarakat ini terbukti dari besarnya animo calon- calon mahasiswa untuk bergabung dengan lembaga ini, yang dari tahun ke tahun telah menunjukan adanya tren peningkatan yang signifikan. Kondisi seperti ini adalah buah dari suatu proses belajar - mengajar yang terkelola dengan baik di mana variabel-variabel penentunya, seperti tenaga pengajar yang handal dan penuh dedikasi, prasarana pendidikan yang Untuk masa-masa yang akan datang peningkatan proses belajar mengajar ini tetap mendapat prioritas utama, sehingga dengan demikian para mahasiswa dan para pengguna jasa pelayanan yang mereka terima. Lembaga ini adalah lembaga resmi yang telah terdaftar di Departemen Pendidikan Nasional, bukan lembaga liar ber- profit motif berkedok pendidikan.
IBBI juga mempunyai 3 kampus yang beralamatkan : Kampus Diamond Jl. Sei Deli No. 18 Medan -20114
Telp. (061)4567-111 Fax. (061) 4527-548
Kampus Emerald Jl. Jend. Gatot Subroto No.130 Telp. (061)4519-400, 4519-070 Fax. (061) 4522-204
Kampus Topaz. Jl. Damar No.9G Telp. (061)4555-409
4.1.3.3. UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) Jenis Perguruan Tinggi : Swasta
A l a m a t : Jl. Gedung Arca 53 Medan, Sumatera Utara
Telepon : (061) 716762
F a x : (061) 713488
E-Mail : @umsu.ac.id
Nama Rektor : Drs. H. Chairuman Pasaribu Tanggal Berdiri : 29 Februari 1957
Pendiri : Yayasan Badan Pembina PW Muhammadiyah Sumatera Utara
Memiliki jumlah mahasiswa sebanyak 12.102 dan jumlah dosen tetap sebanyak 323 orang. Koleksi Perpustakaan cukup lengkap sebanyak 7.513 judul dan 15.871 eksemplar. Luas Kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ini adalah 57.190 m2 dimana terdapat banyak fasilitas seperti laboratorium, sarana perkuliahan, ruang dosen dan ruang praktikum. Program Studi di UMSU meliputi :
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik 4.1.3.4. Yaspendhar (Yayasan Pendidikan Harapan)
Lahirnya Yayasan Pendidikan Harapan merupakan salah satu manifestasi dari kehendak masyarakat yang merasa tertinggal dalam bidang. Sejalan dengan itu beberapa tokoh masyarakat Sumatera Utara baik dari kalangan sipil maupun militer pada waktu itu merasa bahwa lembaga pendidikan yang ada selama ini di Sumatera Utara belum dapat menampung anak-anak sekolah apalagi sekolah yang bersifat umum namun bernafaskan Islam. Diresmikan perguruan ini dengan nama PERGURUAN HARAPAN pada tanggal 4 Februari 1967. Perguruan ini semula membuka sekolah 9 tahun, kemudian belakangan dipecah menjadi SD dan SMP. Akhirnya menyusul dibukanya Taman Kanak-Kanak. Harapan mempunyai 3 areal kampus :
Areal kampus I di Jl. Imam Bonjol pertama sekali adalah seluas 5533 m2 yang diperoleh dari pemerintah pada tahun 1967 dan kemudian pada tahun 1976 dimiliki yayasan dengan Hak Guna Bangunan.
Areal kampus II, pada tahun 1996 yayasan membeli sebidang tanah seluas 46742 m2 yang berlokasi di Jl. Karya Wisata ujung sekitar 200 meter dari perbatasan kotamadya Medan. direncanakan untuk bangunan TK (taman kanak-kanak).
Dan yang menjadi tempat kuliah salah satu informan peneliti ialah STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) yang didirikan Yaspendhar tahun 1974 adalah Akademi Sekretariat dan Manajemen (ASM) yang kemudian menjadi Akademi Sekretaris dan Manajemen. ASM Harapan ini kemudian dikembangkan menjadi suatu sekolah tinggi dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Harapan pada tahun 1987, terdiri dari program Dl Manajemen Sekretaris dan jurusan Manajemen Bisnis D3 dengan jurusan Manajemen Perkantoran serta program SI jurusan Manajemen dan jurusan Akuntansi. Pada tahun 2005/2006 telah pula berhasil didirikan program S2 Magister Manajemen yang diharapkan akan melengkapi jenjang pendidikan yang ada di STIE Harapan. Kini jumlah mahasiswa mencapai 1750 orang dengan dosen sebanyak 128 orang yang terdiri dari dosen-dosen yang berkualitas.
Sarana pendidikan yang dimiliki STIE Harapan juga cukup lengkap, selain ruang kelas, ruang rapat, ruang serba guna, ruang seminar dan : Laboraturium Komputer dengan fasilitas internet, Lab. Bahasa..
4.1.3.5. UNIMED (Universitas Negeri Medan)
Pada tahun lima puluhan, setelah selesai revolusi fisik sehingga kebutuhan akan tenaga kependidikan (guru) yang berkualitas saat itu tidak dapat dipenuhi. Bertolak dari keadaan tersebut, pada tahun 1956 beberapa tokoh pendidik di Sumatera Utara membuka Perguruan Tinggi Pendidikan Guru yang disebut PTPG yang kemudian PTPG bergabung menjadi salah satu bagian dari USU dengan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP). Pada tahun 1962 FKIP
mengalami kemajuan pesat yang kemudian berganti menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP) Jakarta cabang Medan. Dan kemudian terjadi perubahan untuk menjadikan IKIP sebagai universitas yang dimaksudkan sebagai upaya peningkatan mutu penyelenggaraan dan mutu lulusan yang dipandang 4.2. Profil Informan
4.2.1. Informan Kunci (Key Informan)
Dalam penelitian ini terdapat beberapa informan kunci yang mengetahui banyak hal mengenai permasalahan yang bisa diungkapkan dalam penelitian ini. Informan ini mempunyai keterlibatan langsung dan pengetahuan tentang ayam
kampus.
A. Germo (Penghubung)
HP Sinaga (nama samaran) mahasiswa tidak aktif.
Penghubung mempunyai banyak sebutan dimana – mana, seperti Germo, GM, Mucikari, Broker, Cong atau mami (penghubung wanita), papi (penghubung pria).
Hp. Sinaga, seorang penghubung/ germo yang menghubungkan peneliti pada 4 orang ayam kampus yang dikenalnya. HPS, saat ini berumur 25 tahun, dan sudah 1 tahun belakangan ini ia berstatuskan mahasiswa tidak aktif karena kesibukannya bermain di sebuah klub sepak bola. HPS seorang penduduk asli Medan dan bertempat tinggal di daerah Binjai. Dilihat dari nama belakang keluarganya, ia seorang bersuku Batak dan ia beragama Kristen Protestan. Masuk kuliah pada tahun 2003.
HPS mempunyai lingkungan pergaulan yang diakuinya cukup bebas. Mungkin dikarenakan ia seorang laki – laki dan orangtuanya tidak terlalu memperhatikan semua
tingkah laku yang diperbuatnya. Sebenarnya HPS mempunyai cita-cita ingin menjadi pesepak bola sesuai dengan kegiatan yang dijalaninya saat ini
”Kalo bisa aku jadi seperti barca. Sampe sekarang aku pun masih pengen tapi mungkin memang nasib berkata lain. Aku cuma bisanya sampe tingkatan lapangan antar kampus aja”.
Hasil wawancara, September 2008
Perkenalannya dengan seorang mahasiswi ayam kampus yang mengarahkan HPS menjadi seorang germo. Ia pernah menggunakan ayam kampus yang bernama Oni (bukan
nama sebenarnya) yang berasal dari kampusnya sendiri. Satu tahun belakangan ini, HPS
mempunyai ±10 ayam kampus yang menggunakan jasanya. Tetapi ia juga mempunyai beberapa teman satu stambuknya yang ia tahu mempunyai double job ini. Ia sangat tahu bagaimana keadaan semua ayam kampus yang dikenalnya. Ia sangat tahu bagaimana butuhnya para ayam kampus tersebut akan uang untuk semua kebutuhan – kebutuhannya. Disini HPS mengatakan :
”Sejauh yang kukenal cewek – cewek itu, semua memang murni karena butuh uang aja. Kalo sekarang jd melenceng, jadi buat gaya hidup orang itu... yaa itu buat harga jual orang itu makin tinggi ajanya.”
(Hasil wawancara, September 2008).
Saat ini HPS sedang fokus pada pekerjaannya sebagai pelatih sepakbola anak – anak dan pada lapangan futsal yang ia dirikan sebagai lahan usahanya.
B. Ayam Kampus
1. Oni (nama samaran) – faktor ekonomi.
Oni adalah mahasiswi perantau asal tanah Karo. Tinggal di kost-kostan daerah Jamin Ginting. Mahasiswa stambuk 2004 ini mengambil ilmu sosial di UNIMED. Oni
termasuk perempuan yang cukup pendiam dilihat dari caranya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dari peneliti.
Oni adalah seorang penganut agama Kristen suku Batak dan anak pertama dari 5 bersaudara. Biaya perbulannya hanya sebesar 500.000 yang disadarinya belakangan ini jumlah segitu sangat minim untuk menghidupi kebutuhannya sehari – hari, namun itu diterimanya karena orangtuanya seorang petani. Menurut pengakuan oni, semakin hari ia semakin tidak kuat menahan beratnya hidup dikota dengan bermodalkan 500.000/bulan.
Selama peneliti melakukan wawancara dengan informan, tampak sekali tekanan berat dari raut mukanya saat menceritakan kehidupan keuangan keluarganya yang beberapa bulan belakangan ini ia sokong dari hasil menjadi ayam kampus.
Pada saat wawancara, Oni yang dijumpai di kamar kost menunjukkan foto – foto dirinya sebelum menjadi ayam kampus. Tampak perubahan drastis pada fisik :
”Dulu pas kali lah wajah anak petani. Itam, legam, kriting gak jelas, kulit lain-
lain warnanya, gak punya apa-apa. ” (Hasil wawancara, bulan oktober 2008).
Dan selama wawancara berlangsung, ia berpenampilan biasa saja layaknya wanita cantik yang alami. Ia tidak menonjolkan kecantikannya dengan berlebihan karena ia tidak mau menjadi bahan perhatian banyak orang.
2. Jasmine (nama samaran) – faktor ekonomi.
Ia merantau cukup jauh ke Medan. Asalnya dari Banyuwangi Jawa. Jasmine menginjak Medan pada tahun 2004 dan terdaftar sebagai mahasiswa di UISU pada tahun 2005 dengan jurusan Hukum. Jasmine anak ke 4 dari 6 bersaudara, beragama Islam suku Jawa. Orangtuanya seorang kernet metromini dan buruh cuci. Tidak diketahui kebenarannya namun ia tidak malu mengatakannya. Karena cukup banyaknya anggota
keluarga yang harus dihidupi, sehingga orangtuanya hanya mampu mengirim 400.000/bulan.
Biaya yang kurang penyebab utama Jasmine menjadi ayam kampus sama seperti Oni. Masih memasuki semester II, Jasmine sudah menjadi ayam kampus. Ia tidak tahan dengan ajakan – ajakan menikmati Medan yang katanya modern dan asik itu.
”Dulu pertama kali kesini kak, saya betul-betul bodo ndak tau apa-apa. Sekarang, kakak mau nanya apah?”
(Hasil wawancara, bulan november 2008)
Dalam seminggu ia melayani 2-3 tamu dengan tarif yang berbeda – beda sesuai dengan pekerjaan tamu dan pelayanan apa saja yang diinginkan.
Jasmine memilih Medan sebagai tempat merantau hanya karena ia ingin jauh dari bapaknya yang suka main tangan dan main perempuan. Jasmine mempunyai sanak saudara yang berada di Tj.Balai yang bisa menjamin hidupnya seadanya, namun Jasmine ternyata tidak betah karena selama 1 tahun ia diperlakukan selayaknya pembantu rumah tangga sehingga ia memilih keluar dari rumah dan memilih kost dekat dengan kampusnya.
Dilihat dari perawakan dan pembawaannya, Jasmine termasuk perempuan yang cukup cantik berkulit putih bersih, bibir yang sensual dan lumayan tinggi tetapi tidak terlalu feminim. Cukup menarik untuk dilihat lebih lama. Namun dilihat dari caranya berbicara, Jasmine orang yang cukup keras.
Je berasal dari rantau prapat. Tinggal di kost bersama temannya yang berasal dari kampung yang sama dan juga seorang ayam kampus. Ia mengambil jurusan ilmu akuntansi komputer di IBBI. Je berada di Medan sejak ia tamat SMA pada tahun 2005.
Masih berumur berumur 20 tahun dan ia menyewa sebuah kamar kost yang lumayan mahal di sekitar Deli Plaza dekat dengan kampusnya. Namun sesuai dengan keterangan yang diberikan informan disebuah restoran Jepang di Capital Building, ia memilih lokasi kost tersebut, selain dekat dengan kampus, juga dekat dengan tempat hiburan seperti deli plaza, capital building dan hotel J.W Marriot.
Ayahnya bekerja sebagai pengolah lahan salah satu perkebunan kelapa sawit di rantau prapat dan ia adalah seorang anak tunggal untuk itu ia mendapat kiriman sebesar 1 – 1,5 juta /bulan karena ia berasal dari keluarga yang cukup berada perekonomiannya. Keluarganya adalah keturunan Melayu dan beragama Islam sejak ia berada dikandungan ibunya. Selain ingin melanjutkan pendidikan, ia juga ingin lebih bebas dari orangtuanya karena diakui orangtuanya cukup ketat dalam pergaulan dan waktu bermainnya. Ia menjadi ayam kampus sejak ia pertama kali masuk kuliah. Dikatakan begitu karena pada masa SMA nya, ia sudah melakukan hubungan seksual dengan beberapa teman laki – lakinya yang berstatuskan pacar dan sudah melakukan aborsi sekali. Belakangan disadarinya ia sangat menyukai seks
“Gak tau ya, suka aja. Kecarian aja rasanya. Abis enak! Coba rasain deh. Seru-seru gimana gitu!”
(Hasil wawancara, bulan november 2008)
Je mengaku mampu melayani 3-4 tamu dalam sehari yang didapatnya dari seorang germo. Tarifnya pun tidak murah, short time nya saja bisa mencapai 600.000.
Je merupakan gadis yang cantik dilihat dari kulitnya yang bersih, mungil dan tubuh yang berisi membuat banyak laki – laki pasti meliriknya terbukti dari selama wawancara yang dilakukan di sebuah cafe di daerah kejaksaan banyak laki – laki yang meliriknya. Ia bukan gadis yang mengumbar keseksian karena tanpa tampil seksi pun sex
appeal nya bisa terlihat. Dan karena faktor aura itu ia mendapat banyak pelanggan. Salah
satu yang menjadi pelanggan tetapnya ialah seorang anggota dewan di Medan. Namun karena ia tidak mau mengundang perhatian orang banyak untuk itu ia pun berusaha tampil sealami mungkin layaknya wanita.
4. Via (nama samaran) – Kecewa terhadap laki-laki.
Via adalah perantau dari rantau prapat yang merupakan teman dari informan saya yang bernama Je. Tinggal dikamar kost dekat dengan Deli Plaza. Via lebih dahulu berada di Medan pada tahun 2004 dan mulai kuliah pada tahun 2005 di jurusan yang sama dengan Je.
Via berumur 21 tahun dan anak bungsu dari 2 bersaudara. Ia berasal dari keluarga yang beragama kuat, yang diketahui peneliti dari informan sendiri bahwa sejak dari SMP ia sudah umroh ke tanah suci dan sudah menunaikan ibadah haji pada saat ia duduk di bangku SMA.
Via mendapat kiriman sebesar Rp. 1 juta – lebih karena orangtua Via mempunyai perkebunan kelapa sawit. Dilihat dari postur tubuh, Via termasuk perempuan menarik, selain tubuhnya yang bagus ia juga seorang yang periang dan santai, tampak dari cara ia menjawab semua pertanyaan – pertanyaan dari peneliti yang sangat bekerjasama. Saat ditanya kenapa mau menjadi ayam kampus, ia hanya menjawab :
Seru....enyak..gaul!
(Hasil wawancara, bulan november 2008)
Tarif Via sebesar 500.000 – lebih dan dalam seminggu ia bisa melayani 4 – 5 tamu yang ia dapat dari jasa germo.
Dan tidak tampak perubahan yang drastis pada fisik Via, karena dari kecil ia sangat diurus ibunya mulai dari tubuh, makanan hingga kulit.
5. Jacky (nama samaran) – faktor gaya hidup
Mahasiswi 20 tahun yang berasal dari Siantar ini memilih kost jauh dari kampusnya di daerah sei di pusat kota dari tahun 2005 pada tahun pertama ia kuliah di UISU daripada tinggal bersama saudaranya dengan alasan ingin lebih bebas. Memang dilihat dari penampilan Jacky tampak sebagai individu yang bebas. Namun saat ditanyai, Jacky tidak terlalu banyak memberikan informasi. Peneliti lebih banyak dibantu oleh teman Jacky yang adalah juga informan peneliti.
Orangtua Jacky seorang dosen di salah satu kampus di Siantar, Jacky adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara dengan biaya bulanannya berkisar 800.000 – 1 juta. Jacky adalah perempuan yang ingin bergaul dengan siapa saja, bebas dan sangat mengikuti alur zaman yang berubah-ubah tampak dari pembawaan dirinya selama beberapa hari melakukan observasi dan mewawancarainya.
Jacky seorang yang bersuku Batak yang terkenal keras, dan beragama Kristen, namun walaupun ia seorang ayam kampus ia tetap menjalankan ibadahnya dengan baik. Namun tidak mengikuti semua kegiatannya karena kesibukannya bersama pelanggan - pelanggannya.
Mahasiswi Hukum UISU ini mengatakan, telah menyadari menjadi ayam kampus sejak ia melayani seorang dosen demi nilai mata kuliahnya.
“ waktu itu untuk pertama kali aku datangi dosenku, dengan tujuan mempertanyakan nilai doang, obrolan kami panjang lebar yang terakhirnya aku ngelayanin dia, kebetulan dosen itu idolaku aku suka gaya necisnya jadi aku mau aja yang penting dapat nilai A, dan aku nikmatin..”
(Hasil wawancara, November 2008)
Ia bisa melayani 4 – 5 tamu dalam 1 minggu dengan tarif yang berbeda – beda. Ia tidak terlalu mematok harga jasanya karena pada berdasarkan hasil wawancara ia melakukan ini hanya sekedar menikmati kesenangan.
6. Reni (nama samaran) – faktor ekonomi.
Reni adalah mahasiswi asli Medan. Ayahnya seorang pemborong dan ibunya mempunyai catering kue. Ia kuliah di IBBI jurusan pariwisata, untuk itu ia gampang mendapatkan pelanggan karena dunia kuliahnya yang berhubungan dengan hotel dan pariwisata.
Reni yang berusia 23 tahun seorang anak bungsu dari 3 bersaudara dan keturunan Sunda Batak dan beragama Islam. Ia masih tinggal bersama orangtuanya di daerah Mabar sementara menunggu uangnya terkumpul sedikit lagi untuk dapat menyewa sebuah rumah yang cukup bagus untuk ia tempati. Keadaan keuangannya yang membuat ia menjadi ayam kampus
Sekarang udah 2 tahun aku gini, hidup ku udah nggak kek dulu lagi, nggak ancur-ancuran mikirin duit.
(Hasil wawancara, November 2008)
Ia melayani seks para pejabat dan om-om berduit dengan bayaran 500.000 – 700.000 sesuai pelayanan yang diinginkan.
Reni berasal dari keluarga yang tidak harmonis dan sejak kecil ia sudah menafkahi dirinya sendiri hingga sampai saat ini. Menjadi seorang bartender di sebuah klub malam pun dilakoninya demi untuk mendapatkan uang dan orangtuanya tidak memperdulikan pekerjaannya itu yang notabene adalah pekerjaan yang tidak baik untuk perempuan karena jam kerja yang dimulai dari jam 22.00 – 04.00.
Reni seorang perokok berat, tampak dari saat ia diwawancara. Ia mengatakan sangat stress apabila ia mengingat tentang keadaan keluarganya
7. Kiky (nama samaran) – kecewa terhadap laki – laki.
Kiky seorang mahasiswi yang sedang cuti kuliah sudah 1 tahun belakangan untuk bekerja membantu keuangan keluarganya dan dirinya sendiri. Ia sudah kuliah selama 2 tahun di jurusan hukum UISU (Kiky dikenalkan kepada peneliti oleh Jacky yang adalah sahabatnya). Kiky mahasiswi asli Medan yang bertempat tinggal jauh dari kampusnya sekarang bekerja sebagai seorang SPG Cosmetic di salah satu plaza di Medan.
Mahasiswi UISU yang mengambil jurusan Hukum pada tahun 2007 ini anak sulung dari 4 bersaudara. Keluarganya berasal dari suku Padang Jawa dan beragama Islam. Ia bekerja karena orangtuanya tidak sanggup lagi membiayai disebabkan ayahnya dipecat dari pekerjaannya karena mempunyai kasus kriminal.
Kiky bekerja sambil kuliah namun karena krisis keuangan mengharuskan ia menghabiskan waktu untuk lembur untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah dan juga membiayai kuliah adiknya, karena itu kiky memilih untuk cuti dari perkuliahannya.
Kiky menjadi seorang ayam kampus diawali dari kisah cintanya yang cukup tragis dari cara ia menceritakannya dimana banyak laki – laki yang menjadi kekasihnya yang kemudian meninggalkannya setelah mengambil uang dan tubuhnya. Namun Kiky sempat berjanji dalam dirinya yang dipaparkan pada saat wawancara di sebuah kafe di Sun Plaza untuk berhenti menjadi ayam kampus namun tawaran uang yang menggiurkan dan ingatannya akan laki – laki yang meninggalkannya membuat ia mengurungkan niatnya.
8. Dinda (nama samaran) – ingin mengikuti gaya hidup.
Mahasiswi asal Binjai ini mengambil jurusan ilmu ekonomi di Harapan dari tahun 2004. Karena jauhnya jarak tempat tinggal dan kampusnya, ia memilih kost didaerah Pringgan, tak jauh dari kampusnya. Dinda berasal dari keluarga yang perekonomiannya menengah kebawah karena ayahnya seorang pedagang buah yang tidak jelas berapa penghasilannya.
Ia anak ke 2 dari 4 bersaudara. Ia seorang penganut agama Islam dan bersuku Batak. Dinda mengaku menerima biaya bulanan dari orangtuanya sebesar Rp.700.000,- dan ia bisa kuliah di Harapan karena saudaranya bersedia membantu biaya kuliahnya hingga lulus mendapat gelar. Ia sadar dengan jumlah uang yang sedikit tersebut ia tidak akan bisa membeli semua kebutuhan dan mengikuti trend yang selalu berganti namun