• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian

2. Profil Perusahaan

a. Bank Muamalat Indonesia

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (“Bank Muamalat Indonesia”) memulai perjalanan bisnisnya sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia pada 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H. Pendirian Bank Muamalat Indonesia digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Republik Indonesia. Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992 atau 27 Syawal 1412 H, Bank Muamalat Indonesia terus berinovasi dan mengeluarkan produkproduk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah (Asuransi Takaful), Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat) dan multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia. Sejak tahun 2015, Bank Muamalat Indonesia bermetamorfosa untuk menjadi entitas yang semakin baik dan meraih pertumbuhan jangka panjang. Dengan strategi bisnis yang terarah Bank Muamalat Indonesia akan terus melaju mewujudkan visi menjadi “The Best Islamic Bank and Top 10 Bank in Indonesia with Strong Regional Presence”.

b. Bank Victoria Syariah

PT. Bank Victoria Syariah didirikan untuk pertaman kalinya dengan nama PT Bank Swaguna berdasarkan Akta Nomor 9 tanggal 15 April 1966. Akta tersebut kemudian diubah dengan Akta Perubahan Angggaran Dasar Nomor 4 tanggal 5 September 1967 yang telah

66

memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (d/h Menteri Kehakiman) berdasarkan Surat Keputusan Nomor: JA.5/79/5 tanggal 7 November 1967 dan telah didaftarkan pada Daftar Perusahaan di Kantor Panitera Pengadilan Negeri I di Cirebon masing-masing di bawah Nomor 1/1968 dan Nomor 2/1968 pada tanggal 10 Januari 1968, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 42 tanggal 24 Mei 1968. Tambahan Nomor 62. Perubahan kegiatan usaha Bank Victoria Syariah dari Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum Syariah telah mendapatkan izin dari Bank Indonesia berdasarkan Keutusan Gubernur Bank Indonesia Nomor : 12/8/KEP.GBI/DpG/2010 tertanggal 10 Februari 2010. Bank Victoria Syariah mulai beroperasi dengan prinsip syariah sejak tanggal 1 April 2010. Adapun kepemilikan saham Bank Victoria pada Bank Victoria Syariah adalah sebesar 99.99%

Dukungan penuh dari perusahaan induk PT Bank Victoria International Tbk telah membantu tumbuh kembang Bank Victoria Syariah yang selalu terus berkomitmen untuk membangun kepercayaan nasabah dan masyarakat melalui pelayanan dan penawaran produk yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah serta memenuhi kebutuhan nasabah.

c. Bank BRIsyariah

Sejarah pendirian PT Bank BRIsyariah Tbk tidak lepas dari akuisisi yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007. Setelah mendapatkan izin usaha dari Bank Indonesia melalui surat no. 10/67/Kep.GBI/ DPG/2008 pada 16 Oktober 2008 BRIsyariah resmi beroperasi pada 17 November 2008 dengan

67

nama PT Bank BRIsyariah dan seluruh kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah Islam.

Pada 19 Desember 2008, Unit Usaha Syariah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melebur ke dalam PT Bank BRISyariah. Proses spin off tersebut berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2009 dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Sofyan Basir selaku Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan Ventje Rahardjo selaku Direktur Utama PT Bank BRISyariah.

Pada tahun 2018, BRIsyariah mengambil langkah lebih pasti lagi dengan melaksanakan Initial Public Offering pada tanggal 9 Mei 2018 di Bursa Efek Indonesia. IPO ini menjadikan BRIsyariah sebagai anak usaha BUMN di bidang syariah yang pertama melaksanakan penawaran umum saham perdana.

d. Bank Jabar Banten Syariah

Pendirian bank bjb syariah diawali dengan pembentukan Divisi/Unit Usaha Syariah oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. pada tanggal 20 Mei 2000, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat yang mulai tumbuh keinginannya untuk menggunakan jasa perbankan syariah pada saat itu.

Setelah 10 (sepuluh) tahun operasional Divisi/Unit Usaha syariah, manajemen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. berpandangan bahwa untuk mempercepat pertumbuhan usaha syariah serta mendukung program Bank Indonesia yang menghendaki peningkatan share

68

perbankan syariah, maka dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. diputuskan untuk menjadikan Divisi/Unit Usaha Syariah menjadi Bank Umum Syariah. Hingga saat ini bank bjb syariah berkedudukan dan berkantor pusat di Kota Bandung, Jalan Braga No 135, dan telah memiliki 8 (delapan) kantor cabang, kantor cabang pembantu 57 (empat puluh tujuh) jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang tersebar di daerah Propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta dan 49.630 jaringan ATM Bersama. Pada tahun 2013 diharapkan bank bjb semakin memperluas jangkauan pelayanannya yang tersebar di daerah Propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

e. Bank BNI Syariah

Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha kepada PT Bank BNI Syariah. Dan di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun 2003 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS). Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan

69

kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat.

Juni 2014 jumlah cabang BNI Syariah mencapai 65 Kantor Cabang, 161 Kantor Cabang Pembantu, 17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak dan 20 Payment Point.

f. Bank Syariah Mandiri

Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah. Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).

Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuan UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Oleh karenanya, Tim Pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23 tanggal 8 September 1999. Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No. 1/24/ KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat

70

Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ 1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999.

PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi kegiatan operasionalnya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya di perbankan Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik.

g. Bank Mega Syariah

Berawal dari PT Bank Umum Tugu (Bank Tugu). Bank umum yang didirikan pada 14 Juli 1990 melalui Keputusan Menteri Keuangan RI No.1046/KMK/013/1990 tersebut, diakuisisi CT Corpora (d/h Para Group) melalui Mega Corpora (d/h PT Para Global Investindo) dan PT Para Rekan Investama pada 2001. Sejak awal, para pemegang saham memang ingin mengonversi bank umum konvensional itu menjadi bank umum syariah. Keinginan tersebut terlaksana ketika Bank Indonesia mengizinkan Bank Tugu dikonversi menjadi bank syariah melalui Keputusan Deputi Gubernur Bank Indonesia No.6/10/KEP.DpG/2004 menjadi PT Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI) pada 27 Juli 2004, sesuai dengan Keputusan Deputi Gubernur Bank Indonesia No.6/11/KEP.DpG/2004. Pengonversian tersebut

71

dicatat dalam sejarah perbankan Indonesia sebagai upaya pertama pengonversian bank umum konvensional menjadi bank umum syariah.

h. Bank Panin Dubai Syariah

PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (“Panin Dubai Syariah Bank”), berkedudukan di Jakarta dan berkantor pusat di Gedung Panin Life Center, Jl. Letjend S. Parman Kav. 91, Jakarta Barat. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Panin Dubai Syariah Bank, ruang lingkup kegiatan Panin Dubai Syariah Bank adalah menjalankan kegiatan usaha di bidang perbankan dengan prinsip bagi hasil berdasarkan syariat Islam. Panin Dubai Syariah Bank mendapat ijin usaha dari Bank Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.11/52/KEP.GBI/DpG/2009 tanggal 6 Oktober 2009 sebagai bank umum berdasarkan prinsip syariah dan mulai beroperasi sebagai Bank Umum Syariah pada tanggal 2 Desember 2009.

i. Bank Syariah Bukopin

PT BANK SYARIAH BUKOPIN (selanjutnya disebut Perseroan) sebagai bank yang beroperasi dengan prinsip syariah yang bermula masuknya konsorsium PT Bank Bukopin, Tbk diakuisisinya PT Bank Persyarikatan Indonesia (sebuah bank konvensional) oleh PT Bank Bukopin, Tbk., proses akuisisi tersebut berlangsung secara bertahap sejak 2005 hingga 2008, dimana PT Bank Persyarikatan Indonesia yang sebelumnya bernama PT Bank Swansarindo Internasional didirikan di Samarinda, Kalimantan Timur berdasarkan Akta Nomor 102 tanggal 29 Juli 1990 merupakan bank umum yang memperolah Surat Keputusan Menteri

72

Keuangan nomor 1.659/ KMK.013/1990 tanggal 31 Desember 1990 tentang Pemberian Izin Peleburan Usaha 2 (dua) Bank Pasar dan Peningkatan Status Menjadi Bank Umum dengan nama PT Bank Swansarindo Internasional yang memperoleh kegiatan operasi berdasarkan surat Bank Indonesia (BI) nomor 24/1/UPBD/PBD2/Smr tanggal 1 Mei 1991 tentang Pemberian Izin Usaha Bank Umum dan Pemindahan Kantor Bank.

Pada tahun 2001 sampai akhir 2002 proses akuisisi oleh Organisasi Muhammadiyah dan sekaligus perubahan nama PT Bank Swansarindo Internasional menjadi PT Bank Persyarikatan Indonesia yang memperoleh persetujuan dari (BI) nomor 5/4/KEP. DGS/2003 tanggal 24 Januari 2003 yang dituangkan ke dalam akta nomor 109 Tanggal 31 Januari 2003. Dalam perkembangannya kemudian PT Bank Persyarikatan Indonesia melalui tambahan modal dan asistensi oleh PT Bank Bukopin, Tbk., maka pada tahun 2008 setelah memperolah izin kegiatan usaha bank umum yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia nomor 10/69/KEP.GBI/DpG/2008 tanggal 27 Oktober 2008 tentang Pemberian Izin Perubahan Kegiatan Usaha Bank Konvensional Menjadi Bank Syariah, dan Perubahan Nama PT Bank Persyarikatan Indonesia Menjadi PT Bank Syariah Bukopin dimana secara resmi mulai efektif beroperasi tanggal 9 Desember 2008.

j. Bank BCA Syariah

Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan di Luar Rapat Perseroan Terbatas PT Bank UIB No. 49 yang dibuat dihadapan Notaris Pudji Rezeki

73

Irawati, S.H., tanggal 16 Desember 2009, tentang perubahan kegiatan usaha dan perubahan nama dari PT Bank UIB menjadi PT Bank BCA Syariah. Akta perubahan tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. AHU-01929. AH.01.02 tanggal 14 Januari 2010. Pada tanggal yang sama telah dilakukan penjualan 1 lembar saham ke BCA Finance, sehingga kepemilikan saham sebesar 99,9997% dimiliki oleh PT Bank Central Asia Tbk, dan 0,0003% dimiliki oleh PT BCA Finance.

Perubahan kegiatan usaha Bank dari bank konvensional menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui Keputusan Gubernur BI No. 12/13/KEP.GBI/DpG/2010 tanggal 2 Maret 2010. Dengan memperoleh izin tersebut, pada tanggal 5 April 2010, BCA Syariah resmi beroperasi sebagai bank umum syariah.

k. Bank Maybank Syariah Indonesia

Sejak mulai beroperasi sebagai bank syariah pada Oktober 2010, PT Bank Maybank Syariah Indonesia (Maybank Syariah) telah mengembangkan berbagai layanan dan solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan kami serta peluang di pasar keuangan regional yang terus berkembang

Sekarang, Maybank Syariah memposisikan dirinya sebagai perantara keuangan dan penghubung antara Malaysia dan Indonesia. Maybank Islamic adalah anak perusahaan dari Maybank Group, lembaga jasa keuangan terbesar di Malaysia dengan total aset lebih dari USD 100

74

miliar, serta salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Malaysia Stock (Stock Exchange) "

Beroperasi di jantung ASEAN, Maybank adalah bisnis layanan keuangan grup di Malaysia dengan jaringan internasional yang tersebar di 14 negara. Anak perusahaan dari sektor perbankan Islam Maybank adalah Maybank Islamic Berhad, bank syariah komersial terbesar di kawasan Asia Pasifik dan termasuk dalam 20 institusi keuangan Islam terbaik di dunia

Oleh karena itu, Maybank Syariah Maybank Group dapat memanfaatkan keahlian dan pengalamannya di Indonesia selama 15 tahun untuk memberikan solusi keuangan terbaik bagi para pelanggannya.

l. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah

BTPN Syariah lahir dari perpaduan dua kekuatan yaitu, PT Bank Sahabat Purbadanarta dan Unit Usaha Syariah BTPN.

Bank Sahabat Purbadanarta yang berdiri sejak Maret 1991 di Semarang, merupakan bank umum non devisa yang 70% sahamnya diakusisi oleh PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk (BTPN), pada 20 Januari 2014, dan kemudian dikonversi menjadi BTPN Syariah berdasarkan Surat Keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tanggal 22 Mei 2014.

Unit Usaha Syariah BTPN yang difokuskan melayani dan memberdayakan keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia adalah salah satu segmen bisnis di PT Bank Tabungan Nasional Tbk sejak Maret 2008, kemudian di spin off dan bergabung ke BTPN Syariah pada Juni 2014.

75 B. Analisis Statistik Deskriptif

Pada bagian ini akan digambarkan ataupun dideskripsikan dari data masing-masing variabel yang menampilkan karakteristik dari sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Karakteristik sampel tersebut meliputi: nilai rata-rata sampel (mean), nilai maksimum dan minimum untuk masing-masing variabel. Deskripsi dalam penelitian ini meliputi 8 variabel, yaitu Pertumbuhan Laba (PL), FDR, ROA, NI, BOPO, CAR, BI Rate dan Inflasi. Berikut perhitungan data variabel pada penelitian ini:

Tabel 4.1

Data Pertumbuhan Laba, FDR, ROA, NI, BI Rate, dan Inflasi Bank Umum Syariah Periode 2016-2018

No. Nama Bank Tahun Triwulan PL (%)

Rasio Keuangan (%)

BI Rate Inflasi

FDR ROA NI BOPO CAR

1 BMI 2016 I -0.62 97.3 0.25 3.67 97.32 12.10 5.5 4.33 II -0.71 99.11 0.15 3.65 99.90 12.78 5.41 3.46 III -0.67 96.47 0.13 3.47 98.89 12.75 5.16 9.07 IV 0.08 95.13 0.22 3.21 97.76 12.74 4.75 3.3 2017 I -0.51 90.93 0.12 2.74 98.19 12.83 4.75 3.64 II -0.02 89 0.15 2.69 97.40 12.94 4.75 4.29 III -0.10 86.14 0.11 2.63 98.10 11.58 4.5 3.8 IV -0.68 84.41 0.14 2.48 97.68 13.62 4.25 3.49 2018 I 0.35 88.41 0.15 2.6 98.03 10.16 4.25 3.27 II 2.46 84.37 0.49 2.67 92.78 15.92 4.5 3.25 III 2.27 79.03 0.35 2.67 94.38 12.12 5.5 3.08 IV 0.76 73.18 0.08 2.22 98.24 12.34 5.91 3.17 2 VICTORIAS 2016 I 0.67 95.07 -3.23 2.12 133.20 16.05 5.5 4.33 II -5.64 95.93 -7.46 2.45 177.90 15.88 5.41 3.46 III -105.75 97.79 -6.19 2.38 163.41 14.20 5.16 9.07 IV -0.23 100.67 -2.19 2.63 98.86 15.98 4.75 3.3 2017 I -1.08 86.19 0.26 3.05 98.01 24.44 4.75 3.64 II -1.05 92.13 0.27 2.98 97.07 22.36 4.75 4.29 III -1.07 79.6 0.29 3 96.02 21.03 4.5 3.8 IV -1.25 83.59 0.36 2.85 96.59 19.29 4.25 3.49

76

Lanjutan Tabel 4.1

No. Nama Bank Tahun Triw

ulan PL (%)

Rasio Keuangan (%) BI

Rate Inflasi

FDR ROA NI BOPO CAR

2 VICTORIA S 2018 I 0.82 77.16 0.3 2.64 96.59 19.39 4.25 3.27 II 0.45 83.05 0.31 2.73 96.62 22.94 4.5 3.25 III 0.41 90.6 0.33 3.05 95.64 21.18 5.5 3.08 IV 0.08 82.78 0.32 2.91 96.38 22.07 5.91 3.17 3 BRIS 2016 I 0.70 82.73 0.99 6.33 90.70 14.66 5.5 4.33 II 0.50 87.92 1.03 6.49 90.41 14.06 5.41 3.46 III 0.39 83.98 0.98 6.48 90.99 14.30 5.16 9.07 IV 0.39 81.42 0.96 6.38 91.33 20.63 4.75 3.3 2017 I -0.23 77.56 0.65 5.73 93.67 21.14 4.75 3.64 II -0.22 76.79 0.71 5.57 92.78 20.38 4.75 4.29 III -0.01 73.14 0.82 5.79 92.03 20.98 4.5 3.8 IV -0.41 71.87 0.51 5.84 95.24 20.29 4.25 3.49 2018 I 0.64 68.7 0.86 5.16 90.75 23.64 4.25 3.27 II 0.70 77.78 0.92 5.18 89.92 29.31 4.5 3.25 III 0.19 76.4 0.77 5.28 91.49 29.79 5.5 3.08 IV 0.05 75.49 0.43 5.36 95.32 29.72 5.91 3.17 4 BJBS 2016 I 12.49 92.53 0.9 6.36 95.12 24.58 5.5 4.33 II -37.85 93.67 -1.94 4.62 106.12 20.93 5.41 3.46 III 6.24 107.42 -6.15 5.95 118.66 23.10 5.16 9.07 IV -57.97 98.73 -8.09 5.16 122.77 18.25 4.75 3.3 2017 I -0.80 87.7 0.39 5.16 97.76 17.96 4.75 3.64 II -0.22 89.14 -1.34 5.1 108.03 18.74 4.75 4.29 III -0.06 97.14 -5.31 4.79 132.49 13.11 4.5 3.8 IV -0.08 93.03 -5.69 4.64 134.63 16.25 4.25 3.49 2018 I 2.50 89.82 0.52 5.19 97.37 17.54 4.25 3.27 II -1.34 90.16 0.32 5.25 95.32 17.42 4.5 3.25 III -1.10 98.66 0.55 5.17 94.46 16.29 5.5 3.08 IV -1.04 89.85 0.54 5.36 94.66 16.43 5.91 3.17 5 BNIS 2016 I 0.65 86.26 1.65 8.17 85.37 15.85 5.5 4.33 II 0.46 86.92 1.59 8.19 85.88 15.56 5.41 3.46 III 0.37 85.79 1.53 8.2 86.28 15.82 5.16 9.07 IV 0.21 84.57 1.44 8.32 87.67 14.92 4.75 3.3 2017 I 0.03 83.32 1.4 8.4 87.29 14.44 4.75 3.64 II 0.13 84.44 1.48 8.23 86.50 14.33 4.75 4.29 III 0.15 81.4 1.44 8.24 87.62 14.90 4.5 3.8 IV 0.11 80.21 1.31 8.1 86.53 20.14 4.25 3.49

77

Lanjutan Tabel 4.1

No. Nama Bank Tahun Triwulan PL (%)

Rasio Keuangan (%)

BI Rate Inflasi

FDR ROA NI BOPO CAR

5 BNIS 2018 I 0.22 71.98 1.35 7.2 86.53 19.42 4.25 3.27 II 0.23 77.42 1.42 7.21 85.43 19.24 4.5 3.25 III 0.24 80.03 1.42 7.19 85.49 19.22 5.5 3.08 IV 0.36 79.62 1.42 7.16 85.37 19.31 5.91 3.17 6 BSM 2016 I 0.47 80.16 0.56 6.49 94.44 13.39 5.5 4.33 II 0.27 82.31 0.62 6.54 93.76 13.69 5.41 3.46 III 0.65 80.4 0.6 6.58 93.93 13.50 5.16 9.07 IV 0.12 79.19 0.59 6.16 94.12 14.01 4.75 3.3 2017 I 0.19 77.75 0.6 6.26 93.82 14.40 4.75 3.64 II 0.08 80.03 0.59 7.13 93.89 14.37 4.75 4.29 III 0.06 78.29 0.56 6.47 94.42 14.92 4.5 3.8 IV 0.12 77.66 0.59 7.35 94.44 15.89 4.25 3.49 2018 I 0.34 73.92 0.79 6.45 91.20 15.59 4.25 3.27 II 0.44 75.47 0.89 6.05 90.09 15.62 4.5 3.25 III 0.67 79.08 0.95 6.16 89.73 16.46 5.5 3.08 IV 0.66 77.25 0.88 6.18 90.68 16.26 5.91 3.17 7 BMS 2016 I -4.46 95.85 4.86 8.56 84.92 22.22 5.5 4.33 II -5.03 95.97 3.21 8.11 89.07 22.86 5.41 3.46 III -8.41 98.13 2.63 7.84 89.50 22.97 5.16 9.07 IV 8.06 95.24 2.63 7.56 88.16 22.53 4.75 3.3 2017 I -0.59 97.56 1.82 6.66 88.82 25.76 4.75 3.64 II -0.57 96.06 1.63 6.23 88.80 20.89 4.75 4.29 III -0.50 91.57 1.54 6.13 89.42 21.94 4.5 3.8 IV -0.34 91.05 1.56 6.03 89.16 22.19 4.25 3.49 2018 I -0.58 94.26 0.91 5.57 93.58 23.41 4.25 3.27 II -0.36 92.49 0.98 5.66 93.34 22.91 4.5 3.25 III -0.33 94.35 0.96 5.59 93.78 21.38 5.5 3.08 IV -0.36 90.88 0.93 5.52 93.84 20.83 5.91 3.17 8 PANINS 2016 I -0.86 94.03 0.2 3.72 98.14 19.77 5.5 4.33 II -0.67 89.6 0.36 3.49 96.51 19.51 5.41 3.46 III -0.59 89.14 0.42 3.39 95.91 19.86 5.16 9.07 IV -0.64 91.99 0.37 3.49 96.17 18.17 4.75 3.3 2017 I 3.79 90.34 0.8 3.58 91.56 18.04 4.75 3.64 II 0.84 92.48 0.45 3.41 95.26 16.41 4.75 4.29 III -0.13 94.25 0.29 3.29 96.87 16.83 4.5 3.8 IV -50.58 86.95 -10.77 3.13 217.40 11.51 4.25 3.49

78

Lanjutan Tabel 4.1

No. Nama Bank Tahun Triw

ulan PL (%) Rasio Keuangan (%) BI Rate Infla si

FDR ROA NI BOPO CAR

8 PANINS 2018 I -0.69 87.9 0.26 2.03 97.02 27.09 4.25 3.27 II -0.46 88.77 0.26 2.33 98.17 27.74 4.5 3.25 III -0.22 93.44 0.25 2.42 97.85 25.97 5.5 3.08 IV -1.02 88.82 0.26 2.36 99.57 23.15 5.91 3.17 9 BSB 2016 I 2.27 92.14 1.13 3.07 88.95 15.62 5.5 4.33 II 1.09 92.25 1 3.13 89.88 14.82 5.41 3.46 III 0.59 87.95 0.99 3.16 89.74 15.06 5.16 9.07 IV 0.18 88.18 0.76 3.31 91.76 17.00 4.75 3.3 2017 I -0.59 91.58 0.53 3.01 94.12 16.71 4.75 3.64 II -0.71 89.42 0.39 2.47 95.44 16.41 4.75 4.29 III -0.82 84.24 0.27 2.58 96.54 18.68 4.5 3.8 IV -0.95 82.44 0.02 2.44 99.20 19.20 4.25 3.49 2018 I -0.74 82.93 0.09 2.86 98.81 19.25 4.25 3.27 II -0.19 89.53 0.18 3.31 97.61 19.65 4.5 3.25 III 0.52 91.48 0.21 3.28 97.22 17.92 5.5 3.08 IV 0.36 93.4 0.02 3.17 99.45 19.31 5.91 3.17 10 BCAS 2016 I 0.57 92.76 0.76 4.61 94.07 39.16 5.5 4.33 II 0.59 99.6 0.9 4.87 92.87 97.93 5.41 3.46 III 0.57 97.6 1 4.9 92.90 37.10 5.16 9.07 IV 0.57 90.12 1.13 4.83 92.18 36.78 4.75 3.3 2017 I 0.56 83.44 0.99 4.03 92.97 35.26 4.75 3.64 II 0.40 91.51 1.05 4.14 92.56 30.99 4.75 4.29 III 0.36 88.7 1.12 4.26 87.76 31.99 4.5 3.8 IV 0.30 88.49 1.17 4.25 87.20 29.39 4.25 3.49 2018 I 0.27 88.36 1.1 4.26 88.39 27.73 4.25 3.27 II 0.25 91.15 1.13 4.4 87.84 25.00 4.5 3.25 III 0.16 89.43 1.12 4.39 87.96 24.80 5.5 3.08 IV 0.22 88.99 1.17 4.43 87.43 24.27 5.91 3.17 11 MAYBAN KS 2016 I -0.30 143.99 -2.9 10.56 116.67 45.57 5.5 4.33 II -0.51 146.43 -11.02 4 182.28 45.63 5.41 3.46 III -0.25 157.15 -10.38 4.47 171.24 46.07 5.16 9.07 IV -0.44 134.73 -9.51 4.99 160.28 55.06 4.75 3.3 2017 I -1.99 176.97 3.39 9.33 91.72 61.44 4.75 3.64 II -1.61 92.15 8.18 9.46 77.83 61.32 4.75 4.29 III -1.26 101.16 3.22 8.92 89.19 61.20 4.5 3.8 IV -0.94 85,94 5.5 8.79 83.36 75.83 4.25 3.49

79 Lanjutan Tabel 4.1 No . Nama Bank Tahun Triw ulan PL (%) Rasio Keuangan (%) BI Rate Infla si

FDR ROA NI BOPO CAR

11 MAYBA NKS 2018 I -1.81 55 7.09 20.1 72.37 95.26 4.25 3.27 II -0.85 226.34 6.9 18.24 63.27 187.53 4.5 3.25 III -2.06 418.26 0.12 21.59 99.04 193.35 5.5 3.08 IV 5.61 424.53 -6.86 18.28 199.97 163.07 5.91 3.17 12 BTPNS 2016 I 2.08 96.38 6.98 35.2 81.14 22.03 5.5 4.33 II 1.67 91.91 7.57 34.87 79.17 21.47 5.41 3.46 III 1.47 97.47 8.4 35.63 77.10 23.82 5.16 9.07 IV 1.44 92.75 8.98 35.78 75.14 23.80 4.75 3.3 2017 I 0.97 90.82 9.97 37.18 71.98 23.88 4.75 3.64 II 0.80 96.82 10.38 36.73 71.23 24.76 4.75 4.29 III 0.69 93.31 10.74 36.44 70.26 27.76 4.5 3.8 IV 0.62 92.47 11.19 35.96 68.81 28.91 4.25 3.49 2018 I 0.56 93.21 12.49 34.09 63.82 27.74 4.25 3.27 II 0.53 97.89 12.54 33.5 62.90 36.90 4.5 3.25 III 0.49 96.03 12.39 32.77 62.61 39.69 5.5 3.08 IV 0.44 95.6 12.37 32.42 62.36 40.92 5.91 3.17 Rata-rata -1.62 95.81 1.03 7.89 96.82 26.28 4.94 4.01 Minimum -105.75 55.00 -11.02 2.03 62.36 10.16 4.25 3.08 Maximum 12.49 424.53 12.54 37.18 217.40 193.35 5.91 9.07

Sumber Data: BI, OJK, website bank bersangkutan (Diolah)

Berdasarkan hasil perhitungan pertumbuhan laba masing-masing bank, pertumbuhan laba terendah terjadi pada 2016 sebesar -105.75% oleh Bank Victoria Syariah, sedangkan pertumbuhan laba tertinggi terjadi pada 2016 sebesar 12.49% oleh Bank Jabar Banten Syariah.

Pada sisi rasio FDR masing-masing bank, rasio FDR terendah terjadi pada 2018 triwulan I sebesar 55.00% oleh Bank Maybank Syariah Indonesia, sedangkan rasio FDR tertinggi terjadi pada 2018 triwulan IV sebesar 424.53% oleh Bank Maybank Syariah Indonesia. Rata-Rata rasio FDR Bank umum syariah di Indonesia pada periode ini adalah 95.81%, Bank dikatakan mampu mengelola

80

aktiva produktifnya dengan baik jika rasio FDR minimal 80%, hal ini sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 17/40/DPM tahun 2015.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio ROA masing-masing bank, diketahui bahwa rasio ROA terendah terjadi pada 2016 sebesar -11.02% oleh Bank Maybank Syariah Indonesia, dan rasio ROA tertinggi terjadi pada 2018 sebesar 12.54% oleh Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah. Rata-rata nilai ROA bank syariah pada tahun 2016-2018 sebesar 1.03%. Pengelolaan bank yang baik akan menunjukkan rasio ROA berada pada angka > 1.5%, pengukuran ini berdasarkan pada SEBI No. 13/24/DPNP/2011.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio NI masing-masing bank, rasio NI terendah terjadi pada 2018 sebesar 2.03% oleh Bank Panin Dubai Syariah, dan rasio NI tertinggi terjadi pada 2017 sebesar 37.18% oleh Bank tabungan Pensiunan Nasional Syariah. Rata-rata rasio NI pada tahun 2016 – 2018 sebesar 7.89%, angka tersebut masih berada pada batas normal karena berada pada angka > 3%. Perhitungan tersebut berdasarkan SEBI No. 9/24/DPbs tahun 2007. Menurunnya rasio NI ini menunjukkan bahwa bank melakukan kegiatan usahanya dengan efisien, karena bank dapat menawarkan pembiayaan yang lebih murah kepada nasabah sebagai akibat dari sumber dana bank syariah yang banyak dan murah.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio BOPO masing-masing bank, rasio BOPO terendah terjadi pada 2018 sebesar 62.36% oleh Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah, dan rasio BOPO tertinggi terjadi pada 2017 sebesar 217.40% oleh Bank Panin Dubai Syariah. Rata-rata rasio BOPO pada tahun 2016 – 2018 sebesar 96.82%. Berdasarkan SEBI No. 9/24/DPbs tahun 2007, rata-rata rasio

81

BOPO bank syariah pada tahun 2016-2018 sudah tidak efisien efisien karena rasio BOPO berada pada level ≥ 94%. Meningkatnya rasio BOPO ini dapat disebabkan karena penaikan provisi atau pencadangan seiring dengan naiknya pembiayaan bermasalah. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berdampak pada nasabah yang mengalami kesulitan pada usahanya sehingga mengalami pembiayaan bermasalah.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio CAR masing-masing bank, rasio CAR terendah terjadi pada 2018 sebesar 210.16% oleh Bank Muamalat Indonesia, dan rasio CAR tertinggi terjadi pada 2018 sebesar 193.35% oleh Bank Maybank Indonesia Syariah. Rata-rata rasio CAR pada tahun 2016 – 2018 sebesar 26.28%, menurut ketentuan Bank Indonesia, suatu perbankan yang sehat harus memiliki CAR minimal sebesar 8%, dengan demikian perbankan syariah di Indonesia masih terbilang sehat sesuai ketentuan.

Berdasar data BI Rate selama periode 2016-2018, angka rata-rata BI Rate terendah terjadi pada akhir 2017 sampai triwulan I 2018 sebesar 4.25%, dan angka rata-rata BI Rate tertinggi terjadi pada akhir 2018 sebesar 5.91%. DApat terlihat bahwa angka BI Rate pada periode 2016-2018 sangat fluktuatif, hal ini terjadi karena Bank Indonesia harus merespons aktivitas pasar yang tidak pasti dan terus memberi stimulasi agar ekonomi dapat tumbuh dan berkembang dengan instrument moneter yaitu kebijakan suku bunga dicerminkan oleh angka BI Rate.

Berdasar data inflasi pada periode 2016-2018, angka rata-rata inflasi terendah terjadi pada tahun 2018 sbesar 3.07% dan angka inflasi tertigi terjadi pada tahun 2016 sebesar 9.08%.

82

Dapat disimpulkan bahwa angka BI Rate selalu berubah mengikuti angka inflasi jika angka inflasi naik maka angka BI Rate akan cenderung naik, hal ini dilakukan oleh Bank Indonesia agar laju inflasi dapat ditekan dengan menaikan angka suku bunga agar masyarakat sebagai konsumen lebih tertarik menyimpan uang di bank dengan imbalan bunga yang tinggi sehingga uang yang beredar di masyarakat dapat berkurang dan akhirnya laju inflasi juga akan berkurang, begitu juga sebaliknya jika angka inflasi terlalu rendah dapat diartikan bahwa pasar sedang lesu dan mengalami penurunan aktivitas, oleh karena itu Bank Indonesia akan memberikan stimulasi dengan menurunkan angka suku bunga yaitu BI Rate agar para investor dan pelaku usaha dapat menanamkan modalnya pada sektor riil dengan biaya bunga pinjam yang rendah, sehingga diharapkan aktivitas ekonomi akan tumbuh, produksi akan meningkat, lapangan kerja akan meningkat, sehingga masyarakat mempunyai daya beli yang cukup sehingga angka perekonomian dan laju inflasi dapat tumbuh.

Dokumen terkait