• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil PT. Garam (Persero)

Dalam dokumen : IRWAN PURNOMO H (Halaman 37-50)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Profil PT. Garam (Persero)

PT. Garam (Persero) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam produksi garam baik garam konsumsi atau garam bahan baku, dimana kantor pusatnya berada di Jl. Raya Kalianget Madura, sedangkan kantor pusat administrasinya berada di Jl. Arief Rahman Hakim 93 Surabaya, dan kantor perwakilan di Jl. Sunan Drajat 44 Jakarta. PT. Garam (Persero) merupakan perusahaan produsen garam terbesar di Indonesia.

a. Visi Perusahaan

Menjadi perusahaan garam terkemuka di Indonesia yang berkebudayaan industri dan mampu mengembangkan diri sehingga unggul dalam persaingan global.

b. Misi

1. Memproduksi Garam, kandungan mineralnya, dan turunannya yang berkualitas global untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga di Indonesia.

2. Membawa produk-produk kami ke setiap Rumah Tangga dan membuatnya tersedia dimanapun dan kapanpun dibutuhkan.

3. Menjadi mitra yang paling disukai oleh seluruh stakeholder (Grosir, Pengecer, Restaurant, Industries dan Petani Garam).

4. Membuat perubahan kepada lingkungan atau komunitas dimana kami hidup dan bekerja.

5. Menjadi organisasi kualitas global yang menjadikan perusahaan kami panutan bagi industri di Indonesia, Kinerja kami diukur dari kemampuan untuk memberikan kepuasan bagi konsumen dan manfaat yang paling menguntungkan bagi pemilik modal.

Bisnis yang digeluti PT. Garam (Persero) adalah Memproduksi dan Memasarkan Garam Bahan Baku untuk Industri dan Garam Olahan untuk Konsumsi. Produk yang sudah dipasarkan PT. Garam (Persero) yaitu :

1. Garam Segitiga G 2. Garam Anak Sehat

3. Garam merek Garam Masak 4. Garam Maduro

5. Garam LoSoSa (Low Sodium Salt)

Teknologi yang digunakan oleh PT. Garam (Persero) sudah menggunakan mesin seperti conveyor dalam proses pengolahan. Teknologi pendukung dalam proses administrasi dan pengolahan data dengan komputerisasi seperti penggunaan sistem LAN (Local Area Network), FOXBASE untuk pengolahan data keuangan, dan saat ini mulai menggunakan Visual Basic.

Segmen pasar PT. Garam (Persero) adalah pasar dalam negeri dan ekspor. Produk ekspor seperti Air Bittern, sampai saat ini di expor ke Jepang. Segmen pelanggan PT. Garam (Persero) terdiri dari pelanggan untuk garam konsumsi dan pelanggan untuk garam industri. PT. Garam (Persero)

memiliki pesaing yaitu Petani Garam Rakyat, dan Asosiasi atau pihak swasta yang bergerak dalam bisnis produksi dan pemasaran garam.

Kebutuhan garam tiap individu 3 kg/tahun, dan garam sangat dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu, PT. Garam (Persero) untuk mencapai sustainability, perusahaan terus memproduksi garam dan memproduksi produk turunannya agar kebutuhan masyarakat akan garam dapat terpenuhi. PT. Garam (Persero) sebagai satu-satunya BUMN yang bergerak dibidang industri garam mendapatkan sertifikat ISO (International Organization for Standardization) 9001:2000 dan SNI (Standar Nasional Indonesia) 19-9001:2001 untuk memenuhi standar garam konsumsi, dan garam layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Sertifikat ISO dan SNI dikeluarkan oleh PT. Sucofindo Sics Jakarta. Adanya sertifikat tersebut perusahaan terdorong untuk selalu meningkatkan kinerja mereka, selain itu untuk meningkatkan daya saing dengan perusahaan lain atau pesaingnya.

c. Struktur Organisasi

Struktur merupakan dasar aktifitas perusahaan atau organisasi dalam menjalankan segala operasional perusahaan. Agar uraian tugas, perintah, wewenang dan tanggungjawab masing-masing tenaga kerja atau karyawan di setiap unit kerja lebih jelas dan terarah, maka PT. Garam (Persero) menetapkan struktur yang ramping dan sederhana. Struktur yang digunakan lebih menekankan pada suatu hubungan kerja sama antara satu unit dengan unit lainnya. Oleh sebab itu PT. Garam (Persero) menggunakan struktur organisasi dengan garis komando dan garis pertanggungjawaban. Garis komando menunjukkan perintah mengalir dari atasan ke bawahan, sedangkan garis pertanggungjawaban mengatur alur tanggung jawab dari bawahan ke atasan langsung.

Uraian kerja dan tanggung jawab dari masing-masing komponen struktur yang ada dalam struktur organisasi PT. Garam (Persero) tersebut dijelaskan sebagai berikut :

1. Direktur Utama

Direktur Utama PT. Garam (Persero) mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan perusahaan baik intern maupun ekstern dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan. Fungsi utama dalam melaksanakan tugas-tugas pokok tersebut yaitu :

1) Untuk dan atas nama Direksi PT. Garam (Persero) menerima petunjuk dari dan bertanggung jawab kepada Menteri Negara Penanaman Modal dan Pendayagunaan BUMN tentang kebijaksanaan umum untuk menjalankan tugas pokok perusahaan dan hal lain-lain yang dianggap perlu.

2) Melaksanakan semua petunjuk dan pengarahan dari Direktorat Jendral Kimia Dasar Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan Dewan Komisaris PT. Garam (Persero)

3) Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang merupakan penjabaran rencana jangka panjang.

4) Pembinaan terhadap kegiatan para direktur menurut bidangnya, yaitu : (1) Direktur Produksi, (2) Direktur Komersial, (3) Direktur Keuangan.

2. Direktur Produksi

Direktur Produksi PT. Garam (Persero) mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan pengolahan bidang produksi, pengolahan garam dan kegiatan penelitian dan pengembangan. Fungsi utama dalam melaksanakan tugas-tugas pokok tersebut yaitu :

1) Merencanakan dan mengendalikan seluruh kegiatan produksi, pengolahan garam, teknik dan pengembangan.

2) Pembinaan manajemen kegiatan tiga unit kerja eselon satu dibawah Direktorat Produksi, meliputi : Divisi Produksi, Divisi Pengolahan Garam dan Biro Penelitian dan Pengembangan.

3. Direktur Komersial

Direktur komersial mempunya tugas pokok yaitu menyelenggarakan kegiatan pengolahan bidang pemasaran garam dan distribusinya. Fungsi utama dalam melaksanakan tugas-tugas pokok tersebut yaitu :

Merencanakan dan mengendalikan seluruh kegiatan pemasaran dan distribusi garam.

1) Pembinaan manajemen kegiatan unit kerja eselon satu dibawah Direktorat Komersial, meliputi : Divisi Pemasaran dan Divisi Perkapalan. 4. Ditrektur Keuangan

Direktur Keuangan mempunyai tugas pokok penyelenggaraan kegiatan pengolahan bidang keuangan, administrasi umum dan ketenagakerjaan. Fungsi utama dalam melaksanakan tugas-tugas pokok tersebut yaitu :

1) Merencanakan dan mengendalikan seluruh kegiatan administrasi keuangan, umum dan pengembangan Sumber Daya Manusia.

2) Pembinaan manajemen kegiatan dua unit eselon satu dibawah Direktorat Keuangan yang meliputi : Biro Administrasi dan Biro Umum.

Struktur organisasi PT. Garam (Persero) secara lengkap berdasarkan SK No. 29/D/SK/VIII/2004 disajikan dalam Lampiran 4.

d. Sejarah PT. Garam (Persero)

Sejarah pembuatan dan penjualan garam telah banyak mengalami perubahan. Sejak jaman VOC sampai dengan tahun 1921 hak monopoli pembelian garam dan penjualan garam dilakukan oleh rakyat secara pactstelsel (sistem sewa) yang berada dibawah kekuasaan pemerintah kolonial. Aparatur pemerintah yang mengurusnya mempunyai tugas membeli dan menjual garam hasil pegaraman rakyat. Pada tahun 1921 pactstelsel dihapus dan diganti dengan Jawatan Regie Garam (Jawatan Pegaraman Belanda) ditugaskan membuat garam sendiri di Madura. Pegaraman rakyat dihapus pada tahun 1934 dan dialihkan kepada pemerintah Belanda.

Pada tahun 1937 Jawatan Regie Garam berubah menjadi jawatan Regie Garam dan Candu berdasarkan staat blaad nomor 254 dan pada tahun 1941 zout monopoli ordonantie disempurnakan lagi berdasarkan staat blaad nomor 357 pada tahun 1945 tepatnya tanggal 31 oktober 1945 Jawatan Regie garam dan candu dikuasai oleh Republik Indonesia dimana R. Moekarto sebagai kepala Jawatan Regie dan Candu yang pertama.

Pada tanggal 27 Desember 1949 perdagangan candu dihapus dan Jawatan Regie Garam dan Candu berubah kembali menjadi Jawatan Regie

Garam. Untuk memenuhi kebutuhan soda di dalam negeri maka pada tahun 1952 di Waru (Sidoarjo) didirikan pabrik soda tepatnya pada tanggal 26 September 1952 Jawatan Regie Garam berubah menjadi Perusahaan Garam dan Soda Negara (PGSN) berdasarkan UU Nomor 14 tahun 1952.

Sebagai kelanjutan usaha pemerintah dalam bidang industri garam maka dikeluarkan UU nomor 138 pada tanggal 17 April tahun 1961, yang isinya tentang pembentukan Perusahaan Negara (PN. Garam) dan Perusahaan Negara Soda (PN. Soda) yang merupakan bentukan perusahaan PGSN yang dipecah menjadi dua. Selanjutnya pada tanggal 1977 PN. Garam ditunjuk sebagai satu-satunya perusahaan yang menangani dan bertindak sebagai pelaksana stock Garam Nasional.

Berdasarkan PP Nomor 46 tahun 1981, tepatnya tanggal 5 Desember 1981 PN Garam berubah status menjadi Perusahaan Umum Garam (perum) Garam dengan tugas melakukan program pemerintah dibidang industri garam, pembuatan garam rakyat, peningkatan kesehatan masyarakat dan pemegang stock Garam Nasional. Pada tanggal 11 Februari 1991, Perum Garam berubah status menjadi PT. Garam (Persero), berdasarkan PP Nomor 12 tahun 1991. Namun pada tahun 1992 tim stock Garam Nasional telah dibubarkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 875/KMK.016/1993, tanggal 3 November 1993. Agar perusahaan ini dapat lebih mendekatkan kepada pusat bisnis dan efisiensi biaya administrasi dan umum maka pada tahun 1999 kantor administrasi ditempatkan di Surabaya. 4.3. Kinerja Perusahaan Pada Setiap Kriteria dan Item MBCFPE 2007

Berdasarkan hasil penelitian, PT. Garam (Persero) saat ini masih menggunakan sistem penilaian kinerja berdasarkan SK Menteri BUMN No.100/MBU/2002, KPI (Key Performance Indicator), SK Direksi No.210/D/SK/XI/1998 dengan 12 faktor penilaian kinerja, dan menggunakan ISO 9001:2000. Hasil yang diperoleh berdasarkan penilaian PT. Garam (Persero) terhadap penilaian kinerja SK Mentri BUMN No.100/MBU/2002 dan KPI mendapatkan nilai BBB.

Hasil kinerja PT. Garam (Persero) pada setiap kriteria dan item berdasarkan Malcolm Baldrige Criteria For Performance Excellence 2007 sebagai berikut:

a. Kepemimpinan (Leadership)

Pemimpin senior memiliki Approach yang sistematis dan efektif dalam mengelola perusahaan. Hal itu diindikasikan dengan perusahaan memiliki Good Corporate Governance (GCG) untuk mengelola perusahaan. Sistem tersebut memberikan panduan kepada pemegang saham, komisaris, dan direksi dalam menerapkan praktik tata kelola perusahaan. Seperti halnya adanya akuntabilitas pemegang saham, independensi dalam audit internal dan eksternal. Selain itu menjadi prosedur bagi divisi-divisi yang lain, dengan begitu menunjukkan adanya proses deployment meskipun hanya sebagian area atau unit kerja yang baru dalam tahap awal penerapan.

Penerapan GCG sudah dievaluasi meskipun masih tahap awal transisi dan bersifat perbaikan secara umum, misalnya evaluasi terhadap sistem pengawasan internal. Sistem pengawasan internal ini berfungsi menangani pengaduan yang berkaitan dengan indikasi terjadinya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. GCG mendorong agar tata kelola diperusahaan berjalan baik, sehingga divisi menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.

Approach masih dalam tahap awal penyelarasan dengan area atau unit kerja lainnya, misalnya melalui program GCG mendorong peningkatan kepatuhan karyawan terhadap hukum dan perilaku etis.

Mereka menetapkan visi yang baru pada saat PT. Garam mulai mendapatkan ISO (International Organization for Standardization) 9001:2000. Kemudian Visi tersebut dituangkan kedalam GCG. Visi diterapkan kepada seluruh karyawan, pemasok dan mitra, dan pelanggan. Visi diterapkan melalui budaya perusahaan yang mereka ciptakan. Keseluruhan dari pencapaian Visi tercermin dari Misi yang diemban oleh perusahaan. Namun kebanyakan karyawan belum sepenuhnya mengerti akan visi yang mereka emban, hanya sebagian yang memahami visi tersebut.

PT. Garam (Persero) jarang melakukan evalusi terhadap visi yang mereka emban. Meskipun demikian unit-unit kerja sudah mulai menyelaraskan dengan visi yang mereka emban, melalui proses produksi sesuai prosedur dan menciptakan inovasi. PT. Garam (persero) masih satu-satunya perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi dan pemasaran garam terbesar di Indonesia serta produknya yang sudah diakui di pasar dalam negeri.

Komunitas utama perusahaan ini adalah masyarakat sekitar dan petani garam. Perusahaan dalam memperkuat dukungan komunitas utama dilakukan melalui program yang dimiliki perusahaan, yaitu PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Program Kemitraan merupakan program yang terdiri 8 sektor usaha untuk meningkatkan sektor UKM seperti Sektor Usaha Garam, Industri dan Kerajinan, Perdagangan atau Pertokoan, Sektor Pertanian dan Peternakan, Sektor Jasa serta Koperasi.

Sedangkan Program Bina Lingkungan merupakan program yang dijalankan untuk bidang pendidikan misalnya pemberian beasiswa, bidang sosial seperti bantuan untuk bencana alam, dan bidang keagamaan seperti bantuan untuk kelengkapan sarana dan prasarana masjid. Pelaksanaan program PKBL tersebut sudah di deploy (dijabarkan) ke masyarakat yang sekaligus sebagai konsumen. Pengelolaan program tersebut sebagai bentuk tanggungjawab sosial kepada masyarakat yang sekaligus konsumen sudah dievaluasi dan menuju orientasi perbaikan secara umum.

b. Perencanaan Strategis (Strategic Planning)

PT. Garam (Persero) dalam melakukan perencanaan stratgeis sudah sistematis dan efektif. Perusahaan dalam membuat suatu perencanaan strategis sudah menerapkan SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman). Kekuatan, PT. Garam (Persero) merupakan satu-satunya perusahaan terbesar yang memproduksi garam konsumsi dan garam industri yang berkualitas. Kelemahan, proses pembuatan garam sendiri masih bersifat tradisional yaitu penguapan dengan menggunakan sinar matahari. Peluang, adanya produk garam impor yang lebih baik sehingga PT. Garam (Persero) menjadikan peluang untuk meningkatkan mutu produk dan

meningkatkan daya saing produk. Ancaman, PT. Garam (Persero) memiliki pesaing, yaitu garam rakyat dan organisasi yang bergerak dalam bidang hal yang sama, mereka menjual garam kualitas rendah dan harga yang lebih rendah.

Perencanaan strategis tersebut kemudian dijabarkan ke semua divisi, agar rencana strategis yang dijalankan dapat diketahui. Proses evaluasi terhadap perencanaan strategis sudah dilakukan meskipun dalam tahap awal. Hal itu diindikasikan bahwa perencanaan masih belum menunjukkan adanya inovasi. Meskipun demikian, pendekatan yang digunakan dalam menentukan rencana strategis sudah menunjukkan adanya keselarasan, ditunjukkan dengan adanya perencanaan strategis kebutuhan Sumberdaya Manusia atau tenaga kerja dapat disesuaikan dengan rencana produksi.

Rencana kerja merupakan upaya pencapaian dari sasaran strategi perusahaan. Sasaran strategi tersebut ditetapkan dan disesuaikan dengan visi dan misi yang mereka emban. Sasaran strategi dikonversi menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Rencana Kerja tersebut dijabarkan ke semua karyawan dan stakeholder baik secara langsung atau melalui Web. Tiap tahun perusahaan mengevaluasi RKAP sehingga terjadi proses Learning meskipun masih dalam tahap perbaikan secara umum, belum menunjukkan adanya inovasi.

RKAP tersebut sudah diselaraskan dengan unit kerja yang lain, misalnya kebutuhan SDM disesuaikan dengan rencana kerja. Selain itu, target produksi disesuaikan dengan kemampuan divisi pemasaran dalam menjual produk.

c. Fokus Pada Pelanggan dan Pasar

Pendekatan yang digunakan dalam menggunakan pengetahuan tentang pelanggan dan pasar sudah efektif dan sistematis, yang diindikasikan bahwa dalam menetapkan dan mengidentifikasi konsumen, kelompok konsumen, dan segmen pasar dengan melakukan uji coba produk dan survei pelanggan. Sebagian besar konsumen PT. Garam (Persero) adalah masyarakat, baik kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah atau tingkat ekonomi tinggi. Kelompok tersebut tergantung pada jenis produk.

Survei pelanggan dan uji coba produk dilakukan atau diterapkan secara konsisten dan sesuai dengan unit kerja yang sesuai, seperti oleh divisi pemasaran dan oleh divisi penelitian dan pengembangan (Litbang). Pendekatan tersebut dievaluasi dengan cara sistematis dan sudah menunjukkan adanya inovasi. Divisi pemasaran melakukan survei pelanggan untuk mengetahui kebutuhan pelanggan dan pasar, kemudian divisi penelitian dan pengembangan mencari produk yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Hal itu menunjukkan adanya integration antara divisi pemasaran, divisi produksi, dan Litbang.

Perusahaan menerapkan suara konsumen yang langsung ditangani oleh divisi pemasaran. Sistem tersebut sudah diterapkan, konsumen yang mengajukan komplain atau apapun mengenai produk langsung ke bagian divisi pemasaran tiap kantor cabang pemasaran, dari kantor cabang pemasaran dilanjutkan ke kantor PT. Garam (Persero) Surabaya. Itulah desain dan metode yang digunakan dalam penggunaan suara konsumen.

Komplain tersebut langsung mereka proses agar mendapatkan kepuasan dan loyalitas konsumen, proses tersebut menunjukkan bahwa adanya evaluasi dan perbaikan melalui inovasi. Informasi keluhan tersebut digunakan sebagai feedback yang relevan bagi perusahaan, misalnya keluhan mengenai kemasan yang kurang rapat maka perusahaan segera mengambil tindakan untuk segera memperbaiki, dan bahkan mencari inovasi kemasan yang lain. Feedback di atas menunjukkan adanya proses integration meskipun masih dalam tahap awal penyelarasan.

d. Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan

Perusahaan dalam mengukur, menganalisis, dan memperbaiki kinerjanya melalui penggunaan data dan informasi sudah dapat dikatakan sistematis dan efektif. Pengukuran kinerja perusahaan mengacu kepada SK Menteri BUMN No.100/MBU/2002 dengan tiga aspek penilaian. Aspek tersebut diantaranya, aspek keuangan, aspek operasional, dan aspek administrasi. Aspek tersebut dianalisis dengan menggunakan standar yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan standar pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan.

Review pencapaian kinerja keuangan dilakukan setiap bulan oleh divisi akuntansi dan keuangan, selanjutnya di review oleh pemegang saham setiap 3 bulan untuk mendukung pengambilan keputusan dan perbaikan. Hal di atas menunjukkan bahwa pendekatan tersebut sudah diterapkan atau dijabarkan sekaligus membuktikan adanya learning melalui proses evaluasi. Hasil evaluasi terhadap kinerja keuangan, operasional, dan administrasi digunakan oleh direksi untuk dijadikan panduan dalam pengambilan keputusan. Contoh Tingkat Kinerja dan KPI (Key Performance Indicator) PT. Garam (Persero) dapat dilihat pada Tabel Tingkat Kinerja PT. Garam (Persero) (Lampiran 5 dan 6).

Perusahaan memiliki sistem informasi manajemen yang sudah baik. Sistem informasi manajemen ini secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam perusahaan terkait dengan pengelolaan informasi secara komputerisasi. Perusahaan menggunakan sistem LAN (Local Area Network) sehingga data dapat diakses dan diambil dari server dan dari divisi lain. Perangkat komputer disesuaikan dengan user, di PT.Garam (Persero) 60 persen dengan spesifikasi perangkat komputer yang lebih canggih dan 40 persen perangkat komputer dengan spesifikasi hanya untuk Office. Perangkat komputer tersebut juga disesuaikan dengan fungsi dan keperluan karyawan.

Perangkat lunak atau Software pendukung yang digunakan perusahaan awalnya adalah semi manual atau Office dan sistem DOS yaitu FOXBASE yang digunakan untuk inventory dan accounting. Sistem FOXBASE sudah efektif, namun untuk memudahkan karyawan, perusahaan sudah menerapkan software yang lebih canggih yaitu Enterprise Resource Planning (ERP), dan Structured Query Language untuk sistem data base dengan tools Visual Basic (VB). Dalam keadaan emergency data tetap tersedia minimal data selalu tersedia di server. Uraian di atas menunjukkan adanya approach yang sudah diterapkan meskipun beberapa area masih dalam tahap awal penerapan.

Penggunaan Visual Basic merupakan hasil evaluasi bahwa sistem yang digunakan sebelumnya kurang efisien, namun evaluasi ini masih dalam tahap awal. Approach masih dalam tahap penyelarasan, seperti penggunaan komputer hanya sebagian unit kerja yang menggunakan teknologi yang lebih canggih.

e. Fokus Tenaga Kerja

Cara yang digunakan perusahaan dalam menjadikan tenaga kerja terlibat secara aktif yaitu salah satunya dengan pelaksanaan dialogis. Secara formal keterlibatan aktif karyawan dapat dilihat dari kehadiran karyawan. Pendekatan tersebut dijabarkan ke seluruh karyawan di PT. Garam (Persero).

Penilaian keterlibatan aktif karyawan dilakukan secara formal dan non formal. Secara formal karyawan dilihat dari absensi ketidakhadiran dan ketepatan jam masuk kantor. Selain itu karyawan dinilai berdasarkan SK Direksi No.210/D/SK/XI/1998 dengan 12 faktor penilaian kinerja karyawan yang di evaluasi setiap enam bulan. Secara non formal penilaian dilakukan saat mereka melaksanakan dialog, dilihat dari penyampaian ide-ide karyawan. Adanya penilaian tersebut salah satunya untuk membuat suatu keputusan apakah karyawan tersebut layak untuk diberikan pelatihan dan pengembangan atau tidak.

Sistem pengembangan Sumberdaya Manusia yang dijalankan oleh perusahaan hanya jika ada kebutuhan dari perusahaan, dan jenis pengembangannya disesuaikan dengan rencana kerja. Jika ada pelatihan ISO, maka karyawan yang berkaiatan dengan proses diikutkan dalam pelatihan. Begitu juga dengan pengembangan bagi pemimpin senior disesuaikan dengan rencana kerja dan kebutuhan. Pengembangan karyawan baik berupa kapabilitas dan kapasitas karyawan dilakukan melalui Program Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT). Setiap ada pengembangan karyawan perusahaan selalu mengevaluasi hasil dari pengembangan yang telah diikuti karyawan. Adanya pengembangan karyawan perusahaan dapat menyebabkan penjualan meningkat.

Perusahaan memperhatikan kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja karyawan melalui program K3 (Kesehatan, dan Keselamatan kerja). Masing-masing karyawan mendapatkan tunjangan kesehatan dan fasilitas rawat inap. Perlengkapan kerja digunakan karyawan untuk menjaga keamanan dalam bekerja. Tujuannya adalah agar proses kerja dapat berlangsung dengan lancar dan selamat. Program tersebut dijabarkan ke seluruh karyawan dan diterapkan oleh seluruh karyawan. Tunjangan karyawan digunakan ketika karyawan merasa dirinya kurang sehat. Approach tersebut sudah menunjukkan adanya keselarasan, misalnya dengan program K3 tingkat karyawan yang sakit sedikit.

f. Manajemen Proses

PT. Garam (Persero) memiliki cara dan desain sistem kerja terkait dengan proses utama perusahaan. Cara dan desain kerja tersebut sudah sistematis dan efektif, mulai dari persiapan lahan sampai terakhir pungutan garam dan angkutan garam ke gudang (Lampiran 7). Perusahaan dalam memastikan kesiapan sistem kerja dan tempat kerja khusunya dalam proses produksi garam sudah sistematis, PT. Garam (Persero) melakukan perencanaan persiapan lahan yang baik untuk mendapatkan hasil optimal.

Pendekatan tersebut dijabarkan dan atau diterapkan berdasarkan unit kerja yang sesuai dan dilakukan secara konsisten. Proses pembuatan garam berlangsung tiap tahun, mulai dari bulan Mei sampai November. Proses tersebut ada step atau langkah-langkah dan prosedur tersendiri. Approach yang diterapkan dievaluasi baik saat proses berlangsung atau saat proses sudah selesai. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah proses yang sudah diterapkan sudah efektif atau ada cara lain agar proses produksi lebih efisien. Desain proses kinerja yang telah dibuat PT. Garam (Persero) dapat dijadikan panduan bagi divisi SDM, karena dapat diketahui jumlah karyawan yang harus dipekerjakan dalam proses produksi.

Usaha untuk meningkatkan kinerja proses utama PT. Garam (Persero) menerapkan sistem ISO (International Organization for Standardization) 9001:2000 agar sesuai dengan proses untuk mencapai mutu produk yang baik. Approach tersebut sudah dijabarkan berdasarkan unit kerja yang sesuai,

dan pendekatan telah digunakan secara konsisten, misalnya dalam pengaturan konsentrasi kepekatan garam 250be sampai 290be.

Proses evaluasi (Learning) sudah sistematis dan ada perbaikan, diindikasikan oleh pemeriksaan pada pemberian yodium terhadap garam olahan, dimana tingkat yodium berkisar antara 30 ppm sampai 80 ppm, dan dilakukan setiap 2 jam sekali. Evaluasi terhadap ISO sendiri dilakukan tiga bulan sekali. Approach di atas sudah selaras dengan kebutuhan organisasi

Dalam dokumen : IRWAN PURNOMO H (Halaman 37-50)

Dokumen terkait