• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DAN PERILAKU HYGIENIS

Perilaku merupakan respon individu terhadap stimulasi baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. PHBS merupakan salah satu pilar utama dalam Indonesia Sehat dan merupakan salah satu strategi untuk mengurangi beban negara dan masyarakat terhadap pembiayaan kesehatan.

Untuk meningkatkan kesehatan individu maupun masyarakat kita perlu bersama–sama menerapkan PHBS termasuk swasta dan dunia usaha berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. PHBS dalam hal ini akan ditinjau dari dua tatanan yakni:

1. Tatanan Rumah Tangga dan 2. Tatanan Sekolah

Kedua tatanan ini memiliki peran yang sentral dalam menerapkan dan membudayakan PHBS di lingkungan masyarakat.

3.1.1 Tatanan Rumah Tangga

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran semua anggota keluarga dan masyarakat, sehingga keluarga dan masyarakat itu dapat menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat, dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak secara keseluruhan (totalitas).

Dalam lingkup rumah tangga, untuk ber-PHBS kegiatanya cukup banyak, khusus dalam program PPSP, sebagaimana tercakup dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), ada 5 perilaku yang dipelajari terkait dengan higinitas dan sanitasi yang mengacu pada STBM PHBS, yaitu:

• Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS), • Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

• Pengamanan Air Minum Rumah Tangga • Pengelolaan Sampah Rumah Tangga • Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga

Manfaat rumah tangga dan masyarakat ber-PBHS antara lain: • Seluruh anggota keluarga dan masyarakat menjadi sehat • Anak akan tumbuh cerdas dalam lingkungan yang sehat • Masyarakat akan mampu mewujudkan lingkungan yang sehat

• Mampu mencegah dan menaggulangi penyakit dan masalah kesehatan • Biaya untuk kesehatan (penyakit) dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain

Empat faktor utama yang berpengaruh kepada kesehatan seseorang adalah faktor keturunan, faktor pelayanan kesehatan, faktor lingkungan dan faktor perilaku. Dari keempat faktor tersebut, pada umumnya faktor perilaku adalah faktor yang paling berpengaruh pada sehat atau sakitnya seseorang. Seseorang bisa menjadi

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN POLEWALI MANDAR III- 2 sakit apabila dia mempunyai perilaku yang tidak sehat. Sebaliknya seseorang bisa mempunyai kesehatan yang prima, jika ia mempunyai perilaku yang sehat. Banyak penyakit ditimbulkan akibat perilaku yang tidak sehat. Apabila kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat tersebut dapat dihindari maka kita bisa terhindar dari berbagai macam penyakit, sedangkan kebiasaan-kebiasaan sehat akan memberikan ketahanan tubuh terhadap serangan penyakit. Dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan hidup yang sehat, tubuh kita akan menjadi sehat.

Melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ini diharapkan agar masing-masing jajaran organisasi, baik di tingkat pusat maupun di tingkat wilayah, dapat mewujudkan masyarakat yang sadar akan pentingnya perilaku hidup sehat bagi kesehatan dirinya, keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

3.1.2 Tatanan Sekolah

PHBS disekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah agar mau dan mampu memperaktikkan PHBS, dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat.

Sasaran pembinaan PHBS di tatanan sekolah adalah: 1. Siswa

2. Warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan sekolah, komite sekolah dan orang tua siswa). 3. Masyarakat lingkungan sekolah (Penjaga kantin, Satpam dll)

Manfaat dari pembinaan PHBS di tatanan sekolah adalah:

a. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat, sehingga guru, siswa dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit.

b. Meningkatkan semangat belajar mengajar yang berdampak pada prestasi siswa

c. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua siswa.

Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penting dari keberhasilan PBHS di sekolah. Kualitas sumber daya manusia (SDM) antara lain ditentukan dua faktor yang satu sama lain saling berhubungan, berkaitan dan saling bergantung yakni pendidikan dan kesehatan. Kesehatan merupakan prasyarat utama agar upaya pendidikan berhasil, sebaliknya pendidikan yang diperoleh akan sangat mendukung tercapainya peningkatan status kesehatan seseorang. Oleh karena itu Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan titik berat pada upaya promotif dan preventif didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas, menjadi sangat penting dan strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencanangkan konsep sekolah sehat atau Health Promoting School ( Sekolah yang mempromosikan kesehatan ). Health Promoting School adalah sekolah yang telah melaksanakan UKS dengan ciri-ciri melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan masalah kesehatan sekolah, menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan aman, memberikan pendidikan kesehatan di sekolah, memberikan akses terhadap pelayanan kesehatan, ada kebijakan dan upaya sekolah untuk mempromosikan kesehatan dan berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Masalah kesehatan yang dihadapi oleh anak usia sekolah bervariasi, permasalahan pada fasilitas sanitasi disekolah seperti fasilitas ketersediaan toilet tempat cuci tangan, dll.

Beberapa kegiatan peserta didik dalam menerapkan PHBS di sekolah antara lain mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; menggunakan jamban di sekolah serta menjaga kebersihan jamban; mengikuti kegiatan olah raga dan aktifitas fisik sehingga meningkatkan kebugaran dan kesehatan peserta didik; serta membuang sampah pada tempatnya.

Dengan menerapkan PHBS di sekolah oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah, maka akan membentuk mereka untuk memiliki kemampuan dan kemandirian dalam mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN POLEWALI MANDAR III- 3

3.2 PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK

Masyarakat Polewali Mandar terdiri dari masyarakat yang heterogen dengan tingkat pemahaman yang berbeda terhadap sanitasi lingkungan serta tingkat populasi penduduk yang semakin bertambah setiap tahunnya. Untuk itu, berkaitan dengan permasalahan air limbah, maka pemerintah Kabupaten Polewali Mandar diharapkan agar lebih memperhatikan kondisi lingkungan agar tercipta masyarakat yang hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari pencemaran air limbah.

Untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, sehat dan produktif bagi kehidupan dan berpenghidupan, maka diperlukan adanya peningkatan akses pelayanan air limbah yang didukung oleh kualitas dan kuantitas infrasturuktur maupun aspek non infrasturuktur lainnya, sehingga perlu dilakukan pembangunan sarana dan prasarana air limbah permukiman yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah domestik serta menindaklanjuti peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peningkatan kualitas lingkungan permukiman.

Permasalahan umum dalam pengelolaan limbah domestik di Kabupaten Polewali Mandar adalah sebagai berikut:

 Kawasan Industri Tahu dan Perbengkelan di Kec. Wonomulyo dan Kec. Polewali belum memiliki sistem pengolahan limbah, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya.  Belum ada instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

 Belum ada pengolahan limbah rumah tangga (tinja) di beberapa pemukiman tertentu.

 Belum adanya alokasi anggaran yang memadai untuk pengembangan sistem pengolahan air limbah.  Masih banyaknya masyarakat yang membuang langsung limbah rumah tangga ke saluran

umum/drainase maupun sungai

 Bangunan septic tank yang sudah ada belum dikelola dengan benar, sehingga secara teknis masih berfungsi seperti jamban cubluk.

 Di kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan rumah tinggal menyebabkan air tanah rawan tercemar oleh limbah rumah tangga, karena hampir tiap rumah membuat septic tank yang jaraknya dengan sumber air tidak memenuhi syarat teknis atau kurang dari 10 m.

Perlu upaya secara teknis dan persuasif untuk memperbaiki kondisi ini, sehingga pembuangan limbah secara komunal penting diprioritaskan disamping penyuluhan secara terus menerus.

3.2.1 Kelembagaan

a. Aspek Hukum dan Peraturan

1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber daya Air

3. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai

4. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air

5. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

6. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 Tentang Metode Analisa Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan

7. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Lingkungan Limbah Domestik

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN POLEWALI MANDAR III- 4 8. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 122 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keputusan

Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri.

9. RPJPD dan RPJMD Provinsi Sulawesi Barat 10. RPJPD dan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar 11. RTRW Provinsi Sulawesi Barat

12. RTRW Kabupaten Polewali Mandar

b. Aspek Institusional

Berdasarkan pemahaman akan peraturan Bupati Nomor 09 Tahun 2009 tentang tugas pokok dan fungsi detail setiap Lembaga Teknis, dan Dinas di Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar maka pengelolaan air limbah di kabupaten Polewali Mandar berada pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Polewali Mandar sebagaimana sturuktur organisasi Dinas BLH dibawah ini:

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN POLEWALI MANDAR III- 5

STRUKTUR ORGANISASI

Dokumen terkait