BAB IV. : HASIL PENELITIAN
A. Pelaksanaan Penelitian
4. Profil Subjek Penelitian
Subjek ini bernama YT, ia mulai bekerja sebagai guru ABK di SDLB PJ sejak tahun 2009. Awalnya, YT hanya seorang ibu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang juga bersekolah di SDLB PJ. Anak YT bernama R, anaknya sudah sakit sejak lahir, selama 6 tahun 6 bulan R mengalami sakit yang bernama Cerebral Palcy (CP). R baru dikatakan sembuh dari segala macam virus yang menjangkit saat berumur 8 tahun. Sejak SMA YT sudah yatim piatu, sehingga ia mendidik anaknya yang berkebutuhan khusus itu tanpa pendampingan
dari orang tua, hanya bersama suami dan bantuan dokter dari Rumah Sakit. Saat ini YT mengajar ABK kelas 1 SD di kelas autis (YT1.5a; YT1.6c; AS1.29a; AS1.29b; YT3.11b; YT2.23a; YT2.24a; YT2.9a; YT2.23b; YT3.13j; YT2.11a; YT2.19a; YT1.16b; YT3.23a).
Selain menjadi Ibu dengan anak berkebutuhan khusus, YT bekerja sebagai pembantu bersih-bersih di SDLB PJ. Pekerjaan ini ia lakukan sebelum ia resmi diangkat menjadi guru di SDLB PJ. Membersihkan kamar mandi, cuci piring, dan membantu membersihkan tempat maupun badan ABK sehabis buang air di sembarang tempat sudah merupakan hal yang biasa ia lakukan selama bekerja di SDLB PJ. Selain itu juga YT bantu-bantu dalam mendampingi ABK belajar di kelas. Maka tidak heran, YT sangat terbiasa ketika menjadi guru ABK yang juga harus menangani ABK yang buang air sembarangan. Semua ia lakukan tanpa membeda-bedakan. Sebenarnya, YT merupakan lulusan S1 Akuntansi. Hanya saja, saat itu ia tidak ingin memberi pengakuan pada SDLB PJ bahwa ia pernah menjadi sarjana. YT memberikan identitas dirinya sebagai lulusan SMP. Setiap kali ia ditanya oleh pihak sekolah tentang status ijazahnya, ia tidak pernah menjawab yang sebenarnya. YT tetap menutup status ijazahnya. Padahal, YT adalah seorang S1 dan sudah pernah mengajar di SMEA. YT sengaja tidak memberi tahu identitas aslinya, dikarenakan YT tidak ingin ada yang menghinanya yang lulusan S1 namun sudah tidak punya apa-apa. Banyak orang yang tidak percaya bahwa ia merupakan lulusan
S1. YT hanya ingin menjadi guru yang tidak dipandang dari gelarnya. YT hanya ingin anaknya bisa sekolah di SDLB tersebut agar bisa ikut bersosialisasi dengan sesamanya.
Setelah beberapa waktu YT bekerja sebagai pembantu di SDLB tersebut, pihak sekolah melihat kinerjanya yang baik sehari-hari sehingga ia ditawari untuk bekerja sebagai guru SLB namun dengan gaji yang sedikit. Saat itu YT belum juga menunjukkan status ijazahnya, sampai pihak sekolah mencari-cari sendiri dokumen YT dan akhirnya ia mengaku sebagai lulusan S1 jurusan Akuntansi. Kemudian pihak sekolah pun terkejut dengan pengakuannya, namun itulah yang sebenarnya status YT, Ibu beranak satu ini. Kemudian YT menerima tawaran sebagai guru yang mengajar ABK tersebut dengan harapan, bisa menambahkan biaya R sekolah. Namun, YT tidak pernah mempermasalahkan gaji yang sedikit, karena niatnya ingin mengabdi kepada ABK di SDLB PJ. Gaji yang sedikit tidak menjadi masalah buat YT, ia menganggap bahwa gaji yang ia dapatkan adalah cukup, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Setelah semua berkas-berkas dokumen YT terkumpul, YT diangkat menjadi guru, namun bukan PNS karena ia tidak berasal dari jurusan PLB. Walaupun YT sekarang sudah menjadi guru SLB, ia tetap menjalankan pekerjaannya yang sebelumnya, yaitu bersih-bersih sekolah. YT tidak ingin melupakan pekerjaan awalnya, karena YT senang mengerjakan pekerjaan itu (YT3.14a; DW2.2b; DW2.3a; YT3.11c; YT3.11f;
YT3.11d; YT3.11e; DW2.2c; YT3.11a; DW2.2a; YT3.11g; YT3.11h; YT3.14b; YT3.14c).
Menjadi Ibu kandung dengan anak berkebutuhan khusus sekaligus guru yang mengajar ABK, menjadikan YT memiliki banyak pengalaman tentang bagaimana cara menangani ABK dan rasanya memiliki ABK. Sehingga saat YT di sekolah bertemu dengan orang tua ABK, YT tidak banyak memberikan pengertian-pengertian mengenai ABK karena YT sudah merasa senasib dengan mereka. YT hanya saling bertukar cerita dengan orang tua ABK, dan saling tukar pengetahuan agar saling mengerti dan menguatkan satu sama lain. Selain itu, di sekolah juga tidak ada paguyuban atau perkumpulan bersama orang tua ABK, hanya perkumpulan biasa dengan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus disekitar sekolah. YT sering mengobrol bersama orang tua selagi menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Pada saat itulah YT memanfaatkan waktu saling berbaginya dengan para orang tua anak berkebutuhan khusus. YT lebih sering berkumpul di sekolah daripada ikut perkumpulan orang tua dengan anak berkebutuhan khsusus yang ada di luar sekolah seperti yang pernah diadakan oleh Universitan Negeri Malang, hal ini dikarenakan ia tidak bisa meninggalkan R sendiri di rumah. YT ingin memaksimalkan waktu luangnya untuk bersama R dan suaminya di rumah. Hal tersebut YT lakukan karena ingin memberikan pendekatan pada R dengan keluarganya, supaya hubungan mereka semakin dekat (YT2.1e; YT3.9a;
YT3.9b; YT3.9c; YT2.1d; YT3.10a; YT3.10b; YT2.13a; YT2.14a; YT2.15a; YT2.17d).
b. Subjek 2
Subjek ini berinisial AS, berumur 37 tahun kelahiran Surabaya, 19 Juni 1978. AS memiliki 2 saudara perempuan, namun dari keduanya tidak ada yang berprofesi sama dengan AS, mereka memiliki minat yang berbeda-beda. AS merupakan lulusan PLB. Saat kuliah di PLB, AS belum mengerti penuh tentang bagaimana jurusan PLB, dan orang tua AS juga sering mengingatkan AS untuk meyakinkan diri ketika ingin terjun di dunia ABK, tetapi kemudian karena dosen yang membimbing sangat baik dalam pengenalan tentang jurusan PLB, maka AS mulai tertarik dengan dunia PLB dan jatuh cinta dengan dunia ABK. Kemudian AS bekerja di SDLB PJ sudah 5 tahun, sebelumnya ia bekerja di Surabaya namun belum ada pengangkatan. Saat ada pengangkatan di Malang, AS langsung ke Malang pada tahun 2009 (AS.47a; AS.1a; AS.1b; AS.1c; AS.1d; AS.2a; AS.3b; AS.3c; AS.4b).
Sebelum bekerja di SDLB PJ, AS sempat magang di lembaga autis setelah lulus kuliah. Waktu itu lembaga autis sangat membutuhkan tenaga kerja lebih, sehingga AS langsung magang di lembaga tersebut. Jadi, setelah lulus kuliah AS langsung menangani anak autis, yang sebelumnya ia belum ketahui bagaimana dunia autis itu karena sewaktu kuliah istilah autis masih asing dan belum ada materi tentang autis. Kemudian, AS mempelajari tentang autism di lembaga tersebut dengan
mengikuti training teori selama 2 minggu, kemudian 2 bulan pertama menjadi co-therapist, kemudian barulah AS bisa mendapat murid autis untuk diterapi. AS bekerja di lembaga selama 5 tahun, 3 tahun di ACA center, dan 2 tahun di Mata Hati. AS juga sempat memberikan terapi di Kalimantan tepatnya di Bontang selama 2 tahun mulai dari tahun 2003 hingga tahun 2005. Lembaga tempat AS bekerja, menjalin kerja sama dengan perusahaan di Bontang untuk memberikan terapi autis, karena banyak anak-anak karyawan yang ada di perusahaan tersebut terkena autis, yang disebabkan lingkungan yang banyak tercemar (AS.5d; AS.2b; AS.5c; AS.5j; AS.5m; AS.5n; AS.2c; AS.16a; AS.24m; AS.25c; AS.25a; AS.25b; AS.25d; AS.38s; AS.38t).
Setelah menjadi therapist, AS mencoba menggeluti dunia ABK yang lain karena ia ingin mencoba mengenal jenis ABK selain autis, ADHD dan hiperaktif. AS mencoba menjadi guru pendamping di kelas inklusi, ia memulai semuanya dari nol lagi dengan gaji hanya 175ribu sebulan waktu itu. AS tidak masalah dengan gaji tersebut karena ia ingin belajar pengalaman barunya di dunia ABK. AS mengatakan bahwa, sesungguhnya jika ia dari dulu setelah lulus kuliah langsung melamar menjadi guru ABK di SLB, maka ia akan langsung menjadi PNS, namun AS mengambil jalan yang lain untuk menjadi guru ABK (AS.38u; AS.38v; AS.38w; AS.38e’; AS.38f’; AS.38y; AS.3h; AS.3i; AS.5h).
c. Subjek 3
Subjek ini berinisial UF, lahir di Malang pada tanggal 18 Agustus 1972. UF ini merupakan lulusan D2 di SGPLB Surabaya. Sebelumnya UF mengambil jurusan S1 di PKN. Setelah lulus kuliah, UF pertama kali mengajar anak autis di suatu lembaga autis. UF mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak pernah mengetahui ilmu mengenai anak autis, karena selama di bangku kuliah belum ada materi autis. UF justru mengenal istilah autis saat bekerja di lembaga autis. Awalnya, UF mengajar anak autis kelas ringan, kemudian baru mengajar kelas autis berat. UF sudah berkeluarga dan memiliki anak, anak-anak UF juga tidak keberatan dengan pekerjaan UF sebagai guru ABK, mereka semua paham dan mendukung pekerjaan UF. Saat ini UF belum PNS, karena umurnya tidak lagi muda untuk mendaftar sebagai PNS. Waktu itu UF tidak masuk PNS, karena menunggu anak-anaknya besar dulu, karena apabila UF bekerja menjadi PNS, di rumah tidak ada yang mengurus anak-anaknya. Cita-cita UF sebelum menjadi guru ABK adalah sebagai insyiur pembangunan. UF mengaku menyukai pekerjaan itu saat masa-masa sekolah, ia merasa pekerjaan itu sangat bagus dan keren di masanya. Namun sekarang, pekerjaannya tidak seperti apa yang dicita-citakan dahulu. UF mengatakan bahwa, pekerjaannya sekarang adalah sudah takdir jalan Tuhan. Berawal dari penasaran karena melihat tetangga yang juga memiliki anak berkebutuhan khusus, kemudian UF memiliki keinginan untuk mencari tahu, bagaimana cara menangani
ABK dan segala macamnya mengenai ABK. Karena penasarannya itulah kemudian UF mengambil jurusan PLB dan mulai menggeluti dunia ABK walaupun pada awalnya ia mengalami shock saat baru mengenal dunia ABK (UF.3a; UF.3b; UF.5a; UF.5b; UF.5c; UF.6a; UF.19a; UF.20a; UF.21a; UF.28a; UF.30a; UF.30b; UF.49a; UF.2b; UF.2c; UF.27a; UF.37a; UF.39a).
Tabel 4.3
Perbandingan Profile Subjek
Keterangan YT AS UF
Subjek Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3
Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Perempuan
Usia 47 37 43
Pendidikan Terakhir
S1 Akuntansi S1 PLB S1 PLB
B. Temuan Lapangan