BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Kajian Teoritis
2.2.2 Profitabilitas
keuangan perusahaan. Karena dengan adanya pencatatan atas semua transaksi keuangan yang dilakukan (laporan keuangan) maka semua pihak yang membutuhkan informasi mengenai laporan keuangan ini bisa menganalisisnya sesuai dengan data yang diperlukan. Bagi manajer bisa digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan selama setahun yang lalu dan bisa digunakan untuk evaluasi keputusan yang baik untuk diambil di masa yang akan datang. Bagi investor, laporan keuangan digunakan untuk menganalisis kelayakan investasi di perusahaan tersebut.
2.2.2 Profitabilitas
2.2.2.1 Pengertian Profitabilitas
Profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Rasio profitabilitas menunjukkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi.
Analisis profitabilitas perusahaan merupakan bagian utama analisis laporan keuangan. Seluruh laporan keuangan dapat digunakan untuk analisis profitabilitas, namun yang paling penting adalah laporan laba rugi. Laporan laba rugi melaporkan hasil operasi perusahaan selama satu periode. Analisis profitabilitas sangat penting bagi semua pengguna, khususnya investor ekuitas dan kreditor. Bagi investor ekuitas, laba merupakan satu-satunya faktor penentu perubahan nilai efek (sekuritas). Pengukuran dan peramalan laba merupakan pekerjaan paling penting bagi invetor ekuitas. Bagi kreditor, laba dan arus kas operasi umumnya merupakan sumber pembayaran bunga dan pokok (Wild dkk, 2005:110)
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Harahap, 2009:304).
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya. Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini disebut juga rasio rentabilitas.
Pengukuran tingkat profitabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan tingkat Return on Investment (ROI) yang diharapkan dengan tingkat return yang diminta para investor dalam pasar modal. Jika return yang diharapkan lebih besar daripada return yang diminta, maka investasi tersebut dikatakan sebagai menguntungkan (Tampubolon, 2005:35).
Dalam setiap bentuknya, rasio profitabilitas dimaksudkan untuk mengukur seberapa efisien sebuah perusahaan telah menggunakan asset dan mengelola operasinya. Fokus dari kelompok ini adalah pada hasil akhir yaitu laba bersih. Tiga ukuran-ukuran pada rasio profitabilitas yang sering digunakan antara lain
31
2.2.2.2 Pengukuran Profitabilitas
1. Rasio Margin Laba atas Penjualan (NPM)
Rasio ini mengukur laba bersih penjualan yang dihitung dengan membagi laba bersih dengan penjualan (Brigham dan Houston, 2013:146). Net profit
margin merupakan rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bersih yang
diperoleh dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan operasionalnya.
Selisih laba bersih dengan rasio laba usaha dapat mencerminkan berapa beban yang ditanggung perusahaan untuk biaya-biaya non operasional. Semakin tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan.
2. Rasio Pengembalian atas Ekuitas (ROE)
Pengembalian atas ekuitas atau Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan jumlah ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan (Harahap, 2009:305).
Pengembalian atas ekuitas merupakan rasio laba bersih terhadap ekuitas; mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa (Brigham dan Houston, 2013:146).
Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah
keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan (Sawir 2009:20). ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas usaha.
3. Rasio Pengembalian atas Jumlah Aset (ROA)
Return on assets merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak
dengan jumlah aset. Return on assets merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aset yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63).
Return on assets merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba
bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aset (Syafri, 2008:63).Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu perusahaan. Dengan rasio akan nampak seberapa besar tingkat produktifitas seluruh aset.
2.2.2.3 Profitabilitas dalam Konsep Islam
Laba secara bahasa atau menurut Al-Qur’an, As-Sunnah dan pendapat ulama-ulama fiqih dapat disimpulkan bahwa laba ialah pertambahan pada modal pokok perdagangan dan dapat juga dikatakan sebagai tambahan nilai tang timbul karena barter atau ekspansi dagang (Syahatah, 2001:149).
33
Profitabilitas berkaitan dengan pendapatan, untuk itu dalam memperoleh pendapatan harus dengan cara yang halal, baik, dan jelas perolehannya serta tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh agama. Dalam Islam ketika mengambil keputusan (profit) tidak boleh berlipat ganda melainkan harus sewajarnya saja. Berlipat ganda berarti dua kali lebih besar, hal ini berarti mengandung riba (Wafa, 2012 dalam Wijayanti 2013:56).
Surat An-nisa’ ayat 29 berikut menjelaskan bagaimana pandangan Islam mengenai pengambilan laba:
ٍضاَرَ ت نَع ًةَراَجِت َنوُكَت نَأ َّلاِإ ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْ يَ ب ْمُكَلاَوْمَأ ْاوُلُكْأَت َلا ْاوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي
َلاَو ْمُكننم
ْمُكِب َناَك َوّللا َّنِإ ْمُكَسُفنَأ ْاوُلُ تْقَ ت
ًاميِحَر
-ٕ٩ -
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.
Ayat di atas menjelaskan bahwa kita dilarang untuk memakan harta dengan jalan yang diharamkan oleh agama yaitu seperti riba, ghasab/merampas. Menurut syariah agama hendaknya harta atas perniagaan harusnya atas dasar suka sama suka atau berdasarkan kerelaan hati masing-masing pihak.
Selain ayat di atas, perintah yang melarang kaum muslim untuk mengambil bunga yang berlipat ganda (riba) apabila ingin di hari akhir dan menginginkan kebahagiaan sejati, kedamaian hati dan kesuksesan hidup yang dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat 30 berikut:
َنوُحِلْفُ ت ْمُكَّلَعَل َوّللا ْاوُقَّ تاَو ًةَفَعاَضُّم ًافاَعْضَأ اَبنرلا ْاوُلُكْأَت َلا ْاوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba
dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung
Memakan bunga dapat menyebabkan rakus, tamak, kikir dan egois bagi orang yang mengambilnya; dan kebencian, kemarahan, permusuhan dan kecemburuan bagi orang yang membayarnya. Oleh karena itu, Allah telah mengecam dan melarang riba dan menganjurkannya untuk berbuat amal sebagai suatu penangkal terhadap riba. (Rahman, 1996:130)