BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan antara Kebijakan Trilema dan Variabel
4.3.3 Prognosa Kebijakan Trilema dan Variabel Makroekonomi di
Indonesia telah memiliki tingkat keterbukaan keuangan yang tinggi sejak tahun 1980-an. Penggunaan indeks KAOPEN dari Chinn dan Ito (2008), yang mengukur tingkat keterbukaan rekening modal negara berdasarkan keberadaan beberapa nilai tukar, akun lancar dan pembatasan transaksi akun modal dan ada atau tidak adanya persyaratan untuk menyerahkan hasil ekspor. Dari awal 1980-an
hingga 1995, Indonesia memiliki tingkat keterbukaan keuangan tertinggi. Tingkat keterbukaan sedikit menurun setelah tahun 1995 tetapi masih relatif tinggi (Hadiwibowo dan Komatsu, 2011).
Pada berbagai kondisi, interaksi antar kebijakan moneter akan memengaruhi kondisi makroekonomi suatu negara, pengaruh tersebut bersifat asimetri. Negara yang berbeda merespon interaksi kebijakan dengan hasil yang berbeda juga. Kondisi tersebut sebagai hasil dari perbedaan karakteristik dari setiap negara. Pengaruh interaksi kebijakaxn trilema bisa jadi sangat kuat memengaruhi perekonomian. Ada juga yang memberikan efek lemah terhadap pertumbuhan ekonomi maupun tingkat inflasi negara tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, terjadi berbagai perubahan sebagai akibat gejolak perekonomian di berbagai negara. Globalisasi keuangan, pergantian rezim nilai tukar, dan adanya kerangka kebijakan moneter baru yaitu ITF merupakan faktor eksternal maupun internal suatu negara yang secara tidak langsung akan merubah pola tekanan Trilemma yang telah ada.
Pertama, adanya arus globalisasi keuangan dan keterbukaan ekonomi. Sejak tahun 1990-an pada sebagian besar negara di dunia, mulai menghadapi arus globalisasi yang semakin besar. Kondisi tersebut ditunjukkan dari banyaknya perjanjian internasional serta penghapusan hambatan-hambatan dalam lalu lintas modal internasional. Selain itu, keterbukaan juga ditandai dengan meningkatnya akun-akun modal internasional dalam neraca pembayaran. Meningkatnya keterbukaan ekonomi telah mendorong dua pilihan lain untuk dikurangi. Peningkatan keterbukaan keuangan pada gilirannya akan mendorong berkurangnya kontrol Bank Sentral terhadap stabilitas nilai tukar. Konsekuensi lebih jauh, Bank Sentral terdorong untuk mengurangi independensi moneternya. Tujuan adanya bauran kebijakan baru tersebut diharapkan dapat memperbaiki perekonomian suatu negara.
Terutama sebagai negara yang masih rentan terhadap guncangan keterbukaan ekonomi (Iulian dan Bogdan 2014). Kedua, sebagian besar negara di dunia melakukan perubahan terhadap rezim nilai tukar yang dianut. Pada awalnya berbagai negara menganut rezim fixed exchange rate, namun setelah beberapa tahun banyak negara mulai mempertimbangkan kembali sistem fiexed dan mengkaji
beberapa sistem nilai tukar lainnya sebagai akibat dari kelemahan sistem fixed.
Rezim nilai tukar managed floating dan free floating menjadi alternatif pengganti rezim nilai tukar yang dipilih. Pada bab sebelumnya mengenai rezim nilai tukar, telah dijelaskan bahwa ketiga rezim tersebut mempunyai perbedaan dalam beberapa karakteristik, antara lain tanggung jawab Bank Sentral terhadap pasar valas, kondisi stabilitas nilai tukar, dan independensi moneter negara tersebut. Ketiga, adanya suatu kerangka kebijakan moneter baru yang digunakan pada banyak negara yaitu ITF. Penerapan ITF secara resmi bertujuan untuk mencapai dan memelihara tingkat inflasi sebagai tujuan kebijakan moneter dalam jangka menengah dan panjang.
Komitmen tersebut menjadi tanda dimulainya periode penerapan full-fledged ITF pada negara tersebut. Kerangka kebijakan baru tersebut mendorong Bank Sentral untuk fokus pada tujuan inflasi yaitu tercapainya inflasi rendah dan stabil dalam jangka panjang (Kadir et al. 2008). Pada banyak negara yang menerapkan ITF, banyak negara menggunakan instrumen suku bunga dan berbagai kebijakan moneter lainnya dalam mencapai target nilai tersebut. Artinya akan diperlukan derajat independensi yang lebih besar setelah penerapan ITF. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa syarat penerapan ITF antara lain; adanya independensi Bank Sentral khususnya pada penentuan instrumen kebijakan tanpa dipengaruhi oleh kebijakan negara lain (Obsfeld et al. 2004) dan menghindari target nominal selain inflasi, misalkan target nilai tukar dan jumlah uang beredar.
Apabila suatu negara merubah rezim nilai tukar yang ditetapkannya, maka akan mendorong terjadinya perubahan pola Trilemma yang akan dihadapinya.
Misalkan suatu negara merubah sistem nilai tukar dari managed floating menjadi free floating. Hal tersebut akan merubah tanggung jawab Bank Sentral terhadap pasar valasnya. Penerapan rezim free floating telah melepaskan tanggung jawabnya terhadap pasar valas. Sepenuhnya pergerakan nilai tukar akan ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran di pasar valas. Hal tersebut akan mendorong berkurangnya tekanan Trilemma negara tersebut. Teori interset rate parity menyatakan bahwa negara yang menganut sistem free floating akan memperoleh independensi moneter secara penuh. Artinya bahwa dilepaskannya tanggung jawab Bank Sentral terhadap intervensi di pasar valas, telah meniadakan satu sisi dari
segitiga Trilemma, akibatnya tradeoff dari ketiga kebijakan akan hilang. Pada kondisi tersebut, Bank Sentral dapat mengoptimalkan tujuan independensi moneter dan keterbukaan keuangan secara bersama-sama.
Berdasakan dari kajian empiris yang telah dipaparkan, maka terdapat beberapa dugaan hubungan antar-variabel yang dapat digunakan dalam penelitian ini, yaitu terjadinya peningkatan stabilitas nilai tukar dan independensi moneter mungkin menurunkan inflasi dan volatilitas inflasi. Kondisi peningkatan keterbukaan keuangan akan meningkatkan GDP negara tersebut dan mengurangi volatilitas inflasi yang terjadi. Cadangan devisa yang lebih tinggi mengurangi tradeoff Trilemma terutama antara stabilitas nilai tukar dengan independensi moneter, sehingga peningkatan reserve mendorong penurunan inflasi sekaligus mengurangi volatilitas inflasi.
Peninjauan Kembali Kerangka Kebijakan
Pengurangan Intervensi Kebijakan pada Stabilitas Nilai
Tukar Inflasi
Stabilitas Perekonomian Indonesia
Gambar 4.9 Prognosa Kebijakan di Indonesia Stabilitas Nilai Tukar (Exchange
Rate Stability)
Independensi Moneter (Monetary Independency)
Keterbukaan Keuangan (KAOPEN)
Pertumbuhan Ekonomi
Pada dasarnya sulit untuk menyimpulkan bagaimana pengaruh interaksi kebijakan terhadap perekonomian, namun dari banyaknya literatur yang telah dipublikasikan dan berbagai studi yang mempelajari kondisi tersebut pada berbagai karakteristik negara, maka dapat diberikan gambaran secara umum dampak tersebut. Kumpulan dari berbagai temuan menunjukkan bahwa peningkatan keterbukaan keuangan dan modal dengan sedikit penurunan pada derajat independensi moneter dan stabilitas nilai tukar akan meningkatkan pertumbuhan GDP negara bersangkutan. Kemudian, adanya peningkatan derajat independensi moneter dan stabilitas nilai tukar berperan meningkatkan pertumbuhan GDP (Hsing, 2012a;Hsing, 2012b). Suatu negara yang memilih untuk meningkatkan derajat independensi moneter dan stabilitas nilai tukarnya, akan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan inflasi dan volatilitas inflasi di tingkat yang rendah. Selanjutnya, negara yang mencoba untuk meningkatkan derajat keterbukaan ekonominya akan kehilangan derajat independensi moneternya.