• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ETNIS TIONGHOA SEBELUM REFORMASI DI KOTA MEDAN

2.1. Interaksi Sosial Sebelum Reformasi

2.1.1 Program Asimilasi Etnis Tionghoa

Diterapkannya kebijakan asimilasi pada masa pemerintah orde baru sesungguhnyabertujuan untukmenyelesaikanpermasalahan etnis Tionghoa yang sejaklama terjadi di Indonesia. Kebijakanasimilasi tersebut terinspirasi dari ide tokoh-tokoh etnis Tionghoa mengenai pembauran totalsebagai solusi dari berbagai permasalahanyang ada, meskipun pada prosesnya,golongan pendukung asimilasi ini harus berhadapan dengan golongan pendukungkonsep “integrasi”. Akan tetapi, setelah orde baru berdiri, golongan asimilasionismendapatkan kemenangan mutlak, yaitukonsep asimilasi dijadikan kebijakan resminegara. Hal tersebut dapat terlihat padaSidang Umum MPRS tahun 1966 bahwausulan asimilasi mendominasi dan dapatditerima.

Hal tersebut menandakan bahwaasimilasi telah resmi dijadikan sebagaikebijakan negara pada pemerintahan orde baru. Sidang Umum MPRS tersebut pada akhirnya menyoroti tiga keputusanmengenai etnis Tionghoa. mengenai resolusi etnisTionghoa adalah sebagai berikut7:

1 Resolusi MPRS no. III/MPRS/1966 tentang Pembinaan Kesatuan Bangsa.

Melalui salah satu pasalnya, resolusi ini secara eksplisit menyatakan asimilasi sebagai satu-satunya jalan bagi etnis Tionghoa untuk meleburkan diri;

2 Resolusi MPRS no. XXVII/MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan. Resolusi ini secara tegas mendesak pemerintah untuk

7Suryomenggolo, J. Hukum Sebagai Alat Kekuasaan: Politik Asimilasi Orde Baru. Jakarta:

Galang Press, Elkasa. 2003. Hal 77.

mengeluarkan UU larangan terhadap sekolah-sekolah asing dan agar pemerintah membina kebudayaan daerah-daerah;

3 Resolusi MPRS no.XXXII/MPRS/1966 tentang pembinaan pers. Resolusi ini menyatakan bahwa penerbitan pers dalam bahasa Tionghoa menjadi monopoli pemerintah. Surat kabar “Harian Indonesia” diterbitkan sehubungan dengan itu.

Setelahdiresmikan,kebijakanasimilasi kemudian diimplementasikan diberbagai bidang kehidupan, diantaranyasosial budaya, pendidikan, politik,kewarganegaraan, dan ekonomi.

Pemerintahmengeluarkan peraturan yang berisiuntuk memperpanjang kebijakan gantinama yang pada periode sebelumnya telahdilaksanakan. Hal tersebut menjadi bahanpertimbangan untuk mengganti namasebagaimana yang tertuang pada ArsipKeputusan Presiden No. 123 tahun 1968tentang Memperpanjang Masa berlakunyaperaturan ganti nama bagi warga negaraIndonesia yang memakai nama Cinaperlu mempercepat proses asimilasiwarganegara Indonesia keturunan asing kedalam tubuh bangsa Indonesia. “Seorangyang umpamanya bernama “Tan”

dapatmemakai nama “Tanojo”, “Ong” dijadikan“Onggowasito”, dan lain-lain.8

Kebijakan mengganti nama inimenuai kontroversi dari kalangan etnisTionghoa sendiri, sebagian dari merekamenganggap bahwa tidak ada kaitannyadengan mengganti nama, maka seorangindividu dapat dikatakan seorang

8 Ong Hok Ham, Riwayat Tionghoa Peranakan Di Jawa. Jakarta: Komunitas Bambu. 2005.

Hal 157.

yangnasionalis.Pada pelaksanaannya, kebijakan gantinama menimbulkan beberapa masalahbagi etnis Tionghoa itu sendiri. Bagi etnisTionghoa yang mengganti namanya,mereka kesulitan untuk mengingat danmembiasakan diri dengan nama barunyatersebut, bahkan seringkali mereka lupaakan nama sesama kerabatnya yang jugaturut mengganti nama. Hal tersebutmenyebabkan mereka harus beradaptasikembali dengan mengingat nama-namabaru yang digunakan, serta tidak jarangpada kehidupan sehari-hari pada akhirnyamereka tetap menggunakan namalamanya karena dirasa sudah banyakorang yang mengenalnya dengan namaitu.

Selain itu, pemilihan namayang sesuai menjadi salah satu kendala.bagi Etnis Tionghoa, seringkali mengalamai kebingungandalam menentukan nama apa yang akanmereka pilih sebagai nama barunya,terkadang mereka mengambil nama-namayang berasal dari Bahasa Jawa, namunnama tersebut memiliki arti yang kurangbaik ataupun tidak boleh dipakai bagisembarang orang. “Nama-nama itu telahdipilih demikian terburu-buru sehinggabeberapa diantaranya ditolak karena tidaksesuai (sebab misalnya, nama-nama itumempunyai hubungan kebangsawanan,seperti misalnya Kusuma atau Ningrat)dan beberapa lagi mendapat ejekan karenabunyinya yang aneh”.9

Selain itu, kebijakan menggantinama ini tidak begitu mencerminkan rasanasionalis dari etnis Tionghoa Indonesia.Sebagian dari mereka bahkan hanya

“ikut-ikutan” dan bukan karena hati nuraniingin mengganti namanya. Tidak berdasarpula faktor apa yang akan mendorongmereka berasimilasi dengan

9Coppel, C. A. Tionghoa Indonesia Dalam Krisis. Jakarta: Sinar Harapan.1994. Hal 168.

cepatdengan mengganti namanya tersebut. Tidakada jaminan kalau namanya diganti lalu ia menjadi nasionalis dan patriotsejati, Kalau dasarnya culas dan mataduitan, biar ganti nama seribu kali jugatidak menolong.

Serta yang paling penting, warganegara berbagai keturunan berintegrasisecara politik dan ideologi nasional yangkokoh, punya rasa cinta tanah air yangtulus. Soal kawin sama siapa dan bernamasiapa, sungguh tidak penting.10Selain mengganti nama, pemerintahjuga mengeluarkan kebijakan padabidang agama, kepercayaan, dan

adatistiadat kemudian ditindak lanjuti

dengandikeluarkannyaInstruksiPresidenRepublik Indonesia No. 14 Tahun 1967 yangditetapkan pada tanggal 6 Desember 1967.Kebijakan tersebut dikeluarkan atas dasarpemikiran bahwa agama kepercayaan danadat istiadat etnis Tionghoa jika dilakukandi depan umum dapat mempengaruhikeadaan psikologis, mental dan morilyang kurang wajar terhadap masyarakatIndonesia, maka dari itu hal tersebut dapatmenghambat berlangsungnya kebijakanasimilasi.

Dalam peraturan tersebut,khususnya dalam bidang agama, etnisTionghoa dilarang untuk melakukan ataumenunaikan ibadah di tempat terbuka, artinya mereka hanya diperbolehkanuntuk melaksanakan ibadah dalamlingkungan tertutup terbatas hanya padalingkungan keluarga atau perorangansaja. Sebagaimana yang sudah dijelaskan:11

10Ibid., Hal 38.

11Junus Jahja, Masalah Orang Tionghoa Di Indonesia: Kapok Jadi Nonpri.Bandung: Zaman Wacana Mulia. 1998. Hal 87.

1 Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan menunaikan ibadatnya, tata- cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas kultural yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harusdilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan;

2 Perayaan- perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan dalam lingkungan keluarga. Hal tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia, karena agama mereka tidak diakui maka dari itu mereka mendapatkan beberapa kendala dalam pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang mengharuskan pembuatnya mencantumkan agama yang dianutnya.

Selain itu, mereka juga mendapatkan kendala dalam surat nikah dan tata cara pernikahan yang akan dijalaninya. Untuk menjamin keamanan, etnis Tionghoamemilih untuk mencamtumkan agama lain dalam KTP maupun surat nikahnya tersebut, yaitu agama Buddha Tridharma. Diskriminatif yang masih terasa adalah soalperkawinan.12 Dalam banyak kasus,perkawinan umat Khonghucu tidak diakuiuntuk dicatat pada Kantor Catatan Sipil.

Kebijakan asimilasi di bidang sosialbudaya tidak berhenti hanya disitu, akantetapi berlanjut kepada kebijakan media.Sejalan dengan hasil Sidang UmumMPRS yang tertuang pada ResolusiMPRS no. XXXII/MPRS/1966 tentang

12Asvi Warman Adam,Diskriminasi Panjang Terhadap Etnis Tionghoa. Kompas:Jakarta, 2005. tanpa halaman.

pembinaan pers. Dalam resolusi tersebutmemperlihatkan bahwa pers Tionghoaberada dibawah binaan pemerintah.

Haltersebut tidak terlepas dari peraturan yangmelarang penggunaan Bahasa dan tulisanMandarin secara terbuka, bahwasanyasetiap surat kabar Tionghoa pasti memakaiBahasa Mandarin yang pada saat itu telahdilarang untuk digunakan.

Berkenaandengan kebijakan tentang pelarangandigunakannya Bahasa Mandarin di depanumum tersebut, maka pemerintah jugamelarang segala bentuk media yangberbahasa Mandarin, tentangLarangan Mengimpor, Memperdagangkan,dan Mengedarkan Semua Jenis BarangCetakan dalam Bahasa dan Aksara Cina,ditetapkan

pada tahun 1978, bahwa:Dianggap perlu untuk

melarangpengimporan,perdagangan,danpengedaran semua jenis barang cetakandalam Bahasa dan aksara Cina yang berasal dari luar negeri untuk memupuk danmengembangkan kebudayaan Indonesiademi keutuhan dan kesatuan bangsadan peningkatan pembangunan Bahasanasional.

Keputusan ini selanjutnyamerumuskan “barang cetakan” sebagaibuku, majalah, selebaran, dan koran yangdicetak dalam Bahasa dan akara Cina, yangberasal dari luar negeri.13Selain media surat kabar, mediaperfilman juga menjadi salah satu sorotanpemerintah.Pemerintah melarang segala bentuk filmataupun media yang menggunakan BahasaMandarin ataupun tulisan Tionghoauntuk masuk ke Indonesia.

Bahkanterdapat peraturan dalam bandara yangmelarang orang asing untuk

13 Aimee Dawis, Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. 2010. Hal 110.

membawasegala bentuk media yang berhubungandengan Bahasa dan tulisan mandarinke Indonesia.

Dalam pelaksanaannyapelarangan masuknya film Tionghoa inimengalami kendala di beberapa daerahkarena dengan diterapkannya pelarangan tersebut berdampak kepada penguranganpendapatan daerah. Selain itu sejakmunculnya saluran televisi-televisi swastapada tahun 1988 membuat peraturanmengenai pelarangan masuknya filmTionghoa ini semakin sulit.

Dengan dilarangnya berbagai mediadalam menampilkan tulisan dan bahasamandarin, maka hal tersebut berdampakkepada hilangnya kemampuan orangTionghoa dalam menulis, membaca, danberbahasa Mandarin. Kendala tersebutsering ditemui pada etnis Tionghoagenerasi muda, karena media sebagaisumber belajar mereka telah dilarang. Haltersebut menyebabkan kekhawatiran padagolongan tua kepada anak-anaknya yangtidak memiliki kemampuan berbahasamandarin, karena mereka berpendapatbahwa penguasaan bahasa sangatdiperlukan untuk menunjang pekerjaan dimasa depan. Karena berbagai media yangberbahasa mandarin telah dilenyapkan,maka pengajaran mengenai bahasamandarin diintensifkan pada kehidupansehari-hari terbatas pada lingkungankeluarga saja.

Dokumen terkait