• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

C. Program Bimbingan Pribadi-Sosial

Menurut Juntika (2005: 15) bimbingan pribadi-sosial merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pribadi sosial. Menurut Winkel & Sri Hastuti (2004: 118) bimbingan pribadi-sosial adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri. Adapun yang tergolong masalah pribadi-sosial adalah hubungan dengan sesama teman, guru, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat tinggal, serta penyelesaian konflik. Masalah lain yang tergolong masalah pribadi sosial antara lain: mengatur diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual, dll.

2. Unsur-unsur Bimbingan Pribadi-Sosial di Jenjang Pendidikan Menengah

Bimbingan pribadi-sosial yang di berikan di jenjang pendidikan menengah sebagian disalurkan melalui bimbingan kelompok dan sebagian lagi melalui bimbingan individual, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut (Winkel & Hastuti, 2004: 118):

a. Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang sedang dilalui

oleh siswa remaja, antara lain tentang konflik batin yang dapat timbul dan tentang tata cara bergaul yang baik.

b. Penyadaran akan keadaan masyarakat dewasa ini, yang semakin

berkembang ke arah masyarakat modern, antara lain ciri-ciri kehidupan modern, dan makna ilmu pengetahuan serta teknologi bagi kehidupan manusia.

c. Pengaturan diskusi kelompok mengenai kesulitan yang dialami oleh

kebanyakan siswa, misalnya menghadapi orangtua yang taraf pendidikannya lebih rendah daripada anak-anaknya. Khususnya siswa remaja dapat merasa lega, bila dia menyadari bahwa teman-temannya mengalami masalah yang sama.

d. Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal kepribadian siswa,

misalnya sifat-sifat kepribadian yang tampak dalam tingkah laku, latar belakang keluarga dan keadaan kesehatan.

3. Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial

Juntika (2005: 14), merumuskan beberapa tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial sebagai berikut:

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai

keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.

b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling

menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif

antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan

konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.

e. Memiliki sifat positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

f. Memiliki kemampuan melakukan pilihan secara sehat.

g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai

orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk

i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk persahabatan, persaudaraan atau silaturahmi dengan sesama manusia.

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik

bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun orang lain.

k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

4. Fungsi Bimbingan Pribadi-Sosial

Totok (Puspita, 2007: 47-49) mengungkapkan ada beberapa fungsi dalam bimbingan pribadi-sosial, antara lain:

a. Berubah menuju pertumbuhan. Pada bimbingan pribadi-sosial,

konselor secara berkesinambungan memfasilitasi individu agar mampu menjadi agen perubahan (agent of change) bagi dirinya dan

lingkungannya. Konselor juga berusaha membantu individu

sedemikian rupa sehingga individu mampu menggunakan segala sumber daya yang dimilikinya untuk berubah.

b. Pemahaman diri secara penuh dan utuh. Individu memahami

kelemahan dan kekuatan yang ada dalam dirinya, serta kesempatan dan tantangan yang ada diluar dirinya. Pada dasarnya melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu mampu mencapai tingkat kedewasaan dan kepribadian yang utuh dan penuh seperti yang diharapkan, sehingga individu tidak memiliki kepribadian yang terpecah lagi dan mampu mengintegrasi diri dalam segala aspek kehidupan secara utuh, selaras, serasi dan seimbang.

c. Belajar berkomunikasi yang lebih sehat. Bimbingan pribadi sosial dapat berfungsi sebagai media pelatihan bagi individu untuk berkomunikasi secara lebih sehat dengan lingkungannya.

d. Berlatih tingkah laku baru yang lebih sehat. Bimbingan pribadi-sosial

digunakan sebagai media untuk menciptakan dan berlatih perilaku baru yang lebih sehat.

e. Untuk mengungkapkan diri secara penuh dan utuh. Melalui bimbingan

pribadi-sosial diharapkan individu dapat dengan spontan, kreatif, dan efektif dalam mengungkapkan perasaan, keinginan, dan inspirasinya.

f. Individu mampu bertahan. Melalui bimbingan pribadi-sosial

diharapkan individu dapat bertahan dengan keadaan masa kini, dapat menerima keadaan dengan lapang dada, dan mengatur kembali kehidupannya dengan kondisi yang baru.

g. Menghilangkan gejala-gejala yang disfungsional. Konselor membantu

individu dalam menghilangkan atau menyembuhkan gejala yang menggangu sebagai akibat dari krisis.

5. Komponen Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen pelayanan, yaitu a) pelayanan dasar bimbingan, b) pelayanan responsif, c) perencanaan individual, dan d) dukungan sistem (Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 30-36).

a. Pelayanan Dasar

Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam

pengembangankemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam

menjalani kehidupannya. Penggunaan instrumen asesmen

perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini.

b. Pelayanan Responsif

Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis, konsultasi dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat dilakukan dalam pelayanan responsif.

c. Perencanaan Individual

Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan

kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli secara mendalam dengan segala karakteris-tiknya, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki konseli amat diperlukan sehingga konseli mampu

memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam

mengembangkan potensinya secara optimal, termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus konseli. Kegiatan orientasi, informasi, konseling individual, rujukan, kolaborasi, dan advokasi diperlukan di dalam implementasi pelayanan ini.

d. Dukungan Sistem

Ketiga komponen diatas, merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi),

dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara

berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli. Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memper-lancar penyelenggaraan pelayanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di Sekolah/Madrasah. Dukungan sistem ini meliputi

aspek-aspek: 1) pengembangan jejaring (networking), 2) kegiatan manajemen, 3) riset dan pengembangan.

Dokumen terkait