• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Program Gizi yang Berhubungan dengan Upaya Perbaikan

Program perbaikan gizi merupakan bagian integral dari program kesehatan yang mempunyai peranan penting dalam menciptakan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai tujuan tersebut, program perbaikan gizi harus dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan. Hal ini dilakukan

melalui suatu rangkaian upaya terus menerus mulai dari perumusan masalah, penetapan tujuan yang jelas, penentuan stategi intervensi yang tepat sasaran, identifikasi kegiatan yang tepat serta adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi institusi yang berperan di berbagai tingkat administrasi.

Upaya perbaikan gizi di Indonesia secara nasional telah dilaksanakan sejak tiga puluh tahun yang lalu. Upaya yang dilakukan difokuskan untuk mengatasi masalah gizi utama yaitu: Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) melalui intervensi yang mencakup penyelenggaraan posyandu dengan pemantauan pertumbuhan, pemberian suplemen gizi (melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi dan tablet besi), fortifikasi garam beryodium, pemberian makanan tambahan termasuk Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), tatalaksana gizi buruk (Depkes RI, 2010). Upaya tersebut telah berhasil menurunkan keempat masalah gizi utama namun penurunannya dinilai kurang cepat. Adapun program penanggulangan ke empat masalah gizi tersebut adalah sebagai berikut:

2.3.1. Penanggulangan Kurang Energi dan Protein (KEP)

KEP merupakan suatu bentuk masalah gizi yang termasuk dalam kategori kurang gizi yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama faktor makanan yang tidak memenuhi kebutuhan anak akan energi dan protein serta karena infeksi, yang berdampak pada penurunan status gizi anak dari bergizi baik atau normal menjadi bergizi kurang atau buruk. Untuk mengetahui ada tidaknya KEP pada anak perlu dilakukan pengukuran keadaan atau status gizi anak (Minarto, 2011).

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan besaran masalah KEP di Indonesia, yaitu gizi kurang, pendek dan kurus. Ke-tiga bentuk masalah KEP tersebut mempunyai riwayat dan pendekatan pemecahan yang berbeda. Prevalensi gizi kurang tahun 2007 secara nasional sebesar 18,4% sedangkan pada tahun 2013 sebesar 19,6%. Prevalensi gizi kurang juga sangat bervariasi antar perkotaan - perdesaan, antar tingkat ekonomi, dan antar tingkat pendidikan. Selain masalah gizi kurang riskesdas juga mengungkap tingginya prevalensi pendek pada anak balita 2007 sebesar 36,8% dan 37,2% pada tahun 2013, prevalensi kurus 2007 sebesar 13,6% dan 12,1% tahun 2013. Status gizi anak sangat terkait dengan status gizi ibu hamil. Prevalensi ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronik (KEK) 2007 diperkirakan sebesar 13,6%. Ibu hamil KEK akan beresiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).

Upaya-upaya yang dilakukan berkaitan dengan penanggulangan masalah gizi kurang antara lain penyelenggaraan posyandu dengan pemantauan pertumbuhan, pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan termasuk MP-ASI serta tatalaksana gizi buruk yang akan dibahas sebagai berikut:

1. Program Pemantauan Pertumbuhan

Pemantauan pertumbuhan anak dapat dilakukan melalui penimbangan berat badan dan tinggi badan atau panjang badan yang dapat dilakukan baik di posyandu maupun diluar posyandu. Kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap bulan. Tujuan dari pemantauan pertumbuhan adalah untuk menentukan apakah anak tumbuh secara

normal atau mempunyai masalah pertumbuhan atau ada kecenderungan masalah gangguan pertumbuhan yang perlu ditangani.

Anak yang mempunyai masalah pertumbuhan atau kecenderungan mengalami masalah gangguan pertumbuhan dicari faktor penyebabnya agar dapat dilakukan tindakan mengatasi atau memecahkan faktor-faktor yang menyebabkan gangguan pertumbuhan tersebut. Menilai pertumbuhan jika tidak didukung oleh tindak lanjut yang sesuai tidak dapat meningkatkan status gizi dan kesehatan anak.

Hasil pemantauan dinilai melalui indikator D/S, K/S dan N/D. Indikator D/S digunakan untuk mengetahui partisipasi masyarakat terhadap kegiatan posyandu, indikator K/S untuk mengetahui cakupan program penimbangan dan indikator N/D untuk mengetahui keberhasilan program.

Berdasarkan hasil riskesdas menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak pernah ditimbang di posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di posyandu sebesar 74,5%. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak. Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang ditimbang di posyandu 91,3%, pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83,6%, dan pada usia 24-35 bulan turun menjadi 73,3%.

Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain tersedianya dana operasional untuk menggerakkan kegiatan posyandu, tersedianya sarana dan prasarana serta bahan penyuluhan belum memadai, pengetahuan kader masih rendah dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan

serta konseling masih lemah, masih kurangnya pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu serta masih terbatasnya pembinaan kader (Minarto, 2011).

2. Program ASI Eksklusif

ASI Eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman lain, kecuali obat, vitamin dan mineral. Menurut Lancet (2010) yang dikutip oleh Depkes RI (2013), pemberian ASI Eksklusif dapat menurunkan angka kematian bayi sebesar 13% dan dapat menurunkan prevalensi balita pendek.

Upaya perbaikan gizi melalui penerapan pemberian ASI Eksklusif telah diamanatkan melalui Undang-undang No. 36 tahun 2009 bahwa bayi berhak mendapatkan ASI Eksklusif dan Peraturan Pemerintah RI No. 33/2012 menyebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota bertanggungjawab dalam pemberian ASI Eksklusif. Selain itu, untuk meningkatkan pemberian ASI Eksklusif pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan program Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 LMKM) dan melatih tenaga konselor untuk memberikan konseling dan penyuluhan kepada ibu menyusui. Dengan adanya tenaga konselor ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian ASI karena ASI merupakan makanan terbaik bayi.

Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi dan menunjukkan kecenderungan menurun selama 3 tahun terakhir. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008. Cakupan pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya Peraturan Pemerintah tentang Pemberian ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI.

3. Program Tatalaksana Gizi Buruk

Gizi buruk terjadi akibat dari kekurangan gizi tingkat berat, yang bila tidak ditangani secara cepat, tepat dan komprehensif dapat mengakibatkan kematian. Perawatan gizi buruk dilaksanakan dengan pendekatan tatalaksana anak gizi buruk rawat inap di Puskesmas Perawatan, Rumah Sakit dan Pusat Pemulihan Gizi

(Terapheutic Feeding Center) sedangkan Gizi buruk tanpa komplikasi di lakukan perawatan rawat jalan di Puskesmas, Poskesdes dan Pos Pemulihan Gizi berbasis masyarakat (Community Feeding Centre/CFC).

Kenyataan di lapangan, kasus gizi buruk sering ditemukan terlambat dan atau ditangani tidak tepat. Hal ini terjadi karena belum semua Puskesmas terlatih untuk melaksanakan tatalaksana gizi buruk. Selain itu kurangnya ketersediaan sarana dan prasana untuk menyiapkan formula khusus untuk balita gizi buruk, serta kurangnya tindak lanjut pemantauan setelah balita pulang ke rumah (Minarto, 2011).

2.3.2. Penanggulangan Kurang Vitamin A (KVA)

Vitamin A merupakan vitamin yang larut dalam lemak. Ada 3 fungsi vitamin A dalam tubuh yaitu fungsi dalam proses melihat, fungsi dalam metabolisme umum,

dan fungsi dalam proses reproduksi. Hubungan vitamin A dengan pertumbuhan dalam fungsinya sebagai metabolisme umum yang berkaitan dengan metabolisme protein. Pada defesiensi vitamin A terjadi hambatan pertumbuhan. Dasar hambatan pertumbuhan ini karena hambatan sintesa protein. Gejala ini tampak terutama pada anak-anak (balita), yang sedang ada dalam periode pertumbuhan yang sangat pesat. Sintesa protein memerlukan vitamin A sehingga pada defisiensi vitamin ini terjadi hambatan sintesa protein yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan (Sediaoetama, 2000). Salah satu program pemerintah untuk menanggulangi masalah kurang vitamin A adalah dengan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi.

1. Program Pemberian Kapsul Vitamin A

Kapsul vitamin A yang digunakan dalam kegiatan suplementasi vitamin A adalah kapsul yang mengandung vitamin A dosis tinggi. Sasarannya adalah bayi (6-11 bulan), anak balita (12-59 bulan) dan ibu nifas (0-42 hari).

Suplementasi kapsul vitamin A pada balita dan ibu nifas bertujuan tidak hanya untuk pencegahan kebutaan tetapi juga untuk penanggulangan Kurang Vitamin A (KVA). Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian suplementasi kapsul vitamin A sebanyak 2 kali setahun pada balita merupakan salah satu intervensi kesehatan yang berdaya ungkit tinggi bagi pencegahan kekurangan vitamin A dan kebutaan serta penurunan kejadian kesakitan dan kematian pada balita (Depkes RI, 2009).

Secara nasional masalah kekurangan vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat. Studi masalah gizi mikro di 10

propinsi tahun 2006, diperoleh gambaran prevalensi xeropthalmia pada balita 0,13% dan indeks serum retinol kurang dari 20 µg/dl adalah 14,6%. Hasil studi tersebut menggambarkan terjadinya penurunan, jika dibandingkan dengan hasil survey vitamin A pada tahun 1992.

Data Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa cakupan suplementasi vitamin A secara nasional pada anak umur 6-59 bulan adalah 71,5%. Masih ada 3 propinsi dengan cakupan di bawah 60%, 16 propinsi di bawah 70% dan hanya 4 propinsi dapat mencapai 80%. Berdasarkan laporan dari provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul vitamin A pada anak umur 12-59 bulan sebesar 79,2%. Provinsi dengan cakupan > 85 % adalah DIY, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Selatan sedangkan provinsi Papua Barat, Papua dan Maluku cakupan pemberian kapsul vitamin A < 60% .

Masalah manajemen dan penyediaan kapsul vitamin A, merupakan masalah yang dihadapi dalam peningkatan cakupan pemberian kapsul vitamin A. Disamping itu belum optimal pelaksanaan kampanye bulan kapsul vitamin A di setiap jenjang administrasi.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) bidang Kesehatan 2010-2014 telah ditetapkan salah satu sasaran pembangunan yang akan dicapai adalah menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 15% dan menurunkan prevalensi balita pendek menjadi setinggi-tingginya 32%. Untuk mencapai RPJMN tersebut, dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat telah ditetapkan 8 indikator kinerja program perbaikan gizi, yaitu: 1) Balita ditimbang berat

badannya, 2) Balita gizi buruk mendapat perawatan, 3) Balita mendapat kapsul vitamin A, 4) Bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eskklusif, 5) Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe, 6) Rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium, 7) Melaksanakan surveilans gizi, 8) Penyediaan stock cadangan (buffer stock) MP-ASI untuk daerah bencana.

Adapun indikator kinerja dan target kegiatan pembinaan gizi program perbaikan gizi tahun 2010-2014 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1. Indikator Kinerja dan Target Kegiatan Pembinaan Gizi Program Perbaikan Gizi Tahun 2010-2014

No Indikator Kinerja Target

2010 2011 2012 2013 2014

1. Persentase balita ditimbang berat

badannya (% D/S) 65 70 75 80 85

2. Balita gizi buruk mendapat perawatan 100 100 100 100 100 3. Persentase balita 6-59 bulan mendapat

kapsul vitamin A 75 78 80 83 85

4. Persentase bayi usia 0-6 bulan mendapat

Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif 65 67 70 75 80

5. Persentase ibu haml mendapat 90 tablet

Fe 84 86 90 93 95

6. Cakupan rumah tangga yang

mengkonsumsi garam beryodium 75 77 80 85 90

7. Persentase kabupaten/kota melaksanakan

surveilans gizi 100 100 100 100 100

8.

Persentase penyediaan buffer stock Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk daerah bencana

100 100 100 100 100

Sumber : Depkes RI, 2012

Selain indikator diatas yang perlu dicapai, ada juga indikator gizi lainnya yang secara berkala diperlukan seperti: 1) prevalensi balita gizi kurang berdasarkan antropometri, 2) prevalensi status gizi anak usia sekolah, remaja dan dewasa, 3)

prevalensi resiko Kurang Energi Kronis (KEK) pada Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil, 4) prevalensi anemia gizi besi dan Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), kurang Vitamin A (KVA) dan masalah gizi mikro lainnya, 5) tingkat konsumsi zat gizi makro (energi dan protein) dan mikro (defisiensi zat besi dan yodium), 6) data pendistribusian MP-ASI dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), 7) data terkait lainnya yang diperlukan (Depkes RI, 2012).

Menurut Azwar (1988), ada 4 unsur pokok dalam sistem pelayanan kesehatan yang sangat berperan menentukan berhasil atau tidaknya program yang diselenggarakan, yaitu unsur masukan (input), unsur proses (process), unsur keluaran (output) dan unsur dampak (outcome). Adapun penjelasan masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut:

a. Masukan (input) adalah semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya pelayanan gizi, yang terdiri dari 6 M yaitu man (orang), money (dana), material (sarana dan prasarana), metode (cara), market (sasaran), minute (jangka waktu pelaksanaan kegiatan).

b. Proses adalah semua tindakan yang dilakukan dalam pelayanan gizi yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian.

c. Keluaran (output) adalah yang menunjuk pada hasil pelayanan yang dilakukan dalam bentuk cakupan kegiatan program yaitu jumlah kelompok masyarakat yang sudah diberikan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program.

d. Dampak (outcome) adalah akibat yang dihasilkan dari pelayanan yang dilakukan yang dapat diukur melalui peningkatan status kesehatan masyarakat.

Keberhasilan program perbaikan gizi tidak terlepas dari peran puskesmas sebagai organisasi pelayanan kesehatan fungsional terdepan. Kegiatan program perbaikan gizi dalam pencegahan dan penanggulangan masalah gizi dapat terlaksana dengan baik bila tersedia sumber daya yang cukup sesuai kebutuhan. Sumber daya program gizi terdiri dari sumber daya manusia (TPG Puskesmas), sarana dan prasarana serta biaya. Semua sumber daya ini merupakan masukan (input) sedangkan kegiatan pokok program perbaikan gizi merupakan proses yang bertujuan untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk cakupan hasil kegiatan program dan selanjutnya dapat memberikan dampak sesuai yang diharapkan (outcome).

Peran TPG Puskesmas menjadi sangat penting karena merekalah sebagai pelaksana program gizi di puskesmas yang langsung menghadapi masyarakat. Pengembangan sumber daya manusia terutama tenaga gizi puskesmas, pengetahuan dan keterampilan merupakan kebutuhan dalam upaya pencapaian efektivitas program gizi selain peningkatan ketersediaan tenaga gizi dan sarana. Namun demikian, pengembangan SDM bidang gizi akan sangat tergantung dengan latar belakang pendidikan yang dimliki, motivasi yang dimiliki serta kebijakan pimpinan puskesmas dalam mendorong tenaganya untuk terus mengembangkan kemampuannya. Menurut Hadi (2005), masalah gizi dan kesehatan di masa yang akan datang di Indonesia akan semakin komplek, satu sama lain saling terkait dan oleh karena itu penanganannyapun membutuhkan tenaga yang mempunyai kompetensi lebih tinggi.

Pada saat ini tenaga gizi yang bekerja di jajaran Dinas Kesehatan maupun di Rumah Sakit di seluruh Indonesia sebagian besar lulusan D3 dan Dl. Kompetensi minimal yang dimiliki oleh sebagian besar tenaga gizi Indonesia belum memenuhi tantangan masalah gizi dan kesehatan saat ini dan apalagi untuk menangani masalah gizi dan kesehatan 10-20 tahun mendatang. Oleh karena itu perguruan tinggi perlu mengambil peranan dalam mendefinisikan ulang kompetensi ahli gizi Indonesia dan memformulasikannya dalam bentuk kurikulum pendidikan tinggi yang dapat memenuhi tuntutan zaman. Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam memberikan kritik maupun saran bagi pemerintah agar supaya pembangunan kesehatan tidak menyimpang dan tuntutan masalah yang riil berada di tengah-tengah masyarakat.

Dokumen terkait