• Tidak ada hasil yang ditemukan

URAIAN TEORITIS

II.4 LITERASI MEDIA

II.5.1 JENIS PROGRAM 1 Program Informas

II.5.1.2 Program Hiburan

Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu cerita, dan permainan. Program yang termasuk dalam kategori hiburan drama, permainan (game), musik, dan pertujukan.

Program hiburan. Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Program yang termasuk dalam ketegori hiburan adalah; drama, permainan (game), musik, dan pertunjukan.

1. Drama.

Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani dran yang berarti bertindak atau berbuat (action). Program drama adalah pertunjukan (show) yang menyajikan cerita mengenai kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang (tokoh) yang diperankan oleh pemain (artis) yang melibatkan konflik dan emosi. Dengan demikian, program drama biasanya menampilkan sejumlah pemain yang memerankan tokoh tertentu. Suatu drama akan mengikuti kehidupan atau pertualangan para tokohnya. Program televisi yang termasuk dalam program drama adalah sinema elektronik (sinetron) dan film.

2. Permainan

Permainan atau game show merupakan suatu bentuk program yang melibatkan sejumlah orang baik secara individu ataupun kelompok (tim) yang saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu. Menjawab pertanyaan dan/ atau memenangkan suatu bentuk permainan. Program ini pun dirancang dan melibatkan audien. Permainan merupakan salah satu produksi acara televisi yang paling mudah dibuat. Program permainan biasanya

membutuhkan biaya produksi yang relatif rendah namun dapat menjadi acara televisi yang sangat digemari. Program permainan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

1. Quiz show. Ini merupakan bentuk program permainan yang paling sederhana dimana sejumlah peserta saling bersaing untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Quiz merupakan permainan yang menekankan pada kemampuan intelektualitas. Permianan ini biasanya melibatkan peserta dari kalangan orang biasa atau anggota masyarakat, namun terkadang pengelola program dapat menyajikan acara khusus yang melibatkan orang-orang terkenal (selebritas).

2. Ketangkasan. Peserta dalam permainan ini harus menunjukan kemampuan fisik atau ketangkasannya untuk melewati suatu halangan atau rintangan atau melakukan suatu permainan yang membutuhkan perhitungan dan strategi. Permainan ini terkadang juga menguji pengetahuan umum peserta.

3. Reality Show. Sesuai dengan namanya, maka program ini mencoba menyajikan suatu situasi seperti konflik, persaingan, atau hubungan berdasarkan realitas yang sebenarnya. Jadi menyajikan situasi sebagaimana apa adanya. Dengan kata lain, program ini mencoba menyajikan suatu keadaan yang nyata (riil) dengan cara yang sealamiah mungkin tanpa rekayasa. Namun, pada dasarnya, reality show tetap merupakan permainan (game). Popularitas program reality show yang sangat menonjol belakangan ini, bahkan beberapa program yang sebenarnya tidak realistis pun ikut-ikutan menggunakan nama atau jargon reality show untuk mendongkrak daya jualnya. Tingkat realistis yang disajikan dalam reality show ini bermacam-macam. Mulai dari yang betul-betul realistis misalnya hidden camera hingga yang terlalu banyak rekayasa namun tetap menggunakan nama reality show.

Terdapat beberapa bentuk reality show, yaitu:

Hidden camera atau kamera tersembunyi. Ini merupakan program yang paling

realistis yang menunjukkan situasi yang dihadapi seseorang secara apa adanya. Kamera ditempatkan secaa tersembunyi yang mengamati gerak-gerik atau tingkah laku subjek yang berada ditengah situasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya (rekayasa).

Competition show. Program ini melibatkan beberapa orang saling bersaing

dalam kompetis yang berlangsung selama beberapa hari atau minggu untuk memenangkan perlombaan, permainan (game), atau pertanyaan. Setiap peserta akan tersingkir satu persatu melalaui pungutan suara (voting), baik oleh peserta sendiri ataupun audien. Pemenangnya adalah peserta yang paling akhir bertahan.

Relationship show. Seorang konsisten harus memilih satu orang dari sejumlah

orang yang berminat untuk menjadi pasangannya. Para peminat harus bersaing untuk merebut perhatian kontestan agar tidak tersingkir dari permainan. Pada setiap episode ada satu peminat yang harus disingkirkan.

Fly on the wall. Program yang memperlihatkan kehidupan sehari-hari dari

seseorang (biasanya orang terkenal) mulai dari kegiatan pribadi hingga aktivitas profesionalnya. Dalam hal ini, kamera membuntuti ke manasaja orang bersangkutan pergi.

 Mistik. Program yang terkait dengan hal-hal supranatural menyajikan tayangan yang terkait dengan dunia gaib, paranormal, klenik, praktik spiritual magis, mistik, kontak dengan roh, dan lain-lain. Program mistik merupakan program yang paling diragukan realistasnya. Apakah peserta betul-beetul

melihat makhluk halus atau tidak, dan apakah penampakan itu betul-betul ada atau tidak. Acara yang terkait dengan musik ternyata menjadi program yang memilki audien tersendiri.

3. Musik.

Program musik dapat ditampilkan dalam dua format, yaitu videoklip atau konser. Program musik berupa konser dapat dilakukan di lapangan (outdoor) ataupun dalam studio

(indoor). Program musik di televisi saat ini sangat ditentukan dengan kemampuan artis

menarik audien. Tidak saja dari kualitas suara, namun juga berdasarkan begaimana mengemas penampilannya agar menjadi lebih menarik.

Menurut Vane-Gross: programmer yang ingin menyajikan pertunjukan musik haruslah cermat. Mereka harus memilih artis yang memilki daya tarik demografis yang luas, menyajikan sebanyak mungkin dukungan visual, dan tidak membiarkan satu gambar ditampilkan terlalu lama.

4. Pertunjukan.

Pertunjukkan adalah program yang menampilkan kemampuan (perfomance) seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi baik studio ataupun diluar studio, di dalam ruangan atau di luar ruangan. Jika mereka yang tampil adalh para musisi, maka pertunjukkan itu menjadi pertunjukan musik atau jika yang tampil adalah juru masak, maka pertunjukkan itu menjadi pertunjukan memasak, begitu pula dengan pertunjukkan lawak, sulap, lenong,

wayang, ceramah agama, dan sebagainya. Dapat dikatakan program pertunjukkan adalah jenis program yang paling banyak diproduksi sendiri oleh stasiun televisi.

II.5.3 Elemen Keberhasilan

Menurut Vane-Gross dalam bukunya Programing for TV, Radio and Cable, tidak peduli dengan tujuan (mendapatkan audien, prestise, penghargaan dan sebagainya), atau daya tariknya (informasi atau hiburan), maka setiap program yang ditayangkan stasiun televisi memilki dua bentuk, yaitu dominasi format dan dominasi bintang.

Dominasi format. Dalam dominasi format (format-0dominat) ini, kondep acara merupakan kunci keberhasilan program. Pemain dipilih untuk memenuhi persyaratan dari inti cerita yang hendak dibangun. Sebagaimana dikatakan Vane-Gross: the concept of the show in

the key to its succes; perfomers are selecetd to fulfill the requirements of the core area.

(konsep dari suatu pertunujukkan adalah kunci keberhasilan; pemain dipilih untuk memenuhi persyaratan dari inti persyaratan inti ide cerita).

Dewasa ini, program televisi yang mengandalkan kekuatan pada dominasi format sudah sangat banyak. Program reality show banyak yang menganalkan konsep ini. Para pemain pendukung program bukan artis terkenal namun orang biasa bahkan orang miskin. Misalnya, program yang memberi kesempatan pada orang miskin untuk menerima sejumlah pemberian (biasanya uang) untuk dihabiskan dalam waktu yang sudah ditentukan dan sebagainya.

Dominasi bintang. Dalam ungkapan Vane-Gross dikatakan; the star is the key

kunci; format program dirancang berdasarkan keahlian pemain utamanya). Dengan demikian, pemain atau bintang merupakan unsur utama yang ditinjolkan. Format cerita dirancang atau dipersiapkan berdasarkan kemampuan, kepribadian (personalities) dan daya tarik bintang utama. Drama yang menonjolkan kemampuan pemainnya untuk ber-acting atau drama yang memasang bintang-bintang terkenal menjadi aktor utama yan menarik banyak audiens. Namun selain drama, program perbincangan (talk show) kerap dirancang berdasarkan keahlian pembawa acaranya seperti The Oprah Winfrey Show.

Kekuatan program bedaam itu zsarkan dominasi bintang adalah program itu dapat secara otomatis membentuk daya tariknya sendiri. Jika orang sudah mengenal pemainya maka audiien sudah dapat memperkirakan apa yang akan didapatinya dari acara itu, namun sebaliknya jika acara mengandalkan popularitas pemain atau bintang ini mulai ditinggalkan penontonnya atau si bintang tidak ingin melanjutkan kontraknya dalam acara itu, maka tidak ada acara lain untuk menyelamatkan acara bersangkutan. Kita dapat mengganti Opprah Winfrey dengan orang lain sementara nama acaranya masih berjudul Opprah Winfrey Show.

Dominasi format dan dominasi bintang terkadang menjadi hal yang tidak saling bersesuaian satu dengan yang lainnya. Pemain atau bintang film yang sangat terkenal atau sangat berbakat belum tentu berhasil untuk program yang mengutamakan dominasi format. Banyak bintang film terkenal yang sukses di layar lebar justru gagal total di layar televisi yang disebabkan bintang terkenal itu dinilai tidak cocok untuk tampil ditelevisi.

Programmer harus menentukan hal apa yang akan digunakan sebagai senjata untuk menarik audien. Dengan kata lain apa jenis daya tarik (type of appeal) yang akan digunakan. Apakah audien akan menarik dengan program komedi, atau petualangn, atau pada cerita yang lebih serius. Jika hal ini sudah ditentukan, maka tahap selanjutnya adalah menentukan elemen

atau hal-hal apa saja yang harus dimasukkan ke dalam program bersangkutan sesuai dengan target dan jenis daya tarik yang ditentukan.

Kesulitan utama bagi pengelola program adalah memastikan apakah suatu program akan sukses ketika ditayangkan. Hingga saat ini tidak ada “senjata”, yang dapat diguakan untuk memperkirakan apakah suatu progran yang dibuat saat ini akan sukses pada saat penayangan nanti. Namun demikian, ada beberapa kualitas tertentu yang harus dimiliki suatu acara agar dapat berhasil. Memiliki kualitas ini tidak menjamin bahwa program itu akan berhasil namun mengabaikan hampir pasti akan menjadi kegagalan suatu pogram.

Tentu saja, hal ini tidak sederhana memasukkan masing-masing elemen kualitas itu ke dalam program dan kemudian program itu pasti berhasil. Harus terdapat keterampilan dan seni tertentu yang dapat menggabungkan semua elemen. Namun demikian semua program yang sukses memilki elemen-elemen yang mencakup: konflik, durasi, kesukaan, konsistensi, energi, timing, dan tren.

1) Konflik.

Salah satu elemen yang paling penting dalam keberhasilan program adalah konflik, yaitu adanya benturan kepentingan atau benturan karakter di antara tokoh- tokoh yang terlibat. Tanpa adanya konflik, maka kemungkinan program itu akan mampu menahan perhatian audien. Elemen konflik menjadi sangat penting dalam program, seperti drama atau film namun konflik juga penting untuk program, seperti drama komedi, atau bahkan acara perbincangn (talk show).

Penulis cerita komedi yang bagus, misalnya harus memilki kemampuan untuk menciptakan tokoh-tokoh (pemain) dengan karakter individu yang tajam, mereka bertemu pada suatu tempat sehingga menimbulkan konflik. Contoh, adalah program

drama komedi, Bajaj Bajuri yang cukup populer di indonesia. Drama komedi ini memilki sejumlah tokoh yang masing-masing memilki karakter yang berbeda-beda. Konflik yang ditimbulkan para pemainnya menimbulkan kelucuan.

2). Durasi

Jika memungkinkan, programmer sebaiknya tidak pikir untuk membuat suatu program yang bersifat hanya satu kali tayang. Suatu program yang berhasil adlah program yang dapat bertahan selama mungkin. Banyak drama seri yang dapat bertahan selama bertahun-tahun di televisi. Namun banyak juga program yang tidak bertahan lama karena sulit menemukan ide cerita yang segar tanpa harus mengulang dari yang sudah ada sebelumnya.

Dengan demikian, ditinjau dari durasi atau lamanya penayangan program, suatu program itu terdiri atas program yang dapat bertahan lama (durable program) dan program yang tidak dapat bertahan lama (nondurable program). Pengelola program sebaiknya merancang suatu produksi program yang mampu bertahan terus-menerus, dengan kata lain, program itu memilki kemampuan untuk mempertahankan daya tariknya selama mungkin.

Kata kunci untuk mempertahankan selama mungkin suatu program adalah tidak boleh kehabisan ide cerita. Kemampuan suatu program seperti drama seperti drama seri untuk dapat bertahan dalam jangka waktu lama ini ditentukan oleh para penulis ceritanya, yang mampu menjalin cerita dengan menggabungkan tiga tema (ide) dasar yaitu seks, uang dan kekuasaan.

Salah satu hal yang sering membantu memperpanjang ceria adalah dengan memberi kesempatan kepada berbagai tokoh atau karakter untuk muncul dalam cerita.

Di indonesia, sinetron yang sukses berhasil bertahan dalam episode waktu yang cukup panjang dan dibuat dalam beberapa episode.

Van-Gross memberikan salah satu contoh tema drama yang tidak bertahan lama, yaitu cerita mengenai orang-orang yang “terdampar” di pulau terpencil. Sekelompok orang ditempatkan disebuah pulau terpencil. Sekelompok orang ditempatkan disebuah pulau terpencil, dikelilingi laut dan tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. Interaksi antara orang-orang ini dibiarkan berkembang sedemikian rupa sehingga menimbulkan konflik yang menjadi cerita dan daya tarik progam imanani. Di indonesia tema ini diadopsi menjadi program Penguni Terakhir, dengan setting disebuah rumah yang mewakili pulau terpencil. Tema seperti ini cenderung tidak dapat bertahan lama karena penulis ceritanya kerap kehabisan ide.

3) Kesukaan

Sebagian audien memilih program yang menampilkan pemain utama atau pembawa acara yang mereka sukai, yaitu orang-orang yang membuat audien merasa nyaman, sebagaimana dikemukakan Vane-Gross: ”Viewers tune to poeple they like and

with whom they feel comfortable.” Mereka adalah orang-orang yang memilki

kepribadian yang hangat, suka menghibur, sekaligus sensitif dan ramah. Mereka adalah jenis orang yang mungkin kita sukai untuk diundang ke rumah kita.

Adalakanya orang menyukai suatu program bukan karena isinya, namun lebih tertarik kepada penampilan pembaca berita atau pembawa acaranya. Pembawa acara dalam program permainan (game show) harus memilki karakter sebagaimana dikemukakan di atas. Dengan demikian, pembawa acara suatu game show haruslah

sesorang yang ramah, lucu, tampan dan sekaligus pintar namun yang utama ia harus memancarkan kegembiraan dan pemikiran yang positif atau memikli good wiil.

Seorang pembawa acara yang sukses tidak mungkin memilki sikap yang agresif dan antipati. Misalnya, suka menyinggung atau memojokkan kotestannya. Seorang pembawa acara yang tidak simpatik pasti tidak disukai audien dan program itu akan ditinggalkan audiennya.

4). Konsisten.

Suatu program harus konsisten terhadap tema dan karakter pemaain yang dibawanya sejak awal. Para penulis cerita sutradara dan pemain haruslah bertahan pada tema atau karakternya sejak awal. Dengan demikian, tidak boleh terjadi pembelokkan atau penyimpanan tema atau karakter di tengah ja9lan yang akan membuat audien bingung pada akhirnya meningalkan program itu. Menurut Vane-Gross: “All viewers

bring a certain level of anticipation to every program” (semua penonton televisi

memiliki tingkat antisipasi tertentu terhadap setiap program). Ini berarti, penonton sejak awal sudah mengharapkan sesuatu ketika menonton sesuatu.

Drama komedi terkadang mengangkat tema-tema sosial kemasyaratan, seperti penyakit AIDS atau Narkoba dalam upaya memberi edukasi kepada masyarakat. Tema- tema seperti ini dapat berasal dari pihak lain (sponsor) ataupun atas prakarsa produsernya sendiri. Memasukkan tema kemasyarakatan seperti ini kedalam cerita komedi harus dilakukan secara hati-hati, karena dapat mengubah tema atau karakter

sentral yang sudah ada. Tema-tema ini dapaat mengubah cerita menjadi serius, dalam hal ini cerita komedi menjadi kurang lucu.

Setiap acara harus memilki tema sentral sentral dan tema ini tidak dapat diubah- ubah menjadi apa saja yang ditujukan kepada siapa saja. Dengan kata lain, tidak ada program yang dapat menyenangkan seluruh audien. Dengan demikian, programmer televisi tidak dapat menyelipkan acara “memasak satu menit” (biasanya karena ada sponsor) pada saat jam tayang film kartun anak-anak pada hari sabtu pagi dengan maksud agar dapat menarik ibu-ibu untuk menonton acara memasak itu. Begitu pula

programmer tidak dapat menyelipkan acara musik rock pada saat jam tayang lagu-lagu

nostalgia yang disukai orang-orang tua, hanya menarik kelompok penonton remaja dan anak muda.

Risiko kehilangan audien dapat terjadi jika penyelipan acara lain pada saat jam tayang acara utama. Dalam hal programmer yang pada mulanya ingin memperluas pangsa audiensinya justru mendapatkan sebaliknya. Audien baru tidak datang dan audien lama akan meninggalkan program itu.

5). Energi.

Setiap program harus memiliki energi yang mampu menahan audien untuk tidak mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal lain. Van-Gross mendefenisikan sebagai: the

quality that infuses a sense of pace and axcitement into a show. It is the charging of the

screen with pictures that won’t let the viewer turn away (kualitas yang menekankan

pada kecepakatan cerita dan semangat ke dalam cerita dengan menyajikan gambar- gambar yang tidak bisa ditinggalkan cerita dengan menyajikan gambar-gambar yang

tidak bisa ditingglkan penonton). Berdasarkan defenisi Vane-Gross diatas, maka suatu program yang memilki energi harus memilki tiga hal:

1) Kecepatan cerita

2) Excitement (daya tarik)

3) Gambar yang kuat

Suatu program harus memilki cerita yang tidak boleh berjalan lamban apalagi menonton. Setiap program harus memilki kecepatannya dalam bercerita. Audien tidak boleh dibiarkan bingung atau mereka masih tidak tahu arah cerita suatu drama padahal 25% waktu tayang sudah dilewati.

Secara bahasa excitement berarti kegembiraan, kegemparan atau kebohongan, namun dalam hal ini didefenisikan sebagai kemampun menimbulkan daya tarik atau kegairahan kepada audien terhadap cerita yang dibangun. Setiap bagian cerita harus memancing rasa ingin tahu atau rasa penasaran audien setiap saat. Excitement tidak sama dengan kegila-gilaan (frenzy) dan juga tidak berarti motion atau sekedar perpindahan gambra tanpa arti.

Vane-Gross meletakkan tanggung jawab untuk menciptakan energi pada tiga pihak yaitu: penulis cerita, sutradara, dan pemimpin. Masing-masing pihak memilki tanggung jawab untuk menciptakan energi program pertunjukkan. Tanggung jawab itu adlah sebagai berikut:

1.) Penulis cerita harus memilki kemampuan untuk mengembanhkan dialog dan menuyusun adegan sedemikian rupa, sehingga mampu menciptakan ketegangan yang terus meningkat hingga akhir cerita.

2.) Sutradara harus mampu mengarahkan pemain sesuai dengan cerita dan memilih gambar yang mampu membangkitkan kepuasan penonton

3.) Pemain harus melakukan peran mereka sebaik-baiknya, namjn aktor yang terbaik adalah mereka yang mampu membuat setiap adegan menjadi menarik.

Jika salah satu dari tiga pihak tersebut di atas tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, maka akan menyebabkan kecepatan cerita menjadi berkurang atau merosot, demikian pula dengan energinya, sehingga perhatian audien menjadi tidak fokus dan pikiran penonton akan menggembara ke mana-mana. Ini merupakan ancaman dan audien akan meninggalkan acara itu.

Mempertahankan energi menjadi sangat penting dalam setiap acara talk show atau perbincangan. Upaya mempertahankan energi pada acara talk show merupakan tanggung jawab pembawa acara (host) atau pewawancara. Cukup sering terjadi, pembawa acara membiarkan pembicara untuk mendikte tempo wawancara. Jika pembawa acara tidak menyadarinya, pembicara itu akan menurunkan level energi ke tingkat yang lebih rendah dan keduanya akan terjebak dalam kebosanan. Jika hal ini terjadi, maka produser dan sutradara harus segera menanyangkan jeda komersial dan pergi berbicara kepada pembawa acara di panggung untuk memompa semangat.

6. Timing

Programmer dalam memilih suatu program siaran harus mempertimbangkan waktu penayangan (timing), yaitu apakah program bersangkutan itu sudah cocok atau

sesuai zamannya. Setiap program memilikicerita yang mencerminkan nilai-nilai sosial yang hidup dan diterima oleh masyarakat saat itu. Jika suatu program tidak sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai itu maka besar kemungkinan program itu tidak berhasil atau malah ditolak oleh masyarakat.

Vane-Gross menilai persoalan timing ini sangat penting: agar suatu program dapat berhasil maka program itu haruslah haruslah harmonis dengan waktu. Program yang terlalu ketinggalan zaman akan ditinggalkan penonton; namun jika terlalu maju juga akan ditinggalkan penontonnya.

Dengan demikian setiap program harus dapat menjaga keharmonisannya dengan waktu. Ini berarti nilai-nilai atau gaya hidup yang diperhatikan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang masih berlaku dan dipertahankan audien. Jika nilai-nilai yang diangkat terlalu tua atau kuno maka audien menganggapnya ketinggalan zaman, sebaliknya jika terlalu maju maka akan dapat dianggap sebagai pemberontakan.

7. Tren

Seorang programmer dalam memilih program garus memiliki kesadaran terhadap adanya hal-hal tengah digandrungi (tren) di tengah masyarakat. Program yang sejalan dengan tren yang berkembang akan lebih menjamin keberhasilan, sebaliknya program yang tidak seirama dengn tren maka besar kemungkinan akan gagal. Namun menurut Vane-Gross, program yang mengikuti tren bukanlah faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan. Menurutnya tren bisa menjadi petunjuk terhadap selera audien secara umum sehingga sedikit banyak memantau meningkatkan rating acara.

Dengan demikian, tren bukanlah hal yng terlalu penting untuk diikuti, namun tren dapat menjadi jalan yang akan menunjukkan apa yang tengah disukai masyarakat. Kesadaran terhadap ren yang sudah berlalu dapat membantu programmer menghindari atau menolak program dengan konsep yang sudah ada.

Menurut Vane-Gross, tren program televisi bkembang karena dua alasan: 1). Perkembangan ekonomi dan teknologi; 2). Mengikuti program yang sukses sebelumny. Tren program televisi tahun 1950-an berkembang disesbabkan masih terbatasnya teknologi. Teknolog televisi ketika itu masih belum berkembang, kaset (videotape) untuk menyimpan siaran televisi masih belum diciptakan, sementara indutri film hollywood masih belum tertaarik menjual filmnya kepada televisi, sehingga stasiun televisi lebih memilih menyiarkan

Dokumen terkait