• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Dalam dokumen TRADISI TAḤFĪẒ AL-QUR’ĀN (Studi (Halaman 47-200)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

memudahkan pembaca dalam memahami inti dari keseluruhan

pembahasaan dalam penelitian. Selain itu penulis akan menyampaikan beberapa saran terkait hasil penelitian.

26

Pada bab sebelumnya telah diuraikan dari latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, teknik analisis data, teknik penulisan dan sistematika penulisan.

Pada bab ini penulis membahas landasan teori tentang tradisi taḥfīẓ Al-Qur‟ān.

Penulis akan menjelaskan mengenai pengertian tradisi taḥfīẓ Al-Qur‟ān, kemudian menguraikan taḥfīẓ Qur‟ān dalam sejarah yaitu sejarah taḥfīẓ Al-Qur‟ān dari masa Nabi Muhammad SAW sampai generasi para ulama. Di samping itu, penulis akan menjabarkan taḥfīẓ Al-Qur‟ān di Indonesia: antara budaya dan ritual yaitu sejarah taḥfīẓ Al-Qur‟ān dari sejak munculnya taḥfīẓ Al-Qur‟ān pertama kali di Indonesia sampai pada zaman sekarang. Penulis juga akan menjelaskan mengenai sejarah dan perkembangan metode taḥfīẓ Al-Qur‟ān di Indonesia.

metode-metode yang ada adalah yang paling baik dan akurat.2 Kata tradisi dalam bahasa Arab dikenal dengan kata „urf . Kata „urf terbentuk dari huruf „ain, ra dan fa dari bentuk kata kerja ُ - ف َر َغَ

ف ِّرْػَي yang artinya mengenal atau mengetahui. Bentuk turunan dari kata ini adalah al-ma‟ruf yang artinya segala sesuatu sesuai dengan adat. Menurut al-Jurjani (w. 392 H/1001 M) kata‟ „urf merupakan suatu kebiasaan dimana jiwa merasa tenang dalam mengerjakannya karena sejalan dengan logika dan dapat diterima oleh sifat kemanusiaannya.3Menurut Ibnu Manẓūr (w. 771 H/

1311 M) kata „urf berarti sesuatu yang dianggap baik dan dapat diterima oleh akal sehat.4 Louis Ma‟luf (w. 1946 M) menerjemahkan kata „urf dengan beberapa makna, yaitu: Pertama, „urf artinya mengaku, mengetahui, apa yang dipercayai karena disaksikan oleh akal dan secara alami orang menganggap itu benar. Kedua, „urf adalah kebaikan, rambut leher keledai, ombak dan daging merah di atas kepala ayam. Ketiga, „urf artinya mengenal dan kebaikan.5 Ahmad Warson Munawwir (w. 2013 M) berpendapat bahwa „urf adalah kebaikan, puncak dan adat yang dipelihara.6 Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tradisi menurut bahasa adalah suatu yang telah dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah kebajikan dan dilakukan secara terus menerus.

2Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 1727.

3Alī ibn Muhammad al-Sayyid al-Syarīf al-Jurjānī, Mu‟jam al-Ta‟rīfāt, (Qahirah:

Dār al-Faḍīlah, tt), h. 125.

4Abī Faḍl Jamāl Dīn Muhammad ibn Mukrim ibn Manẓūr Afrīqī Miṣrī Anṣārī Khajrazī, Lisān Arab, Juz 11, (Arab Saudi: Al-Mamlakah „Arabiyah al-Su‟udiyah, tt), h. 145.

5Louis Ma‟luf, Al-Munjid fī al-Lugah wa al-A‟lām, (Beirut: Dār al-Masyriq, 1982), h. 500.

6Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984), h. 991.

Sedangkan menurut istilah tradisi merupakan sesuatu yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung lama.

Dasar tradisi adalah adanya informasi yang diturunkan dari generasi ke generasi, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan, sebab tanpa hal tersebut tradisi dapat punah.7 Menurut Funk (w. 1912 M) dan Wagnalls (w. 1924 M) sebagaimana dikutip Muhaimin AG bahwa tradisi diartikan sebagai wawasan, doktrin, kebiasaan dan implementasi yang dipahami sebagai wawasan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi termasuk sarana untuk menyampaikan doktrin dan implementasi tersebut.8 Abd al-Wahhab Khallāf (w. 1956 M) mendefinisikan sebagai sesuatu yang telah dikenal oleh manusia dan telah dikerjakan oleh mereka, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun meninggalkan sesuatu. Dan hal ini dinamakan juga

al-„ādah.9 Sedangkan Abū Zahrah (w. 1974 M) menyatakan bahwa „urf (tradisi) merupakan kebiasaan manusia dalam mengatur hubungan antar manusia dan menegakkan urusan-urusan mereka.10 Muhammad Zakarīyā al-Bardisiy (w. 1982 M) mengungkapkan bahwa „urf merupakan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan manusia, mereka menyetujui dan melakukannya baik dalam bentuk praktik maupun ucapan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an maupun sunnah Nabi.11 Menurut Zaki al-Dīn Sya‟bān (w. 1987 M) berpendapat bahwa „urf merupakan sesuatu

7Mahfudlah Fajrie, Budaya Masyarakat Pesisir Wedung Jawa Tengah : Melihat Gaya Komunikasi dan Tradisi Pesisiran, (Wonosobo: CV. Mangku Bumi Media, 2016), h.

23.

8Muhaimin AG, Islam Dalam Bingkai Budaya Lokal Potret Dari Cirebon, (Ciputat:

PT. Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 11.

9Abd al-Wahhab al-Khallāf, Ilm Uṣūl al-Fiqh, (Beirut: Dār al-Fikr, 1986), h. 79.

10Muhammad Abū Zahrah, Uṣūl al-Fiqh, (Beirut: Dār al-Fikr al-„Arabi, 1958), h.

273.

11Muhammad Zakarīyā Bardisiy, Uṣūl Fiqh, (Kairo: Maktab Nahḍah al-Mishriyah, 1959), h. 183.

yang telah menjadi kebiasaan manusia dan mereka menyetujui baik dalam perbuatan yang telah tersebar luas di kalangan mereka atau perkataan yang apabila diucapkan mereka memahami artinya secara khusus yang tidak akan ada makna lain yang terpikirkan bagi mereka kitika mendengarkan kata tersebut.12

Menurut Koentjaraningrat (w. 1999 M) dalam Kamus Istilah Antropologi, tradisi diartikan sama seperti adat istiadat13 yaitu suatu kompleks konsep dan aturan yang terintegrasi secara stabil dan kuat ke dalam sistem budaya suatu budaya dan mengatur perilaku manusia dalam kehidupan sosial budaya tersebut.14 Menurut Hassan Hanafi (w. 2021 M) seperti yang dikutip oleh Moh. Nur Hakim, tradisi merupakan segala warisan masa lalu yang masuk ke dalam diri manusia dan masuk ke dalam budaya saat ini. Demikian, bagi Hanafi, tradisi bukan hanya persoalan warisan sejarah, tetapi juga persoalan kontribusi kontemporer pada tingkat yang berbeda.15 Menurut Soekanto (l. 1942 M) dalam Kamus Sosiologi, tradisi merupakan adat dan kepercayaan yang dapat dipelihara dari generasi ke generasi secara turun menurun.16 Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tradisi menurut istilah adalah sesuatu kebiasaan yang sudah berlangsung lama di dalam masyarakat baik berupa perkataan atau perbuatan yang dilakukan secara terus menerus dan

12Zaki al-Dīn Sya‟bān, Uṣūl al-Fiqh al-Islāmiy, (Kairo: Dār al- Nahḍah „Arabiyah, 1968), h. 192.

13Koentjaraningrat dkk, Kamus Istilah Antropologi, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984), h. 187.

14Koentjaraningrat dkk, Kamus Istilah Antropologi, h. 2.

15Moh Nurhakim, Islam Tradisi dan Reformasi : Pragmatisme Agama dalam Pemikiran Hassan Hanafi, (Malang: Banyumedia Publishing, 2003), h. 29.

16Soekanto, Kamus Sosiologi, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 1993), h. 459.

dianggap baik oleh mereka sesuai dengan Al-Qur‟an maupun sunnah Nabi.

Kata taḥfīẓ menurut bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu

-

َظ ِّف َح ُظف ْحَ َ

ي – ا ًظْ

ف ِّح yang artinya memelihara, menjaga dan menghafal.17 Dalam kamus al-Mu‟jam al-Wasīṭ kata ḥafiẓa mempunyai beberapa makna yaitu ḥafiẓa al-māl (menjaga harta) dan ḥafiẓa al-„ahda (memelihara janji). Kata ḥafiẓa mempunyai pengimbuhan kata seperti iḥtafaẓa (memelihara sesuatu untuk dirinya), taḥaffaẓa (menjaga dan melindungi yang ada di sekitar), al-taḥaffuẓ (menjaga hafalan) dan taḥaffuẓ (terjaga).18 Kata taḥfīẓ bentuk dari maṣdar gairu mīm yaitu ا ًظ ْي ِّفْح َت – ُظِّ ف َح ُي – َظَّفَح merupakan antonim dari kata lupa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata hafal merupakan telah masuk ke dalam memori (tentang pelajaran); dapat melafalkan atau menuturkan kembali di luar kepala (tanpa melihat buku maupun catatan). Bentuk kata kerja dari hafal adalah menghafal yang berarti mempelajari sesuatu agar hafal; berupaya meresapkan pada pikiran agar terus menerus diingat.19 Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa taḥfīẓ menurut bahasa adalah menghafal, menjaga dan memelihara dari lupa sehingga dapat melafalkan kembali di luar kepala tanpa melihat cacatan.

Isim fā„il dari kata ḥafiẓa yaitu ḥāfiẓ dan ḥafīẓ. Hāfiẓ merupakan orang-orang terpilih yang diberi keistimewaan untuk menghafal dari apa

17Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990 ), h. 105.

18Majma„u al-Lugah al-„Arabiyyah, Al-Mu‟jam al-Wasīṭ, (Mesir: Maktabah Syurūq al-Dauliyyah, 2004), h. 185.

19Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, h. 513.

yang mereka dengar dan memeliharanya dari lupa. Sedangkan kata ḥafīẓ merupakan seseorang yang diamanahi sesuatu.20

Sedangkan menurut istilah al-Zarqānī (w. 1710 M) mengatakan penggunaan kata taḥfīẓ pada masa Nabi dan sahabat merujuk kepada proses pengajaran menghafal Al-Qur‟an yang dilakukan oleh para sahabat dalam menyampai dakwah Islam. Seperti Nabi ketika mengutus Umi Maktūm dan Muṣ„ab bin Umair ke Madinah sebelum hijrah dan mengutus Mu„āż bin Jabal ke Mekkah setelah hijrah, di sana mereka mengajarkan membaca dan menghafalkan Al-Qur‟an kepada mereka.21 Helen N. Boyle (w. 1957 M) menjelaskan dalam Qur‟anic School bahwa menghafal merupakan sebuah proses yang menggabungkan antara mental dan fisik dalam bentuk ibadah keagamaan yang merupakan tradisi di negara-negara Islam.22 Syaiful Bahri Djamarah (l. 1964 M) menjelaskan bahwa taḥfīẓ merupakan kemampuan seseorang untuk memasukkan, menyimpan dan mengingat kembali mengenai hal-hal yang telah lampau.23 Abdul Aziz Abdul Rauf (l. 1966 M) berpendapat bahwa taḥfīẓ merupakan proses mengulang sesuatu, baik dengan cara membaca maupun mendengar.24 Abdul Qoyyum berpendapat bahwa menghafal merupakan menuturkan sesuatu di luar kepala (tanpa melihat catatan), menguatkannya ke dalam dada sehingga mampu menyajikan pengetahuan kapanpun untuk dikehendaki.25 Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

20Majma„u al-Lugah al-Arabiyyah, Al-Mu‟jam al-Wasīṭ, h. 185.

21Abd al-Aẓim al-Zarqānī, Manāhil al-„Irfān, (Beirut: Dār al-Hadīs, 2001), h. 204-205.

22Helen N. Boyle, Qur‟anic Schools Agents of Preservation and Change, (London:

Routledge Falmer, 2004), h. 67.

23Syaiful Bahri Djamarah, Psikolog Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 44.

24Abdul Aziz Abdul Rauf, Kiat Sukses Menjadi Hafidz Qur‟an Da‟iyah, (Bandung:

PT Syamil Cipta Media, 2004), h. 49.

25Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir al-Sahaibani dan Muhammad Taqiyul Islam Qaariy, Keajaiban Hafalan, Bimbingan Bagi yang Ingin Menghafal Al-Qur‟an, (Yogyakarta: Pustaka Al-Haura, 2009), h. 12.

taḥfīẓ menurut istilah adalah proses yang menggabungkan antara mental dan fisik dari proses mengulang baik dengan cara membaca maupun mendengar dan dapat menuturkan sesuatu di luar kepala (tanpa melihat catatan), menguatkannya ke dalam dada sehingga mampu menyajikan pengetahuan kapanpun untuk dikehendaki.

Adapun kata Al-Qur‟an bahasa berasal bahasa Arab yaitu qara‟a – yaqra‟u yang artinya membaca artinya sama dengan kata talā – yatlū. Al-Qur‟an merupakan bentuk masdar yang diartikan sebagai isim maf‟ūl yaitu maqrū yang artinya yang dibaca. Menurut Imām al-Syāfi‟i (w. 204 H) Al-Qur‟an merupakan isim „alam yang merupakan bahasa Arab asli bukan kata bentukan dari kata apapun. Menurut Al-Farra‟ (w. 207 H) bahwa kata Al-Qur‟an merupakan kata sifat yaitu al-qarāin bentuk jamak dari qarīnah yang artinya petunjuk.26 Al-Ṭabarī (w. 310 H/ 923 M) mengakui perbedaan para ulama mengenai asal kata Al-Qur‟an, tetapi pendapat Ibnu

„Abbās (w. 68 H/ 687 M) lebih kuat, menurutnya Al-Qur‟an berasal dari kata tilāwah atau qirā‟ah yang artinya bacaan. Hal tersebut dijelaskan dalam firman Allah:

ۚ ٗهَنٰ ا ْرُ

ك ْعِّبَّثاَف ُهٰنْ أ َرَ

ك ا َذِّافَ ١٨

“Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyāmah [75]: 18)

Ibnu „Abbās menjelaskan bahwa jika telah Kami jelaskan bacaannya, maka ikutilah bacaan itu. Maksudnya adalah perintah untuk mengamalkan isinya sebagaimana telah dibacakan oleh Malaikat Jibril.27

26M. Quraish Shihab dkk, Sejarah dan Ulum Al-Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 13.

27Abī Ja‟far Muhammad Ibnu Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī Jāmi‟ al-Bayān „an Ta‟wīl Ayi Al-Qur‟an, Juz 1, (Beirut: Dār al-Fikr, 1988), h. 95.

Menurut Qatādah (w. 735 M) Al-Qur‟an bermakna al-jam‟u yang artinya mengumpulkan atau menggabungkan. Firman Allah:

ۚ ٗهَنٰ

ا ْرك َو ٗه َػ ْم َج اَنْيُ َ ل َع َّ

ن ِّا ١٧

“Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya.”(QS. Al-Qiyāmah [75]: 17)

Qatādah menjelaskan bahwa sesungguhnya urusan kami menghafal dan mengumpulkannya. Karena Al-Qur‟an mengumpulkan surah-surah dan ayat-ayat dan terdapat intisari dari kitab-kitab sebelumnya.28 Menurut Schwally (w. 1919 M) dan Weelhausen (w. 1918 M) bahwa Al-Qur‟an berasal dari bahasa Hebrew dari kata keryani yang artinya yang dibacakan.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Al-Qur‟an menurut bahasa penulis lebih cenderung mengartikan bacaan sesuai dengan pendapat Ibnu „Abbās. Karena Al-Qur‟an dibaca setiap hari, hal tersebut berarti Al-Qur‟an selalu dihafal dan diingat di dalam hati.

Sedangkan menurut istilah dijelaskan Imam Jalal al-Dīn al-Suyūṭī (w. 1505 M) seperti yang dikutip Muhammad Yasir bahwa Al-Qur‟an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan untuk melemahkan orang-orang yang menentangnya, meskipun hanya dengan satu surah dari padanya. Menurut Muhammad

„Abduh (w. 1905 M) seperti yang dikutip Muhammad Yasir bahwa Al-Qur‟an merupakan bacaan yang ditulis dalam mushaf-mushaf yang terjaga di dalam dada orang-orang yang menjaganya dengan cara menghafalkannya yaitu orang-orang muslim.29 Menurut M. Hasbi al-Shiddieqy (w. 1975 M), Al-Qur‟an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dengan perantara Malaikat Jibril yang

28Abī Ja‟far Muhammad Ibnu Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī Jāmi‟ al-Bayān „an Ta‟wīl Ayi Al-Qur‟an, h. 96.

29Muhammad Yasir, Studi Al-Qur‟an, (Riau: Asa Riau, 2016), h. 3.

dibaca secara lisan dan penukilannya secara berangsur-angsur.30 Menurut Mannā‟ Al-Qaṭṭān (w. 1999 M) Al-Qur‟an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW dan membacanya merupakan bentuk nilai ibadah.31 Muhammad „Alī al-Ṣābūnī (w. 2021 M) menjelaskan bahwa Al-Qur‟an merupakan kalam Allah sebagai mukjizat yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul yaitu Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril yang ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada umat secara mutawatir yang diperintahkan membacanya yang diawali dengan QS. Al-Fātiḥah dan diakhir dengan QS. Al-Nās. Menurut Muhammad al-Khudarī Beik seperti yang dikutip Muhammad Yasir bahwa Al-Qur‟an merupakan firman Allah menggunakan bahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk diingat dan dipahami kandungannya yang disampaikan kepada umat secara mutawatir dan telah tertulis dalam mushaf antara kedua kulitnya diawali dengan QS. Fātiḥah dan diakhir dengan QS. Al-Nās.32 Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Al-Qur‟an menurut istilah adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril secara mutawatir diawali dengan QS. Al-Fātiḥah dan diakhir dengan QS. Al-Nās, membacanya merupakan bentuk nilai ibadah yang terpelihara dalam dada orang-orang yang menjaganya.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi taḥfīẓ Al-Qur‟ān merupakan sesuatu yang sudah berlangsung lama dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga saat ini untuk memelihara, menjaga dan melestarikan kalam Allah yang diturunkan

30M. Hasbie al-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), h. 153.

31Mannā‟ Al-Qaṭṭān, Mabāhiṡ fi Ulūm Al-Qur‟ān, Terj. Umar Mujtahid, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur‟an, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), h. 34.

32Muhammad Yasir, Studi Al-Qur‟an, h. 3.

kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dengan tujuan agar tidak terjadi perubahan bahkan pemalsuan.

dengan bimbingan beliau.36 Nabi bahkan tidak mengizinkan para sahabat untuk menulis apapun yang keluar dari lisan beliau kecuali Al-Qur‟an, karena takut bercampur dengan yang lain.37

Ketika Al-Qur‟an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, Nabi sangat antusias dalam menghafal Al-Qur‟an.

Bahkan terkadang beliau tergesa-gesa dalam membaca dan menghafalnya, sehingga Nabi mendapat teguran dari Allah agar dalam membaca Al-Qur‟an harus dengan tartil, agar mudah bagi beliau untuk menghafal. Hal tersebut dijelaskan dalam firman Allah:

ِّ ب َّر ْ

لك َوۖ ٗهُي ْح َو َك ْيُ َ

ل ِّا ى ٰ ضلُّي ْ نْ َ ا ِّلْبَ

ك ْن ِّم ِّنٰ ا ْرلُ ْ

لاِّب ْ ل َز ْػَث اَ

ل َو ۚ ُّقَحْ لا ُكِّل َمْ

لا ُ ه للّٰا ىَ

ل ٰػَجَ ْْ ِِّْدِّز ف

اًمْ ل ِّع

١١٤

“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Ṭāhā [20]: 114)

Allah melarang Nabi Muhammad menirukan bacaan Malaikat Jibril, sebelum Malaikat Jibril selesai membacanya agar Nabi dapat menghafal dan benar-benar memahami ayat yang sedang diturunkan.

ٖٖۗهِّب َ

ل َز ْػَجِّل َكَنا َسِّل ٖهِّب ْك ِّ رَح ُ ت اَ

ل ١٦

ۚ ٗهَنٰ

ا ْرك َو ٗه َػ ْم َج اَنْيُ َ لَع َّ

ن ِّا ١٧

َّثاف ُهٰنَ ْ أ َرَ

ك ا َذِّافَ ۚ ٗهَنٰ

ا ْرُ ك ْعِّب ١٨

ٖۗ ٗهَنا َيَب اَنْيَ لَع َّ

ن ِّا َّمخُ ١٩

“Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (16) Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya (17) Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu (18) Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya (19).” (QS. Al-Qiyāmah [75]: 16-19)

36Romlah Widayati, “Fadhilah Menghafal Al-Qur‟an”, h. 129.

37Mannā‟ Al-Qaṭṭān, Mabāhiṡ fi Ulūm Al-Qur‟ān, Terj. Umar Mujtahid, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur‟an, h. 20.

Dalam ayat lain disebutkan, bahwa Allah menjamin Nabi tidak akan lupa mengenai ayat yang telah dibacakan oleh Malaikat Jibril kepada beliau.

ۖ ى ٰسْنَث ا َلَف َكُئِّرلُن َسْ ٦

“Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.” (QS. Al-A‟lā [87]: 6)

Meskipun Allah menjamin Nabi Muhammad tidak akan lupa, tetapi beliau sangat antusias dalam menjaga hafalan beliau setiap waktu.

Dalam beberapa disebutkan bahwa Nabi selalu melakukan murāja‟ah, diantaranya ketika beliau melaksanakan salat. Dalam kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad setiap salat subuh membaca enam puluh sampai seratus ayat. Ummu Salamah mengatakan bahwa beliau membaca QS. Al-Ṭūr, dalam riwayat lain dijelaskan bahwa beliau membaca QS. Al-Mu‟minūn. Setiap hari Jumat Nabi membaca QS.

Insān dan Sajdah. Ketika salat Jumat beliau membaca QS. Al-Jumu„ah dan Al-Munāfiqūn. Dalam salat malam Nabi juga selalu menghabiskan waktu yang lama untuk membaca Al-Qur‟an. Dalam satu rakaat saja Nabi bisa membaca QS. Al-Baqarah, Āli „Imrān dan Al-Nisā‟.

Dengan demikian Nabi membaca paling sedikit lima juz atau bahkan bisa lebih dalam satu malam untuk murāja‟ah hafalannya.38

Selain menjaga hafalan dengan salat, Nabi Muhammad juga mengulang-ulang hafalannya secara keseluruhan di hadapan Malaikat Jibril setiap bulan Ramadan. Biasanya Nabi mengkhatamkannya sekali.

Namun menjelang beliau wafat, Nabi mengulang hafalannya dua kali di

38Mamluatun Nafisah, “Tipologi Resepsi Taḥfīẓ Al-Qur‟ān di Kalangan Mahasiswi IIQ Jakarta”, h. 200.

hadapan Malaikat Jibril.39 Dengan adanya mudārasah ini, hafalan Nabi terjaga, sehingga Al-Qur‟an begitu melekat dalam diri beliau. Hal ini dilakukan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai bukti janji Allah dalam menjaga hafalan kepada beliau. Karena hal tersebut merupakan kewajiban beliau untuk menyampaikan Al-Qur‟an kepada para sahabat dan menyimak bacaan mereka. Apabila terjadi kesalahan dan kekeliruan dalam membaca, maka Nabi Muhammad adalah orang yang pertama kali mengoreksi bacaan mereka.

Nabi Muhammad mempunyai tempat mengajar Al-Qur‟an di Makkah yaitu di Dār al-Arqām yang terletak di kaki bukit Safa yang terletak di dekat masjid al-Ḥaram, tempat tersebut milik Arqam bin Abū Arqam. Pengajaran Al-Qur‟an pada saat itu masih sembunyi-sembunyi.

Biasanya Nabi menyampaikan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau dan membacanya di hadapan para sahabat. Di Madinah pun beliau mempunyai banyak tempat pengajaran Al-Qur‟an, ada di Dār al-Qurra‟

yaitu rumah milik Makrimah bin Naufal, ada juga yang disebut kuttab yang biasa digunakan sebagai pendidikan khusus untuk anak-anak.40 Dalam hal mengajar Nabi sangat berhati-hati, beliau mengulanginya sampai tiga kali. Hal itu diakui oleh para sahabat bahwa Nabi sangat antusias dalam mengajarkan Al-Qur‟an kepada mereka.

Selain itu Nabi juga mengutus para sahabat untuk mengajarkan Al-Qur‟an kepada anak-anak dan kerabatnya, bahkan para sahabat yang baru hijrah dari Mekkah ke Madinah diperintahkan beliau belajar Al-Qur‟an dan dinikahkan Nabi dengan mahar Al-Qur‟an. Semua beliau lakukan agar

39Nur Faizah, Sejarah Al-Qur‟an, (Jakarta: Artha Rivera, 2008), h. 159.

40M. Mustofa Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Ali Mustafa Yakub, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h. 84-85.

Al-Qur‟an tidak berhenti di masa itu.41 Nabi Muhammad mengajarkan hafalan Al-Qur‟an kepada para sahabat dengan menggunakan metode talaqqi yaitu bertatap muka secara langsung dengan guru. Para sahabat bertalaqqi kepada Nabi dan mendengarkan penjelasan sebagaimana beliau menerima dari Malaikat Jibril. Pengajaran Al-Qur‟an dilaksanakan dengan sungguh-sungguh karena beliau sangat memahami bahwa terjaganya Al-Qur‟an bukan hanya dilakukan oleh beliau, tetapi harus diwarisi kepada para sahabat, generasi-generasi setelahnya dan seluruh umat Islam.

Para sahabat juga mempunyai perhatian yang begitu besar kepada Al-Qur‟an, terutama dalam hal mengkhatamkan Al-Qur‟an dan mengajarkannya kepada yang lain. Hal ini sebagai sesuai dengan sabda Nabi:

َلَع ُ َّ

للّٰا ىَّ

ل َص ِّ ي ِّبَّنلا ْن َغ ُهْن َغ ُ َّللّٰا َْ ِّض َر َناَمْد ُغ ْن َغ

َلاَك َمَّ

ل َس َو ِّهْي ْن َم ْمُ

كُدْي َخ

َنآ ْرُلْ لا َمَّ

ل َػَث

ُه َمَّ

ل َع َو ىراخبلا هاور(

(

42

“Dari „Uṡmān RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al-Qur‟an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhāri)

Tradisi membaca Al-Qur‟an dilakukan para sahabat, mereka berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur‟an dan mengulanginya setiap malam. Para sahabat juga mengajarkan Al-Qur‟an kepada anak-anak dan istrinya. Tradisi tersebut biasanya dilakukan di malam hari terutama di sepertiga malam. Suara mereka terdengar seperti dengungan lebah. Suatu ketika Nabi Muhammad dan Abū Mūsā al-Asy„arī pernah melewati rumah sahabat Anṣār dan mendengarkan suara merdu mereka saat membaca

41Mamluatun Nafisah, “Tipologi Resepsi Taḥfīẓ Al-Qur‟ān di Kalangan Mahasiswi IIQ Jakarta”, h. 203.

42Abī Abdillāh Muhammad bin Ismā„īl al-Bukhārī, Ṣaḥiḥ Bukhārī, (Beirut: Dār Ibnu Kaṡīr, 2002), h. 1284.

Qur‟an. Nabi Muhammad mengatakan kepadanya, “Andai engkau melihatku saat aku mendengarkan bacaanmu semalam. Sungguh, engkau telah diberikan salah satu suara merdu Dawud.”43

Tradisi yang mulia ini tidak lain merupakan perintah Nabi Muhammad untuk menjaga Al-Qur‟an dan menjadikan hafalan Al-Qur‟an sebagai tradisi untuk dipelihara oleh umat Islam sampai sekarang. Tradisi ini terus menerus dilakukan oleh generasi-generasi setelahnya. Bahkan, anak-anak diusianya yang masih belia mampu menghafalkan Al-Qur‟an secara keseluruhan 30 juz. Sebagaimana perkataan ulama: “Hafalan anak kecil bagaikan mengukir di atas batu”.44 Di sisi lain menghafal Al-Qur‟an diusia anak-anak akan menjadikan Al-Qur‟an tersebut menyatu dengan sendirinya dalam darah dan daging anak tersebut sampai dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa daya ingat di waktu kecil sangat kuat, karena belum dipengaruhi dosa dan maksiat.

Yūsuf al-Qarḍāwī (l. 1926 M) mengatakan bahwa menghafalkan Al-Qur‟an di waktu kecil sangat dianjurkan, hal ini dikarenakan seseorang anak menimba ilmu-ilmu Allah yang lain seperti tafsir, hadis, fikih dan sebagainya di waktu dewasa.45 Salah satu hikmah menghafal Al-Qur‟an diusia anak-anak tidak lain adalah untuk meluruskan lidah dan melatih agar terbiasa ketika dewasa dalam membaca Al-Qur‟an. Maka tidak heran jika banyak para ulama seperti: Imām Malik (w. 179 H), Imām al-Syāfi„ī (w. 204 H), Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H), Fakhr al-Dīn al-Rāzī (w. 606 H), Imām Nawawī (w. 676 H), Ibnu Kaṡīr (w. 774 H), Jalāl Dīn al-Suyūṭī (w. 911 H), Muhammad „Abduh (w. 1323 H), Rasyīd Riḍā (w.

43Mannā‟ Al-Qaṭṭān, Mabāhiṡ fi Ulūm Al-Qur‟ān, Terj. Umar Mujtahid, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur‟an, h. 190.

44Al-Żahabī, Siyar al-„Alam al-Nubulā, Juz 5 (Damaskus: Muassasah al-Risalah, 1413), h, 275.

45Yūsuf al-Qarḍāwī, Menghafal Al-Qur‟an, Terj. Muhammad Ridwan Fauzi, (Bandung: Takmiliyah Awwaliyah Sabilul Jama‟ah, 2014), h. 5-6.

1354 H), Mutawallī al-Sya‟rāwī (w.1419 H) dan sebagainya yang telah menghafalkan Al-Qur‟an sejak kecil.46

Imām al-Nawawī (w. 676 H) menulis kitab Al-Tibyān fi Ādāb Ḥamalat Al-Qur‟ān yang menjelaskan adab mengemban Al-Qur‟an. Hal yang melatarbelakangi beliau menulis kitabnya berawal dari pengetahuan beliau bahwa Allah memberi anugerah dan memuliakan umat Islam dengan Al-Qur‟an yang didalamnya menjelaskan tentang orang-orang terdahulu dan yang akan datang, nasihat-nasihat, perumpamaan-perumpamaan, adab, macam-macam hukum, hujjah-hujjah yang kuat dan jelas sebagai bukti atas keesaan-Nya, dan perkara-perkara yang berkaitan dengan apa yang dibawa para rasul-Nya agar tidak dapat dibantah oleh orang-orang kafir. Allah juga melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang membacanya, memperhatikannya, mengamalkannya, mematuhi adab, memuliakannya dan menghormati Al-Qur‟an. Imām al-Nawawī melihat penduduk Damaskus begitu besar menaruh perhatiannya kepada Al-Qur‟an. Mereka sangat menghormati Al-Qur‟an dengan cara mempelajari dan mengajarkan bacaan Al-Qur‟an secara individu maupun kelompok. Hal itulah yang mendorong Imām Nawawī untuk menulis kitab tersebut.47

C. Taḥfīẓ Al-Qur’ān di Indonesia: Antara Budaya dan Ritual

tradisi taḥfīẓ Al-Qur‟ān di Indonesia mulai ada. Sebagian berpendapat bahwa tradisi ini telah ada sekitar abad ke-15 di Jawa karena pengaruh Wali Songo, dimana mereka mempunyai andil yang besar dalam menyebarkan agama Islam di Jawa dan sekitarnya. Sebagian berpendapat bahwa tradisi taḥfīẓ Al-Qur‟ān ada pada awalnya dilakukan oleh para ulama Indonesia yang belajar di Timur Tengah sekitar abad ke-18, yang kemudian sepulang dari menimba ilmu para alumni Timur Tengah khususnya dari daerah Hijaz (Mekkah-Madinah) mereka mendirikan lembaga-lembaga taḥfīẓ Al-Qur‟ān atau melakukan pembelajaran taḥfīẓ Al-Qur‟ān pada lembaga pondok pesantren yang ada. Tetapi yang jelas pada awalnya tradisi ini berkembang di Indonesia hanya sebatas di dalam lingkup pondok pesantren khususnya di daerah Jawa.48

Pada awalnya usaha taḥfīẓ Al-Qur‟ān dilakukan secara individu melalui guru tertentu. Misalpun ada yang melalui lembaga, namun lembaga tersebut bukan lembaga khusus taḥfīẓ Al-Qur‟ān biasanya melalui lembaga pesantren yang kebetulan terdapat guru yang hafal Al-Qur‟an. Tetapi ada beberapa ulama yang mendirikan lembaga khusus taḥfīẓ Al-Qur‟ān seperti Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Setelah itu taḥfīẓ Al-Qur‟ān mulai banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sarana memenuhi minat tersebut, banyak didirikan dan dibentuk lembaga-lembaga taḥfīẓ Al-Qur‟ān pada pesantren yang telah ada atau berdiri sendiri (takhaṣṣuṣ taḥfīẓ Al-Qur‟ān), bahkan beberapa di antaranya menambah kajian atau kurikulum mengenai ilmu-ilmu Al-Qur‟an dan tafsir.49

48Ahmad Atabik, “The Living Qur‟an: Potret Budaya Tahfiz Al-Qur‟an di Nusantara”, Jurnal Penelitian 8, No. 1, (2014), h. 168.

49Ahmad Fathoni, “Sejarah dan Perkembangan Pengajaran Tahfidz Al-Qur‟an di Indonesia”, Bait Ahlil Qur‟an, 18 Februari 2018. http://www.baq.or.id/2018/02/sejarah-perkembangan-pengajaran-tahfidz.html (12 Maret 2022).

Pada awalnya lembaga-lembaga taḥfīẓ Al-Qur‟ān masih sangat terbatas di beberapa daerah di Indonesia. Akan tetapi, setelah taḥfīẓ Al-Qur‟ān dikategorikan ke dalam lomba Musabaqah Tilawah Al-Qur‟an (MTQ) pada tahun 1981 M, lembaga taḥfīẓ Al-Qur‟ān berkembang sangat pesat di berbagai daerah di Indonesia. Tentunya hal semacam ini dikarenakan peran para ulama penghafal Al-Qur‟an yang begitu besar dalam usahanya untuk menyebarkan dan mendorong pembelajaran taḥfīẓ Al-Qur‟ān.50

Sejarah mencatat dari sebelum kemerdekaan Indonesia, ada beberapa ulama ahli Al-Qur‟an yang belajar dan berguru di Timur Tengah, hingga pada akhirnya Al-Qur‟an terus dihafal, dikaji dan diamalkan.

Proses demi proses terangkai dalam sanad berbasis talaqqi dan musyāfahah sehingga kemurnian Al-Qur‟an terus terjaga. Dari murid menjadi guru yang kemudian mengajar para murid, dengan demikian proses pembelajaran taḥfīẓ Al-Qur‟ān terus berjalan, baik secara individu maupun dalam bentuk lembaga atau pesantren taḥfīẓ Al-Qur‟ān.51 Beberapa tokoh sebelum kemerdekaan Indonesia di antaranya, yaitu:

1. KH. Muhammad Munawwir Krapyak (1870-1941 M)

KH. Muhammad Munawwir merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta yang dikenal sebagai pencetus tradisi taḥfīẓ Al-Qur‟ān di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah.52 Urutan sanad Al-Qur‟an KH. Munawwir dari Nabi

50M. Syatibi AH, “Pendahuluan”, h. 4-5.

51Moh. Khoeron, “Pendahuluan: Melacak Jejak Hidup Para Penjaga Al-Qur‟an”, dalam Muhammad Shohib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur‟an:

Biografi Huffaz Al-Qur‟an di Nusantara, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, 2011), h. 2.

52Deny Hudaeny Ahmad Arifin, “KH. M. Munawwir Krapyak (1870-1941):

Mahaguru Pesantren Al-Qur‟an”, dalam Muhammad Shohib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur‟an: Biografi Huffaz Al-Qur‟an di Nusantara, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, 2011), h. 11

Dalam dokumen TRADISI TAḤFĪẒ AL-QUR’ĀN (Studi (Halaman 47-200)