• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2. SURVAILAN LONGITUDINAL

3.2.3. Survailan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

3.2.3.1. Program Kesehatan Balita

Tabel 38. Masalah kesehatan yang utama selama pakai alat KB Kabupaten Belu, Periode Juli-September 1997

Masalah yang dirasakan n %

Berat badan naik 3 1,5

Berat badan turun 2 1,0

Perdarahan jalan lahir 9 4,4

Darah tinggi 1 0,5 Sakit kepala 47 22,8 Mual 7 3,4 Tidak haid 109 52,9 Lelah/lemah 10 4,9 Keputihan 8 3,9 Lainnya 8 3,9 Missing 2 1,0 Total 206 100,0

Dari hal di atas dapat diketahui bahwa dalam penggunaan alat KB dapat menimbulkan beberapa gangguan. Masalah terbanyak yang dirasakan oleh ibu adalah tidak haid 52,9% dan sakit kepala 22,8%. Keadaan ini menunjuk bahwa pemakai kontrasepsi suntikan adalah relatif tinggi.

3.2.3. Survailan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Data dasar survailan kesehatan masyarakat mencakup evaluasi program pelayanan kesehatan, baik pada balita, wanita, ibu hamil dan persalinan. Faktor atau determinan yang berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan antara lain sosial ekonomi, psiko sosial, dan faktor lingkungan juga diidentifikasi untuk digunakan dalam deskripsi analitik.

3.2.3.1. Program Kesehatan Balita

3.2.3.1.1. Pemberian Makanan Bayi (ASI)

Target Depkes RI secara nasional adalah jumlah ibu menyusui eksklusif meningkat dari 36% di tahun 1991 menjadi 54% di akhir Pelita V dan menjadi 94% di akhir Pelita VI. Hasil survai demografi kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 menunjukkan 97% bayi berumur 0-3 bulan masih disusui dan menyusui eksklusif ditemukan sebesar 47%. Tidak terdapat laporan jenis indikator yang lain.

Indikator praktek menyusui di daerah Kabupaten Belu didapatkan dengan kuesioner form balita pada rumah tangga dengan balita (formulir terlampir). Analisis berdasar kelompok umur balita sesuai dengan jenis indikator.

34

Tabel 39. Jumlah balita laki-laki adalah lebih tinggi dari balita perempuan.

Tabel 39. Data Balita di Daerah Sampel Kabupaten Belu, Periode Juli-September 1997

Kategori N

Jumlah data keseluruhan 3237

Jenis kelamin : laki-laki 1632

perempuan 1605

Jumlah balita < 2 tahun 1278 Jumlah balita < 1 tahun 590 Jumlah balita < 6 bulan 295

Tabel 40 menunjuk bahwa kejadian menyusui eksklusif (bayi dibawah 120 hari) sejumlah 68,2%; 1,6% mendapat cairan bukan susu selain ASI sehingga jumlah kejadian ASI penuh 69,8%. Untuk intervensi spesifik meningkatkan kejadian ASI eksklusif ditujukan pada kelompok umur dini yang sudah mendapat tambahan cairan maupun makanan padat. Terlihat pada Tabel 38 bahwa pada kelompok umur 0 bulan sampai 3 bulan secara berurutan 0, 6, 18, dan 48% telah mendapat tambahan minuman/makanan. Keadaan yang tidak menguntungkan ini mempengaruhi kejadian MP-ASI (78,9%). Pemberian makanan tambahan seharusnya baru diberikan pada umur 4-5 bulan sehingga target kejadian MP-ASI 100% (umur 6-9 bulan).

Tabel 40. Indikator praktek menyusui Kabupaten Belu, Periode Juli-September 1997

Jenis indikator N n %

Kejadian ASI eksklusif 192 131 68,2

Kejadian ASI hampir eksklusif 192 3 1,6

Kejadian ASI penuh 192 134 69,8

Kejadian mp-ASI 204 161 78,9

Kejadian ASI lanjut 1 tahun 214 176 82,2

Kejadian ASI lanjut 2 tahun 191 70 36,6

Kejadian minum dengan botol < 6 bulan 298 7 2,4 Kejadian minum dengan botol < 12 bulan 603 30 5,0

Kejadian pernah disusui 603 597 99,0

Kejadian menyusu dini 603 9 1,5

Median lama menyusui 139 21 BL

Kejadian ASI lanjut 1 tahun cukup tinggi 82,2% dan sampai 2 tahun 36,7%; dengan median lama menyusui 21 bulan. Kejadian bayi dibawah umur 12 bulan yang pernah mendapat ASI cukup tinggi 99,0% akan tetapi kejadian menyusu secara dini (< 1 jam setelah lahir) sangat rendah (1,5%). Kejadian minum dengan botol < 6 bulan sebesar 2,4% dan < 12 bulan sebesar 5,0%.

35

Tabel 41. Pemberian makanan bayi berumur 0-3 bulan (%) Kabupaten Belu, Periode Juli-September 1997

Umur/bulan ASI cairan susu lain makanan ASI

Hanya ASI + ASI + ASI + Tidak

bukan susu padat

0 (N = 46) 41 0 2 0 3 (89,1%) (0,0%) (4,3%) (0,0%) (6,5%) 1 (N = 47) 39 0 3 3 2 (83,0%) (0,0%) (6,4%) (6,4%) (4,3%) 2 (N = 43) 31 2 1 8 1 (72,1%) (4,7%) (2,3%) (18,6%) (2,3%) 3 (N = 56) 20 1 4 27 4 (55,7%) (1,8%) (7,1%) (48,2%) (7,1%)

Implikasi program intervensi meliputi cara dan teknik pemberian ASI yang baik dan benar, ditujukan sejak kehamilan, persalinan dan perawatan bayi selanjutnya. Upaya ditekankan pada segera menyusui setelah melahirkan, tidak memberikan tambahan minuman/makanan dalam 4 bulan pertama, memberikan makanan tambahan pada umur 4-6 bulan, tetap menyusui sampai bayi berumur 24 bulan dan tidak menggunakan dot/botol.

3.2.3.1.2. Program Imunisasi

1. Cakupan Imunisasi

Sasaran yang dicanangkan oleh WHO untuk memberikan vaksinasi pada 90% anak tahun 2000 merupakan hal yang tidak mustahil jika momentum EPI dengan ujung tombak Posyandu dan Puskesmas terus dipelihara dan ditingkatkan dan peran kontak pelayanan kesehatan di sektor swasta semakin dimanfaatkan untuk memperluas cakupan imunisasi.

Keberhasilan program imunisasi dipengaruhi pula oleh umur pada waktu imunisasi diberikan. Vaksin sebaiknya diberikan seawal mungkin, sejauh tidak ada interferensi yang berarti dari antibodi maternal. Dari data penelitian di antara anak berusia 12-23 bulan yang telah memperoleh imunisasi lengkap diketahui bahwa BCG diberikan rata-rata pada umur 63 hari (2 bulan), DPT dosis kedua pada usia 125 hari (4 bulan). Polio dosis kedua pada usia 125 hari (4 bulan), dan campak pada usia 278 hari (9 bulan).

36

Tabel 42. Imunisasi lengkap anak usia 12-23 bulan Periode Juli-September 1997 (N=688) Imunisasi lengkap n % Lengkap 420 61,0 Tidak 268 39,0 BCG 572 98,1 DPT 2 525 90,1 Polio 2 530 90,9 Campak 432 74,1

Sebanyak 420 (61,0%) anak berusia antara 1 tahun sampai 2 tahun telah memperoleh imunisasi lengkap, mencakup BCG, DPT dosis kedua, Polio dosis kedua dan campak.

Tabel 43. Imunisasi lengkap anak usia 12-59 bulan, Periode Juli-September 1997 (N=2640) Imunisasi n % Imunisasi BCG 2601 98,5 Imunisasi DPT 2 2487 94,2 Imunisasi polio 2 2511 95,1 Imunisasi campak 2293 86,9

2. Tempat pelayanan imunisasi

Hasil analisa tempat pemberian imunisasi di antara anak yang telah memperoleh imunisasi lengkap menunjuk bahwa sebagian besar anak mendapat imunisasi di posyandu (> 90%), sedangkan peran pelayanan kesehatan swasta untuk imunisasi masih rendah .

Tabel 44. Sebaran Pemberian Imunisasi Lengkap (Anak Usia 12-23 Bulan) Menurut Tempat Pelayanan Imunisasi Kabupaten Belu,

Periode Juli-September 1997 Tempat pelayanan BCG DPT 2 Polio 2 Campak n % n % n % n % RS Pemerintah 0 ,0 0 ,0 0 ,0 0 ,0 RS Swasta 0 ,0 0 ,0 0 ,0 0 ,0 Puskesmas/Pustu 14 6,3 13 6,6 13 6,2 10 5,4 Klinik Swasta 0 ,0 0 ,0 0 ,0 0 ,0 Posyandu 205 92,8 182 92,4 192 91,9 173 93,0

Dokter Prakt Swasta 0 ,0 0 ,0 0 ,0 0 ,0

Bidan Praktek Swasta 0 ,0 0 ,0 0 ,0 0 ,0

Polindes 0 ,0 0 ,0 0 ,0 0 ,0

Tak ada keterangan 2 ,9 2 1,0 4 1,9 2 1,1

Lainnya 0 ,0 0 ,0 0 ,0 1 ,5

37

Imunisasi untuk anak Balita adalah jenis pelayanan kesehatan yang memperoleh perhatian mendalam dalam penelitian ini. Pada tabel 43 dan 44 disajikan beberapa angka kunjungan imunisasi untuk BCG, campak, DPT dan Polio.

Tabel 45. Angka kejadian Baru (Lama) tentang Imunisasi Kabupaten Belu Periode Juli-September 1997

Jenis Imunisasi N PDO n Rate

BCG 407 27986 54 38 Campak 531 38162 16 13 DPT1 407 28237 52 55 DPT2 460 32329 30 28 DPT3 496 35354 31 26 Hepatitis 490 34135 15 13 Polio 1 420 29211 59 61 Polio 2 470 33149 32 29 Polio 3 485 34413 71 62 Polio 4 521 37585 30 24

PDO: Person Days Observation

Angka kejadian imunisasi BCG adalah 38 per 1000 per bulan pada periode Juli -September 1997, sedangkan campak adalah 13 per 1000 per bulan. Kunjungan angka DPT 1 sampai 3 menunjukkan urutan masing-masing 55, 28 dan 26 per 1000 per bulan. Sementara kunjungan hepatitis menunjuk angka paling rendah yaitu 13 per 1000 per bulan. Kunjungan polio 1 sampai 4 menunjuk angka masing-masing 61, 29, 62 dan 24 per 1000 per bulan secara berurutan.

3.2.3.1.3. Program KMS dan penimbangan

Program KMS sudah berjalan di Belu dan cakupan yang pernah memiliki KMS 81,3% untuk anak 0-5 bulan. Sedangkan di atas 5 bulan lebih dari 90% pernah memiliki KMS.

Tabel 46. Distribusi Balita yang Pernah Memiliki KMS/ Kartu Imunisasi Kabupaten Belu Periode Juli-September

1997 Kelompok umur (bulan) N n % 0-5 292 89 30,5 6-11 294 239 81,3 12-23 688 615 89,4 24-35 637 577 90,6 36-59 1316 1191 90,5 Total 100,0 2711 84,0

38

Tabel 47. Distribusi balita memiliki KMS/Kartu Imunisasi Kabupaten Belu Periode Juli-September 1997 Kelompok

umur Tidak punya

(bulan)

Sekarang memiliki KMS

Total Ya, dapat Ya, tidak dapat

menunjukkan menunjukkan n % n % n % n % 0-5 67 63,2 20 18,9 19 17,9 106 100,0 6-11 159 67,7 64 27,2 12 5,1 235 100,0 12-23 389 77,5 93 18,5 20 4,0 502 100,0 24-35 319 71,4 121 27,1 7 1,6 447 100,0 36-59 638 68,0 278 29,6 22 2,3 938 100,0 Total 1.572 70,6 576 25,9 80 3,6 2.228 100,0

Program penimbangan balita merupakan kegiatan rutin di masyarakat yang berguna untuk mengetahui pertumbuhan anak. Dari hasil survai terungkap bahwa pada balita sejumlah 21,1% tidak pernah ditimbang dalam 3 bulan terakhir penimbangan yang paling sedikit terdapat pada anak umur 0 - 5 bulan (46,1%). Sementara untuk anak umur 6 - 59 bulan mencapai 65% - 76,5%.

Tabel 48. Frekuensi Balita Ditimbang dalam 3 Bulan Terakhir Kabupaten BeluPeriode Juli-September 1997

Umur (bulan) N n % 0-5 295 136 46,1 6-11 294 225 76,5 12-23 688 521 75,7 24-35 638 440 69,0 36-59 1321 859 65,0 Total 3236 2181 67,4

3.2.3.1.4. Tempat Pelayanan Balita sakit

Upaya mencari penyembuhan balita sakit untuk penyakit pilek menunjukkan bahwa paling banyak dibiarkan (tidak diobati) 37,3%, kemudian diobati di puskesmas 27,5%. Sedangkan upaya mencari tempat pertolongan bagi balita yang sakit batuk paling banyak adalah di puskesmas 41,8% disusul tidak mencari pertolongan 21,9% (dibiarkan). Tempat pelayanan untuk penyakit panas juga paling banyak di Puskesmas yaitu 29% kemudian diobati sendir 17,1% sementara 19,7% dibiarkan (tidak diobati). Sementara kejadian congek di wilayah studi hanya 2 kasus, 1 kasus diobati di puskesmas dan yang lain di tempat lainnya.

Dokumen terkait