Financing to Value Kredit/Pembiayaan Kepemilikan Properti (KPP)
3.2.5. Program Keuangan yang Inklusif (Financial Inclusion)
Sebagai upaya meningkatan akses pada layanan keuangan bagi masyarakat, Bank Indonesia melaksanakan kegiatan keuangan inklusif, bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dari dalam negeri dan international.
11 Surat Edaran No. 15/29/DKBU tanggal 31 Juli 2013 perihal Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi BPR.
12 Surat Edaran No. 15/39/DPNP tanggal 17 September 2013 perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 15/20/DKBU tanggal 22 Mei 2013 perihal Laporan Bulanan Bank Perkreditan Rakyat
3.2.5.1. Mobile Payment Service (MPS)
Program ini bertujuan memperluas akses layanan sistem pembayaran dan keuangan terbatas kepada masyarakat unbanked, yang dilakukan tidak melalui kantor fisik bank, namun menggunakan sarana teknologi dan/atau jasa pihak ketiga. Sampai dengan triwulan III-2013, Bank Indonesia telah menyusun pedoman implementasi pilot project Mobile Payment Service (MPS) dan tengah melaksanakan pilot
project MPS dengan melibatkan 5 (lima) bank peserta yakni Bank Mandiri, BRI, Bank CIMB Niaga, BTPN
dan BSHB. Selain itu proyek tersebut mengikutsertakan 2 (dua) Telco, yaitu: Indosat dan XL Axiata. Wilayah pilot project meliputi 5 (lima) provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat (Bandung, Bogor, Cirebon, Indramayu, & Sumedang), Sumatera Selatan (Ogan Hilir & Banyuasin), Jawa Tengah (Purworejo, Kebumen), Jawa Timur (Banyuwangi), Bali (Karangasem, Gianyar, Jembarana & Tabanan).
Berdasarkan monitoring Bank Indonesia terhadap proyek tersebut, masyarakat sangat antusias dengan kehadiran Unit Pelaksanan Layanan Keuangan di daerahnya karena memberikan kemudahan bertransaksi, murah dan dapat dilayani kapan saja. Ke depan, Bank Indonesia masih akan melaksanakan monitoring terhadap pilot project MPS, memberikan edukasi kepada masyarakat guna memperkenalkan layanan MPS dan menjajaki pemanfaatan MPS untuk penyaluran bantuan pemerintah.
3.2.5.2. Edukasi Keuangan
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan, produk dan jasa perbankan, Bank Indonesia melakukan berbagai kegiatan edukasi keuangan. Sasaran edukasi keuangan tersebut cukup beragam, meliputi pelajar, Tenaga Kerja Indonesia dan kelompok masyarakat tertentu lainnya (Petani, Nelayan, UMKM, Pegawai Negeri). Upaya lain yang dilakukan adalah dengan memasukkan materi edukasi keuangan ke dalam kurikulum nasional (SMA) serta kurikulum dasar pelatihan TKI. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan pelatihan (training for
trainers) kepada para pendidik antara lain kalangan madrasah di wilayah Jawa Barat.
3.2.5.3. Program TabunganKu
Pelaksanaan program TabunganKu bertujuan memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat. Hingga September 2013, jumlah rekening TabunganKu dan Basic Saving Account tercatat sebanyak 6.583.393 rekening, meningkat sebesar 2.947.774 rekening dibandingkan akhir tahun 2012. Jumlah rekening tersebut mencapai 98,3% dari target tahun 2013 sebesar 3 juta rekening. Dari sisi nominal, program TabunganKu dan Basic Saving Account meraih dana masyarakat sebesar Rp12,14 triliun, meningkat Rp8,2 triliun dari akhir 2012. Adapun rata-rata saldo rekening tabunganKu dan Basic
Saving Account pada September 2013 sebesar Rp 1.844.719,98.
Guna meningkatkan jangkauan program TabunganKu, Bank Indonesia melakukan beberapa upaya diantaranya dengan menyempurnakan fitur TabunganKu. Selain itu, saat ini sedang diupayakan penggunaan TabunganKu untuk mendukung program Bantuan Siswa Miskin (BSM). Bank Indonesia juga akan mengkampanyekan Hari Rajin Menabung bersama dengan perbankan di beberapa wilayah.
3.2.5.4. Kampanye Gerakan Menabung
Kampanye Gerakan Menabung dimaksudkan untuk mengenalkan edukasi keuangan melalui kegiatan menabung kepada masyarakat. Kegiatan yang telah dilaksanakan sampai dengan triwulan III-2013 meliputi pertemuan dengan Kelompok Kerja Edukasi yang beranggotakan perbankan yang mewakili kelompok Bank BUMN, BPD, Bank Swata Nasional dan Bank Asing/Campuran dalam rangka penyempurnaan fitur TabunganKu, dan penyelarasan Gerakan Menabung dengan kegiatan MPS. Selain itu, Bank Indonesia mendorong perbankan untuk mendukung hari Rabu sebagai Hari Rajin Menabung dan bersama dengan perbankan melaksanakan kampanye Gerakan Menabung di berbagai daerah.
3.2.5.5. Financial Identity Number (FIN) Survey
Untuk menyediakan database unbanked people yang dapat diakses oleh institusi keuangan, Bank Indonesia melaksanakan survei pembentukan FIN. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak tahun 2012 dan dilanjutkan pada tahun 2013. Sampai dengan triwulan III-2013, Bank Indonesia telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kementerian Dalam Negeri dalam rangka pemanfaatan e-KTP sebagai database penduduk yang akan digunakan untuk meningkatkan layanan Bank Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penyiapan aplikasi terkait dengan Financial
Identity Number. Bank Indonesia juga melakukan penjajagan pemanfaatan data masyarakat miskin
dari Kementerian Sosial dalam rangka pengembangan database FIN. 3.2.5.6. Pengembangan Sistem Informasi Harga Komoditi
Pengembangan Sistem Informasi Harga Komoditi bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi harga komoditi, sehingga dapat dipergunakan untuk meningkatkan taraf hidupnya dan mendukung perluasan akses layanan keuangan. Saat ini Bank Indonesia tengah melakukan identifikasi dan penjajakan pengembangan Sistem Informasi Harga Komoditi, serta penyelarasan dengan pengembangan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang sebelumnya telah diimplementasikan Bank Indonesia dalam rangka pengendalian inflasi. Kegiatan pengembangan sistem ini akan dilaksanakan pada tahun 2014, dengan usulan wilayah pilot project di DKI Jakarta dan Sulawesi Selatan.
3.2.5.7. Kerjasama dengan Pemangku Kepentingan Terkait
Dalam rangka pengembangan program keuangan inklusi, Bank Indonesia telah melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan terkait. Sampai dengan triwulan III-2013, beberapa kegiatan koordinasi dan kerjasama yang telah dilakukan meliputi:
a. Penyelenggaraan Workshop APEC on Financial Inclusion di Jakarta pada tanggal 26-27 Februari 2013 dan di Manado pada tanggal 23-24 Mei 2013.
b. Penyusunan Joint Ministerial Statement (JMS) APEC 2013 dengan memasukan materi financial
member economies sehingga financial inclusion tetap menjadi agenda prioritas pembahasan
APEC berikutnya.
c. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dalam rangka pengembangan keuangan inklusif.
d. Penjajakan kerjasama Government to Person (G2P) dengan Kementerian Sosial dan Bappenas dalam rangka perluasan program MPS melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
e. Kerjasama dengan IFC– World Bank dalam rangka kegiatan “Launching the Digital Financial
Inclusion initiative with the Forum on Product Innovations for Financial Inclusion” yang
direncanakan untuk diselenggarakan di Jakarta pada November 2013.