• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III OBJEK PENELITIAN

3.3 Angka Kematian Ibu di Indonesia

4.1.1 Program Kualitas dan cakupan pelayanan

Dalam strategi ini yang berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kesinambungan pelayanan di Indonesia. Dimana dengan adanya kualitas pelayanan yang baik, maka dalam melaksakan program ini dapat berhasil. Indonesia memiliki banyak pulau yang masih banyak belum terjangkau oleh Depkes, misalnya saja di Papua karena belum banyak tersedia sarana dalam melakukan pengobatan. Hal ini yang patut dan harus diperhatikan oleh pemerintah.

Dalam melakukan asesmen nasional tentang pelayanan ibu hamil dan bayi baru lahir dan manajemen pelayanan disemua tingkat. Tidak hanya di kota-kota besar melainkan di kabupaten, kecamatan,desa bahkan di daerah-daerah terpencil. Untuk mendapatkan kualitas pelayanan yang baik tenaga ahli dokter dan bidan bahkan dukun bayi mendapat pelatihan-pelatihan agar mampu dan tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan banyak resiko terhadap Ibu hamil, melahirkan dan dalam masa setelah persalinan (post natal) harus mempunyai akses terhadap tenaga kesehatan yang terlatih, yaitu profesi kesehatan yang terakreditasi seperti bidan, dokter, atau perawat yang telah menempuh pendidikan dan dilatih untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam mengelola kehamilan normal (tanpa komplikasi), persalinan dan periode segera setelah melahirkan dan dalam pengidentifikasian, pengelolaan dan rujukanOatas1komplikasi1yang1diderita1oleh1ibu1dan1anak.1

Melakukan asesmen kebutuhan dan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang terdapat di tingkat kabupaten atau kota saat ini. Dimana asesmen

pelayanan perlu juga mencakup asesmen kebutuhan sistem kesehatan, seperti sumber daya manusia, peralatan, bahan-bahan, obat-obatan, kemampuan fisik, transportasi, komunikasi, manajemen struktur dan prosedur.

Kerjasama WHO dan Depkes dalam pelaksanaan program yang pertama, dapat terlihat hasilnya dengan adanya penambahan jumlah tenaga kesehatan, dan penambahan puskesmas di setiap propinsi Indonesia. Pada program ini lebih menekankan dimana ditempatkannya para bidan-bidan atau tenaga kesehatan di setiap propinsi, sehingga bisa dengan cepat menangani dan sekaligus memberikan pertolongan pertama kepada para ibu hamil khususnya pada saat pemberian pelayanan untuk pertolongan pertama saat persalinan di setiap puskesmas, polindes, dan rumah sakit pemerintah dan swasta di seluruh propinsi.

Salah satu kegiatan di Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan, untuk mendukung program mengenai akses pelayanan seperti layanan kesehatan gratis yang khususnya untuk pengobatan dan pemeriksaan ibu hamil, dengan adanya layanan kesehatan gratis diharapkan agar para ibu-ibu dari semua jenis golongan ekonomi yang sedang hamil dapat menerima akses pelayanan yang baik seperti di bawah ini terdapat implementasi dari program layanan kesehatan.

Ikatan Bidan Indonesia dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru menggelar pelayanan kesehatan gratis bagi ibu hamil dan balita dengan mengikutsertakan 2 orang dokter spesialis. Pelayanan gratis yang digelar di Puskesmas Perawatan Serongga, dilakukan oleh Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Dr.I Made Suka Antara, SPOG, dan Dokter Spesialis Anak Dr.Urigenes Mangalik, DSA.

Ketua IBI Cabang Kotabaru Hj. Dahlia Yulia Noor, Am.Keb. IBI sebagai salah satu organisasi profesi di bidang kesehatan akan selalu dan berkomitmen untuk membantu program-program pemerintah terutama dalam hal untuk menurunkan AKI dan angka kematian Bayi (AKB). Hj. Dahlia menjelaskan bahwa grafik tinggi rendahnya angka kematian ibu dan bayi banyak tergantung pada tangan bidan karena itu para bidan diharapkan mampu berpartisipasi dalam upaya meningkatkan gizi ibu dan bayi. Aktivitas bidan dalam peningkatan gizi sangat penting untuk menekan angka penderia gizi buruk, jelas bidan Hj. Dahlia. Selain itu untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia bagi para bidan, IBI senantiasa berupaya mengikutkan anggotanya dalam pelatihan dan pendidikan baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Untuk meningkatkan pendidikan formal bidan seperti Diploma III Kebidanan, IBI berusaha membantu mengikutsertakan bidan melalui program khusus yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan yang bekerjasama dengan Poltekes Banjarmasin dan AKBID Intan Kabupaten Banjar. Saat ini sebanyak 44 orang sedang mengikuti pendidikan DIII Kebidanan dan pada tahun 2006 telah meluluskan bidan yang bertugas di desa-desa sebanyak 45 orang jelas Hj.Dahlia. Sementara itu dari Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru Hj. Sri Wurijani mengatakan bahwa kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan melalui APBD II, dan untuk awal ini pihak Dinas Kesehatan melakukan pelayanan kesehatan gratis bagi ibu hamil dan balita dengan bekerjasama dengan dokter spesialis dan Ikatan Bidan. Diharapkannya kedepan pelayanan kesehatan ibu hamil dan balita di kecamatan terpencil dengan

mengikutsertakan dokter spesialis dapat ditingkatkan, jelas Hj.Sri Wurijani. (http://id.kotabarukab.go.id/informasi/berita/juli_2009/ikatan_bidan_kotabaru_gel ar_pelayanan_kesehatan_gratis_di_serongga.html, diakses 12 Agustus 2009)

Selain pemberian pelayanan kesehatan gratis, adapula penambahan Puskesmas di setiap daerah agar peningkatan sarana pelayanan kesehatan lebih baik dan dapat menurunkan AKI dengan cepat. Misalnya saja, dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Walikota Tanjungbalai Dr H Sutrisno Hadi SpOG Rabu 11 Juli 2007 secara resmi melakukan pengguntingan pita pertanda dimulainya pengoperasian Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat ) model Rawat Inap terbesar di Sumut. Puskesmas itu berlokasi di Kelurahan Kapias Batu VIII Kecamatan TelukNibung Tanjungbalai. Selain itu, Walikota Sutrisno Hadi juga meresmikan peningkatan status Pustu (Pesat Kesehatan Masyarakat Pembantu) di Kelurahan Semula Jadi, Kecamatan Datuk Bandar menjadi Puskesmas Induk.

Berdasarkan angka yang berobat di rumah sakit dan puskesmas pada setiap tahunnya, menurut Walikota, bila disesuaikan dengan standart nasional minimal melayani 7 ribu jiwa. Sedangkan, di Tanjungbalai puskesmas dan rumah sakitnya dalam melayani masyarakat mencapi 19 ribu jiwa. Artinya, tingkat pelayanan kesehatan terhadap masyarakat masih relative tinggi dan masuk kategori Nasional. Hanya saja saat ini penambahan pembangunan sarana dan prasarana serta tehnologi kedokteran harus perlu ditingkatkan di kota ini, kata Sutrisno Hadi. Dalam upaya menuju Kota Tanjungbalai Tahun 2010 sehat, berbagai upaya dan pembenahan terus dilakukan , khususnya dalam penambahan Puskesmas dan

peningkatan status Pustu menjadi Puskesmas Induk, ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Tanjungbalai Dr H Azwar Mahmud Lubis MHA. Kota Tanjungbalai sebelumnya hanya memiliki 6 Puskesmas.

Pada tahun 2007 ini Pemerintah Kota telah menambah pembangun 2 Puskesmas, yakni Puskesmas Pembantu Kelurahan Semula Jadi, Kecamatan Datuk Bandar menjadi Puskesmas Induk dan Puskesmas Rawat Inap Sipori-pori. Mengenai kapasitas pembangunan Puskesmas Rawat Inap Sipori-pori ini, memiliki 20 kamar yang nantinya mampu menampung ratusan pasien yang dilengkapi dengan satu unit mobil ambulans, 3 ruangan dokter, halaman parkir dan satu ruang laboratorium. Bahkan, di Puskesmas Rawat Inap ini juga dibangun ruang dinas para dokter dan tim medis, agar mereka senantiasa terus memantau perkembangan kesehatan pasien yang dirawat inap. Pembangunan puskesmas ini, bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) 2006 dari pemerintah pusat, sebesar Rp3,60miliar.0(http://www.hariansuarasumut.com/Sumatera-Utara/882.html, diakses tanggal 10 Agustus 2009)

Penambahan Puskesmas ini diharapkan dapat dengan mudah memberikan akses pelayanan yang baik terutama bagi ibu hamil. Dibawah ini tabel jumlah Puskesmas di setiap propinsi.

Tabel 4.1

Jumlah Puskesmas Menurut Propinsi di Indonesia 2002-2007 Tahun No Propinsi 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1 NAD Aceh 230 240 240 266 274 311 2 Sumatra Utara 411 388 423 426 445 463 3 Sumatra Barat 204 206 210 214 224 228 4 Riau 167 142 146 150 154 156

5 Kepulauan Riau - 45 47 135 140 148 6 Jambi 130 127 132 242 249 259 7 Sumatera Selatan 214 235 250 113 126 140 8 Bengkulu 112 112 113 224 235 248 9 Lampung 211 219 222 47 47 51 10 Kep.Bangka Belitung 45 45 61 41 45 51 11 DKI Jakarta 328 329 329 335 342 341 12 Jawa Barat 976 982 982 996 999 1002 13 Jawa Tengah 853 855 857 853 858 871 14 DI Yogyakarta 117 117 117 117 117 117 15 Jawa Timur 922 918 907 919 930 929 16 Banten 168 171 172 173 177 180 17 Bali 107 108 109 110 110 112 18 NTB 121 127 125 128 130 134 19 NTT 211 218 220 228 251 253 20 Kalimantan Barat 189 192 195 207 205 211 21 Kalimantan Tengah 118 133 132 134 154 163 22 Kalimantan Selatan 189 189 193 192 201 204 23 Kalimantan Timur 165 167 174 187 186 192 24 Sulawesi Utara 101 108 114 119 130 142 25 Sulawesi Tengah 132 134 135 139 144 145 26 Sulawesi Selatan 367 376 333 347 362 374 27 Sulawesi Tenggara 122 115 138 139 159 153 28 Gorontalo 39 47 44 45 55 55 29 Sulawesi Barat - - 50 50 62 66 30 Maluku 96 98 103 109 125 142 31 Maluku Utara 49 53 55 56 62 64 32 Papua 215 165 167 168 236 246

33 Irian Jaya Barat - 52 55 60 81 83 Jumlah 7309 7413 7550 7669 8015 8234

Sumber: BPS, Statistik Kesra 2007

Dengan penambahan jumlah Puskesmas yang setiap tahun meningkat jumlah tenaga kesehatan harus perlu ditingkatan karena untuk menolong ibu hamil, perlunya tenaga kesehatan yang terampil selain dokter, bidan adapula dukun bayi yang mempunyai peranan penting dalam menolong persalinan bagi ibu-ibu terutama di daerah-daerah terpencil. Dalam menambah jumlah tenaga kesehatan diperlukan adanya kerelaan bagi para bidan terutama karena dalam penampatan

tugas ke daerah-daerah terpencil, hal ini yang membuat para tenaga kesehatan terutama bidan mengalami penurunan minat. Tetapi pemerintah membuat keputusan untuk mensejahterakan kehidupan para tenaga kesehatan dengan penambahan penghasilan agar bagi tenaga kesehatan dapat meningakan taraf hidup mereka. Tabel di bawah ini menunjukan adanya jumlah pertolongan pertama persalinan menurut propinsi di Indonesia.

Tabel 4.2

Jumlah Pertolongan pertama Persalinan Menurut Propinsi di Indonesia

2007

Tenaga Kesehatan No Propinsi

Dokter Bidan Dukun 1 NAD Aceh 7.87 68.41 22.13 2 Sumatra Utara 11.12 70.04 14.61 3 Sumatra Barat 12.07 70.45 16.25 4 Riau 13.14 54.38 30.01 5 Kepulauan Riau 6.71 48.91 42.61 6 Jambi 11.20 57.77 29.68 7 Sumatera Selatan 8.09 63.19 24.59 8 Bengkulu 6.32 54.50 36.95 9 Lampung 10.27 61.12 26.91 10 Kep.Bangka Belitung 30.30 57.33 11.18 11 DKI Jakarta 30.64 65.37 2.19 12 Jawa Barat 10.58 46.01 42.45 13 Jawa Tengah 12.97 60.89 25.08 14 DI Yogyakarta 27.88 67.93 3.41 15 Jawa Timur 14.26 65.11 19.61 16 Banten 13.54 39.45 46.06 17 Bali 30.09 60.78 6.20 18 NTB 6.45 44.29 42.96 19 NTT 5.13 30.86 45.74 20 Kalimantan Barat 7.73 42.36 45.00 21 Kalimantan Tengah 4.99 45.60 46.09 22 Kalimantan Selatan 8.40 53.52 34.36 23 Kalimantan Timur 16.00 58.34 20.54 24 Sulawesi Utara 24.96 48.29 22.10 25 Sulawesi Tengah 8.30 37.51 47.47 26 Sulawesi Selatan 9.23 43.61 35.18 27 Sulawesi Tenggara 4.45 28.80 61.31 28 Gorontalo 6.45 26.21 58.22 29 Sulawesi Barat 2.23 18.21 65.97

30 Maluku 7.67 30.06 59.56 31 Maluku Utara 5.88 24.66 62.23 32 Papua 11.06 33.39 15.76 33 Irian Jaya Barat 7.19 42.39 21.16

Jumlah 393.17 1619.74 1083.57 Sumber : BPS, Statistik Kesra 2007

Peran dokter, bidan dan juga dukun bayi sangatlah besar tidak terlepas dari adanya peningkatan jumlah penggunaan dalam pertolongan pertama persalinan, peran dukun dapat terlihat cukup banyak karena dalam program ini WHO dan Depkes tidak menghilangkan peran dukun, melainkan memberikan informasi dan memberikan pelatihan agar dapat membantu persalinan dengan aman dan selamat.