STRATEGI PEMULIHAN
1.3 Program Pemulihan
Seperti yang termaktub dalam Perban BNPB No. 6 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, manajemen penyelenggaraan dilaksanakan dalam satu rangkaian tahapan dengan mempertibangkan masukan, yaitu berupa: a) hasil survei Jitupasna sebagai input, b) proses penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi, c) hasil rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, d) keluaran sebagai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terdampak, dan 3) dampak dari penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana terhadap pencapaian tujuan pemulihan dan rencana pembangunan daerah dan nasional. Ada pun tahap kedua, yaitu tentang proses penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, lima hal harus tercakup, yaitu: 1) penyusunan rencana dan penentuan prioritas, 2) pengalokasian sumber daya dan sumber dana, 3) pelaksanaan, 4) monitoring dan evaluasi, dan 5) pelaporan.
Krisis pandemi COVID-19 ini berbeda dengan krisis dari bencana konvensional lainnya. Dalam krisis pandemi ini, kerusakan infrastruktur tidak terjadi seperti yang biasanya terjadi dalam krisis bencana konvensional.
Sehingga, Jitupasna Pandemi COVID-19 ini tidak melakukan penghitungan terhadap gangguan infrastruktur. Pandemi ini sangat berdampak pada gangguan akses kebutuhan dasar, gangguan fungsi sosial kemasyarakatan, dan peningkatan risiko warga terdampak.
Selain itu, siklus bencana (prabencana, saat bencana, dan pascabencana) yang biasanya terjadi secara berurutan dalam krisis pandemi COVID-19 tidak terjadi. Dalam krisis ini, fase tanggap darurat dan fase pemulihan terjadi dalam waktu yang bersamaan; sehingga membutuhkan seluruh sumber daya yang ada untuk merespons situasi di lapangan dan menerapkan program kegiatan yang lebih berkelanjutan dengan mempertimbangkan mekanisme coping yang sudah dilakukan oleh masyarakat untuk bertahan hidup. Selain itu, program pemulihan perlu berjalan paralel dengan program tanggap darurat dalam melaksanakan program-program peningkatan kapasitas yang produktif agar program penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi bersifat lestari. Dalam pelaksanaan program pemulihan, BPBD dan Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah akan berkolaborasi dan menjalankan peran koordinasi untuk mendampingi program-program kegiatan yang dilaksanakan.
.
1.4 Pendanaan
Dalam penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana COVID-19 Provinsi Sulawesi Tengah, keterlibatan semua pihak sangat diperlukan terutama pada pendanaan dan pengelolaan bantuan bencana sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana.
Gambar 4.2 Diagram Kebutuhan Pemulihan
Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pandemi COVID-19 di Provinsi Sulawesi Tengah harus terintegrasi dalam sistem perencanaan pembangunan, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) atau Rencana Strategis Perangkat Daerah dan Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) seperti yang termaktub dalam UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, termasuk dalam hal perencanaan program pembangunan dan penganggaran pembangunan tahunan. Pada tahun pertama pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, rencana program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana diintegrasikan sebagai penyesuaian Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Rencana APBN, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) untuk tahun anggaran berjalan dan sudah ditetapkan sebelumnya. Rencana program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana pandemi COVID-19 perlu diintegrasikan pula ke dalam RKP, APBN, RKPD, dan RAPBD untuk pelaksanaan tahun kedua dan ketiga dari kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Lebih lanjut, dengan merujuk pasal 11 dari Perban BNPB No. 6 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, skema pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana COVID-19 Provinsi Sulawesi Tengah terindentifikasi melalui sumber pendanaan APBD Provinsi Sulawesi Tengah, Kementerian/Lembaga, BNPB (melalui Dana Siap Pakai), Usulan Hibah Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Organisasi Non-Pemerintah atau NGO, Masyarakat dan Dunia Usaha, serta bantuan lain yang sah menurut perundangan yang berlaku.
Dalam hal pendanaan dari pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, Pemerintah Pusat diharapkan dapat memberikan dukungan pendanaan kepada
pemerintah daerah ketika APBD tidak mencukupi untuk membiayai pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Proses penyusunan kebutuhan pendanaan dilakukan dengan proses pengajuan usulan pendanaan dari pemerintah daerah dan berlangsung secara partisipatif. Selanjutnya, usulan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah akan disinkronkan dan dikonsolidasi oleh BNPB dan BPBD. Tujuan dari proses ini adalah untuk meminimalkan potensi duplikasi program/kegiatan dan pembiayaan dan untuk menganalisis prioritas pemulihan masing-masing sektor berdasarkan kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Secara lebih rinci, Tabel 4.1 memperlihatkan indikasi berbagai sumber pendanaan penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana pandemi COVID-19 di Provinsi Sulawesi Tengah.
Tabel 4.1 Indikasi Sumber Pendanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pandemi COVID-19 di Provinsi Sulawesi Tengah
INDIKASI SUMBER PENDANAAN
APBD Provinsi Sulawesi Tengah
Non-APBD Provinsi
Hibah BNPB K/L Masyarakat/
Dunia Usaha/NGO 487.353.071.336 25.500.740.000 24.005.568.000 28.986.999.944
Indikasi sumber pendanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pandemi COVID-19 di Provinsi Sulawesi Tengah lebih rinci dapat dilihat berikut ini.
Tabel 4.2 Program dan Kegiatan Pemulihan yang Diusulkan Melalui APBD Provinsi Sulawesi Tengah Anggaran Tahun 2021-2023
2021 2022 2023
2 3 4 6 7 8 9 10 1.
- Menumbuhkembangkan UMKM untuk Menjadi Usaha yang Tangguh dan Mandiri Sehingga dapat Meningkatkan Penciptaan Lapangan Kerja, Pemerataan Pendapatan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pengentasan Kemiskinan
Menurunkan Penduduk Miskin dan Peningkatan Kesejahteraan masyarakat
750,000,000 862,500,000 975,000,000 DINAS KOP & UMKM
1. Pengembangan Usaha Kecil Dengan Orientasi Peningkatan Skala Usaha Menjadi Usaha Menengah
- Produksi dan Pengolahan, Pemasaran, Sumber Daya Manusia, serta Desain dan Teknologi
PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MENENGAH, USAHA KECIL, DAN USAHA MIKRO (UMKM)
URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KOPERASI, USAHA KECIL, DAN MENENGAH
Pemantapan Iklim Investasi dan Penanaman Modal yang Kondusif dan Market Friendly.
1.
1.
-Pemberdayaan Usaha Kecil yang dilakukan Melalui Pendataan, Kemitraan, Kemudahan Perijinan, Penguatan Kelembagaan dan Koordinasi Dengan Para Pemangku Kepentingan
Penetapan pemberian fasilitas/insentif di bidang penanaman modal yang menjadi kewenangan daerah provinsi
Penetapan Kebijakan Daerah dalam Pemberian Fasilitas/Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal A. pekerjaan tidak layak dan partisipasi sekolah rendah.
AKIBAT
Akibat pandemi 79,9%
responden masih bekerja, 20,1%
responden tidak bekerja.
Mayoritas bekerja di perdagangan, pertanian, nelayan, jasa dan lainnya, serta 86,83% responden mengatakan
PROGRAM DAN KEGIATAN PEMULIHAN PASCABENCANA COVID-19