METODE KAJIAN Pendekatan dan Tipe Kajian
PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT
Identifikasi Potensi
Memperhatikan kondisi mantan Narapidana di beberapa tempat di Kota Bandung, dirasa perlu untuk merencanakan suatu program pengembangan masyarakat yang dapat meningkatkan kondisi mereka menjadi lebih baik dalam hal ekonomi maupun kehidupan sosial mereka. Kegiatan perancangan program pengembangan masyarakat dilakukan secara partisipatif bersama-sama dengan komunitas mantan Narapidana dan stakeholder yang potensial dengan harapan agar apa yang direncanakan dapat terlaksana, didukung dan berkelanjutan. Keikutsertaan pihak terkait baik dari instansi pemerintahan maupun swasta dalam perencanaan ini akan meningkatkan pandangan mereka terhadap komunitas termarginal yaitu mantan Narapidana dalam hal peningkatan taraf hidup mereka, disamping itu keberdayaan mantan Narapidana dapat melahirkan suatu bentuk usaha produktif atau nilai sosial yang dapat menghasilkan profit pula.
Proses identifikasi potensi ditujukan kepada seluruh stakeholder yang ada berkaitan dengan upaya pemberdayaan mantan Narapidana. Stakeholder yang dimaksud adalah Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, Kantor Sosial Kota Bandung, LSM, Masyarakat, dan pihak swasta.
Keberhasilan perencanaan hingga pelaksanaan program ini tidak terlepas dari peran dan dukungan stakeholders agar hasil program menjadi lebih optimal dan sesuai harapan semua pihak, khususnya guna meningkatkan kesejahteraan komunitas mantan Narapidana sebagai subyek sekaligus obyek dari program tersebut. Berkaitan dengan peran serta dukungan dari stakeholders, penulis telah melakukan wawancara dengan stakeholders yang ada. Berdasarkan hasil wawancara, pada prinsipnya mereka mendukung upaya pemberdayaan mantan Narapidana, dengan harapan bahwa upaya ini bisa diterapkan di Kota / wilayah lain. Secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14
Analisis Stakeholders di Kota Bandung
No. Stakeholders Mendukung Netral Menentang
1. Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung √ - -
2. Kantor Sosial Kota Bandung √ - -
3. Masyarakat - √ -
4. LSM √ - -
5. Swasta - √ -
Sumber : Hasil Wawancara dan Observasi, 2007
Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa sebagian besar stakeholders yang terkait langsung dengan pemberdayaan mantan Narapidana sangat mendukung, dan terdapat pula beberapa stakeholders yang berposisi netral terhadap upaya pemberdayaan. Hal tersebut karena yang bersangkutan belum terkait langsung dengan kegiatan ini, namun sepanjang untuk kemajuan masyarakat dan perkembangan SDM, pada prinsipnya mereka tetap akan mendukung.
Identifikasi permasalahan yang telah dilakukan melalui FGD sebelumnya dilanjutkan dengan melakukan identifikasi potensi yang juga dilakukan bersama-sama dengan komunitas mantan Narapidana. Identifikasi ini dilakukan secara partisipatif dengan menggali segala kemungkinan potensi yang ada sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka selama ini.
Proses FGD ini dilakukan pada bulan September 2007 di Aula Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, dihadiri oleh para stakeholders dan beberapa perwakilannya. Berdasarkan masukan para mantan Narapidana, stakeholders maupun pihak dari Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung dalam FGD yang dilakukan, maka dapat digunakan suatu analisis situasi dengan menggunakan model analisa SWOT.
Analisa SWOT merupakan sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1. S = Strength, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2. W = Weakness, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. O = Opportunity, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di masa depan.
4. T = Threat, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan.
Sehingga, dapat dihimpun 2 (dua) faktor yang berkaitan dengan potensi sekaligus dengan permasalahan yang dihadapi, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), serta faktor eksternal berupa peluang (opportunity) dan ancaman (threats).
Faktor internal yang ada, yaitu : 1. Kekuatan (strengths), yaitu :
a. Adanya keinginan untuk meningkatkan potensi diri (skill) pada setiap mantan Narapidana melalui pendirian usaha ekonomi produktif di wilayah sekitar pemukiman mereka.
b. Bekal pengetahuan dan wawasan baik yang diperoleh melalui pengalaman maupun pada Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung.
c. Waktu kerja yang fleksibel, karen usaha yang mereka jalankan termasuk usaha ekonomi skala kecil menengah.
2. Kelemahan (weakness), yaitu :
a. Terbatasnya modal dan perlengkapan usaha.
b. Terbatasnya keterampilan dan manajemen usaha ekonomi produktif karena pengetahuan serta pengalaman yang minim.
c. Kurangnya kerjasama antar sesama mantan Narapidana maupun sesama pelaku usaha ekonomi produktif.
d. Terlalu mengharapkan dan mengandalkan bantuan modal dari pemerintah maupun stakeholder yang telah membantunya.
Faktor eksternal yang ada, yaitu : 1. Peluang (opportunities), yaitu :
a. Adanya dukungan dari masyarakat dan pemerintah selaku stakeholders terhadap upaya pemberdayaan mantan Narapidana,
b. Keberlanjutan program pemerintah yang pernah ada dan kesediaan dari pemerintah untuk memperbaiki sesuai dengan kebutuhan mantan Narapidana.
2. Ancaman (threats), yaitu :
a. Meningkatnya kebutuhan dasar usaha ekonomi produktif.
b. Terbatasnya informasi dan jaringan, baik tentang kegiatan usaha ekonomi produktif maupun tentang perkembangannya.
c. Persaingan dalam pemasaran hasil usaha maupun jasa yang terkadang terjadi dan tidak dapat dihadapai / dicari jalan keluarnya oleh para mantan Narapidana sebagai pelaku usaha ekonomi produktif.
Berdasarkan beberapa faktor diatas dan sesuai hasil diskusi bersama dengan para mantan Narapidana dan stakeholders yang ada, telah dapat diidentifikasikan skala prioritas terhadap beberapa permasalahan yang dihadapi. Permasalahan yang menjadi prioritas untuk diatasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kualitas sumber daya mantan Narapidana yang masih rendah
Berdasarkan hasil wawancara sebagaimana tampak pada bagian analisis permasalahan bahwa tingkat pendidikan Klien Pemasyarakatan bervariatif, namun tingkat pendidikan tidak menjamin kualitas SDM suatu individu. Seperti halnya ibu AI, ia telah menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai tingkat Diploma III, tetapi belum memiliki keterampilan apapun dalam bidang wirausaha. Ibu AI baru dapat menjahit dengan lebih mahir setelah selesai mengikuti pendidikan keterampilan menjahit di Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, sebagai mana dituturkan sebagai berikut.
“Saya sudah menyelesaikan kuliah saya di Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI) pada tahun 1983, selain itu saya juga pernah mengenyam pendidikan stewardess di Cambridge tahun 1985 dengan sponsor PT Garuda Indonesia tempat saya bekerja waktu dulu. Tapi setelah saya keluar dari Lembaga Pemasyarakatan saya tidak punya bekal keterampilan apa-apa, hidup dan karir saya kembali nol lagi sampai akhirnya saya mengikuti program pendidikan pelatihan dan keterampilan menjahit waktu itu di BAPAS.”
Dari kutipan pembicaraan diatas, dapat dijelaskan bahwa mantan Narapidana bukan berarti manusia bodoh yang tidak berguna, mereka hanya khilaf dalam perjalanan hidupnya sehingga ketika bebas membutuhkan arahan agar kembali kepada jalan yang lurus. Berbeda pula halnya dengan penuturan bapak RIS (29 tahun) yang merupakan suami ketiga ibu AI, sebagai berikut.
“Saya pak Cuma tamatan SD, sedangkan jumlah kepala yang harus saya tanggung banyak. Dirumah saya bisa dibilang sebagai tulang punggung keluarga, karena adik-adik saya masih kecil dan perlu dibiayai, bapak saya tidak bekerja dan ibu jadi buruh cucian dari rumah kerumah maka dari itu saya terpaksa jadi kurir narkoba buat nambah-nambah biaya keluarga, lumayan hasilnya gede’ sampe akhirnya saya ketangkep dan masuk penjara. Di LAPAS itulah saya ketemu isteri saya yang sekarang, berhubung waktu itu saya ditugasi jadi ‘corve’ (Narapidana Asimilasi menjelang bebas) jadi saya sering bersih-bersih deket blok wanita tempat isteri saya tinggal. Saya ngga punya keterampilan sama sekali sampai akhirnya saya ikut program rehabilitasi sosial yang diselenggarakan BAPAS.”
2. Belum adanya kerjasama kelompok
Upaya pemerintah dalam memberikan bantuan berupa perlengkapan usaha ekonomi produktif apabila dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan pendapatan para mantan Narapidana. Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kemampuan mengelola bantuan tersebut oleh para mantan Narapidana masih rendah. Para penerima bantuan (mantan Narapidana) cenderung menggunakan bantuan tersebut tanpa visi yang jelas, sehingga penggunaannya tidak optimal dan bahkan ada yang menjual bantuan tersebut kepada pihak lain. Memperhatikan kondisi ini, diperlukan suatu program yang dapat meningkatkan kesadaran para mantan Narapidana akan pentingnya suatu kerjasama, sehingga segala permasalahan dapat diatasi bersama-sama.
3. Pemasaran dan promosi
Kegiatan pemasaran dan promosi juga merupakan proses yang menentukan peningkatan pendapatan para mantan Narapidana. Proses pemasaran dan promosi bisa menjadi kendala utama bagi mantan Narapidana yang baru memulai usahanya dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah, karena suatu bidang usaha tidak cukup jika mengandalkan proses produksi, tetapi harus dipikirkan proses distribusi dan manajemen keuangannya agar aliran dana dapat terus bergulir secara seimbang.
Tabel 15
Analisis Masalah, Potensi dan Alternatif Pemecahan Masalah Mantan Narapidana
No. Masalah Penyebab Dampak Potensi Kebutuhan Pemecahan Masalah
1. Kualitas sumber daya mantan Narapidana yang masih rendah
Pendidikan yang rendah, Pendalaman materi program
tidak berkelanjutan (hanya bersifat pengenalan saja).
♦ Sulit menyerap pengetahuan dan keterampilan,
♦ Sulit untuk menghadapi persaingan usaha. • Memiliki pengetahuan walaupun terbatas, • Motivasi untuk berusaha tinggi. o Perlu pengetahuan dan keterampilan yang berkelanjutan, o Adanya jaringan kerja
dengan pelaku usaha yang berpengalaman. Perencanaan pendalaman materi program yang berkelanjutan dengan menghubungi stakeholders yang ada. 2. Belum adanya kerjasama kelompok
Antar sesama purna lapas kurang berkoordinasi ketika sedang mengikuti pelatihan, Jarak tempat tinggal antar
mantan Narapidana yang berjauhan. ♦ Kesulitan dalam memulai / merintis usaha, ♦ Kesulitan dalam pemasaran barang / jasa. • Adanya keinginan untuk bekerjasama, • Adanya keinginan untuk maju. o Kemampuan manajerial kelompok, o Penetapan seorang ketua kelompok. Pendampingan dan pengarahan dalam pembentukkan kelompok. 3. Pemasaran dan promosi
Jaringan pemasaran belum ada,
Persaingan usaha yang ketat di Kota Bandung sebagai kota metropolitan.
♦ Kalah dalam persaingan usaha, ♦ Aliran modal lambat
dan terhambat yang akhirnya berpengaruh pada profit. • Adanya keinginan untuk membentuk jaringan, • Adanya dukungan dari stakeholders.
o Aplikasi dari potensi yang ada, o Pendampingan dan pengarahan oleh pihak yang berkompeten dan berpengalaman. Pendampingan, pengarahan dan aplikasi dari kebutuhan yang diperlukan.
Program Pemberdayaan Mantan Narapidana
Strategi pemberdayaan mantan Narapidana saat ini sangat diperlukan dan telah dilaksanakan agar segala permasalahan yang dihadapi saat ini dapat diatasi dengan baik sehingga tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan mantan Narapidana dapat terwujud. Hasil dari FGD yang dilakukan telah menentukan prioritas permasalahan dan kebutuhan dengan melihat efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program.
Melihat kenyataan dilapangan bahwa masih banyak mantan Narapidana yang tidak memiliki kemampuan, khususnya permodalan untuk mengembangkan usaha ekonomi produktif sesuai dengan bakat, minat dan keterampilannya, maka diharapkan dengan kemampuan dibidang permodalan, mantan Narapidana dapat merintis usaha ekonomi produktif, mengingat Kota Bandung sebagai salah satu pusat perdagangan, pariwisata dan jasa.
Dari data terakhir bulan Desember 2007 pada Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, diketahui terdapat 146 orang Klien Pemasyarakatan yang berada di Kota Bandung. Mayoritas diantara mereka belum memiliki keahlian / keterampilan yang dapat menunjang mereka untuk dapat mengembangkan diri dan dapat hidup mandiri, yang pada akhirnya akan dapat memberikan kontribusinya terhadap penurunan pengangguran dan kemiskinan serta tidak melakukan pelanggaran hukum lagi.
Pengembangan Kewirausahaan bertujuan untuk mendukung aksi-aksi bersama dan pemberdayaan komunitas mantan Narapidana ditingkat masyarakat. Dalam perancangan program pengembangan kewirausahaan terdapat beberapa prinsip yang diterapkan, antara lain :
¾ Melibatkan semua pelaku pembangunan ditingkat komunitas, yaitu :
- Unsur Public Sector Î dalam hal ini Instansi terkait yaitu Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan sebagai pelaksana programnya adalah Balai Pemasyarakatan, sebagai kelanjutan pembinaan bagi mantan Narapidana setelah mendapatkan bimbingan pelatihan dan keterampilan kewirausahaan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS).
Selain program pembimbingan dan pelatihan mantan Narapidana di Balai Pemasyarakatan, dikenal dengan sebutan ”Bimbingan Sosial dan Latihan Keterampilan bagi Purna Lapas pada Kegiatan Rehabilitasi Sosial”, stakeholder yang juga memberikan program pelatihan terhadap mantan Narapidana adalah Departemen Sosial, dan sebagai pelaksana programnya adalah Dinas Sosial melalui Kantor Sosial, dikenal dengan ”Program Pelayanan Rehabilitasi dan Partisipasi Sosial” yang disusun pada bagian Kegiatan Rehabilitasi Sosial.
- Unsur Private Sector Î yaitu kerjasama antara pihak swasta dengan instansi, seperti dalam bidang percetakan / sablon, toko-toko cinderamata dan lainnya yang dianggap perlu dan menunjang kelanjutan program rehabilitasi sosial bagi mantan Narapidana.
- Unsur Collective action / participatory sector Î berasal dari civil society yang turut mendukung program pemberdayaan mantan Narapidana, yaitu sebagai pangsa pasar dari hasil produksi mantan Narapidana baik berupa barang ataupun jasa.
Pada prinsip ini, pengembangan kewirausahaan menggunakan konsep Governance System Based Institutional Development sebagai alat bantu analisisnya, dengan skematik yang digambarkan pada Gambar berikut :
Gambar 6
Konsep Tatakelola Pemberdayaan berbasis Institutional Development
Civil Society (Participatory Sector) State or Government (Public Sector) Private Sector
Negara (Pemerintah)
Aras Makro (Macro Level) Kebijakan
Institutional Incentives
Aras Mikro (Micro Level) Pemberdayaan & Partisipasi Institutional Capacity
¾ Memberdayakan komunitas mantan Narapidana melalui pelembangaan perencanaan partisipatif, yang memfasilitasi proses penjaringan kebutuhan dari bawah (bottom-up) dan memadukannya dengan proses perencanaan yang bersifat ”regional wide”.
Maksud hal tersebut diatas, walaupun pada proses pelaksanaannya di Balai Pemasyarakatan bersifat top-down, namun diharapkan mantan Narapidana setelah berbaur kembali di masyarakat, dapat memfasilitasi proses penjaringan kebutuhan dari bawah, melalui penciptaan inovas-inovasi sebagai hasil pengembangan dari pelatihan dan bimbingan yang telah didapatkan sebelumnya.
Gambar 7
Relasi Komunitas mantan Narapidana dan Negara (Pemerintah)
¾ Menempatkan pemerintah lokal (kabupaten / kota) sebagai regulator dan fasilitator terhadap peran serta warga komunitas mantan Narapidana, sehingga komunitas Narapidana senantiasa berperan aktif dalam pengembangan kewirausahaan. Komunitas mantan Narapidana Pengembangan Kelembagaan Top-down Bottom-up
Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Mantan Narapidana dan Komunitas / Kelompok Mantan Narapidana di Kota Bandung
Latar Belakang
Kota Bandung merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang tentunya menghadapi berbagai permasalahan yang cukup kompleks. Salah satu permasalahan tersebut berkaitan dengan tingginya angka kriminalitas. Penanganan masalah kriminalitas di Kota Bandung tidak hanya sebatas pada penyelesaian secara hukum saja, tetapi lebih luas lagi yaitu bagaimana mempersiapkan para mantan Narapidana agar dapat hidup mandiri dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum lagi. Untuk menjawab hal tersebut, tentunya diperlukan adanya kerjasama dari semua pihak dan perhatian yang cukup besar dari Pemerintah Daerah dimana para mantan Narapidana tersebut berada.
Kota Bandung sebagai salah satu kota besar, mengalami laju pertumbuhan tenaga kerja yang tidak seimbang dengan pertumbuhan lapangan kerja, sehingga hanya tenaga kerja yang terampil yang dapat diserap oleh lapangan kerja. Tenaga kerja yang tidak dapat diserap oleh lapangan kerja menjadi salah satu penyebab timbulnya berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Permasalahannya yaitu apabila para pelaku kejahatan tersebut tidak dientaskan, maka selamanya mereka akan menjadi salah satu penyebab munculnya permasalahan sosial. Salah satu bentuk program pengentasan bagi para mantan Narapidana yaitu melalui kegiatan-kegiatan pelatihan keterampilan, dengan harapan setelah memperoleh keterampilan mereka memiliki akses yang lebih besar untuk diserap oleh pasar kerja.
Sejalan dengan Visi Kota Bandung, yaitu Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang BERMARTABAT (Bersih, Makmur, Taat dan Bersahabat) serta salah satu Misi Kota Bandung, yaitu Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Handal dan Religius, maka sehubungan dengan hal tersebut bimbingan terhadap para mantan Narapidana perlu mendapat perhatian yang serius karena akan menunjang pada keberhasilan pencapaian Visi dan Misi tersebut.
Masalah
Masalah inti yang mendasari pelaksanaan program adalah rendahnya pendapatan mantan Narapidana yang disebabkan oleh kualitas SDM yang terbatas, selain itu pelaksaan program ini juga berguna untuk menumbuhkembangkan semangat, nilai religi dan bakat / minat dari pribadi masing-masing. Dari permasalahan tersebut, maksud dari program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya, sehingga mereka dapat hidup mandiri.
Tujuan
a. Tujuan Umum :
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana sebagai bekal agar dapat bekerja, berusaha mandiri dalam rangka mengurangi pengangguran dan pengentasan kemiskinan.
b. Tujuan Khusus :
1. Meningkatkan keterampilan kerja Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana, sehingga dapat diserap oleh lapangan pekerjaan atau menciptakan lapangan pekerjaan baru (wirausaha),
2. Memberikan kesempatan kepada Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana untuk menggali potensi dan mengembangkan bakat yang dimilikinya.
3. Agar Klien memiliki kemampuan dan tanggungjawab untuk melaksanakan fungsi sosialnya baik di keluarga maupun di masyarakat.
Penanggungjawab Program
Penanggungjawab program ini adalah Kepala Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, selaku pejabat tertinggi di Kantor BAPAS Bandung dan telah memiliki stakeholders tetap dari tahun ke tahun, sehingga akses dalam pencairan APBN dapat direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur / aturan yang berlaku.
Sasaran Program
Sasaran program adalah para Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana yang telah mengikuti program Rehabilitasi Sosial maupun mantan Narapidana yang mau berpartisipasi dalam program ini, sesuai dengan sasaran kegiatan dan kriteria peserta program (akan dijelaskan selanjutnya pada sub bab ‘peserta’). Indikator Hasil
a. Kecakapan Hidup 1. Kecakapan personal :
Motivasi dan rasa percaya diri Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana meningkat.
2. Kecakapan sosial :
Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana dapat lebih berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, lebih bertanggungjawab terhadap keluarga.
3. Kecakapan akademik :
Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana dapat mengoperasikan alat-alat pertukangan dan menjiwai kesenian.
b. Kewirausahaan
1. Potensi Peluang Usaha
Mengingat Kota Bandung dikenal sebagai kota Wisata yang ditandai oleh banyaknya toko-toko souvenir, maka peluang usaha dibidang kaligrafi dan Handicraft cukup terbuka lebar.
2. Rencana dan Pengembangan Usaha
Apabila Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana telah diberikan pelatihan, diharapkan mereka memiliki motivasi untuk bekerja di sektor yang berkaitan dengan keahlian / keterampilan yang didapat atau membuka usaha sendiri (menjadi seniman / membuka toko souvenir di tempat-tempat wisata di Kota Bandung).
3. Kemandirian dan Kerjasama Usaha
Apabila Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana telah diberikan pelatihan diharapkan Klien Pemasyarakatan / mantan Narapidana memiliki
kemampuan untuk membangun usaha sendiri atau berkelompok antar sesama mantan Narapidana maupun dengan orang lain yang berpengalaman dibidangnya, sehingga usaha yang mulai dirintis memiliki visi dan misi yang jelas agar tetap berdiri kuat.
Waktu Pelaksanaan
Program ini akan dimulai pada bulan April 2008 dan direncanakan berakhir sampai dengan bulan Juli 2008.
Tempat Pelaksanaan
Kegiatan dalam program ini sepenuhnya akan dilaksanakan di Aula Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, Jl. Ibrahim Adjie No. 431 Bandung.
Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan adalah para pejabat serta staf yang berwenang di Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung, pejabat dan staf dari Kantor Sosial Kota Bandung, pihak swasta / masyarakat yang berpengalaman dibidang seni kaligrafi dan keterampilan handicraft akan bertindak sebagai pengajar / instruktur dalam pelatihan. Sedangkan sebagai narasumber, pembuka acara / penceramah dalam program kegiatan ini, akan diisi oleh berbagai elemen penting untuk pencerahan, yaitu :
1. Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat, 2. Departemen Agama,
3. Polwiltabes Satuan BIMAS 4. PEMDA Kota Bandung, 5. Departemen Tenaga Kerja,
6. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial. Peserta
1. Sasaran Kegiatan untuk peserta :
a. mantan Narapidana / Purna LAPAS penyandang masalah kesejahteraan sosial,
b. Klien Pemasyarakatan lepas bersyarat / cuti menjelang bebas / cuti bersyarat di Balai Pemasyarakatan Klas I Bandung.
2. Kriteria Peserta :
a. Laki-laki dan perempuan mantan Narapidana / Purna LAPAS penyandang masalah kesejahteraan sosial dengan batas usia 18 tahun s/d 60 tahun, b. Tidak mempunyai mata pencaharian tetap,
c. Sehat jasmani dan rohani dan tidak mengidap penyakit menular / kronis, d. Tidak sedang berurusan dengan penegak hukum,
e. Mempunyai surat tanda bebas / surat cuti bagi yang berstatus Narapidana 3 (tiga) bulan menjelang bebas dari Lembaga Pemasyarakatan.
Sumber Biaya
Program ini akan menggunakan biaya dari Pemerintah (APBN tahun terkait). Sesuai dengan landasan hukum dan operasionalnya, yaitu :
1. Pancasila,
2. UUD 1945 dan Perubahannya,
3. UU No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan – ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial,
4. Keputusan Bersama Menteri Kehakiman, Naker Mensos RI No. 01-PK 0301/198 Kep. 354/MEN/84 tentang Purna LAPAS,
5. UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, 6. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Berkaitan dengan landasan hukum dan operasional diatas, maka skema Landasan Hukum TUPOKSI Rehabilitasi Sosial Berkaitan dengan Garapan Purna LAPAS dapat digambarkan pada gambar berikut.
Gambar 8
Skema Arah Landasan Hukum TUPOKSI Rehabilitasi Sosial Berkaitan dengan Garapan Purna LAPAS
Sumber : Kantor Sosial Kota Bandung, 2007 UUD 1945 Pasal 27 Ayat (2) dan Pasal 34
UU No. 6 Tahun 1974 Ketentuan – ketentuan
Pokok Kesejahteraan Sosial
Keputusan Bersama Menteri Kehakiman, Rencana Kerja Menteri Sosial RI No. 01-PK
0301/198 Kep. 354/MEN/84 tentang Purna LAPAS
Garapan Purna LAPAS
PERDA